
#1. Hantu Sinden Di Ruang Gamelan
"Ning... Nong.... Ning... Nong...."
Bunyi gamelan itu terdengar menggema di lantai dua. Pak Agus, Satpam SD Negeri 1 Keteng, Banyuwangi yang kebetulan mendapat giliran tugas jaga malam mendengus, "Ah, masak ada siswa-siswi yang belum pulang sementara sudah larut begini," sambil melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 01:30 sementara kaki-kakinya melangkah menaiki anak tangga penghubung lantai satu dan lantai dua.
"Ning.... Nong... Ning.... Nong....Ning.... Gong"
Bunyi "gong" terdengar begitu keras menggetarkan hampir semua dinding-dinding kaca jendela, membuat Pak Agus terkejut, senter dalam genggamannya nyaris terlepas. Seandainya, malam itu sekolah tidak mendapat giliran pemadaman lampu, ia tidak perlu membawa-bawa senter tersebut.
Ia tampak marah sekali, "Hei, siapa itu, malam-malam begini membunyikan gamelan dan gong, tidak tahukah ini jam berapa ?! Lewat tengah malam ! Ayo, keluar atau saya laporkan ke bapak kepala sekolah!!" serunya.
Tak ada jawaban. Pak Agus kesal dan saat tiba di pintu ruangan, bunyi gamelan itu semakin jelas terdengar. Ia tertegun, pintu tertutup rapat, jelas tidak ada siapapun yang masuk tapi, siapa yang membunyikan gamelan.
Ia merogoh saku dan mengeluarkan kunci dan dengan sangat perlahan, pintu dibuka.
"Kkkrrriiieeettthhh..."
Bunyi engsel pintu berkarat menimbulkan rasa ngeri di tengkuk Pak Agus. Senter menyorot ke segala penjuru, ke setiap sudut ruangan, yang tampak adalah peralatan musik tradisional gamelan, kendang, gong dan gending, terbuat dari perunggu ditata rapi berderet dan angklung tergantung tepat di sudut ruangan. Tidak ada siapapun disana, namun, siapa yang membunyikan gamelan dan gending tadi. Kini alat-alat itu diam tak bersuara.
Satpam itu masih berdiri terpaku diambang pintu, sementara sepasang matanya masih menatap alat-alat tradisional itu. Semakin lama ia memandanginya, ia merasa ada hawa dingin keluar dari gamelan, gong dan gending yang usianya mungkin sudah ratusan tahun.
Sayup-sayup terdengar sebuah kidung,
"Nggerku, bocah bagus lan ganteng...
Sliramu tak angen-angen...
Yen arep turu elinga...
Simbokmu iki lunga namung ora suwe...
Turu, turu, turuo amarga banyune wes amber,"
Pak Agus mencari ke asal suara itu, dan terkejut manakala cahaya senternya menyorot ke sebuah bayangan seorang wanita berkebaya hitam, rambutnya disanggul dan dihiasi oleh sebuah tusuk konde berbentuk bunga mawar berwarna kuning keemasan. Ia duduk di sudut kanan ruangan. Bahu kanannya bergerak naik turun sepertinya ia menimang-nimang sesosok bayi. Tubuhnya menebarkan aroma bunga melati yang cukup kuat.
Keringat dingin mengucur deras, membasahi wajah pucat dan sekujur tubuhnya yang gempal itu. Sosok wanita itu terdiam sejenak sebelum kepalanya terpisah dari tubuhnya dan menggelinding ke arah kaki Pak Agus. Sepasang mata di kepala tanpa tubuh itu menatap penasaran, seringai menyeramkan membuat Satpam bertubuh gempal itu lari terbirit-birit.
Sejak saat itu, Pak Agus jatuh sakit dan seminggu kemudian ditemukan gantung diri di rumahnya.
#2. Hantu Tanpa Kepala ( Sophia Van Koef ) di Lab IPA
Siang itu, 2 orang siswi kelas 2, Lidya dan Dinda ijin ke toilet pada Pk Dwi. Mereka hanya ingin menghindari pelajaran IPA berikut ulangan yang diberikan selama 2 jam penuh. Bagi siswa yang lain, ulangan setelah materi pelajaran diberikan itu sudah biasa. Namun, bagi Lidya dan Dinda itu merupakan siksaan berat karena mereka pada dasarnya tidak menyukai pelajaran berhitung dengan simbol-simbol yang menurut mereka aneh.
"2 jam yang membosankan," pekik Lidya setelah tiba di lantai dua dimana lab IPA berada berseberangan dengan ruang gamelan. Beruntung dinding-dinding bangunan dibuat dari bahan yang kedap suara, sehingga pekikannya tak mengganggu aktifitas belajar-mengajar yang lain.
Lab IPA, memang jarang dipakai semenjak jumlah siswa sekolah tersebut turun, maka, banyak barang mangkrak ditata sembarangan, berdebu dan sarang laba-laba menempel diantara barang-barang seperti kursi roda, botol-botol chemical berisi katak, ular dan lain sebagainya yang diawetkan. Sekalipun sering terkena cahaya matahari, sepanjang siang, namun, karena banyaknya barang yang tak tertata rapi, juga semak-semak liar ruangan itu terkesan angker.
Dulu sebelum bangunan ini dijadikan sekolah, bangunan ini adalah salah satu rumah sakit terbesar di kawasan Keteng dan sekitarnya. Namun setelah Jepang berkuasa, bangunan ini dijadikan kamp Tawanan perang. Banyak tawanan perang pria, wanita, dan anak-anak meregang nyawa di tempat ini.
"Lid, sebaiknya kita segera pergi dari sini, yuk," ajak Dinda sambil menggosok-gosok pangkal lengannya yang mendadak terasa dingin padahal sinar matahari masih tampak panas menyengat.
"Kenapa, Din ? Bukankah kau yang mengajak kemari tadi ?" ujar Lidya.
"Entahlah. Semula aku ingin membuktikan sendiri rumor yang beredar di sekolah tentang tempat ini,"
"Rumor apa ?"
"Ada beberapa siswa yang hilang di ruangan ini, konon sebelum menghilang, bertemu dengan salah satu mantan dewan guru yang mengajar disini, Miss Sophia namanya," jelas Dinda.
"Siang-siang begini..."
__ADS_1
Dinda menganggukkan kepala, "Perasaanku mendadak saja jadi tidak enak," katanya sambil menarik lengan Lidya untuk meninggalkan tempat itu.
"Aku tak percaya, Din... Kalaupun ada yang namanya hantu, mereka takkan berani nongol di siang-siang begini,"
"Kalau kau tak mau, biar aku yang pergi sendiri," ujar Dinda.
Lidya menghela nafas panjang, "Oalah, Din... Kau pengecut sekali," katanya untuk kemudian dengan langkah malas meninggalkan Lab IPA. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah, mereka mendengar sapaan ramah dan halus.
"Selamat siang, sedang apa kalian disini ?"
Lidya dan Dinda menoleh, seorang wanita cantik berambut ikal dan coklat berdiri di ujung lorong, buah buku setebal 5 cm dikepit pada ketiak kirinya. Bola matanya yang coklat menyorot dingin, tajam dan menusuk. Hidungnya mancung dan pemerah bibir masih tampak basah menempel pada bibirnya yang menyungging senyuman tipis.
"Oh, selamat siang, Bu..." Dinda menganggukkan kepala, ia melirik ke arah Lidya yang masih bengong. Sesaat kemudian iapun memberi hormat pada wanita asing berkulit putih pucat itu.
"Namamu, Lidya, ya ?" tanya wanita itu.
"Iya, Bu... Kami mohon diri dulu," ujar Lidya.
"Tunggu," cegah wanita itu, menghentikan langkah kaki mereka. Wajah Dinda pucat pasi, berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam dirinya.
"Lidya," sapa wanita itu ramah, Lidya bagaikan digerakkan kekuatan tak kasat mata membalikkan badan dan menatapnya.
"Ibu tahu, kau selalu melarikan diri saat jam pelajaran IPA. Nah, kalau kau bisa menjawab pertanyaan ibu, boleh kembali. Tapi, jika tidak... Ibu akan menghukummu," kata wanita cantik itu.
"Siap, Bu," ujar Lidya.
"Nah, ini pertanyaannya... Jika salah satu anggota atau organ tubuh manusia dicabut atau dicopot, masihkah bisa hidup ?"
Lidya mengerutkan dahi, pertanyaan yang aneh. Katanya dalam hati.
"Ayo, jawablah," desak wanita itu.
"Tentu saja, tidak bisa, Bu..." jawab Lidya.
"Krek, kkrreekk,"
Saat wanita itu mengangkat tangan kanannya, darah menyembur keluar sebagian memercik ke baju Lidya dan Dinda. Mata mereka terbelalak, manakala wanita di hadapannya sudah berdiri dengan tangan kanan membawa kepala yang sudah dicabut dari badannya.
Lidya dan Dinda menjerit histeris terlebih saat tubuh tanpa kepala itu menyodorkan tangan kanan yang menjinjing potongan kepala ke depannya sambil berkata, "Lihat, masih hidup, bukan ?"
Teriakan Lidya dan Dinda yang keras itu didengar oleh beberapa orang karyawan yang saat itu sedang berada tak jauh dari lab IPA. Mereka segera berlari dan melihat Dinda tengah jatuh terduduk di lantai sementara matanya yang berkaca-kaca menatap tubuh Lidya yang terseret oleh benda tak kasat mata. Pak Jiman dan Pak Hadi berlari mengejar dan berhasil menyelamatkannya sekalipun anak itu tampak shock.
#3. Kuntilanak Merah Penunggu Ruangan Perpustakaan
Deliver me, out of my sadness.
Deliver me, from all of the madness.
Deliver me, courage to guide me.
Deliver me, strength from inside me.
All of my life I've been in hiding.
Wishing there was someone just like you.
Now that you're here, now that I've found you,
I know that you're the one to pull me through.
Deliver me, loving and caring.
__ADS_1
Deliver me, giving and sharing.
Deliver me, the cross that I'm bearing.
All of my life I was in hiding.
Wishing there was someone just like you.
Now that you're here, now that I've found you,
I know that you're the one to pull me through.
Deliver me,
Deliver me,
Oh deliver me.
All of my life I was in hiding.
Wishing there was someone just like you.
Now that you're here, now that I've found you,
I know that you're the one to pull me through.
Deliver me,
Oh deliver me.
Won't you deliver me.
Lantunan lagu tersebut selalu terdengar saat malam tiba. Beberapa dewan guru yang kebetulan kebetulan lembur seringkali mendengarnya. Mereka sempat menegur Pak Ar, karyawan perpustakaan. Mereka menduga bahwa laki-laki berumur 40 tahun itu lupa mematikan komputer atau tape saat ia sudah pulang.
"Saya merasa tidak pernah menyalakan tape, kalaupun pulang, saya sudah mematikan semua yang berhubungan dengan barang elektronik," begitulah jawaban Pak Ar.
Hingga pada suatu malam, Bu Yeni datang ke sekolah untuk mengambil barangnya yang tertinggal di ruang guru. Untuk menuju ke ruang guru tak ada jalan lain selain melewati ruang perpustakaan yang terletak di ujung sebelah Timur.
Oleh Pak Sukur, tukang kebun sekolah lampu hanya dinyalakan sebagian saja, sehingga untuk penerangan Bu Yeni memerlukan senter atau lentera. Saat melewati ruang perpustakaan, ia mendengar lagu itu disenandungkan dengan merdu oleh seorang wanita.
"Hei, bukankah Pak Ar sudah pulang dan mematikan alat-alat elektronik ?" tanya Bu Yeni seorang diri. Didorong oleh rasa penasarannya, ia mengarahkan lenteranya ke dalam ruangan, tidak ada siapapun. Tapi, ia yakin suara itu berasal dari sana.
"Ah, sudahlah... Mau nyanyi sampai subuh atau 2 kali 24 jam, silahkan saja. Bukan urusanku," ujar Bu Yeni ketus, ia kembali melangkah dan akhirnya tiba di ruang guru. Saat hendak membuka kunci pintu, terdengar bunyi cekikikan berasal dari pepohonan rimbun yang memayungi ruang guru. Tapi, Bu Yeni pura-pura tidak mendengarnya.
Bu Yeni telah menemukan barangnya yang tertinggal di ruang guru dan bergegas untuk pulang. Tapi, lagi-lagi lagu Deliever Me terdengar begitu merdu tanpa sadar ia berkata, "Siapapun yang menyanyikannya, suaranya begitu merdu dan indah," kembali ia melangkah kali ini, terdengar suara cekikikan jauh tapi dekat, dekat tapi jauh. Bu Yeni mencari-cari asal suara itu. Halaman sekolah tampak sunyi, sepi dan lengang tak ada siapapun disana, dan saat ia membalikkan badan, lentera menyorot ke sebuah sosok. Sosok berpakaian merah, berambut hitam, panjang tergerai, berkulit putih pucat berdiri di hadapannya.
Rahang Bu Yeni serasa kaku, lututnya lemas, tubuhnya serasa tak bertenaga. Hidungnya mencium aroma busuk menyengat, perutnya mual dan ....
"Hoekh !"
Seisi perut Bu Yeni tertumpah keluar terlebih saat wajah sosok itu tepat berada di hidungnya. Ulat belatung, kelabang, cacing merayap pada wajahnya yang rusak, penuh luka dan bernanah. Sebagian hewan melata, darah dan nanah itu memercik ke wajah Bu Yeni, membuat wanita berumur 35 tahun itu jijik bercampur ngeri terlebih belatung itu seakan merambat dan masuk di sela-sela permukaan kulit wajahnya. Iapun roboh tak sadarkan diri.
"Hi... Hi... Hi... Hi... Hi..." sosok wanita berpakaian merah itu cekikikan dan perlahan-lahan menghilang dari pandangan.
Konon kuntilanak merah itu adalah arwah salah seorang siswi yang bunuh diri di ruangan perpustakaan lantaran tak kuasa menanggung aib. Ia meninggalkan sebuah buku bersampul coklat dengan tinta emas. Buku itu mengisahkan sejarah hidupnya yang kini disimpan rapi oleh salah satu mantan pegawai perpustakaan yang pernah mengenalnya.
NB.
✓ Saya menceritakan 3 kisah hantu sekolah ini menurut apa yang dialami oleh yang bersangkutan sendiri. Untuk menghormati dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya menyamarkan nama dan tempat kejadian tersebut.
✓ Jika ada yang mengalami hal serupa baik nama dan peristiwa yang telah terjadi di masa lalu, itu hanyalah kebetulan saja. Tidak ada keinginan saya untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu.
__ADS_1
✓ Saya berterima kasih pada mereka semua yang ikut andil dalam penulisan cerita saya ini, terima kasih pula pada para pembaca Budiman yang telah menyisihkan waktunya untuk membaca, mengkritik, mem-follow, memberi vote tulisan saya ini. Salam sehat selalu. Penulis.