DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXVIII : Malam Terakhir


__ADS_3

Lab bahasa hanya diterangi sebatang lilin, Ray mengakhiri 7 keluar sebagai urutan terakhir untuk menceritakan 7 kisah hantu sekolah. Ia meniup lilinnya, seketika itu ruangan menjadi gelap gulita. Yeni, Yuna dan Jasmin berteriak-teriak histeris.


"Klik", aku menyalakan lampu ruangan, sementara mataku menatap mereka dengan tajam, "Kalian telah memanggil hampir semua penghuni lelembut di sekolah, ini berbahaya sekali," kataku.


"Put, di jaman modern ini, kau masih percaya takhayul seperti itu ?" ujar Ray.


"Itu bukan takhayul, Ray tapi kenyataan yang pernah terjadi di sekolah ini," tukasku.


"Aku tidak percaya," sahut Joe, "Tidak ada bukti yang kongkrit. Kebanyakan mereka yang diceritakan menjadi gila, menghilang atau bahkan meninggal. Kalaupun ada saksinya kami belum tentu percaya,"


"Apakah kalian pernah mendengar 7 siswa yang menghilang setelah menceritakan 7 kisah hantu sekolah? " tanyaku.


Mereka berenam terdiam. Aku kembali melanjutkan perkataanku, "Aku adalah salah satu dari mereka, sementara yang lain tidak pernah kutemui lagi. Kalian pikir, aku ada diantara kalian ?"


"Put, kau bicara apa ?" tanya Jasmine.


"Jangan menakut-nakuti kami, Put... Kami sudah ketakutan akibat cerita-cerita tadi," sambung Yuna.


"Kok tiba-tiba kepalaku pusing, ya... " Kata Joe. Ternyata bukan cuma Joe saja yang merasa kepalanya pusing, yang lain juga merasakan hal yang sama.


"Ini terjadi lagi," kataku, "Kita harus cepat meninggalkan ruangan ini, ayo..." anakku sambil melangkah ke arah pintu mencoba untuk membukanya tapi, pintu itu seperti terkunci.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Put ? Bagaimana dengan Yeni ?" tanya Sesil.


"Jangan banya tanya, itu akan membuat kalian semakin pusing dan nafas kalian sesak. Bantu aku untuk membuka pintu ini... Kita harus segera meninggalkan tempat ini,"


Berenam, mereka mencoba membuka pintu keluar, sebagian mencari barang untuk mendobrak pintu itu. Aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela, dari kami bertujuh, hanya aku saja yang tidak mengalami phobia. Phobia disebut juga gangguan kecemasan pada manusia, rasa takut terhadap situasi khusus dalam hal ini mereka mengalami claustrophobia ( takut berada di ruangan sempit ). Itu wajar, karena selama beberapa jam mereka duduk dalam kegelapan dan hampir terus menerus mendengar cerita-cerita yang menyeramkan dan menakutkan. Mereka mengalami tekanan psikologis. Aku pernah mengalaminya dulu, beberapa tahun yang lalu, teman-teman bercerita tentang tujuh kisah hantu sekolah dalam versi yang berbeda, membuatku terjebak ke dalam dimensi roh. Aku menghilang dan semua orang mengatakan bahwa aku sudah mati. Entah bagaimana caranya, gadis bermasker itu bisa mengembalikan ku ke dunia ini namun aku tetaplah seorang siswi kelas 2 di SMPN satu Keteng ini. Seharusnya, aku sudah lama lulus dan meninggalkan sekolah ini dan seharusnya umurku sekarang di atas 20 tahunan. Aku juga tidak mengerti bagaimana Yeni, Yuna, Sesil, Jasmine, Joe dan Ray mendengar atau mengetahui rumor tentang 7 Kisah Hantu Sekolah yang seharusnya sudah lama terkubur oleh waktu.


"Put... Pintunya tidak bisa dibuka," seru Joe.


"Lewat jendela," kataku sambil membuka jendela lab bahasa.


Jendela terbuka, satu persatu kami merayap naik dan berhasil keluar dengan selamat, namun pada saat giliranku, kakiku seakan ditarik sesuatu.


Aku berontak, hendak melepaskan diri. Semakin aku berontak, cengkeraman itu makin kencang.


"Putri," seru Ray dari luar, "Ayo keluar, sedang apa kau di dalam ?"


"Kakiku," teriakku, "Selamatkan diri kalian, jangan pedulikan aku, cepat pergilah dari tempat ini,"


"Mana bisa kami meninggalkanmu sendirian di dalam ? Ayo raih tanganku, aku akan membantumu," ujar Ray sambil berusaha meraih tanganku.


Begitu Ray berhasil meraih tanganku, ia mencoba menarikku, " Teman-teman ! Putri masih di dalam bantu aku menariknya keluar," serentak mereka berenam membantu Ray menarikku dan...


Aku berhasil keluar, "Cepat tinggalkan tempat ini,"


***


Aku dan teman-teman lolos dari maut, tapi bukan berarti kami bisa bebas beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Ternyata kami harus menghadapi peristiwa lain yang lebih mengerikan. Yeni sering diikuti oleh seorang wanita misterius mengenakan baju sinden, dan mendengar kidung setiap tengah malam, Yuna selalu menjambak rambutnya tanpa sadar, Joe selalu mendengar lagu aneh saat sendirian dan diikuti sosok wanita berbaju merah, berambut panjang, kusut dan tergerai, Sesil selalu menyendiri di depan toilet wanita dan menari-nari, Ray seperti orang gila berteriak-teriak dan tertawa sendiri, kebiasaan baru yang mengerikan adalah ia memanjat pohon yang cukup tinggi dan berniat terjun bebas dan Jasmine sering meringkuk di anak tangga sendirian. Tapi, yang aku herankan adalah siapakah yang menceritakan kisah horor ketujuh, sebab, aku merasa tidak ikut bercerita malam itu. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh teman-teman dikhawatirkan akan berakibat buruk pada mereka.


Apa yang kukhawatirkan terjadi, seminggu kemudian Ray ditemukan tewas setelah menerjunkan diri dari menara air tak jauh dari rumahnya. Menurut ibunya, sebelum meninggal Ray sempat berpamitan hendak berangkat ke sekolah karena hendak mengikuti ekstrakurikuler bulu tangkis di sekolah. Setelah itu dia tidak pernah kembali ke rumah, dia menghilang selama 2 hari... Hari ketiga, ia ditemukan dalam keadaan tewas.

__ADS_1


Yeni. Setiap malam ia selalu mendengar bunyi kidung dan sosok sinden itu selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Siang itu aku mendengar suara ribut-ribut di kelas sebelah, 2 C, murid-murid perempuan berteriak-teriak histeris dan ketika aku menuju kesana, mataku terbelalak lebar manakala melihat sebuah kayu panjang menembus kedua belah telinganya. Darah menyembur memercik kesana-kemari sebagian mengenai baju teman-temannya. Ia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mereka berdua tewas secara mengerikan. Joe, Sesil, Yuna dan Jasmine yang menyaksikan kejadian itu, keadaannya lebih memprihatinkan. Mereka seperti orang gila. Wajahnya lesu, cekungan hitam menggantung di bawah kedua matanya, mereka seperti menderita tekanan batin.


"Ini tidak bisa dibiarkan," kataku pada mereka.


"Tolong katakan pada kami apa sebenarnya yang telah terjadi ?" ujar Joe.


"Aku sudah mengatakannya pada kalian sebelum kalian menceritakan kisah-kisah itu, tapi, kalian tidak percaya,"


"Kau mengatakan, kau adalah salah satu dari tujuh siswa yang menghilang, benarkah itu ?" tanya Joe.


"Benar, aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa kembali ke dunia ini padahal sudah menghilang beberapa tahun yang lalu. Satu yang kuingat, seorang wanita mengenakan masker, dialah yang menyelamatkan aku. Hanya itu saja, yang lain bagaikan hilang dalam memoriku," jelasku.


"Aku tak ingin mengalami nasib yang sama dengan Ray dan Yeni," rengek Sesil.


"Kamipun juga tidak menginginkannya," sahut yang lain.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang ?" tanya Jasmine.


Sebelum aku sempat membuka suara, mendadak Yuna berteriak-teriak kesakitan, tubuhnya jatuh terbanting dan rambutnya seperti ada yang menjambak dan menyeretnya menjauh dari kami. Suasana yang tenang di lab bahasa jadi hiruk pikuk, kami segera mengejar dan menyambar kaki Yuna. Yuna berontak, hendak melepaskan diri dari jambakan tersebut, semakin kuat dia berontak, semakin kuat pula jambakan itu.


"Cepat ambil gunting atau apa saja untuk memotong rambutnya," seru Jasmine.


Teriakan Yuna makin keras, Joe akhirnya bisa meraih kakinya dan mencoba menarik, terjadi tarik menarik antara kami dengan kekuatan tak kasat mata itu, Yuna meronta, aku bisa membayangkan kesakitan yang dialami Yuna, dan ...


"Kress"


"Bruk!"


"Kita tinggal berlima... Maka, kita harus bersatu. Dengan demikian kita bisa saling menjaga dan membantu," kataku.


***


Sesil tampak melamun, sepasang matanya menatap kosong ke depan, mendadak saja, tumbuhnya bergoyang kesana-kemari, melenggak-lenggok sesekali melompat, sesekali pula memutarkan tubuhnya. Gerakannya begitu indah, tapi, tariannya itu di luar kendalinya. Ia terus menari, menari dan menari. Tangannya mengambil seutas tambang dan melilitkannya ke leher setelah itu ...


"Prang!"


Terdengar bunyi kaca pecah dan Sesil melemparkan tubuhnya keluar.


"Ngek ! Krek !"


Tambang yang mengikat leher telah menahan berat badannya sebelum jatuh ke bawah, tulang lehernya patah. Tubuhnya mengejang sesaat sebelum akhirnya tak bergerak-gerak lagi.


Pagi hari para tetangga di sekitar rumah Sesil geger, termasuk aku yang kebetulan hendak berangkat ke sekolah bersama-sama dengannya. Aku merasa terpukul menyaksikan kejadian itu, begitu pula teman-teman. Sementara itu, Yuna masih trauma dengan kejadian beberapa waktu yang lalu, saat mendengar Sesil meninggal, wajahnya memucat bak kertas.


"Dimana Jasmine?" tanyaku pada Yuna.


Yuna menggeleng-gelengkan kepalanya, A... A... Aku tidak tahu," jawabnya.


Aku menoleh ke arah Joe, "Kita jangan sampai berpisah seperti ini, ayo kita cari di tangga sebelah Timur," ajakku. Kami berempat segera menuju ke arah anak tangga, jalan menuju ke lab IPA. Sebelum kejadian menceritakan kisah horor sekolah, kami selalu bersama-sama, tapi, setelah kejadian itu, hubungan kami tidak seperti dulu lagi. Lebih memilih menyendiri. Inilah yang kutakutkan.


"Bisakah kau menceritakan tentang kejadian yang kau alami bersama teman-temanmu sebelum kau menghilang dan akhirnya bisa kembali ke dunia ini ?" tanya Joe.

__ADS_1


"Sudah, aku tak mau mendengarkan cerita tersebut. Yang penting, kita harus segera menemukan Jasmine, bagaimanapun caranya," sahut Yuna.


"Ini semuanya gara-gara Ray, mengajak kita bercerita tentang kisah-kisah tersebut," sambungnya.


"Jangan menyalahkannya, Yun... Dia juga merasa bersalah ," tukas Joe.


"Kau tahu apa, Joe... Kau juga begitu ada ide konyol langsung saja dimakan mentah-mentah. Tidak dipikirkan resikonya," debat Yuna sengit.


Dua orang itu saling adu mulut, wajah mereka menegang hingga otot dan urat-uratnya bertonjolan keluar.


"Hentikan kalian berdua," leraiku, "Berdebat tidak menyelesaikan masalah, ayo kita cari. Kita harus segera menemukan Jasmine,"


Baru saja aku menutup mulutku, tubuhku seperti diseret oleh kekuatan tak kasat mata. Yuna, Joe berteriak-teriak... Teriakan mereka makin lama makin melemah untuk kemudian hilang entah kemana.


Kekuatan tak kasat mata itu terus menyeretku, punggungku terasa panas, kepalaku pening dan pandanganku berputar-putar dan tak kulihat apa-apa lagi. Aku tak sadarkan diri.


***


Saat aku membuka pelupuk mataku, aku berada di tempat lain. Gudang penyimpanan barang antik. Aku menatap ke sekeliling, ruangan itu sebagian besar didominasi oleh lemari-lemari besi Kuningan yang tingginya, setinggi orang dewasa. Di dalamnya tersimpan : Turntable ( pemutar piringan hitam merupakan alat yang digunakan untuk memutar piringan hitam atau vinyl dan menghasilkan suara yang berkualitas), mesin ketik kuno, barang-barang seperti keris, pedang dan lain sebagainya.


Pandanganku tertuju ke sebuah lemari lain, ukurannya lebih besar, dan berisi banyak sekali manekin dan patung lilin berbentuk manusia dengan ukuran sampai sebatas paha, masing-masing bertumpu pada sebuah batu marmer dan di bagian bawah tertera nama-nama.


Astaga, bukankah nama-nama tersebut adalah siswa-siswi yang menghilang beberapa tahun lalu dan aku terkejut, pada salah satu manekin itu terdapat namaku. Putri Dyah Setyowati. Aku mengamati patung tersebut, wajahnya tampak tenang, pandangannya kosong, di sudut bibirnya tersungging senyuman tipis dan manis.


Selain itu terdapat nama-nama lain yang cukup akrab denganku seperti : Joe, Ray, Yuna, Sesil, Jasmine, Yeni dan lain sebagainya.


Sayup-sayup terdengar suara-suara aneh keluar dari dalam tubuh manekin-manekin itu...


"Kau berhutang satu cerita pada kami, ceritakan atau nasibmu akan seperti kami,"


Menyusul kemudian, manekin yang terdapat namaku retak-retak dan dari dalam keluar sesosok makhluk menyerupai manusia, akan tetapi, ia tidak memiliki kulit, melainkan minyak bercampur darah dan nanah.


Sosok itu merangkak mendekatiku, tubuhku gemetaran, wajahku memucat, keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku mencoba menjauh, terhenti saat merasakan adanya hawa dingin merayapi punggung. Aku menoleh, terkejut saat menatapnya, sesosok tubuh wanita, ia menenteng sebuah kepala wanita. Aku berteriak saat kepala itu disodorkan tepat di depan hidungku sambil berkata,


"Nah, kau percaya bukan....


jika salah satu anggota badan dilepas...


manusia itu tetap hidup...."


Aku histeris. Aku masih mendengar teriakanku saat tubuhku melayang-layang, berputar-putar di udara dan jatuh di tempat lain.


Aku tersentak. Di ruangan yang gelap itu telah duduk 6 orang yang sudah tidak asing lagi bagiku : Yuna, Yeni, Jasmine, Joe, Ray dan Sesil. Mereka tengah menyalakan lilin dan bersiap untuk menceritakan 7 Kisah Hantu Di Sekolah.


"Ka... kalian ?" tanyaku.


"Memangnya, kau ini siapa, seperti tidak mengenal kami," jawab Sesil ketus.


"Sorry, guys...." kataku, "Lebih baik kalian batalkan saja niat kalian ini daripada kalian celaka," ujarku.


_____ T A M A T _____

__ADS_1


Jum'at, 23 September 2022


__ADS_2