DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXXI - R i t u a l #2 ( babak kedua )


__ADS_3

#2. Pria Jelmaan


Semenjak hubunganku dan Pak Jonas diketahui oleh Mas Doni, aku merasa bersalah. Setiap hari aku dihantui rasa bersalah tersebut, terlebih Mas Doni tidak memberikan komentar apa-apa saat aku diantar pulang dan membiarkan pipiku dicium oleh Pak Jonas. Aku selingkuh, itulah yang bisa disimpulkan lewat pandangan mata nyalang Mas Doni. Aku mengira malam itu akan terjadi keributan, tapi, ternyata tidak... namun, melihat sikap Mas Doni yang banyak diam semenjak peristiwa itu, aku cukup tersiksa.


Tapi, di lain pihak, aku harus berjuang keras untuk menafkahi keluarga apapun dan bagaimanapun caranya... Kami harus bertahan hidup di dunia yang serba modern dan serba mahal. Aku tidak ingin nasibku sama dengan kakak-kakakku, dipermainkan oleh suami saat mereka jatuh. Aku memang berasal dari keluarga terpandang, memiliki bisnis besar di pelbagai wilayah Nusantara. Semenjak Mas Doni hadir dalam kehidupanku, ayahkulah yang paling menentang hubungan kami, "Doni hanyalah pegawai rendahan, tidak setara dengan keluarga kita. Lebih baik kau cari pria lain yang lebih baik dan bisa menjamin kehidupanmu di masa mendatang," itulah yang sering terlontar dari mulut ayah.


"Ayah... Apakah masih ingat nasib Dian dan Laksmi ? Mereka mendapatkan suami yang kaya toh akhirnya, ayah bisa melihat keadaannya sekarang... Mereka lebih sengsara daripada kita. Tidak, ayah. Laki-laki kaya tidak menjamin untuk menjadi lebih baik selama mereka hanya bergantung pada orang tua dan tak mampu mengelola bisnis dengan baik. Akan tetapi, Mas Doni.... Dia adalah orang yang bisa saya andalkan karena dia bukanlah laki-laki pemalas dan bergantung pada orang lain," apabila aku mengingat kata-kata itu, mungkin aku tak perlu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan penghasilan lebih. Aku semakin merasa bersalah.


Tapi, setelah melihat keadaan Pak Jonas yang menurutku luar biasa itu, aku harus rela mengabaikan pendirian yang dulu kupegang teguh demi memperjuangkan hubunganku dengan Mas Doni hingga ke pelaminan. Bersama Pak Jonas aku bisa mendapatkan apa yang kuinginkan tetapi, aku harus membayar mahal semuanya itu. Termasuk rumah tanggaku. Tapi, sama sekali tak pernah terlintas di benakku bahwa aku harus dihadapkan pada peristiwa-peristiwa mengerikan yang sama sekali tak masuk akal, di luar nalar manusia pada umumnya.


***


Pak Jonas mendapat tugas dari kantor pusat untuk membuka cabang di luar kota, dia mengajak beberapa rekan kerja : Mbak Reni, Mbak Yuli, Mas Dadung dan Mas Tomi, aku tidak perlu ditanya, beliau selalu mengajakku kemananpun pergi. Hampir semua rekan kantor mengetahui hubunganku dengan Pak Jonas, jadi, apapun yang kami lakukan mereka tidak peduli. Itu sudah menjadi kesepakatan bersama. Kebetulan pula mereka yang diajak itu merupakan pasangan suami-isteri sehingga tak perlu khawatir dengan celoteh miring orang-orang sekantor.


Di kota tujuan, kami menginap di sebuah hotel berbintang lima, internasional class. Seumur hidup, baru kali ini aku menginap di hotel mewah seperti ini. Tak bosan-bosannya aku memandangi interior kamar yang terbuat dari kristal, mulutku ternganga. Aku merasa di tempat ini seperti orang bodoh. Bathtub dengan lapisan marmer yang mampu mengeluarkan air panas dan air dingin secara bersamaan, box shower dan lain sebagainya, membuat mulutku berdecak tiada henti. Belum lagi microwave, rice cooker, pemanggang roti; bagiku semua barang-barang tersebut cukup mewah akan tetapi, bagi orang yang sudah seringkali keluar-masuk hotel berbintang lima, itu hal biasa.


"Kau suka tinggal disini ?" tanya Pak Jonas.

__ADS_1


Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Pak Jonas hanya tersenyum, lalu berkata, "Tingkatkanlah prestasi kerjamu, beberapa tahun ke depan kau pasti memiliki semuanya ini,"


"A... Apakah bisa, pak ?" aku bertanya dengan suara gugup.


"Tentu saja, bisa, Dhea... Jika saya boleh bilang, kau tidak seharusnya menikah dengan pekerja lepas karena sudah pasti tidak akan bisa memenuhi apa yang kau butuhkan,"


"Maksud, bapak ?" tanyaku.


"Ah, sudahlah... Tak perlu dibahas lagi yang penting kau suka, itu sudah membuatku tenang," kata Pak Jonas.


"Sebenarnya, saya mengerti dan paham apa maksud bapak... Perkataan bapak tadi mengingatkan saya pada Ayah saya. Dulu ayah saya juga pernah berkata hidup saya akan menderita apabila memilih Mas Doni sebagai suami. Hubungan kami saat ini memang sedang kurang baik. Tapi, selama saya masih mampu, saya akan berusaha untuk menjadikan diri saya untuk berguna bagi siapa saja yang membutuhkan,"


"Iya, pak. Saya tidak ingin bernasib sama seperti adik-adik saya, dan saya akan berjuang demi mereka,"


"Iya... Iya... Maaf saya sebenarnya tak ingin mengungkit keadaan keluargamu. Tapi, yakinlah bahwa kau mampu selama kau bisa,"


***

__ADS_1


Aku bersiap-siap untuk tidur. Pak Jonas sepertinya pulang agak terlambat, saat aku hendak merebahkan tubuhku di tempat tidur yang empuk beralaskan sutera itu, terdengar pintu diketuk-ketuk. Dengan malas aku melangkah dan membuka pintu, diambang pintu Pak Jonas sempoyongan, dari mulutnya tercium bau alkohol yang cukup keras, ia bahkan hampir tak mampu berdiri. Aku memapahnya, menuju ke tempat tidur sementara ia mengomel-ngomel tidak keruan.


"Aku adalah orang yang punya segalanya, tapi, mengapa tak satupun wanita berani melirikku,"


"Dhea... Dhea... Dhea sayang, mengapa kau lebih memilih pemuda miskin itu, rela hidup sengsara dan menderita... Jika kau mengijinkan, aku ingin menjadi suamimu,"


"Dhea... Dhea... Jangan tinggalkan aku sendiri, tinggallah bersamaku... Takkan kubiarkan kau hidup menderita lagi, sayang..."


Itu adalah dari sekian banyak ocehan-ocehannya di malam itu... Dia mabuk tanpa sengaja mengungkapkan perasaannya yang mendalam padaku. Aku merasa iba. Kupandangi wajahnya yang gagah dan tampan, kubelai dadanya yang bidang dan macho, sementara ia terus mengomel tak keruan dan membuatku terenyuh.


Bagai digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata, jari-jemariku bergerak melepas kancing baju tidurku dan saat tak ada sehelai kain pun menempel di tubuhku, aku memeluk dan menciumnya.


Detak jantung berpacu dengan desah nafas, tak peduli tubuh kami mandi keringat karena dibakar oleh gelora asmara, tubuh kami menyatu, bergerak naik turun dan aku merasakan apa yang belum pernah kurasakan saat berada disamping Mas Doni. Aku memejamkan mata, menikmati segala sesuatu yang selalu kurindukan dan saat membuka mataku, aku tersentak tubuh Pak Jonas yang gagah dan macho itu dipenuhi oleh bulu-bulu hitam dan lebat. Sepasang matanya merah menyala membelalak lebar kepadaku, dia menyeringai untuk kemudian tertawa mengerikan.


"Aaahhh !!" teriakku histeris.


Pintu kamar terpentang lebar, Pak Jonas dan yang lain masuk, "Dhea, ada apa ?!" serunya.

__ADS_1


Aku terkejut, buru-buru menyambar selimut untuk menutupi tubuhku yang masih telanjang. "Ti... tidak mungkin," seruku.


__________


__ADS_2