
#4. Hantu Gantung Leher Di Toilet Wanita
Hujan siang itu deras sekali, hampir di salasar dan di dalam kelas anak-anak berteduh, namun, Reni dan Rita memilih untuk berdiam diri di depan toilet wanita. Kilat diiringi dengan bunyi Guntur membuat mereka sesekali melompat kaget. Reni mendengar kecipak air di depan toilet tapi, tak ada seorangpun berjalan ataupun berhujan-hujanan disana.
"Rit, kau mendengar suara kecipak air atau tidak ?" tanya Reni.
"Tidak, kau jangan buat aku takut. Tuh, lihat tidak ada orang bukan di depan toilet ?" ujar Rita.
"Iya, tapi bunyi ini begitu jelas tertangkap di telingaku. Sebaiknya, kita pergi saja dari sini, cari tempat lain," ajak Reni.
"Kau ini kenapa, sich, Ren.... Tadi, kau mengajak kemari sekarang ...." Rita menghentikan kata-katanya manakala ada percikan-percikan air menyiram wajahnya. Air hujan itu terasa dingin menusuk, padahal jarak antara tempat mereka berteduh dengan toilet cukup jauh dan aman dari percikan air hujan lalu darimana percikan ini berasal.
" Kenapa, Rit ?" tanya Reni.
"Apa kau tidak melihat wajahku dan sebagian bajuku ? Ada yang iseng menyiram air kepadaku," Rita tampak kesal, sepasang matanya nyalang mencari-cari siapa yang menyiramkan air hujan ke wajahnya.
"Tapi, tak ada seorang pun di sekitar sini,"
"Itu yang tak masuk akal," sahut Rita, kembali wajahnya diperciki air hujan dan arahnya memang dari toilet, "Benar-benar usil dan menyebalkan,"
"Sebaiknya kita segera pergi. Perasaanku tidak enak," ajak Reni sambil menarik lengan Rita bergegas menjauh dari tempat itu.
Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu melihat siapa yang tengah berada dalam guyuran air hujan itu. Sosok wanita bertumbuh ramping, berambut panjang. Wanita itu tengah menari , tariannya begitu indah. Sayang, ada sesuatu yang merusak penampilannya, seutas tali yang mengikat lehernya.
***
Saat hujan reda, Cika mengajak Tika ke toilet. Setiba di dalam ruangan tersebut, Cika mendengar senandung merdu dari sudut ruangan.
"Tika, apa kau mendengar sesuatu ?" tanya Cika.
"Tidak, Cika... Kenapa ?"
"Aku mendengar seperti ada seorang wanita menyanyi, coba dengar baik-baik. Suaranya masih terdengar,"
Tika dan Cika terdiam memastikan bahwa memang benar-benar ada seseorang menyanyi.
You lie silent there before me
your tears they mean nothing to me
the wind howling at the window
the love you never gave
I give to you
Really don't deserve it
but now there's nothing you can do
so sleep in your only memory of me
my dearest mother
Here's a lullaby to close your eyes good-bye
it was always you that I despised
I don't feel enough for you to cry oh well
here's a lullaby to close your eyes good-bye
goodbye
goodbye
So insignificant
sleeping dormant deep inside of me
are you hiding away lost
under the sewers
maybe flying high in the clouds
perhaps you're happy without me
so many seeds have been sown in the field
and who could sprout up so blessedly
if I had died
I would have never felt sad at all
you will not hear me say I'm sorry
where is the light
__ADS_1
wonder if it's weeping somewhere
Here's a lullaby to close your eyes good-bye
it was always you that I despised
I don't feel enough for you to cry oh well
here's a lullaby to close your eyes good-bye
Here's a lullaby to close your eyes good-bye
it was always you that I despised
I don't feel enough for you to cry oh well
here's a lullaby to close your eyes good-bye
good-bye
good-bye
good-bye
good-bye
Here's a lullaby to close your eyes good-bye
it was always you that I despised
I don't feel enough for you to cry oh well
here's a lullaby to close your eyes good-bye
Here's a lullaby to close your eyes good-bye
it was always you that I despised
I don't feel enough for you to cry oh well
here's a lullaby to close your eyes good-bye
good-bye
good-bye
good-bye
good-bye
"I...I... Iya... Suaranya seperti berasal dari ujung sana. Tapi, kok aku tidak melihat ada orang, ya ?" ujar Tika.
"Srek.... Srek... Srek...srek..." Suara aneh yang muncul dari salah satu kamar mandi itu menarik perhatian mereka. Mereka mengintip dari bawah.
Sebuah tangan pucat pasi berkuku panjang, tampak sedang mengais-ngais tempat sampah, saat keluar dari tempat sampah, pembalut bersimbah darah telah digenggam dan dengan ujung lidahnya, darah itu dijilati.
Tika dan Cika berseru tertahan, dan mereka histeris saat kepala sosok itu berpaling dan menatapnya. Tak ayal lagi mereka lari terbirit-birit dan melaporkan hal itu pada guru BP. Pak Udin. Pak Udin tidak percaya dengan laporan mereka. Maka dengan mengajak Bu Dyah, segera memeriksa toilet wanita. Sosok itu tidak ada tapi, sampah di ruangan dimana Tika dan Cika lihat berantakan.
"Kalian jangan mengada-ada, apa yang kalian laporkan itu tidak terbukti kebenarannya, sampah yang berantakan itu pasti ulah kalian, bukan ?" kata Pak Udin.
"Kami melaporkan apa yang kami lihat, pak," ujar Cika.
"Sudahlah. Lebih baik kalian kembali ke kelas," kata Pak Udin.
Cika dan Tika segera menurut meskipun mereka masih penasaran.
***
Di toilet wanita, Bu Devi menyalakan air di wastafel sambil sesekali bercermin dan merapikan wajahnya serta pakaiannya yang berantakan. Sesaat lamanya, ia bercermin dan sebuah desiran angin tajam dan dingin menerpa punggungnya, angin yang tidak biasa. Sayup-sayup telinganya mendengar seorang wanita bersenandung.
"Ah, mana mungkin... Ini hanya perasaanku saja," katanya sambil hendak memoles bibirnya dengan lipstik, tapi tanpa sebab yang jelas pemerah bibir itu terjatuh terguling dan masuk ke kamar mandi. Ia mendesah, "Ada-ada saja," katanya sambil mencoba menjangkau lipstik tersebut. Namun, mendadak ia merasakan pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh tangan lain yang dingin bagai es dan tubuhnya serasa ditarik ke dalam ruangan itu.
Ia berteriak nyaring, berontak berusaha melepaskan genggaman itu, semakin kuat ia berontak makin kuat pula cengkeraman itu.
"Lepaskan ! Lepaskan tanganku !" teriakannya makin menjadi-jadi terlebih ia tidak mampu mengendalikan tubuhnya yang tertarik dan nyaris masuk ke dalam WC. Jeritannya membahana, seakan memenuhi ruangan itu beberapa siswa yang mengetahui kejadian itu buru-buru membantu menahan tubuh Bu Devi sementara yang lain meminta bantuan.
Bu Devi berhasil diselamatkan meski mengalami gegar otak ringan namun cukup membuatnya jera untuk menginjakkan kaki ke toilet wanita itu lagi.
#5. Sosok Tinggi Besar Di Kantor TU dan Kepala Sekolah
Kala itu, kantor TU kekurangan pegawai, sebagian pegawai yang lain sudah masuk masa pensiun, maka, Pak Yono- lah yang diminta bantuannya mengolah berkas-berkas yang sudah lama mangkrak. AC ruangan dipasang pada suhu 25⁰C. Karena, di musim-musim kemarau seperti ini panasnya begitu menyengat. Sedang asyik-asyiknya menyusun berkas, suhu ruangan perlahan-lahan memanas. Wajah dan tubuhnya basah oleh keringat, dan telinganya mendengar suara Geraman. Namun, merasa bahwa itu bukan berasal dari ruangannya, tetapi suara guru-guru yang mengajar di kelas sebelah.
Pak Yono keluar dari ruangan sekedar untuk refreshing sejenak, saat ia kembali berkas-berkas yang semula ia atur dengan rapi berantakan. Ia ingat betul telah menata berkas dengan baik sesuai dengan urutan dan tidak ada seorangpun yang masuk. "Ah, mungkin tertiup angin," katanya sambil kembali merapikan berkas tersebut. Tapi, lagi-lagi... Berkas-berkas itu bagaikan diacak-acak kekuatan tak kasat mata, kali ini kejadian tersebut terjadi persis di depan matanya. Ia perlahan-lahan meninggalkan tempat itu dan tidak berani memasuki ruang TU itu sendirian.
"Kenapa tidak masuk, pak Yono ?" Pertanyaan tiba-tiba itu mengejutkannya, si pemilik suara itu adalah Pak Yeung kepala sekolah SMP Negeri 1 Keteng.
Pak Yono kikuk sekali tak tahu harus menjawab apa.
"Pak Yono seperti melihat sesuatu, ya ?" kembali Pak Yeung bertanya.
__ADS_1
"Be...benar, pak... Lihatlah berkas-berkas yang berserakan di lantai. Saya baru saja merapikannya, tapi, diacak-acak lagi... Tepat di depan mata saya," jelas Pak Yono.
Pak Yeung tertegun, sementara matanya menatap Pak Yono dari ujung rambut ke ujung kaki. "Pak, sebentar lagi ada tamu, cepat rapikan, tidak pantas dipandang orang melihat kantor TU berantakan seperti ini," ujar Pak Yeung.
Pak Yono mengangguk, ia segera bergerak cekatan menata dan merapikan berkas-berkas tersebut dan menyimpannya di lemari,"
"Bbrruuaakk !"
Suara itu terdengar begitu keras sekali, berasal dari kantor kepala sekolah. Pak Yono dan Pak Yeung segera menuju ke ruangan kepala sekolah. Diikuti dengan guru-guru lain.
Pak Yeung terkejut sekali, manakala melihat sesosok tubuh berlumuran darah tergeletak di atas meja kerja Pak Yeung... Semua orang tahu siapa sosok yang terbaring di atas meja kepala sekolah, dialah Bu Yuli. Kondisinya cukup memprihatinkan, kepalanya hancur sementara matanya terbelalak lebar, siang itu sekolah jadi hiruk pikuk. Siswa-siswi dipulangkan awal, gara-gara kejadian itu. Sementara, Pak Yono sempat melihat 2 berkas sinar merah di udara kosong yang perlahan-lahan menghilang.
#6. Anak Tangga Ke-13
Penghubung lantai satu dengan lantai dua adalah anak-anak tangga yang terbuat dari semen cor, kesemuanya ada 15 buah anak tangga. Ada rumor yang mengatakan bahwa jikalau kalian naik ke atas, jangan coba-coba menghitung jumlah anak tangga, sebab, kaki orang yang bersangkutan akan terasa berat dan tak mampu menopang berat tubuh hingga akhirnya ia jatuh dari tangga kalaupun tidak meninggal akan mengalami lumpuh seumur hidup.
Pram, seorang siswa di sekolah ini memang suka usil dan nakal. Saat ia mendengar rumor tersebut, ia digelitik oleh rasa penasaran dan mencoba untuk membuktikan kebenarannya.
"Aku akan membuktikan benar atau tidaknya rumor itu... Kalau salah aku akan mengencingi tangga ini dihadapan kalian. Tapi, kalau benar, aku akan traktir kalian makan di kantin," katanya.
"Sudah kubilang jangan macam-macam, Pram... Kita harus patuh pada peraturan sekolah ini. Jangan iseng," cegah Hadi.
Pram tidak peduli, ia menginjakkan tapak kakinya pada anak tangga pertama sambil berseru.
"Satu, dua, tiga, empat..." Ia terus menghitung hingga akhirnya sampai juga di atas, "Lihatlah tidak terjadi apa-apa, bukan jumlah anak tangga ini 15 buah.
Melihat keadaan Pram yang baik-baik saja, mereka tampak lega, "Baiklah, kau memang pemberani Pram, sekarang turunlah," ujar Hadi.
"Kalau berani, hitung ulang anak tangga ini saat kau turun," celetuk Yohan.
"Ok, lihat baik-baik," kata Pram lalu kembali menghitung saat menuruni anak tangga.
Ia terkejut saat sampai di bawah, "Yang benar saja, seharusnya jumlah anak tangga ini 15 buah tapi mengapa kok sepertinya aku salah menghitung,"
"Sudah jangan dipikirkan 14 atau 15 bukan masalah, ayo traktir kami di kantin," Yohan tertawa sambil menepuk bahu Pram.
"Tidak, aku harus menghitungnya lagi," kata Pram kembali menaiki anak tangga dengan menghitung. Pada saat kakinya menapak anak tangga ke-13, ia merasakan kakinya berat, tak bisa diangkat lagi. Wajahnya memucat manakala melihat sebuah tangan keluar dari dalam anak tangga mencengkeram pergelangan kaki kirinya. Tangan itu tinggal tulang dibungkus kulit, kukunya panjang seakan menusuk dagingnya.
"Pram, ayo turun sedang apa kau disana," seru Hadi.
Pram menoleh, wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengucur deras dari dahinya membasahi sekujur badannya, ia mencoba melangkah tapi, tetap tak bergerak hingga ...
"Aaahhhh !!"
Ia berteriak saat tubuhnya terjun bebas ke lantai satu.
"Bbuumm"
" Kkrraakk"
Suara pertama adalah suara tubuh Pram beradu dengan permukaan lantai satu yang terbuat dari ubin, suara kedua adalah tulang-tulang Pram yang remuk, kepalanya pecah. Darah menyembur keluar sebagian memercik ke arah teman-temannya yang histeris.
#7. UKS dan Gudang Penyimpanan Barang
UKS terletak di ujung sebelah Timur, berdampingan dengan gudang tua tempat penyimpanan barang usang. Dulunya, ruangan ini digunakan sebagai ruang interogasi para tawanan perang. Tak jarang para tawanan perang itu mengalami penyiksaan kejam terlebih saat jaman kependudukan Jepang. Tak terhitung berapa banyak tawanan perang yang meregang nyawa saat diinterogasi tentara Jepang dengan cara disiksa dan akhirnya dibunuh. Jejak Kelam masa lalu itu terekam hingga sekarang. Di malam-malam tertentu, tak jarang di siang hari pun masih terdengar jeritan menyayat hati dan memilukan yang tak diketahui darimana asalnya.
Tak seorangpun berani menapakkan kakinya atau menghabiskan waktu walau hanya sebentar saja di sekitar tempat itu, kecuali Rahmadi. Guru IPA, SMP Negeri 1 Keteng Banyuwangi. Beliau bahkan berani menginap di ruang UKS selama berhari-hari.
Menurut pengakuan beliau, selama tinggal di ruangan itu, ia tidak mendengar atau melihat sesuatu yang mencurigakan disana. Akan tetapi, Bu Rina, Guru IPS memiliki pengalaman yang berbeda.
Malam itu adalah tepat malam Jum'at Legi, bulan purnama menggantung di langit-langit memancarkan sinar keemasannya, bintang-bintang bertaburan memenuhi langit mengiringi cahaya bulan menyapu bangunan sekolah yang tegak menantang jaman. Bu Rina yang baru saja pulang dari tugas diklatnya di Jember terpaksa menginap di sekolah karena selain hari sudah larut, jarak rumahnya cukup jauh sekalipun ditempuh dengan motor. Pihak sekolah memang mempersilahkan para karyawannya mengunjungi sekolah dan menginap disana.
Sebenarnya, Bu Rina tidak ingin menginap di sekolah berarsitektur Belanda tersebut karena banyaknya rumor yang beredar di lingkungan sekolah. Tapi, ia terpaksa, sebab, ia bukan berasal dari kota Banyuwangi dan sekitarnya tapi berasal dari Jakarta. Ia baru 3 bulan berada di kota ini.
Saat tengah malam, Bu Rina terbangun, udara dingin malam itu memaksanya berulang kali keluar masuk toilet. Entah ini sudah yang keberapa kalinya. Begitu keluar dari toilet, ia melihat sesosok bayangan duduk tepat di depan gudang. Ia terkejut, bagaimana tidak... Saat ia keluar dari ruangan, disana tidak ada siapa-siapa, tapi, mendadak ada sosok yang duduk disitu.
"Selamat malam," Bu Rina mencoba menyapa.
Sosok itu tak menjawab, ia diam bagai sebongkah arca batu. Karena tak ada jawaban kembali Bu Rina menyapa. Kali ini sosok itu menggerakkan kepalanya pelan-pelan, saat ia bergerak terdengar suara keratan mengerikan.
"Kkrrtthh, kkkrrrttthhh..."
Jantung Bu Rina serasa berhenti berdetak manakala pandangannya beradu dengan pandangan kosong dan hampa sosok itu. Ia mundur dua tindak saat sosok itu berdiri dan berjalan menghampirinya...
Kkkrrrttt, kkkrrrttt, kkkrrrttt
Suara itu kembali menggelitik telinga Bu Rina, tengkuknya meremang. Sosok itu bergerak terpatah-patah, tangannya menggapai-gapai. Wajah guru wanita itu memucat, bau lilin, alkohol bercampur formalin tercium kuat saat sosok itu mendekat dan terus mendekat... Tak ada ruang kosong lagi bagi Bu Rina karena punggungnya sudah menempel pada dinding. Ia melompat kaget saat merasakan bahunya dicengkeram sesuatu yang dingin. Saat menoleh, sebuah wajah lain muncul, wajah rusak, berdarah sementara bola mata sebelah kiri keluar bergelantungan di sela-sela pipi kirinya yang setengah melesak ke dalam.
Ia jatuh terduduk, lemas tak berdaya saat kulitnya bersentuhan dengan sosok-sosok tersebut.
Aroma aneh menguar kuat memasuki rongga hidungnya, ia berteriak histeris sambil menyeret pantatnya, ia memasuki ruang UKS. Saat memasuki ruangan itu tampak olehnya sesosok tubuh dibalut dengan kain putih, menebarkan bau busuk. Bu Rina histeris, mendadak saja kepalanya pening, pandangannya berkunang-kunang, ia pun roboh tak sadarkan diri.
Keesokan harinya, Bu Rina ditemukan di ruang guru dalam keadaan pingsan. Pihak sekolah membawanya ke rumah sakit. Dia diagnosis mengalami Skizofrenia, dokter menganjurkan untuk sementara waktu dirawat di RSJ Nicil, demi pemeriksaan dan pemulihan lebih lanjut.
NB.
✓ Saya menceritakan 4 kisah hantu sekolah ini menurut apa yang dialami oleh yang bersangkutan sendiri. Untuk menghormati dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya menyamarkan nama dan tempat kejadian tersebut.
✓ Jika ada yang mengalami hal serupa baik nama dan peristiwa yang telah terjadi di masa lalu, itu hanyalah kebetulan saja. Tidak ada keinginan saya untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu.
__ADS_1
✓ Saya berterima kasih pada mereka semua yang ikut andil dalam penulisan cerita saya ini, terima kasih pula pada para pembaca Budiman yang telah menyisihkan waktunya untuk membaca, mengkritik, mem-follow, memberi vote tulisan saya ini. Salam sehat selalu. Penulis