
05. Teror Arwah Kurir Wanita ( bagian kedua )
Video pita VHS.
Itulah paket yang ditemukan oleh Amri beberapa hari yang lalu. Sebuah barang yang cukup langka di jaman millenial seperti sekarang. Beruntung sekali ia memiliki mesin pemutar video pita berbentuk kotak tersebut.
Ia tersenyum kecut, “Paket yang aneh dan unik menurutku. Tak ada nama dan alamat pengirimnya,” katanya pada Rahmat.
“Kalau boleh tahu, apa isi video itu ?” tanya Rahmat.
“Sebuah video aneh, mengerikan dan sadis menurutku,” ujar Amri sementara tangannya bergerak memasukkan video itu ke playernya dan menekan tombol pada mesin. Lama sekali dua pemuda itu menatap layar TV yang hanya menayangkan kumpulan semut dan suara berisik.
“Kok aneh,” kata Amri.
“Apanya yang aneh ?”
“Kita sudah menunggu 15 menit, namun, film yang ada dalam video tape itu tidak muncul. Padahal kemarin aku sempat memutarnya. Dalam waktu tak kurang dari 10 menit, sudah muncul gambarnya. Durasi film hanya 45 menit saja. Tapi, mengapa sekarang malah yang muncul hanyalan sekumpulan semut saja,” jelas Amri.
“Ah, sudahlah, mungkin video pita tersebut rusak. Sekarang jamannya DVD player, mengapa harus dibingungkan dengan video tape kuno itu. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku, bung...,” ujar Rahmat sambil melangkah meninggalkan tempat itu. Amri hanya mengangkat tangan kanannya saja.
Setelah Rahmat tidak ada, mendadak di layar TV sudah terpampang sebuah adegan brutal. Membuat Amri tak berkedip melihatnya, ia hendak berbicara namun, rahangnya serasa kaku.
“Hentikan, jangan kalian sakiti dia. Dia hanyalah kurir dan tidak tahu menahu soal paket tersebut,” teriak seorang laki – laki paruh baya kepada 5 orang laki – laki yang berdiri mengelilingi seorang wanita yang terbaring di lantai. Laki – laki itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman seorang pria bertubuh gempal dan berambut gondrong.
“Tutup mulutmu, pak tua. Ini adalah perintah Tuan Muda. Siapa saja yang berani macam – macam dengan paket tersebut, tak peduli pria-wanita, tua-muda bahkan anak – anak, harus disingkirkan. Rasa penasaran telah menghantarkannya ke ambang maut. Kami tak ingin mencari masalah, membiarkannya hidup,” ujar laki – laki plotos jangkung dan tinggi sementara tangannya meraih bungkusan plastik berisi serbuk putih tak jauh dari delivery box di dekat wanita itu.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan kalian berbuat seenaknya. Apalagi pada seorang wanita,” ujar laki – laki paruh baya itu sambil bergerak cepat dan mendadak saja ia dapat melepaskan diri dari pegangan tangan pria bertubuh gempal dan gondrong itu. Ia berlari dan menyerang ke arah Gunawan, namun, dihadang oleh 2 orang.
Pertarungan tidak seimbang terjadi dan hanya dalam waktu singkat laki – laki paruh baya itu kembali diringkus dan seseorang menendang tempurung lututnya, ia berteriak diiringi jeritan menyayat dan iapun roboh sambil menggeliat – geliat kesakitan.
“Orang tua tak tahu diri,” ujar laki – laki berambut keriting, berkulit hitam, dia adalah Irul, “Gun sekalian saja bunuh laki – laki ini biar tidak merepotkan,”
“Tenanglah, kita akan membereskannya setelah bersenang – senang dengan kurir wanita ini,” kata Gun sambil menyambar kepala wanita itu, topi eigernya terlepas dan ia menjerit tertahan manakala Gun menjambak rambutnya. Sepasang mata wanita itu tampak menyala-nyala, seakan ingin membakar wajah laki – laki plotos yang kini menyodorkan bungkusan plastik di tangan tepat pada hidungnya.
Wanita itu berusaha membuang wajahnya, bermaksud menghindari bau harum menyengat yang menusuk hidungnya, tapi jambakan Gunawan terlalu kuat, belum lagi kedua tangannya ditelikung ke belakang oleh seorang pria bertubuh tinggi besar dengan tato naga di dadanya. Sekeras apapun usahanya untuk melepaskan diri, gagal malah luka di kepala kanannya yang mengering terbuka lagi. Laki – laki plotos itu menyeringai, “Kau benar, nona.... paket itu tidak kosong dan inilah isinya. Kurasa kau perlu mencobanya,” sambil berkata demikian, ia membuka paksa mulut wanita itu dan menjejalkan serbuk putih mengkilap bak kristal ke dalam mulutnya.
Begitu serbuk itu habis, Gunawan kembali menyambar plastik lain dan kembali melakukan hal yang sama hingga akhirnya wanita itu roboh lemas tak berdaya. Laki – laki paruh baya itu menggeram – geram, tapi, rasa sakit pada lututnya membuatnya tak mampu berbuat apa – apa.
5 orang laki – laki itu tertawa terbahak – bahak, mereka berdiri mengelilingi wanita yang kini sudah kehilangan seluruh kesadarannya. Wajah, rambut dan pakaiannya kusut masai, tubuhnya menggigil bak orang kedinginan, namun, pemandangan ini mengundang birahi 5 laki – laki tersebut.
“Breth .... Breth ... Breth ...”
Sementara, laki – laki paruh baya itu tampak menangis, membuang muka mendengar tawa di sela – sela rintihan perlahan. Tak seorangpun tahu bahwa laki – laki paruh baya itu merangkak meninggalkan tempat itu.
Adegan terakhir dalam video pita tersebut adalah box delivery milik wanita itu dibongkar dan paket-paket di dalamnya berhamburan keluar. Diantara ceceran bungkusan paket tertera nama Amrinudin lengkap beserta alamat rumahnya. Sekalipun gambar itu diambil dalam durasi yang singkat mungkin sepersekian detik, Amri dapat melihatnya dengan jelas. Setelah itu, layar tv kembali menyajikan tayangan ribuan semut. Film dalam video pita tersebut sudah habis.
***
Malam itu, cahaya purnama tampak bagaikan emas, langit begitu cerah. Kabut tipis yang turun dari Gunung penanggungan, menyebar ke kaki-kaki gunung, menyelimuti barisan pohon randu yang berdiri berjejer laksana barisan prajurit raksasa menjaga pintu masuk perbatasan 2 kota besar di Jawa Timur ( Mojokerto dan Pasuruan )
Di sebuah warung makan, 2 orang laki-laki duduk santai dengan ditemani 2 cangkir kopi dan satu piring berisi beberapa makanan ringan plus 1 pak rokok kretek. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali menyesap kopinya. Seorang bertubuh gempal berambut gondrong dan yang seorang lagi bertubuh pendek, berambut keriting. Dialah Choirul atau sering disebut Irul.
__ADS_1
Saat hari menjelang tengah malam, mereka meninggalkan warung itu dan berpisah di tikungan jalan.
Suara knalpot Bronx dari sepeda motor Irul terdengar memekakkan telinga menerobos jalanan yang sepi dan lengang. Mendadak ia menghentikan sepeda motornya manakala sebuah ada sebuah sepeda motor lain menghadang jalannya. Sepeda motor itu diparkir melintang di badan jalan yang sempit, wajah Irul merah padam... si empunya sepeda tersebut tak kelihatan batang hidungnya.
"Tin, tin, tin, ttttiiiinnnn,"
Bunyi klakson berkumandang, bergema begitu kerasnya sehingga seakan terdengar di segala penjuru. Tapi, sekeras apapun klakson dibunyikan, tak menunjukkan adanya kehidupan di sekitar tempat itu.
"Brengsek ! Akan kutabrak saja sepeda motor itu," umpat Irul sambil menginjak pedal gas keras-keras. Sepeda motornya meluncur bak anak panah dan ia terkejut sepeda motor yang melintang di jalan mendadak lenyap. Irul tidak dapat mengendalikan sepeda motornya dan
"Bbrruuaakk..."
Terdengar suara 2 benda keras beradu, moncong sepeda motor Irul melesak ke dalam sebuah badan pohon randu yang cukup besar, tubuh Irul terlempar dan dadanya membentur sebuah batu darah segar menyembur keluar dari mulutnya. Ia tidak sempat mengaduh, berteriak, tulang dadanya hancur.
Tampak sesosok bayangan berjalan mendekati Irul. Sepasang mata Irul terbelalak melihat pemilik bayangan itu.
Ia adalah seorang kurir wanita, sebagian wajahnya tertutup oleh topi Eiger berwarna coklat bercampur dengan bercak-bercak merah kehitaman.
"Mas ....
Ada kiriman paket....
tolong diterima....."
Suara itu seakan menggema; datar, hampa dan dingin di telinga Irul, sepersekian detik kemudian, ia merasakan mulutnya dibuka secara paksa. Sebuah plastik berisi serbuk-serbuk putih bak kristal dijejalkan ke dalam, setelah itu pandangannya gelap, tubuhnya terkulai lemas, dan....
__ADS_1
Bayangan wanita berpakaian kurir itu seakan hilang ditelan bumi, keadaan kembali sunyi dan lengang.
__________