DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXXVI - R I T U A L #6 ( Alternatif Ending )


__ADS_3

#6. Menuju Peristirahatan Terakhir


Kuyang-kuyang yang melayang-layang di udara itu terbang berputar-putar di antara kilatan cahaya petir. Sebuah gerakan yang aneh menurut Ki Alas dan Ki Sena, tapi, mereka tahu apa yang akan dilakukan sekumpulan kepala tanpa badan itu.


Sementara itu, para penduduk desa dibantu dengan beberapa kelompok BADATI KADU itu mengobrak-abrik bangunan tempat penyimpanan barang antik dan saat mereka menemukan sesosok tubuh wanita tanpa kepala, mereka memasukkan kantong-kantong berwarna coklat pemberian Paidi. Terdengar teriakan memekik kesakitan berasal dari langit. Gerakan para Kuyang itu menjadi kacau dan beberapa diantaranya tersambar cahaya petir yang kemudian membakarnya satu persatu.


Di tempat lain, Paidi dan pemuda bertubuh tinggi tegap itu masih terlibat dalam pertarungan sengit. Paidi terdesak hebat, lawannya itu tidak memberikan kesempatan untuk beristirahat sejenak dan sebuah tendangan keras menghantam dadanya.


Paidi terdorong mundur, tendangan itu bukan tendangan biasa, namun dialiri oleh tenaga dalam yang dahsyat.


"Hoekh..." darah kental berwarna merah menyembur keluar dari mulut Paidi, tubuhnya limbung sejenak untuk kemudian jatuh terjengkang. Tapi, Paidi heran ia sama sekali tak terluka serius malah aliran darah di sekitar ulu hati dan perut bergerak naik. Pemuda yang menjadi lawannya itu telah memberikan sebagian tenaga dalam kepadanya. Iapun mulai mengatur nafasnya sekalipun ada perasaan heran merayap di sekujur tubuhnya.


Mendadak terdengar suara seperti angin ribut dari arah belakang Paidi yang disertai dengan hawa panas menyengat.


Paidi menoleh, tampak bola api raksasa meluncur ke arahnya juga pemuda di hadapannya itu.

__ADS_1


"Wwwuuussshhh..."


Suara itu terdengar semakin lama semakin dekat. Paidi yang masih terluka merasakan sekujur tubuhnya kaku tidak dapat digerakkan hanya bisa pasrah.


Paidi memejamkan matanya, namun saat itu ia merasakan tubuhnya didorong dengan keras dan suara hembusan angin itu digantikan oleh suara jeritan memilukan.


Tubuh pemuda tinggi dan tegap itu menjadi sasaran serangan bola-bola api tersebut. Membakarnya hidup-hidup. Hingga perlahan-lahan, bola-bola api itu padam dengan sendirinya.


Kejadian itu berlangsung sangat cepat, tahu-tahu tubuh membara itu roboh tak jauh dari tempat Paidi duduk. Pemuda Karang Dua itu membelalakkan matanya, ia tak berani membayangkan bagaimana jika itu adalah tubuhnya sendiri. Entah mengapa, di dalam hati Paidi timbul rasa sedih, iba dan kehilangan.


"Kita menang.... kita menang..."


"Terima kasih, Gusti..."


Teriakan-teriakan penuh kegembiraan itu menyadarkan Paidi. Sepasang matanya berbinar-binar saat melihat para penduduk desa berlari menghampirinya. Diantara mereka, tampak 2 sosok laki-laki paruh baya juga mendatanginya. Mereka adalah Ki Alas, gurunya dan Ki Sena, paman gurunya.

__ADS_1


"Guru.... Paman Guru," sapanya sambil memberi hormat.


"Kau berhasil mengalahkannya, anakku ?!" ujar Ki Alas.


"Maaf, guru... sesungguhnya dialah yang menyelamatkan saya dari serangan api para Kuyang itu. Hanya saja, saya heran siapa dia dan mengapa ia mengenal Guru dan Paman Guru... dan lagi, ia Sudi memberikan sebagian tenaga dalamnya kepada saya," kata Paidi sambil menunjuk ke arah tubuh yang masih terbakar tergeletak tak jauh darinya.


"Dia sebenarnya adalah salah satu saudara seperguruanmu, nak. Namanya, Doni, murid dari paman gurumu, Ki Sena," jawab Ki Alas.


"Benar, ngger... dia memang hebat tapi telah salah jalan, aku malu mempunyai murid seperti dia. Tapi, untunglah menjelang akhir hayatnya dia bersedia mengorbankan diri demi melindungi mu,"


Ki Sena menambahkan, bahwa Doni meninggalkan pesan untuk para penduduk Desa Karang dan sekitarnya, "Harta kekayaan Doni Darmayanto sebagian diberikan kepada para penduduk yang menjadi korban Kuyang-kuyang peliharaannya. Sekalipun itu tidak mungkin bisa membangkitkan semua yang telah meninggal tapi, dengan harta itu Desa Karang dan sekitarnya bisa mempergunakannya secara bijak,"


Paidi terpaku, ia sama sekali tak menyangka harus bermusuhan dengan saudara seperguruannya, gara-gara dendam lama, toh dendam tidak akan membangkitkan mereka yang sudah meninggal.


_____ T a m a t _____

__ADS_1


Senin, 26 September 2022


__ADS_2