
#Prolog
Aku merapikan pakaianku yang kusut masai, berulang kali aku bercermin untuk memastikan tak ada bekas-bekas mencurigakan yang bisa membuat orang lain salah persepsi pada wajahku. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, aku segera melangkah keluar menyusuri koridor ruangan dimana selalu mempertontonkan rutinitas sehari-hari dari orang-orang mengurus transaksi bank. Lampu-lampu mulai dinyalakan, namun, tak cukup menerangi ruangan secara keseluruhan sementara jam di dinding telah menunjukkan pukul 18:30. Pada jam-jam segini aku biasanya sudah mempersiapkan keperluan Mas Doni : kopi, air hangat dan lain sebagainya. Tapi, ajakan makan malam bersama Pak Jonas itu juga tidak bisa kulewatkan. Semuanya kulakukan demi kebahagiaan keluarga.
Aku terus berjalan menyusuri koridor yang luasnya nyaris 5x7 M² dengan panjang 100 meter itu. Sepi dan lengang... Yang terdengar hanyalah sepatu berhak 2 cm-ku beradu dengan lantai-lantai ruangan. Menggema dan memenuhi ruangan, menulikan telinga. Aku harus segera pulang, sebelum dihujani pertanyaan-pertanyaan aneh dan kata-kata kasar Mas Doni. Entah, aku harus mengemukakan alasan apalagi di hadapannya hari ini. Setiap hari aku selalu pulang terlambat dan memberi alasan yang sama, jelas tidak mungkin dipercaya.
Mendadak langkahku terhenti, di dalam ruangan yang minim cahaya itu aku bisa melihat ada bayangan wanita duduk di salah satu kursi. Ia menundukkan kepala, mungkinkah ada nasabah yang tersisa di tempat ini ? Tidak... Aku sudah memastikannya. Tidak ada seorangpun yang duduk di kursi bercat hitam dengan panjang satu meter setengah itu. Lalu, bagaimana dan darimana orang ini masuk, mengingat pintu masuk sudah beberapa jam lalu ditutup.
"Maaf, Bu... Kantor ini sudah tutup, jika seandainya ibu ada urusan penarikan atau penyetoran ibu bisa kembali besok pagi saat buka," kataku.
__ADS_1
Tak ada jawaban. Wanita itu diam, diam bagai sebongkah arca batu.
Aku menghela nafas panjang, lalu perlahan-lahan mendekatinya. Kembali aku berkata seramah mungkin, "Bu, jam operasional bank ini sudah tutup, jika ibu ada keperluan menarik atau menyetor uang. Ibu boleh mengambilnya lewat mesin ATM atau kembali besok saat jam operasional, mohon maaf, ya, Bu,"
Orang itu tidak menjawab melainkan menangis tersedu-sedu, bahunya terguncang-guncang. Aku jadi semakin bingung, "Mengapa menangis, Bu ? Baiklah, saya menyerah, apa yang perlu saya bantu, Bu...."
Aku tersenyum manakala wanita itu mulai merespon ku, ia menggerakkan kepalanya perlahan semula yang terlintas di benakku adalah wajah seorang wanita setengah baya, namun, senyumanku berubah menjadi teriakan manakala di hadapanku adalah wanita berwajah rusak, bola mata kirinya keluar, menggantung diantara pipi dan hidungnya, darah merah kehitaman mengucur deras, sebagian membasahi baju yang kukenakan...
"Lo, Dhea... Kau belum pulang ?" tanya Pak Jonas.
__ADS_1
"Ada apa, mbak Dhea ?" pak Serpong juga ikutan bertanya.
"I... I...ibu ini," kataku sambil menunjuk ke arah dimana sosok wanita tadi itu duduk, tapi, tak ada siapa-siapa disitu, "Benar, pak tadi ada seorang wanita duduk disini," kataku dengan suara gemetaran.
"Mbak Dhea, tidak ada seorangpun di tempat ini selain Mbak Dhea, ada apa, mbak ?" tanya Pak Serpong.
Aku tidak menjawab, melainkan segera melangkah keluar diikuti oleh Pak Jonas.
"Tampaknya kau letih, Dhea... Mari saya antar pulang," Pak Jonas menawarkan dan aku mengangguk, sementara sepasang mataku tak lepas memandangi kursi yang ada di sebelah sudut ruangan itu.
__ADS_1
__________