DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXIII - ( Kutukan ) Arwah Penghuni Rumah Angker - Babak Kedelapan


__ADS_3

08. Keluar Dari Ruang Bawah Tanah


Abigail dan Amigail masih menelusuri lorong demi lorong di ruang bawah tanah, langkah Abigail terhenti manakala di depan mereka, jalanan yang mereka lalui terpecah menjadi empat bagian. Abigail ragu-ragu sejenak, akan tetapi, sepertinya Amigail mengerti apa yang membuat Abigail ragu-ragu, “Jalan sebelah kiri, akan mengarah ke rumah Mak Bolot; Sebelah kanan adalah jalan buntu; kalau lurus akan mengarah ke dasar sumur,” jelasnya. “Rumah Mak Bolot ?” tanya Abigail.


Amigail mengangguk, “Benar. Tepat di ruang tengahnya rumah Mak Bolot. Apa kau masih ingat cerita Mak Bolot ? Sewaktu Feni masih hidup, Mak Bolotlah yang seringkali menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah. Saat semua orang, termasuk keluarga dan saudara-saudaranya seringkali menjadikan Feni sebagai bahan hinaan, cacian, tertawaan dan sebagai pelampiasan kekesalan, Feni menghilang dan tiba-tiba berada di rumah Mak Bolot. Hubungan antara Mak Bolot dan Feni begitu dekat, Feni menganggap Mak Bolot sebagai orang tua kandungnya, bahkan melebihi orang tua kandung sementara Mak Bolot menganggap Feni sebagai anak kandungnya,”


Abigail menganggukkan kepala, “Kalau kita mengambil jalan ke kiri, kita bisa keluar dari sini, bukan ?” tanyanya. Amigail mengangguk, “Bisa. Akan tetapi, jalan keluarnya, berada tepat di meja altar tempat dimana Mak Bolot mendoakan roh Feni. Sekali pintu dibuka, meja altar itu akan berantakan dan itu akan menambah masalah. Aku ragu, Mak Bolot mau membantu kita untuk mematahkan kutukan dari arwah Feni. Apalagi Mak Bolot yakin dengan memelihara barang-barang milik Feni dan mendoakan agar rohnya bisa beristirahat dengan tenang. Tapi, kenyataannya, Arwah Feni masih mengganggu penghuni rumah ini,” jelasnya.


Abigail termenung sekian lama, setelah menghela nafas panjang, ia berkata, “Feni sebenarnya adalah orang baik. Akan tetapi, karena perlakuan orang-orang di sekitarnya ia jadi nekad gantung diri di lantai 2. Mungkin, salah satu cara untuk mematahkan kutukannya adalah .... “ ucapannya terputus, ia ragu-ragu untuk mengungkapkannya, “Tidak ... Tidak mungkin itu bisa dilakukan,” sambungnya kemudian.


“Abi, sebaiknya kita segera keluar dari sini dan menanyakannya langsung pada Mak Bolot,” ajak Amigail. Abigail tersentak, ia baru sadar bahwa tujuannya adalah menemukan jasad Amigail dan membawanya keluar dari ruang bawah tanah ini untuk mengakhiri semuanya, “Kau benar, kita tidak bisa lama-lama di tempat ini,” ujarnya sambil mengikuti Amigail yang sudah berjalan setengah melayang di depannya, ia mengambil jalan lurus. Begitu mereka tiba di ujung lorong, lagi-lagi mereka mendapati jalanan itu begitu panjang, melebar dan berliku-liku, mirip sebuah labirin yang gelap gulita, pengap, sunyi-sepi. Sayup-sayup terdengar suara gemericik air, jaraknya sekitar 10 meter dari tempat itu. Abigail memperhatikan ruangan di sekitarnya, baik dinding-dinding serta jalanannya terbuat dari batu-batuan beraneka ragam jenis dan ukuran, semuanya sudah tidak utuh lagi, usianya sekitar ratusan tahun, ditumbuhi lumut serta berbagai tanaman liar menjalar dengan berbagai bentuk aneh, sebagian bergelantungan di langit-langit ruangan, membuat ngeri siapa saja yang memandangnya. Abigail seakan berada di sebuah alam yang aneh, alam yang jarang sekali didatangi oleh manusia, ALAM GAIB. Suasana mistis di tempat itu, membuat rasa takut yang semula sudah hilang, mendadak kembali. Merambat melalui jari-jari kakinya, mengalir ke setiap jalan darah dan urat nadi hingga ujung rambut di kepalanya. Ketakutannya juga dirasakan oleh Amigail, “Tenanglah, Abi... Ada aku disisimu, kau tak perlu takut,” hibur Amigail.


Kembali Abigail dan Amigail melangkah, setelah berjalan sekian lama, sampailah mereka di sebuah tempat tanah berair dan berarus tenang. Abigail menghentikan langkahnya, “Sudah tidak ada jalan lain lagi, hanya saluran air,” katanya.


Amigail tersenyum, “Benar. Sudah kukatakan tadi, jalanan ini mengarah ke sumur di halaman belakang,” katanya. Abigail mengamati suasana di sekitarnya, “Aku heran, siapa yang membangun rumah ini. Begitu banyak ruangan rahasia, kupikir lucu juga Ayah membeli rumah ini. Lucu sekaligus mengerikan,” katanya sambil memasukkan kakinya ke dalam air. Air itu begitu dingin, dingin bagaikan es, nyaris saja Abigail membeku, tapi, begitu kuat keinginannya untuk segera keluar dari ruang bawah tanah ini, membuat hawa dingin yang mulai menusuk tulang, berkurang. Ia tidak peduli air tersebut sudah mencapai pinggul, perut dan dada hingga leher. Tubuh Abigail menggigil hebat, tapi, ia tidak peduli, meskipun hingga akhirnya kedalaman air memaksanya berenang.


Setelah berenang cukup lama, kedalaman air berkurang hingga akhirnya Abigail sudah bisa merasakan kakinya menapak pada permukaan yang dangkal. Tubuhnya semakin bergetar hebat, gigi-giginya beradu satu sama lain, untuk sesaat tubuhnya mengalami mati rasa. “Tidak ! Aku tidak boleh menyerah ! Aku harus segera keluar dari sini untuk membantu Ami dan teman-temanku. Rasa dingin ini, bukanlah apa-apa bagiku !!” begitulah ia menguatkan tekadnya.


Saat hendak melangkahkan kakinya lagi, Abigail merasakan pergelangan kaki kanannya seperti dicengkeram sesuatu yang kuat. Abigail jatuh terjerembab dan kembali tercebur ke dalam air. Buru-buru Abigail bangun dan menarik kaki kanannya, tapi, kakinya tidak bisa digerakkan. Karena penasaran, ia mengarahkan senter ke kaki kanannya. Sebuah benda mirip kayu keras menyangkut pada pergelangan kakinya. Tangannya bergerak menyingkirkan benda itu dan menariknya ke atas. Pada saat itulah sebuah benda tersembul ke permukaan air.


Abigail berteriak keras, benda itu bukanlah kayu atau pohon, melainkan sebuah kerangka tubuh manusia sekitar 10 tahunan, mengenakan pakaian putih dengan corak gambar bunga matahari. Seumur hidupnya, baru pertama kali ini melihat tengkorak manusia. Pada leher tengkorak itu menggantung kalung yang terdapat ukiran 4 huruf “AMMY”. Abigail meoleh ke arah Amigail yang berdiri tak jauh darinya, “Ammy, inikah jasadmu ?” Amigail mengangguk, “Kau berhasil menemukanku Abi,” katanya.


Abigail menatap kerangka Amigail dalam-dalam, ingatannya melayang persis ke peristiwa 25 tahun yang lalu. Setelah termenung sekian lama, ia berkata dengan nada penuh penyesalan, “Ami, maafkan aku, aku sudah membuatmu menderita selama ini. Maafkan aku karena aku tidak dapat menjagamu dengan baik. Aku ... aku... aku benar-benar menyesal. Andaikata aku tahu kau ada di tempat ini sendirian ... aku memilih untuk menemanimu disini,”. “Jangan merasa bersalah seperti itu Abi, ini adalah Takdir, kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, itu akan memperburuk keadaan,” ujar Amigail.


Abigail memeluk kerangka itu erat-erat, “Mari kita pergi dari sini,” katanya sambil menggendong kerangka itu untuk kemudian kembali berjalan tanpa mempedulikan hawa dingin yang ada di dalam tubuhnya. Hingga akhirnya, tibalah mereka di ujung jalan yang menyempit dan tak ada jalan lain lagi selain dinding-dinding batu yang mejulang ke atas setinggi 5 meter. “Kita sudah sampai Abi. Apakah kau melihat lubang di atas kepala kita ? Itu adalah bibir sumur. Kau harus memanjatnya, setelah tiba di atas, kau akan tiba di halaman belakang. Berhati-hatilah, sebab, dinding-dinding sumur ini licin sekali,” jelas Amigail.

__ADS_1


Abigail tidak mungkin mendaki sambil menggendong kerangka Amigail, karena jalanan yang akan dilaluinya sempit. Setelah meletakkan kerangka Amigail di tempat yang dirasa cukup aman, jari-jari tangannya mulai memegang batu-batuan pada dinding sumur dan mulai memanjatnya. Batu pertama, batu kedua, batu ketiga dan seterusnya bisa Abigail lewati, namun, saat menyentuh batu yang kesekian kali, batu yang menjadi pijakan kaki Abigail, mendadak hancur dan berjatuhan ke dasarsumur, Abigail tersentak, batu yang menjadi pegangan tangannya pun terlepas, tak ayal lagi tubuhnya melorot ke bawah dan jatuh terbanting ke dasar sumur.


Beruntung dasar sumur terbuat dari tanah-tanah lembek, hingga Abigail tak mengalami luka yang cukup serius. Begitu Abigail tahu tak mengalami luka yang serius, kembali ia memanjat, dan terus memanjat. Saat kehilangan pijakan atau pegangannya terlepas, ia kembali jatuh ke dasar sumur.


Abigail tak peduli lagi dengan tubuhnya yang letih mulai terluka, tak peduli dengan tangan-tangannya yang sudah mulai pegal-pegal dan kebas, sementara kuku-kuku pada jari jemari, daging dan kulitnya rusak, ia terus memanjat... memanjat dan terus memanjat hingga akhirnya sampailah juga ia di bibir sumur. Abigail sambil menarik nafas lega, sepasang matanya menyapu ke sekeliling, ia benar-benar berada di halaman belakang, akan tetapi, tidak mendapati siapa-siapa disana.


Abigail segera melangkah masuk ke dalam rumah, tampak olehnya Hanzel, Robert, Yohana dan Ratna tengah duduk murung di ruang tengah, di lantai ruangan tampak 2 sosok tubuh terbaring ditutupi dengan kain kafan.


Abigail heran, sambil berjalan terseok-seok, ia bertanya, “Apa yang terjadi ?!”. Kemunculan Abigail yang tiba-tiba dengan sekujur tubuh penuh luka dan lusuh, membuat Hanzel dan yang lain melompat kaget, wajah mereka pucat pasi, kejadian yang baru saja dialami di lantai 2, membuat mereka trauma. “Ada apa dengan kalian ? Ini aku, Abigail ?!” sapa Abigail.


Hampir seluruh mata memandang Abigail dengan perasaan tak menentu, “Apa benar kau Abigail ?” tanya Yohana memberanikan diri bicara.


“Bukankah kau dan Gembul terperosok ke dalam lubang di lantai 2 ?” tanya Robert setelah benar-benar yakin orang yang berdiri di hadapan mereka itu Abigail. Abigail mengangguk, “Ceritanya panjang, kemana yang lain ?”


Yohana gugup,secepatnya ia berusaha menenangkan diri. Setelah itu menceritakan apa yang sudah terjadi.


Setelah Abigail dan Gembul terperosok ke dalam lubang di ruangan lantai 2, Liza berlaku aneh, kemunculan Mak Bolot, dan membuat Fred dan yang lain mengikutinya entah kemana, hingga saat ditemukan Farid dan Liza menggantung di lantai 2 setelah kejadian aneh di kamar Abigail. Setelah mengakhiri ceritanya, Yohana bertanya pula tentang apa yang terjadi pada Abigail.


Abigail segera menjelaskan apa yang telah dialaminya bersama Gembul di ruang bawah tanah. Dengan bantuan roh Amigail yang sengaja menampakkan diri karena memerlukan bantuan untuk mengeluarkan jasadnya dan kini masih berada di dalam sumur di halaman belakang, sementara, Gembul menghilang, tidak ketahuan hidup-matinya. Ketika Abigail mengakhiri ceritanya, Hanzel bertanya, “Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang ? Sebelum arwah Feni memakan korban jiwa lagi ?” Abigail terdiam, ia menatap mayat Liza dan Farid dengan pandangan berkaca-kaca, “Aku ragu caraku ini berhasil atau tidak, yang pasti harus kucoba,” katanya kemudian.


“Apa yang hendak kau lakukan ?” tanya Yohana.


“Jangan-jangan ... kau mau berbuat nekad,” sambung Robert.


Abigail menatap tajam ke arah Robert,”Maukah kau membantuku mengeluarkan jenazah saudara kembarku. Aku akan mencari Fred dan yang lain,”

__ADS_1


Robert mengangguk, dalam waktu singkat, Robert sebagai ahli spesial efek yang handal, segera mempersiapkan segala keperluan yang dirasa penting, lalu, bersama Abigail, melangkah ke halaman belakang. Begitu sampai di halaman belakang, Abigail segera masuk ke dalam sumur dengan berpegangan pada tali yang sudah disiapkan oleh Robert, tali itu diikatkan ke pinggang, kini, ia bisa keluar-masuk sumur begitu mudahnya. Kerangka Amigail berhasil dikeluarkan dari dalam sumur dan saat ia hendak naik ke atas, terdengar suara rintihan seorang wanita. Suara itu berasal dari tempat dimana Abigail menemukan tengkorak Amigail. Suara rintihan itu semakin lama-semakin dekat, Abigail mundur beberapa tindak.


“Abi ! Apa yang kaulakukan disana ? Segeralah naik ke atas,” seru Robert yang berada di bibir sumur. Abigail tersadar, buru-buru ia meraih tali yang sudah disediakan oleh Robert, saat hendak naik ke atas... dari permukaan air tempat kerangka Amigail ditemukan muncullah sesosok wanita berbaju putih. Dengan merayap, wanita itu menghampiri Abigail, Abigail terpaku, “Abi... itu Feni, cepat segeralah pergi dari sini !” seru Amigail. Abigail segera bergerak menaiki dinding sumur, sosok wanita itu masih terus mengejar semakin lama semakin dekat.


Jantung Abigail berdegub dengan kencang manakala, sosok wanita itu juga ikut memanjat dinding sumur dengancara merayap, bergerak terpatah-patah, bersuara aneh dan tahu-tahu sudah berada tepat di bawah kaki Abigail. Abigail terus memanjat, jaraknya dengan wanita itu tidak kurang dari 2 meter, rasa gugupnya membuat gerakannya justru lebih kacau, “Abi... jangan gugup atau menoleh kemana-mana, teruslah kau naik,” kata Amigail. Sekujur tubuh Abigail basah oleh keringat dingin, saat hendak mencapai bibir sumur, ia merasakan kaki kirinya dicengkeram oleh sesuatu yang dingin. Abigail tak kuasa menahan rasa penasarannya, maka, ia mengalihkan pandangan ke arah pergelangan kaki kirinya.


Abigail menjerit histeris manakala melihat sosok wanita itu sudah berada tepat di bawah kakinya sementara tangan kanannya yang hanya berupa tulang dibungkus kulit putih pucat dan jari-jari yang tanpa kuku itu sudah mencengkeram pergelangan kaki kirinya, Abigail berontak berusaha untuk melepaskan cengkeraman itu, namun, justru cengkeraman wanita itu makin kuat, kakinya serasa mati rasa. Saat rambut hitam kusut yang menutupi wajah sosok wanita itu tersingkap dengan hembusan angin dari luar sumur, Abigail lebih histeris lagi.


Sepasang mata wanita itu Cuma ada warna putih, tidak ada biji mata, bibirnya bergerak terucap kata-kata,


'Mengapa aku tidak kamu bawa juga ? Mengapa Cuma dia yang kau selamatkan ?’


Abigail memberanikan diri untuk memandang wajah wanita itu dengan tatapan kasihan, “Feni, aku berjanji, tak akan kubiarkan kau sendirian lagi. Aku berusaha sebisa mungkin untuk melepaskanmu dari derita yang kau alami. Aku berjanji,” Setelah berkata demikian, wanita itu melepaskan kaki Abigail, setelah itu tubuhnya melorot ke bawah, tercebur ke dalam air untuk kemudian menghilang.


Robert menjulurkan tangan kanannya ke wajah Abigail, “Kemarikan tanganmu, kubantu kau naik,” Abigail menurut. Setelah keluar dari sumur dan membantu Robert membereskan semua peralatannya, Abigail menggendong jasad Amigail dan meninggalkan tempat itu, Robert mengikutinya dari belakang.


Abigail duduk termenung di ruang tengah, semenjak kejadian di dalam sumur, ia tidak bisa tidur, benaknya dipenuhi banyak pertanyaan tentang Feni, terutama cara mematahkan kutukannya. Hingga tanpa terasa, pagi tiba dan jam dinding menunjukkan pukul 07:00:00 WIB. Yohana dan Ratna yang menemaninya sepanjang malam tertidur dan masih terbaring di lantai. Mendadak, teringatlah ia akan ucapan Amigail, hanya Mak Bolotlah yang tahu caranya untuk mematahkan kutukan itu.


Teringat akan hal itu, maka, Abigail segera membersihkan badan dan hari ini, ia memutuskan untuk menemui Mak Bolot. Perlahan-lahan, Abigail melangkah menuju ke ruang depan, disana sudah menanti Robert dan Hanzel, mereka tengah membersihkan kameranya masing-masing. Melihat Abigail muncul, Hanzel meletakkan kameranya, “Kau hendak pergi kemana Abi ?” tanyanya. Abigail meraih tangan Hanzel dan menariknya keluar ke halaman rumah, “Dengar...” kata Abigail dengan wajah bersungguh-sungguh, “Aku hendak mencari Fred dan teman-teman. Tunggulah disini sambil menjaga jenazah Liza, Farid dan saudara kembarku. Jika dalam waktu 2 jam aku tidak kembali... segeralah pergi dari sini sambil membawa jenazah mereka,” katanya.


“Kau hendak mencari Fred kemana ?” tanya Robert.


“Bukankah kalian mengatakan bahwa mereka membuntuti Mak Bolot, bukan ?” sahut Abigail, “Kalau memang demikian, mereka pastilah berada di rumah Mak Bolot. Aku akan kesana, rumahnya tidak seberapa jauh. Ingatlah pesanku tadi, jika dalam waktu 2 jam aku belum kembali, segera pergi dari sini. Bawa jenazah teman-teman kita. Untuk jenazah Amigail, bakarlah dan tebarkanlah abunya ke laut, karena itulah permintaannya sewaktu masih hidup. Kumohon, turutilah perkataanku ini dan aku tidak ingin berdebat. Mengertilah,”. Hanzel yang semula berusaha mencegah kepergian Abigail, akhirnya mengangguk juga. ”Terima kasih, Hanzel. Aku pergi dulu,” kata Abigail lalu segera meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa lagi, sementara, Hanzel dan Robert hanya berdiri terpaku.


..._____...

__ADS_1


__ADS_2