
07. Fera Budi Utami ( bagian kedua )
Kemelut terjadi saat perusahaan yang dipimpin oleh Eric Yeung itu menempatkan Zainal Al Kathiri sebagai manajer. Tanpa sepengetahuan Pemilik utama perusahaan, Zainal atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Muda Zain, menyelipkan paket berbungkus plastik coklat kehitaman dengan kode-kode rahasia, diantara paket-paket lain yang berwarna agak terang. Plastik coklat kehitaman berisikan narkoba, ekstasi dan obat-obat terlarang lainnya; sementara paket yang berwarna lebih cerah berisikan barang-barang legal.
Fera mengetahui hal itu secara tidak sengaja dan berniat hendak melaporkannya pada pihak berwajib. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang menanggapinya karena memang berlaku sebagai benteng atau bahkan sebagai pemakai. Tidak jarang Fera mendapat peringatan agar tidak terlalu ikut campur urusan perusahaan, intimidasi sudah menjadi makanan sehari-hari. Tuan muda Zain, berniat untuk menyingkirkan Fera dengan berbagai cara.
Hampir semua orang di kantor Ok Go berada dalam kekuasaan bandar narkoba itu, oleh sebab itu tak seorangpun berpihak pada Fera.
"Jika kau dan keluargamu selamat, lebih baik jangan berbuat macam-macam. Aku mengatakan ini demi kebaikanmu,"
Perkataan itu hampir setiap hari didengar olehnya.
Fera adalah seorang wanita yang tangguh, nyalinya tidak menciut meski diintimidasi dan akhirnya bertemu dengan Soepomo, tangan kanan Eric Yeung. Saat hendak melaporkan kejadian itu pada Eric Yeung, malah tertimpa sial, Zain membunuh keluarganya, ia sendiri dibuat sekarat dan untungnya ia masih bisa bertahan hidup meski menderita lumpuh pada bagian kaki kirinya.
Setelah sembuh, Soepomo kembali ke kantor OkGo tapi sudah mengganti namanya menjadi Zulkan. Tujuannya adalah menggulingkan kekuasaan Zain. Nasib mempertemukannya dengan Fera, wanita itu mengingatkan pada anaknya dan tanpa ragu ia mengangkat Fera sebagai anaknya. Mereka bekerja bahu membahu untuk membongkar kedok kantor OkGo dan menyeret Zain ke meja hijau.
Tapi, rencana tidak selalu berjalan dengan mulus. Tanpa sengaja, Soepomo mendengar dan mengorek pembicaraan salah satu anak buah Zain bahwa Manajer muda itu berniat untuk menyingkirkan Fera secara licik seperti yang telah dilakukannya kepada Keluarga Soepomo.
Beberapa anak buah Zain menyamar sebagai kostumer. Rumah berlantai dua jalan x no x itu adalah saksi bisu dimana Fera harus menerima nasib naas, dicekoki obat bius dan diperkosa bergantian oleh mereka. Dua diantaranya adalah Gunawan dan Irul.
Sementara, Soepomo tidak bisa bertindak apa-apa manakala Fera diperlakukan tidak manusiawi. Saat hendak menghembuskan nafas terakhirnya, Fera menggenggam paket yang hendak dikirimkan ke Amrinudin dengan Alamat.... jalan X no X. Fera berniat melaksanakan tugasnya dengan baik namun justru menerima celaka dan perusahaan tidak mau mengakuinya.
Itulah sebabnya Arwah Seorang Kurir Wanita bernama Fera bergentayangan dan kemunculannya disertai dengan kata-kata hampa, datar dan dingin :
"Mas...
ada paket....
__ADS_1
tolong diterima...."
Ia akan terus bergentayangan meminta keadilan pada siapa saja yang membunuhnya. Sementara, cincin emas bermata merah delima adalah barang
pribadinya sebagai pesan Kematian darinya.
***
Soepomo mengakhiri ceritanya sementara Amri menghela nafas panjang, "Jadi, begitu. Lalu, bagaimana cara bapak mengumpulkan bukti-bukti bahwa Ok Go telah melakukan bisnis ilegal ?"
"Nak Amri, Tuan Muda Zain itu mengumpulkan berkas-berkas pengiriman di sebuah locker. Mungkin semuanya sudah dimusnahkan olehnya.
Tapi, bapak memiliki salinan lengkap. Perlu nak Amri ketahui, tidak semua pegawai Ok Go setuju dengan perbuatan Zain, beberapa diantaranya adalah orang-orang pilihan dari Saudara Eric Yeung yang menyamar. Jadi, sekalipun berkas-berkas itu dimusnahkan, takkan hilang begitu saja. Neng Yessy, adik Fera rela menjadi gundiknya demi ingin membalas dendam kematian kakaknya. Dialah yang meminjamkan berkas-berkas tersebut kepada bapak. Bapak yakin tak lama lagi, Zain akan kehilangan kekuasaannya dan bisnisnya pun akan bangkrut. Yah, tak lama lagi," jelas Pak Soepomo.
"Benar-benar tindakan yang nekat, pak,"
"Jasad Fera... setelah divonis meninggal karena overdosis, bapak membawanya ke pihak keluarga. Tapi, pihak keluarga tidak mau mengakuinya karena menurut mereka, itu adalah kesalahan Fera sendiri. Jadi, bapak terpaksa menguburkannya di rumah bapak. Jauh dari kota ini. Bapak perlakukan dia sebagaimana anak sendiri. Bapak berjanji, akan memberikan keadilan untuknya. Kasihan neng Fera itu, tidak ada yang mempedulikannya. Neng Yessy sendiri tidak terima kakaknya diperlakukan sedemikian rupa terutama pihak keluarga. Hanya dia yang sesekali menjenguk makam kakaknya, saat Zain kebetulan ada di luar kota,"
"Apakah bapak sering bertemu dengan Yessy itu ?"
"Bapak bertemu dengan neng Yessy, 1 Minggu yang lalu, dia memberikan berkas pengiriman barang setahun yang lalu, setelah itu Bapak tidak pernah bertemu dengannya lagi. Bapak khawatir terjadi sesuatu padanya,"
***
Pria bertubuh tegap, tinggi, gempal berambut gondrong itu tampak sibuk mengawasi 2 orang yang sedang menata bungkusan berwarna coklat kehitaman di sebuah bagasi. Barang tersebut esok harus segera dibawa ke 5 kota besar di sekitar Jawa Barat dan sekitarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Begitu semua barang selesai ditata, bagasi mobil ditutup dan dikunci. Setelah memberikan 2 lembar uang kertas senilai 100.000 pada masing-masing orang, ia ditinggal sendiri. Sebatang rokok disulut, ia bersandar pada badan mobil sementara sepasang matanya menerawang jauh ke langit yang diterangi bulan purnama plus pernak-pernik nya.
__ADS_1
"Mas....
ada paket....
tolong diterima..."
Suara itu menggema, mengambang, datar dan dingin. Pria gondrong itu menoleh kesana-kemari, tidak ada siapapun di sekitar tempat itu. Angin dingin berhembus perlahan menerpa tengkuknya. Menusuk ke setiap nadi dan pembuluh darahnya. Pada saat itulah tercium aroma harum bunga melati, namun aroma itu makin menyengat sekalipun harum tapi bercampur dengan bau aneh yang tak tahu darimana asalnya.
Perlahan-lahan aroma wangi digantikan dengan bau aneh. Pria itu mengusap-usap hidungnya... sekian lama ia bergerak di bidang penjualan obat-obat terlarang, ia paham betul bahwa aroma yang diciumnya saat ini bukanlah aroma obat-obatan tapi, aroma mayat busuk.
"Mas....
ada paket....
tolong diterima..."
Suara itu terdengar dua kali, kali ini terdengar dekat sekali, tapi si pemilik suara tidak nampak. Jantungnya berdegup dengan kencang, nafasnya memburu dan hawa dingin merayapi sekujur tubuhnya.
"Siapa itu ?" tanyanya dengan suara bergetar. Tak ada jawaban mendadak sepasang matanya tertuju pada sebuah bayangan sekitar 5 meter dari tempat ia berdiri. Bayangan wanita berpakaian coklat bercampur merah kehitaman khas pakaian kurir OkGo namun compang-camping, topi Eiger dikepala, menutupi wajahnya yang setengah tertunduk.
Cahaya lampu yang remang-remang, membuat ia harus memfokuskan pandangannya lurus ke arah depan tempat wanita itu berdiri. Tidak ada siapa-siapa disana, mungkin ia sedang berhalusinasi. Ia tersenyum-senyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala melangkah memasuki mobil. Akan tetapi, baru saja melangkah beberapa tindak, tepat di dekat hidung muncullah wajah lain.
Laki-laki itu menjerit kaget terlebih setelah melihat salah satu mata di wajah itu berlobang, sementara yang satunya lagi tampak dikerumuni belatung, cacing, kelabang dan hewan-hewan melata lain bergerak-gerak merayapi bagian dalam kulit pipi dan keluar melalui bola matanya yang putih.
Belum habis rasa kagetnya, mulutnya telah dijejali serbuk-serbuk putih mengkilap bak kristal. Ia berontak tapi, sekujur tubuhnya serasa tak bertenaga. Serbuk-serbuk putih itu seakan tidak ada habisnya, masuk dan memenuhi kerongkongannya.
__________
__ADS_1