
09. NYANYIAN KEMATIAN
Abigail berjalan menyusuri halaman rumah yang penuh dengan beraneka ragam jenis tanaman yang tumbuh lebat disana-sini. Jika ingatannya belum kembali, mungkin Abigail akan merasa kebingungan dengan seluk beluk rumah itu, tapi, kini ia lebih percaya diri. Dengan langkah mantap dan tanpa kesulitan yang berarti, sampailah ia di rumah Mak Bolot yang berjarak 250 meter dari rumah utama.
Begitu sampai di pintu gerbang bercat hitam, tangan Abigail mengetuk dan tak lama kemudian Mak Bolot muncul dari dalam rumah. Sambil berjalan tertatih-tatih, ia menghampiri Abigail, “Masuklah nona Abi, akhirnya kau kembali ke rumah itu,” katanya dengan suara bagaikan orang tercekik dan mempersilahkan Abigail masuk.
“Benar, mak ... ini benar-benar sulit dipercaya,” kata Abigail sambil melangkah masuk, “Bagaimana ini bisa terjadi, Mak ? Padahal, sudah lama sekali saya meninggalkan rumah ini. Sama sekali tak pernah terlintas di pikiranku tentang rumah ini,”. Mak Bolot tertawa terkekeh-kekeh, “Heh... heh... heh... heh... kalau boleh aku katakan, ini adalah jodoh,” katanya, sambil berjalan beriringan dengan Abigail menuju anak tangga penghubung halaman dengan pintu masuk rumah.
Begitu masuk ke dalam, Abigail terkejut melihat Fred, Andre dan Ryan berkumpul di rumah Mak Bolot. Di pihak Fred, ia dan teman-temannya terkejut melihat kedatangan Abigail, “Abi, kupikir ... aku tak bisa bertemu denganmu lagi. Bagaimana kau bisa keluar dari bawah sana lalu tiba-tiba muncul disini ?” tanya Fred. Abigail pun juga bisa menebak apa yang ada di benak teman-temannya. Maka dari itu, ia segera menceritakan apa yang terjadi selama di ruang bawah tanah, menghilangnya Gembul, ingatannya yang sudah kembali, perjumpaannya dengan Amigail yang membimbingnya keluar dari ruang bawah tanah dengan melewati sumur di halaman belakang, kematian Liza dan ditemukannya jasad Farid yang mulai membusuk di lantai dua hingga keinginannya untuk mematahkan dan menghindarkan teman-temannya dari Kutukan Arwah Feni. Setelah mengakhiri ceritanya, ia bertanya pada Fred, “Mengapa tiba-tiba datang dan menginap di rumah Mak Bolot ?”
Baru saja Fred hendak menjawab, Mak Bolot buru-buru menyahut, “Hmm... mereka ingin agar aku menjelaskan apa sebenarnya yang sudah terjadi di rumah tempat kalian tinggal. Kemarin mereka hendak kembali kesana, tetapi, aku mencegahnya... semua itu demi keselamatan juga kebaikan mereka. Saat malam tiba, jalanan yang menghubungkan rumah ini dengan rumah terkutuk itu terdiri dari jalanan gelap, menyesatkan dan mungkin selamanya mereka tidak akan bisa kembali ke rumah itu. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melewatinya,” setelah berkata demikian ia menghampiri Abigail lalu bertanya, “Kau sudah bertemu dengan Nona Feni, bukan ?”
Abigail mengangguk, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah foto Feni yang dipajang di meja altar ruangan tengah, “Sudah, Mak...tapi, jasadnya belum kutemukan. Bagaimana caranya mematahkan kutukan ini, Mak ?” Mak Bolot terdiam seribu bahasa, “Aku mohon, Mak. Bantulah aku. Aku tak ingin teman-temanku menjadi korban lagi, mereka tak ada hubungannya dengan ini semua,” pinta Abigail. Mak Bolot mengetuk-ngetuk lantai ruangan dengan tongkatnya, “Tadi aku menyinggung-nyinggung tentang jodoh, bukan ? Kau dan Nona Feni juga saudara kembarmu itu. Tahukah kau, apa sebabnya ?!”
Mak Bolot kemudian berjalan ke meja altar dan meraih foto Feni, lalu kemudian berkata, “Keluarga Nona Feni, juga keluargamu adalah keluarga yang berantakan. Sewaktu kau tinggal disini, Arwah Feni tidak pernah mengganggu kalian sama sekali. Sampai sekarang pun Nona Feni tidak mengganggumu. Kusarankan ... ikuti saja petunjuk darinya, aku yakin semuanya akan baik-baik saja,” Abigail mengalihkan pandangannya ke arah Fred dan yang lain, “Fred, segeralah kau ajak teman-teman keluar dari rumah itu, bawa serta jenazah Liza, Farid dan juga kerangka saudara kembarku, Amigail. Apa yang selanjutnya harus kau lakukan, tanyalah pada Hanzel. Kumohon, turutilah perkataanku ini, jika kalian ingin selamat !” tegasnya.
Fred buru-buru menyahut, “Lalu, bagaimana denganmu ? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di tempat ini,” Abigail segera menyela, kali ini suaranya lebih keras seakan tak ingin ditentang, “Aku akan menghadapi roh Feni sebisaku ! Tolonglah jangan banyak tanya lagi, pergila selagi masih ada waktu !!!” Fred tidak berani menentang lagi, maka dari itu, ia segera mengajak teman-temannya untuk meninggalkan rumah Mak Bolot, sementara Abigail dan Mak Bolot berdiri mematung.
Setelah tubuh Fred dan yang lainnya menghilang di tengah rimbunnya tanaman, Mak Bolot mengalihkan pandangannya ke arah Abigail, “Nona Feni meninggal hari Kamis beberapa tahun silam. Jam sepuluh malam, tak ada keluarga dan sanak familinya yang tahu. Akulah yang menemukan mayatnya di lantai 2. Sejak saat itulah setiap hari Kamis jam 10 malam sering terdengar rintihan dan tangis di sana, terkadang terdengar pula suara seperti nyanyian :
‘Bila aku kembali dari kematianku ...
Kuharap dunia tersenyum kepadaku ...
Datang ... datanglah kepadaku,
__ADS_1
Disitulah kau temui ketakutanmu,
Datang, datanglah kepadaku ...
Ketakutanmu ... sumber hidup abadiku, ‘
Semua orang yang pernah tinggal disini termasuk keluargamu juga pernah mendengarnya,” Abigail mengangguk, Mak Bolot kemudian bertanya, “Kau tahu apa artinya, Nona Abi ?”
Pertanyaan yang membingungkan hati Abigail, untuk sekian lamanya ia termenung, namun, Mak bolot akhirnya tertawa terkekeh-kekeh, “Heh... heh... heh... heh... Hidup-mati seseorang, perbedaannya hanyalah setipis kertas. Asalkan kau bersedia menemukan jasad Nona Feni, dan membiarkannya istirahat dengan tenang... semuanya akan berakhir. Jawabannya, semua ada di lantai dua. Besok adalah hari Kamis ... jika kau belum bisa menemukan jasad Nona Feni, ataupun menemukan jalan keluarnya, kutukan itu akan menyebar ke teman-temanmu. Dan, apabila sudah menyebar, saat kembali ke rumah masing-masing .... MALAPETAKA BAGI DUNIA !! Temukanlah Jasad Nona Feni, ikutilah kata hatimu dan patahkanlah kutukannya, maka, semuanya pasti akan berakhir,” jelasnya sambil memberikan foto Feni kepada Abigail.
Sepasang mata Abigail menatap foto Feni dalam-dalam, teringatlah akan kejadian di dalam sumur, kejadian yang mungkin takkan pernah ia lupakan seumur hidup, masih terasa cengkeraman erat dan dingin Feni. Sepasang mata Abigail beradu dengan sepasang mata sayu Feni yang terpampang pada foto dalam genggamannya, sepasang mata itu seakan bergerak dan berubah seperti yang ia lihat di dalam sumur. Detik berikut seperti ada angin tajam nan dingin, memasuki lubang telinga yang kemudian menggetarkan setiap gendang telinganya, mendesis bagaikan desisan ular. Desisan yang kemudian berubah menjadi kata-kata dingin lagi tajam :
“Mengapa aku tidak kamu bawa juga ?
Mengapa hanya dia saja yang kau selamatkan ?”
“Mak, di bawah meja itu, adalah jalan menuju ke ruang bawah tanah, bukan ? Bisakah dilewati oleh manusia, bukan?” tanya Abigail sambil meletakkan foto Feni di meja altar. “Tentu saja, bisa ... apa rencanamu ?” tanya Mak bolot.
Abigail tersenyum, “Aku berniat memeriksa ruang bawah tanah sekali lagi. Waktu yang tersisa untuk menyelamatkan teman-temanku sedikit sekali hanya sampai besok jam 21:00 WIB. Jadi, bisakah aku masuk kesana dengan melewati jalanan di bawah meja itu ?” Mak Bolot mengangguk, digesernya meja itu ke belakang hingga menempel pada dinding ruangan. Setelah meja tersebut bergeser, Abigail melihat sebuah pintu kayu, ukurannya lebih kecil daripada meja tersebut. Mak Bolot meraih gagang pintu dan menariknya ke atas. Pintu terbuka, hawa aneh keluar dari dalam ruang itu untuk kemudian tersebar memenuhi ruang tengah, “Aku jarang sekali membuka ruangan ini semenjak keluargamu meninggalkan rumah ini. Berhati-hatilah kau disana, keselamatan umat manusia terletak pada tanganmu, Nona Abigail,” kata Mak Bolot. Abigail mengangguk, setelah mengambil lampu senter, ia memasuki ruangan itu melalui anak-anak tangga dari besi yang terpaku erat pada dinding. Untuk kesekian kalinya, Abigail kembali memasuki ruangan bawah tanah.
..._____...
Di ruang bawah tanah, Abigail mulai memeriksa keadaan di sekelilingnya. Pada saat itulah Amigail muncul, “Abi...” panggilnya. Abigail terkejut, lalu menoleh ke belakang, Amigail melangkah setengah terbang menghampiri Abigail, “Aku hanya bisa menampakkan diriku dan bercakap-cakap denganmu seorang,” katanya. Abigail tersenyum,memang inilah yang dia harapkan, ada teman yang bisa mendampinginya saat memasuki ruang bawah tanah. Sebab, sekalipun ia sudah memasuki dan berjalan lama di ruangan itu, ia belum bisa mampu mengendalikan rasa takutnya, karena itu ia bersyukur Amigail menampakkan diri. “Apa yang kau lakukan disini, Abi ?” tanya Amigail.
“Mak Bolot sudah memberitahukan bagaimana cara mematahkan kutukan Arwah Feni, maka dari itu, aku memutuskan untuk kembali ke ruang bawah tanah, untuk mencari jenazah Feni,” kata Abigail lalu kemudian bertanya, “Apa kau tahu dimana jenazah Feni berada ? Sebab, hanya kau satu-satunya yang mengerti seluk-beluk ruang bawah tanah ini,” Amigail menggeleng-gelengkan kepala, “Sekalipun aku sudah lama terperangkap disini, aku tidak mengetahui keberadaannya. Aku tak yakin, kita bisa menemukannya disini,” katanya dengan nada menyesal, Abigail segera menghiburnya, “Jangan seperti itu Ami, kita bisa mencarinya bersama-sama,” Baru saja ia menutup mulutnya tercium aroma busuk menyengat, disorotkannya lampu senter ke segala penjuru ruangan, tidak ada siapa-siapa disana selain bunyi tetesan air. Disela-sela bunyi tetesan air itu, sayup-sayup telinganya mendengar bunyi rintihan dan tangis seorang wanita.
__ADS_1
Suara itu berasal dari belokan jalan tak jauh dari tempat Abigail berdiri. Jalanan begitu gelap, dengan hati-hati Abigail berjalan diikuti dengan Amigail menelusuri jalanan itu. Jalanan berbatu, Abigail menelan ludah manakala melihat keadaan di sekitarnya. Dinding ruangan tersebut penuh dengan lubang-lubang yang dihiasi tanaman liar yang merambat, ilalang yang kuning kehitaman memanjang dan berjuntai ke bawah, bagaikan rambut seorang wanita panjang lagi kusut. Meski didampingi oleh Amigail, Abigail tetap saja merasa takut, ia benar-benar seperti berada di alam lain, sementara suara tangis wanita itu tidak lagi terdengar.
“Sepertinya di ruangan ini kita tidak sendirian Ami,” kata Abigail. Amigail mengangguk, “Kau merasa, kita sedang diawasi, bukan ?” tanyanya. Pada saat itulah kembali tercium bau busuk yang kian lama kian tajam, sepasang matanya tertuju pada sosok wanita berbaju putih dan berambut sebatas leher yang dengan gerakan terpatah-patah berjalan mendekatinya.
Abigail mundur beberapa tindak, sepasang matanya tetap memandang sosok itu tanpa berkedip, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Abigail berseru tertahan manakala wajah wanita itu sudah tepat berada di depan wajahnya, dan ia merasakan kedua pipinya disentuh oleh sesuatu yang dingin. Hawa dingin mengalir cepat ke setiap urat nadi dan jalan darah menuju ke otaknya. Wanita itu sudah memegang pipi Abigail dan saat itulah Abigail mendapatkan gambaran-gambara kejadian di masa lampau, seperti slidefilm yang diputar berulang-ulang dalam kejadian yang sama.
Entah bagaimana caranya Abigail bisa berdiri di halaman belakang rumah tempat ia dan teman-temannya tinggal dan melihat sebuah gundukan tanah disana, seorang wanita jangkung kurus, berambut hitam panjang sebatas bahu lagi kusut berjalan sambil membawa alat penggali tanah, ia membongkar gundukan tanah itu dan tak lama kemudian mengeluarkan sesosok tubuh wanita. Tubuh wanita itu tidak bergerak sama sekali, tampaknya sudah meninggal beberapa hari, setelah menelanjangi mayat wanita itu, ia mengeluarkan seutas tali lalu diikatkan pada lehernya dan menariknya menuju halaman belakang dimana terdapat sebuah sumur, sumur halaman belakang. Begitu berada di bibir sumur, wanita itu melemparkan mayat yang dibawanya ke dalam sumur sambil berkata, “ Enyahlah dari rumah ini anak haram, membusuklah kau disana. Sebab, rumah ini bukanlah tempatmu !!”.
Terakhir, Abigail melihat nyala api berkobar-kobar mengelilingi seorang wanita yang sedang sekarat, wajah wanita yang semula menunduk, perlahan-lahan terangkat, memandangnya dengan tatapan mata yang tajam berkilat-kilat bagaikan mata pisau yang terkena cahaya. Wanita itu membuka mulutnya dan berteriak keras, “AAARRRGGHHH !!!” Gendang telinga Abigail serasa pecah, begitu gambaran-gambaran aneh itu hilang, tampak olehnya sebuah wajah pucat pasi dan tak memiliki biji mata, mulutnya terbuka, terdengarlah kata-kata :
“Mengapa aku tidak kamu bawa juga ...
Mengapa hanya dia saja yang kau selamatkan ....”
Setelah itu sosok tubuh wanita dihadapannya perlahan-lahan menghilang tanpa bekas.
Abigail terduduk lemas sambil menundukkan kepala, kini ia baru tahu, apa yang harus dilakukannya. Amigail menghampiri Abigail, “Abi ... kau tidak apa-apa ?” tanyanya kemudian. Abigail menggelengkan kepala, “Ia telah memberiku petunjuk, akupun tahu apa yang menimpanya selama ini. Ami ... disini kita tidak akan menemukan apa-apa. Kurasa, sebaiknya kita segera pergi meninggalkan tempat ini, “ kata Abigail sambil melangkah meninggalkan tempat itu.
Setelah menelusuri ruang bawah tanah, Abigail kembali ke rumah Mak Bolot, Mak Bolot sudah menunggu di dekat meja altar, “Mak, saya kembali,” kata Abigail. Mak Bolot menatap ke arah Abigail, “Lalu, apa yang kau temukan disana ?” tanyanya. Wajah Abigail tampak kecewa, “Saya tidak menemukan apa-apa, Mak.” Katanya, lalu menceritakan apa yang ia alami disana. Mak Bolot menganggukkan kepala, “Itulah yang pernah terjadi dulu di rumah ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mayat Feni, statusku di rumah ini hanyalah pembantu. Setelah itu, Nyonya Astuti menjadi gila dan Tuan Ibrahim memasukkannya ke Rumah Sakit Jiwa,” jelas Mak Bolot.
“Bisakah Mak Bolot memberitahukan dimana alamat rumah sakit jiwa yang merawat Nyonya Astuti ?” tanya Abigail setelah sesaat lamanya termenung.
Mak Bolot menatap Abigail dalam-dalam, “Kau tidak akan mendapatkan apa-apa disana. Dia benar-benar tidak bisa diajak bicara. Akan tetapi, jikalau kau bersikeras hendak menemuinya, pergilah ke RUMAH SAKIT JIWA GRAHA NUSANTARA, kamar No. 166. Aku yakin, kau pasti kecewa bila mengetahui bahwa usahamu itu sia-sia,” Abigail tertawa, “Terima kasih, Mak ... itu sudah cukup membantuku,” katanya.
Mak Bolot menatap Abigail sambil menggeleng-gelengkan kepala, teringatlah ia akan Feni semasa hidupnya. Sifat dan segala tindak tanduk Abigail mirip dengan Feni, “Dasar wanita besi,” katanya dalam hati, tanpa sadar air matanya menetes dan membasahi pipinya yang keriput dan sayu, sementara, perlahan-lahan tubuh Abigail menghilang di antara semak-belukar yang tumbuh lebat di sekitar halaman rumahnya.
__ADS_1
..._____...