DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
[ Horor ] [ Misteri ] K u r i r ( Babak Kedelapan )


__ADS_3

#8


Suara berisik dari ruangan tengah membangunkanku. Perlahan-lahan aku turun dari pembaringan, berjingkat-jingkat menuju pintu kamar. Jam telah menunjukkan pukul 02:30 tepat dini hari, ada suara rintihan dan jeritan di sela-sela tawa.


"Tidak... Jangan... Lepaskan aku..."


Suara itu terdengar timbul-tenggelam di ruang tengah. Dengan hati berdebar-debar, kubuka pintu kamarku. Tidak ada seorangpun, hanya cahaya putih keperakan memantul dari jendela ruang tengah. Itu adalah cahaya TV. Tunggu, bukankah di rumah ini hanya ada aku seorang ? Aku sudah tertidur sejak pukul 20:30 dan aku yakin, tidak menyalakan TV sama sekali. Lalu, siapa yang menyalakannya ? Terlebih tepat tengah malam seperti ini? Akupun sudah mengunci semua pintu dan jendela seluruh ruangan.


"Tidak... jangan... lepaskan aku..."


Teriakan itu kembali terdengar, arahnya memang dari ruang tengah. Aku memberanikan diri membuka pintu tengah, mengintip siapa sebenarnya pemilik suara itu. Aku tersentak, TV dan pemutar video VHS menyala. Pada layar 24 inchi itu terpampang adegan pemerkosaan Fera Budi Utami. Hah, bukankah kaset video itu ada di kamarku, siapa yang membawa dan memutarnya di ruangan ini ? Buru-buru aku meraih remote TV, kutekan tombol power dan TV itu mati seketika berikut mesin pemutar video VHS tersebut, tidak lupa aku mengeluarkan kasetnya. Aku membalikkan badan dan hendak melangkah menuju kamar... akan tetapi, mendadak TV menyala lagi, menayangkan adegan yang sama. Tubuhku gemetar tak keruan, tangan yang memegang kaset video VHS itu seakan tak bertenaga.


Adegan berhenti saat Fera Budi Utami dibiarkan tergeletak lemas tak berdaya, pakaiannya acak-acakan dan satu persatu para pemerkosa itu meninggalkannya. Gambar TV berukuran 24 inchi itu berubah menjadi sekumpulan semut, hanya sebentar saja dan digantikan oleh sesosok tubuh wanita berambut hitam, panjang, kusut dan tergerai. Ia duduk membelakangiku, memandangi TV yang sudah mati.


"Siapa kau ?" tanyaku.


Tak ada jawaban. Sekali, dua kali dan tiga kali, tetapi tidak ada tanggapan. Perlahan-lahan aku melangkah mundur, saat hendak meninggalkan tempat itu, terdengar suara seperti tulang patah.


"Kkrrkk... kkrrkk... kkkrrrkkk... kkkrrreeekkkhhh..."


Kepala sosok itu berbalik 180⁰, ia tampak mengerikan dengan kepala menghadap ke belakang. Aku menjerit tertahan, terlebih saat ia berjalan menghampiriku dengan posisi tubuh bagian depan menghadap ke atas, semakin lama semakin dekat. Kedua lututku lemas tak bertenaga, akupun jatuh terduduk saat wajah sosok itu sudah berada tepat di dekat hidungku. Ia membuka mulutnya lebar-lebar seakan hendak melahapku hidup-hidup.


_____


Tubuhku melayang-layang di udara yang gelap gulita, tak tahu mana atas, mana bawah, dunia seakan berputar-putar. Entah sudah berapa lama aku dalam keadaan seperti ini, sementara mataku tertutup rapat. Tubuhku seperti dibanting keras.


Saat aku membuka pelupuk mataku, aku sudah berada di tempat yang cukup luas. Bagaimana mungkin aku bisa berada di tempat ini, tempat yang... bagiku telah menggoreskan sebuah kenangan terburuk dan mengerikan dalam hidupku semasa masih kanak-kanak. Kenangan yang selalu ingin kulupakan, namun, mengapa kini muncul kembali ?


Dua titik bening keluar dari sudut mataku manakala berjalan menyusuri tempat itu. Di kanan-kiri berjejer mobil-mobil yang sudah tidak utuh lagi bentuknya, juga, potongan besi-besi tua berkarat. Dingin dan hampa. Itulah yang kurasakan saat memandangnya. Langkah-langkahku terhenti, lebih kurang 5 meter di depan sana sesosok bayangan wanita berpakaian kurir Ok Go berdiri membelakangiku. Diam bagaikan sebongkah arca batu.


"Apa kau yang bernama Fera Budi Utami ?"


Aku memberanikan diri untuk bertanya. Tak ada jawaban. Ia hanya berjalan tertatih-tatih dan tanpa sadar aku mengikutinya dari belakang.


Aku terus melangkah dan melangkah, semakin lama semakin berat bagai ada sebuah bandul besi yang mengikat pergelangan kakiku. Saat sosok itu berhenti, aku jatuh terduduk, " Kemana kau hendak mengajakku ?" keluhku.


Sosok itu membisu, perlahan-lahan ia mengangkat tangan kanan dan telunjuknya menuding lurus-lurus ke depan. Pandanganku beralih ke arah yang ditunjuknya. Tampak sebuah bangkai mobil VW berwarna oranye diparkir pada sebuah tempat yang ditumbuhi oleh tanaman merambat, liar dan ilalang setinggi orang dewasa. Bagian depan mobil itu ringsek, terdapat tulisan "Ok Go", sebagian catnya terkelupas. VW itu cuma satu-satunya dan di bawah kolong mobil ada sebuah sepeda motor.


"Sepeda motor siapa itu ?" tanyaku pada sosok aneh itu, tapi, dia sudah menghilang entah kemana.


"Amri... Amri..."

__ADS_1


Suara itu seakan muncul dari balik awan senja di sebelah barat. Apakah ini hanya perasaanku saja ? Tidak. Aku mendengarnya dengan jelas sekali, tapi siapakah pemilik suara itu ?


"Amri ..."


Kali ini suara itu terdengar lirih, berbisik di telinga kananku. Aku menoleh, tak ada siapapun.


"Siapa itu ?" seruku sambil mencari si pemilik suara, dan...


Sesosok pria mendadak sudah berada tepat di depanku. Aku menjerit keras, melihat kepalanya tidak utuh, bagian kanannya melesak ke dalam, biji matanya keluar bergelantungan pada pipi yang dirayapi belatung, kelabang, cacing dan hewan melata lainnya. Darah menyembur keluar, menebarkan aroma busuk menyengat dari kepala yang pecah itu. Ia menggapai-gapai hendak menyentuhku, aku mundur menjauh.


"Mengapa kau meninggalkanku sendirian di tempat ini... temani aku," suaranya memelas. Ia mengingatkanku pada Dahlan, teman semasa kecil, ia tewas dengan kepala tergencet badan mobil yang menindihnya... inilah yang membuatku trauma dan ingin sekali kulupakan. Tubuhku bergetar hebat, gigi-gigiku saling beradu, "Ma... ma... maafkan aku, Dahlan,"


"Kau harus ikut aku.... kau harus ikut aku..." kata sosok itu murka, ia menjulurkan kedua tangannya berniat mencekikku, aku terus mundur menghindari jari-jemarinya yang tinggal tulang dibungkus kulit.


"Tidak ! Jangan ganggu aku ! Pergilah!" teriakku.


Pada saat itulah tubuhku seperti didorong ke belakang, aku jatuh terbanting, namun, tanah terbelah dan tubuhku masuk ke dalamnya. Kembali aku melayang-layang di udara.


"Amri... Amri... bangun!"


Seruan itu terdengar dekat sekali, aku meringis kesakitan, pipiku ditampar keras sekali. Aku membuka pelupuk mataku. Pertama kali yang terlihat adalah wajah ibuku yang tampak cemas sekali, Ella berdiri di sampingnya.


"Kau ini kenapa, nak ? Saat ibu masuk ke kamarmu, tubuhmu tergolek lemas dan dingin di lantai," kata ibuku.


"Aku tahu dimana Fera Budi Utami berada, La..." kataku, sementara 2 orang itu tampak kebingungan.


_____


Rumah itu tampak sederhana, jauh dari keramaian. Berada di tengah halaman cukup luas dengan berbagai macam jenis tanaman perdu. Dikelilingi pagar besi berwarna coklat. Dari kejauhan, tampak sebuah taxi mendekat, berhenti tepat pada pintu pagar tersebut. Pintu bagian belakang terbuka, seorang wanita muda cantik bertubuh sintal keluar, turun dan setelah memastikan tak ada orang lain mengikuti, ia membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali. Ia bergegas masuk ke dalam rumah, mengunci pintu depan dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa sambil menghela nafas panjang.


"Sebuah rumah yang cukup nyaman ditinggali, bukan ?"


Suara itu mengejutkannya, buru-buru ia melompat bangun dan mengalihkan pandangannya ke arah suara itu berasal. Seorang pemuda tampan berkulit sawo matang duduk ada salah satu sofa yang remang-remang tak jauh dari tempat wanita itu berada. Kaki kanannya diletakkan pada pangkal paha kiri.


"Zainal Abidin Al-khatiri," kata wanita itu, wajahnya berubah pucat.


"Yessy kecilku. Sudah lama kita tidak bertemu, kau tampak semakin cantik saja," pemuda itu tersenyum dan menghampirinya.


"Mau apa kau kemari, Zain ?!" tanya wanita yang dipanggil Yessy itu.


"Mengapa air mukamu berubah saat melihatku, sayang ? Jangan kaku seperti itu, biasa sajalah..."

__ADS_1


"Mau apa kau kemari ? Membunuhku ?"


"Membunuh orang yang kusayangi dan kucintai ? Kejam sekali prasangkamu itu. Untuk apa aku melakukan itu ? Tenanglah. Aku sangat merindukanmu, sayang.... kau jarang sekali datang ke villaku," kata pemuda itu sementara jari-jemarinya bergerak menyentuh dan memainkan tiap helai rambut ikal Yessy, sesekali ia mendekatkan hidungnya yang mancung, "Hmm... harum sekali,"


Yessy bergidik ngeri melihat ulah pemuda keturunan Arab itu.


"Kau masih membilas rambutmu dengan shampo pemberianku, ya ?" tanya Zain lagi.


"Aku memang menyukainya. Itu selalu kupakai untuk membilas rambutku," ujar Yessy.


"Oh, bagus... bagus sekali, sayang..." Zain mulai melontarkan kata-kata manis sambil sesekali memberi kecupan-kecupan kecil ke arah bagian sensitif wanita itu. Mesra sekali plus dengan sentuhan-sentuhan lembut, membuat wanita itu terbakar oleh gelora api asmara, tapi, rasa takut membuat gelora itu sesegera mungkin lenyap terlebih saat jari-jemari Zain bergerak mencengkeram batang lehernya.


"Nah, katakan padaku, mengapa kau tega mengkhianatiku padahal segala keperluan hidupmu semuanya sudah kutanggung !" kata pemuda itu dingin.


Yessy berontak, berusaha untuk melepaskan diri dari cekikan Zain. Sepasang matanya terbelalak lebar, wajahnya membiru. Ia mulai batuk-batuk, kesulitan untuk bernafas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.


Mendadak, Zain melepaskan cengkeramannya. Wajah Yessy berubah, otot-otot wajahnya bertonjolan keluar dan urat-uratnya keluar bagai sekumpulan cacing, bola matanya menghitam. Seringai mengerikan membuat pemuda keturunan Arab itu melompat menjauh. Tapi...


"Grap..."


Pergelangan tangan Zain dicengkeram kuat oleh jari-jemari Yessy yang berkuku panjang, runcing dan tajam. Ia meringis kesakitan, berusaha melepaskan cengkraman itu, semakin kuat berontak, semakin kuat pula genggaman tangan Yessy.


"Lepaskan aku, pelacur sialan !!" seru Zain.


"KKRRKK... KKKRRRKKK..."


Zain berteriak kesakitan, tubuhnya didorong ke belakang sementara sosok Yessy yang berubah aneh itu menatapnya tajam dan dingin tapi, sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.


"Siapa kau ?" tanya Zain dengan suara gemetar manakala melihat sosok Yessy yang berdiri itu perlahan-lahan berubah menjadi seorang wanita berbaju kurir.


"Mas...


ada paket ...


tolong diterima..."


Itulah kata-kata pertama kali yang terlontar dari bibirnya yang hitam. Suara mengambang dan dingin.


"Bbuukk ..."


Zain merasakan kepalanya dihantam oleh sebuah benda yang cukup keras. Pandangannya gelap gulita, iapun roboh tak sadarkan diri.

__ADS_1


__________ Bersambung Jilid Ke-9 __________


__ADS_2