DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXX - R i t u a l #1 ( Babak pertama )


__ADS_3

#1. Persekutuan


"Den Doni, ritual macam itu, bisa membuat isterimu gila. Sebaiknya, kau hentikan saja sebelum terlambat," kata Ki Sena padaku saat aku berkunjung ke rumahnya. Beliau adalah guru spiritualku, namanya cukup terkenal di Dusun Karang Tunggal. Aku mengenalnya semenjak aku duduk di bangku kelas 6 SD Karang Kobong. Aku masih ingat sewaktu kali pertama bertemu dengannya. Waktu itu Bi Menik, isteri paman Kohar menghilang selama 2 hari 2 malam, dan saat kembali, ia tampak linglung dan perutnya membuncit mirip wanita yang hamil 9 bulan.


Paman mencurigai ada seorang warga dari desa sebelah menculik dan menghamilinya. Namun, itu tidak terbukti, alasannya adalah pada hari sebelum Bi Menik menghilang, ia sempat bersenda gurau dengan saudara-saudaranya, ia pamit ke kamar mandi untuk buang hajat. Tetapi, sudah lebih dari dua jam, ia tidak kembali sementara pintu kamar mandi masih tertutup rapat. Timbullah rasa curiga dan melaporkan kejadian itu pada Paman Kohar.


Setelah diketuk berulang kali tapi tak ada jawaban dari dalam, paman Kohar segera mendobrak pintu, saat pintu terpentang lebar, hampir semua orang menyeruak masuk tapi, Bi Menik tidak ada di dalam sementara tidak terdapat tanda-tanda kamar mandi dibobol orang. Kejadian itu membuat geger dusun Karang dan sekitarnya. Massa dikerahkan untuk mencari keberadaan Bi Menik.


Pencarian berlangsung selama dua hari dua malam. Maka dipanggillah Ki Sena untuk membantu karena para tetua dusun tidak mampu menemukannya. Menurut Ki Sena, Bi Menik diculik salah satu penguasa dusun Karang dan sekitarnya untuk menemukannya harus diadakan sebuah ritual pemanggilan Jin penguasa dusun karang dan sekitarnya. Ki Sena mengemukakan sebuah syarat pada para penduduk desa, sebuah syarat yang aneh dan lucu serta boleh dibilang tak masuk akal menurutku.


Semua penduduk pria, wanita, dewasa dan anak-anak, secara bergiliran harus memainkan alat-alat tradisional, bukan gamelan atau alat musik pada umumnya tetapi, benda apa saja yang menimbulkan bunyi-bunyian sepanjang hari sampai pada batas waktu dimana Bi Menik menghilang. Selain itu penduduk, khusus keluarga Bi Menik harus menyembelih ayam cemani sepasang dan menyiramkan darahnya diatas tampah ( Perabot rumah tangga, dibuat dari anyaman bambu dan sebagainya, biasanya berbentuk bulat untuk menampi (membersihkan) beras ) yang berisi kembang setaman.


Aku tidak tahu, ini kebetulan atau memang Ki Sena adalah dukun mumpuni, saat semuanya sudah dilaksanakan, Bi Menik ditemukan di sebuah hutan yang jaraknya sekitar satu setengah kilo dari Karang Kobong dalam keadaan linglung dan perutnya buncit. Seminggu kemudian, beliau sudah beraktivitas seperti biasa. Tapi, hubungannya dengan paman merenggang dan itu berlangsung selama lebih kurang 3 bulan.


Itu adalah salah satu kejadian dari sekian banyak peristiwa yang pernah terjadi di dusun Karang dan sekitarnya dan melibatkan Ki Sena.

__ADS_1


Saat malam pernikahanku dengan Dhea, beliau juga menyempatkan diri untuk hadir meski semula beliau adalah salah satu orang yang paling keras menentang pernikahan kami itu. Sebelum aku menikah, beliau memberiku banyak nasihat, namun aku bersikap acuh tak acuh. Dari sekian banyak nasihat, cuma satu yang bisa kuingat... 'Den Doni, ananda Dhea bukanlah seorang wanita yang mudah sekali dibimbing, dia terlalu tinggi bagimu. Tinggi dalam segala hal, apabila kau tak mampu memenuhinya, usia pernikahan kalian hanya seumur jagung. Saya hanya bisa mengatakan ini dan mendoakan agar apa yang kukatakan ini, hanya isapan jempol belaka,"


Perkataan beliau terbukti, hubungan singkat kami berakhir di pelaminan, karena kami disibukkan dengan pekerjaan kami masing-masing, akibatnya, kami tidak melewati apa yang seharusnya dilewati oleh pasangan pengantin baru pada umumnya, bulan madu. Orang bilang, bulan madu adalah sebuah fase penjajakan. Lewat fase ini, mereka bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing, saling mengerti demi melangkah menuju masa depan. Masa dimana sepasang anak manusia harus memulai hidup baru. Ibarat kata, anak-anak domba yang baru mulai beranjak dewasa dilepas di tengah Padang rumput luas dengan beraneka ragam bahaya yang mengancam demi bertahan hidup. Dan tampaknya, kami belum siap untuk itu.


Dhea bekerja pada sebuah bank berstandar internasional, sebagai tangan kanan pimpinan cabang, mau tak mau ia jarang ada di kantor melainkan harus ikut serta kemanapun bos pergi. Sementara, aku bekerja sebagai salah satu petugas Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Non PNS, dengan gaji pas-pasan. Bisa dibayangkan, perbedaannya bagai bumi dan langit. Kami menjalani hidup seperti biasa, seperti layaknya suami-istri. Saat aku tiba di rumah sekitar pukul 17, Dhea sudah mempersiapkan segala-galanya untukku. Karena dia pulang lebih awal dariku, semuanya begitu indah dan wajar-wajar saja.


Belakangan, terjadi perubahan sikap, watak dan karakter Dhea. Seringnya pulang terlambat, juga sebuah sedan mewah dan seorang sopir yang ternyata sopir itu adalah bosnya... Membuat hati serasa tidak tenang, ada sebuah perasaan aneh mengganjal dalam hati. Saat aku bertanya, dia selalu mengemukakan alasan yang sama... Ada meeting mendadak dari kantor pusat, lembur dan lain sebagainya. Kami lebih sering beradu argumentasi hingga larut, tapi, malah memperburuk keadaan. Tanpa sadar rumah tangga kami mulai diwarnai kemelut. Itulah sebabnya, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi Ki Sena dan meminta solusi darinya.


***


Pak Jonas keluar terlebih dahulu, menyusul kemudian Dhea keluar, langkah kaki tampak sempoyongan dan wajahnya pucat pasi. Yang membuat hati ini panas adalah Pak Jonas memeluk dan membimbing Dhea berjalan. Dhea membuka gerbang, "Saya masuk dulu, pak terima kasih sudah mengantar saya pulang," katanya, ia membiarkan pipinya dikecup oleh pria itu sebelum kemudian melangkah masuk. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat, dan saat mobil mewah itu berlalu dan Dhea hendak menutup pintu rumah, aku muncul dari persembunyianku.


Melihat kemunculanku yang tiba-tiba, wajah Dhea tampak lebih pucat, aku bisa merasakan airmukaku panas, pancaran mataku nyalang namun, aku mencoba menahan diri untuk tidak melampiaskan kemarahan malam itu. Tanpa banyak bicara aku melangkah masuk dan berusaha keras untuk melupakan kejadian itu berharap, kelak isteriku tak mengulangi lagi perbuatannya itu.


Ternyata aku salah, sebulan setelah kejadian malam itu, tingkah laku Dhea semakin melonjak terlebih setelah mendapat kenaikan gaji.

__ADS_1


Perbedaan status sosial ini makin meruncing saat Pak Rudi kepala kantor tempatku bekerja digantikan oleh seorang pemuda dari kota yang ternyata tidak ahli dalam bidangnya. Banyak rekan - rekan kerjaku mengundurkan diri bahkan ada yang di-PHK karena dianggap menentang kebijakan pimpinan baru tersebut. Aku yang mencoba bertahan demi keluarga pun akhirnya merasa tidak betah dan memilih mundur. Sebuah keputusan yang benar menurutku. Aku benar-benar mengalami depresi berat belum lagi melihat tingkah laku Dhea yang semakin buruk.


"Saya sudah mengatakannya padamu dari dulu, den Doni, dan kau nekat, sekarang kau sendiri yang sengsara," kata Ki Sena.


"Nasi sudah menjadi bubur, Ki... Apakah tidak ada jalan keluar untuk mengatasi masalahku ini, Ki?" tanyaku setengah putus asa.


"Apakah kau tahu apa julukanku di Karang Tunggal ini, Den Doni ?" tanya Ki Sena tiba-tiba.


Aku menggelengkan kepala. Ki Sena tertawa sambil mengelus jenggotnya yang kelabu, "Terkadang untuk melakukan sesuatu .... Kita tak boleh ragu-ragu. Ketahuilah, di Karang Tunggal ini aku dijuluki Dukun Ilmu Hitam,"


Perkataan Ki Sena membut bulu kudukku merinding, aku termenung... Salahkah aku mengangkat Ki Sena sebagai guru spiritualku ? Itu yang kemudian terlintas di benakku.


"Den Doni, selama kau sanggup menerima konsekuensinya, aku akan membantumu keluar dari lubang ini," perkataan Ki Sena ini membuyarkan lamunanku. Demi mengangkat derajatku, demi membahagiakan istriku.... Aku harus melakukannya.


"Aku sanggup, Ki," ujarku tanpa ragu-ragu lagi.

__ADS_1


__________


__ADS_2