
04. Teror Arwah Kurir Wanita
Gunawan, laki – laki plotos, jangkung dan tinggi itu berjalan memasuki rumahnya. Ia menghela nafas panjang sejenak. Ia mengambil sebatang rokok, api mulai membakar bagian ujung saat ia menghisap rokok tersebut dan menghembuskannya ke udara. Asap rokok segera merebak, menyebar memenuhi ruangan depan untuk kemudian bercampur baur dengan kabut tipis dan angin malam yang dingin. Sesaat lamanya ia menatap langit – langit, ada banyak hal melintas di benaknya. Hingga akhirnya sebuah ketukan pada pintu depan diiringi suara mengambang, hampa dan dingin.
“Mas....
ada paket ....
Suara itu membuat Gunawan terkejut, ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu depan.
“Kkrriieetthh ...”
Pintu terbuka, Gun tidak mendapati siapa – siapa di luar. Ia menggeleng – gelengkan kepala, “Dasar iseng,” gumamnya sambil menutup pintu dan kembali melangkah masuk. Sepasang matanya terbelalak saat melihat sebuah bungkusan plastik berisikan bubuk putih, “Siapa yang menaruh barang ini sembarangan,” katanya sambil meraih bungkusan itu untuk disimpan ke dalam locker, “Lho, locker ini tetap terkunci rapat, lalu ini kepunyaan siapa ? Seingatku aku tak mengeluarkannya sembarangan. Jika Tuan Muda Zein mengetahuinya, dia pasti membunuhku,”
“Mas....
ada paket ....
Ini yang kedua kalinya, suara itu sepertinya berada di dekat Gunawan, dari arah belakang. Tapi, kembali ia tidak mendapati siapapun, “Siapa itu ?” tanyanya. Tak ada jawaban dan dari ujung lorong sebuah benda kecil berwarna kuning menggelinding dan terhenti tepat di kakinya. Sebuah cincin emas bermata merah delima, persis cincin miliknya. Bersamaan dengan itu tercium bau harum, bau yang berasal dari kamarnya.
Pintu kamar terbuka, bau itu makin menyengat, seperti bau bunga melati dan Gun tersentak seorang wanita duduk di tepi pembaringan. Ia mengenakan pakaian coklat tua, pakaian khas kurir OkGo dan mengenakan topi Eiger berwarna coklat kemerahan.
Gun menggosok-gosok kedua belah matanya, seakan tak mempercayai pandangan matanya.
"Siapa, kau ?" tanyanya kemudian.
Tak ada jawaban, wanita itu diam. Tubuhnya bagaikan sebuah patung, mendadak saja bau harum itu semakin menyengat, sepersekian detik kemudian bau itu berangsur-angsur berubah menjadi busuk, perut pria itu serasa diaduk-aduk.
Jari jemari Gun bergerak hendak menyentuh badan wanita itu. Tapi, telinganya mendengar suara aneh seperti gemerantak tulang dan kepala wanita yang menunduk itu perlahan-lahan terangkat, bergerak ke kiri dan terus bergerak ke belakang.
"Krak,"
Kepala wanita itu berputar 360 derajat ke belakang. Gun berteriak histeris manakala sepasang cahaya merah menyorot tajam diantara bayangan topi yang sebagian menutup wajah nya.
“Mas....
ada paket ....
Kali ketiga suara itu bergema sementara wanita itu berdiri dan berjalan menghampiri sementara tangannya menggapai-gapai hendak memegang Gun yang masih histeris. Pria itu bergerak menjauh namun kedua kakinya serasa lemas, iapun jatuh terduduk.
__ADS_1
Teriakannya seakan terhenti di kerongkongan manakala, bubuk-bubuk putih masuk ke dalam mulutnya. Sepasang matanya terbelalak, bola matanya bergerak ke atas saat busa putih keluar dari mulutnya dan wajahnya membiru. Saat itu juga, rohnya terlepas dari raganya.
***
"Apa ?" seru pemuda tampan itu pada ponselnya, "Gunawan meninggal ? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?"
"Entahlah, tuan muda... hasil otopsi yang keluar menyatakan ia overdosis?"
suara bergetar dari seberang sana membuat wajah pemuda itu merah padam, "Bagus ! Itulah akibatnya kalau serakah," katanya, "Berapa banyak lagi yang kalian ambil dariku ?"
"Kami tidak berani, tuan... semuanya, sudah kami kirimkan sesuai dengan permintaan,"
"Jangan bohong... jikalau aku tahu masih ada barang yang kalian simpan, aku tidak akan tinggal diam,"
"Sungguh, tuan... kami tak berani mengutak-atik barang yang bukan milik kami,"
"Baiklah. Kita bertemu di tempat seperti biasa. Kita selesaikan urusan ini secepatnya," ujar si pemuda sambil menutup ponselnya.
"Ada apa sebenarnya? Semua orang-orang ku mendadak mati semua, kalau terus menerus begini, bisa bangkrut aku," gumamnya seorang diri.
“Mas....
ada paket ....
Mendadak terdengar suara mengambang, datar dan hampa. Pemuda itu tersentak, ia menoleh kesana-kemari untuk mencari tahu asal suara tersebut, tapi, tidak ada siapa-siapa. Dan sepasang matanya tertuju pada sebuah kotak kecil dibungkus dengan plastik merah.
"Hmmm, siapa yang bisa menembus ruangan pribadiku, padahal sistem keamanannya sudah canggih," katanya sambil meraih bungkusan itu dan membukanya. Sebuah cincin emas bermata merah delima, itulah isi bungkusan kecil tersebut.
"Aku tidak merasa memiliki cincin ini, cincin ini sama dengan kepunyaan mereka, tapi, siapa yang memberikan ini padaku," sepasang mata pemuda itu tiba-tiba beralih ke arah pintu masuk dan melihat sesosok bayangan, "Hei, siapa itu ?" tanyanya sambil bergegas melangkah ke arah pintu, saat pintu itu dibuka, bayangan itu menghilang.
Si pemuda mengeluarkan ponselnya dan setelah menekan tombol pada keypad ia berkata, "Periksa seluruh pintu masuk ada penyusup,"
Dalam waktu yang tidak lama, beberapa orang petugas keamanan datang dan salah satunya menghampiri, "Tidak ada siapa-siapa, Tuan Muda Zein," katanya.
"Kau pikir aku berbohong, ha ?! Jelas-jelas baru saja aku melihat ada seseorang di sekitar sini, mengapa kalian bilang tidak ada seorang pun ?"
bentaknya membuat semua orang terdiam sementara wajahnya tertunduk dalam-dalam.
"Baiklah kalau begitu," ujar pemuda itu, "Perketat penjagaan dan jangan biarkan seorangpun masuk kemari. Aku akan pergi menemui seseorang,"
__ADS_1
"Siap. Tuan muda,"
Tak jauh dari tempat itu, seorang pria separuh baya berdiri sambil menatap tajam ke arah pemuda itu.
"Giliranmu akan segera tiba, Zein. Kau harus merasakan apa yang dirasakan Nak Fera,"
***
Malam itu, Zein sedang bercumbu mesra dengan salah seorang gundiknya, mereka terbawa dalam lautan asmara. Hanya desah nafas berpacu dengan degub jantung yang terdengar di dalam ruangan berukuran 4x5 M² itu. Mereka tak menyadari bahwa di tengah cahaya lampu yang remang-remang, sesosok bayangan berjalan mengendap-endap.
Tak lama kemudian, wanita yang menjadi lawan main pemuda keturunan Arab itu melangkah keluar sementara, Zein sudah terlelap setelah mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara. Tubuh wanita itu hanya dibungkus dengan kain putih tipis bercampur dengan keringat, siapapun yang melihatnya, khususnya kaum Adam, akan terpesona dengan kemolekan tubuh dan lenggak-lenggoknya itu.
Bayangan itu berjalan menghampiri, "Bagaimana sudah kau dapatkan berkas2 pengiriman paket 3 tahun lalu?"
"Sudah, pak... ini," kata wanita itu sambil menyodorkan sebuah buku setebal 5 cm.
"Baiklah. Terima kasih, nak,"
"Mudah-mudahan dengan berkas ini bisa menyeret Zein ke meja hijau dan arwah kak Fera bisa tenang di alam sana. Hati-hati, pak,"
"Kaulah yang harus berhati-hati, nak...
sebab, harimau itu licin dan licik, sewaktu-waktu bisa mencabik-cabik tanpa ampun,"
"Pengorbananku, layak untuk Kak Fera. Bapak tak perlu khawatir, saya tidak sendirian disini,"
"Baiklah, nak... bapak pergi dulu," kata bayangan itu sambil membalikkan badan dan melangkah dengan hati-hati meninggalkan tempat itu.
Wanita itu berdiri sambil menatapnya, hingga lenyap di kerumunan semak belukar. Setelah menghela nafas panjang ia kemudian melangkah masuk, "Kak Fera... semoga kau menjaga dan melindungiku selalu dari kawanan serigala lapar ini,"
"Mbak....
Ada paket ....
tolong diterima...."
Suara mengambang, dingin dan datar, terdengar seakan menggema terbawa angin dingin yang berhembus perlahan. Aroma harum dan tajam menusuk rongga hidung, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Ia menoleh kesana-kemari hingga sepasang matanya tertuju pada sebuah bayangan yang berdiri di ambang pintu masuk. Bayangan seorang wanita, berpakaian kurir berwarna coklat tua bercampur dengan bercak-bercak darah merah kehitaman. Topi Eiger, menutupi sebagian wajahnya.
Wanita itu mundur beberapa tindak, sementara sepasang matanya tak berkedip, bibirnya gemetar, gigi-giginya saling beradu. Jantungnya serasa berhenti berdetak manakala bayangan itu sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
***