DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXVII - K u r i r ( babak kedua )


__ADS_3

02. Pesan Dari Sebuah Paket Kosong - Bagian Pertama


"Mas, ada kiriman paket, tolong diterima,"


Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di dalam benak Amri saat mengamati dan menimang-nimang paket pemberian kurir yang bernama Fera itu. Suara yang terdengar mengambang dan hampa.


Masih terbungkus dengan rapi.


Amri tersentak kaget manakala terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya, "Nak... paket dari Rahmat sudah datang. Dia menunggu di luar, keluarlah, nak,"


" Iya, Bu... kebetulan sekali. Aku ingin membicarakan paket yang kuterima dari Fera kemarin," pintu kamar terbuka, Amri muncul sambil membawa paket yang diberikan Fera kemarin.


Di ruang tamu, tampak Rahmat sedang duduk sambil mengutak-atik ponselnya.


Melihat kedatangan Amri, ia segera mematikan ponselnya, "Mas Amri,"


Amri mengangguk perlahan, setelah basa basi sejenak barulah mereka terlibat pembicaraan serius.


"Ini paket yang kudapat dari kurir wanita yang bernama Fera itu. Aku tidak berani membukanya, mas,"


Rahmat mengamati paket itu, bentuk dan ukurannya sama dengan paket yang dibawanya, "Kok aneh, ya ? coba anda lihat paket yang saya bawa ini, dokumennya masih lengkap sementara paket yang Anda terima dokumennya sudah dilepas,"


"Menurut anda... apa yang harus kulakukan?" tanya Amri.


"Paket yang ada pada saya, sebaiknya Anda terima dulu. Paket dari kurir wanita bernama Fera itu, saya bawa untuk dikonfirmasi di perusahaan OkGo," sambil berkata demikian, Rahmat memasukkan paket itu ke dalam box delivery - nya, "Mas, saya mohon diri dulu, masih banyak barang yang harus diantar. Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatannya,"


"Oh, tidak apa-apa, mas... terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya,"


...__________...

__ADS_1


Amri duduk di meja tulisnya, tangannya bekerja cepat membuka pembungkus paket yang baru diterima dari Rahmat.


Namun ia terkejut manakala paket itu tidak ada isinya, "Yang benar saja," ujarnya seorang diri.


Buru-buru Amri meraih ponselnya setelan jari jemarinya bergerak sebentar menekan tombol pada keypad, ia langsung terhubung dengan Rahmat, "Hallo, mas Rahmat...."


"Hallo, mas Amri apa ada yang bisa saya bantu ?" tanya Rahmat dari seberang sana.


"Paketnya, kosong," ujar Amri singkat.


"Tidak mungkin, mas.... sebelum saya mengantar paket tersebut, saya sudah cek ulang berat bersihnya, semua termasuk dokumen-dokumennya... perusahaan tidak boleh melanggar privasi para kostumernya, mas,"


"Ini benar-benar kosong, tidak ada isinya, mungkinkah tertukar dengan paket saya ?"


"Tidak, mas... paket Anda tak ada dokumennya, sementara paket dari saya ada. Bukankah anda tadi sudah menandatangani dokumen tersebut,"


"Iya, mas... copy dokumennya masih menempel di pembungkusnya," ujar Amri, "Kok aneh, ya?"


"Mas, ada kiriman paket, tolong diterima,"


Wajah Amri memucat, suara itu lagi... kali ini suara itu terdengar mengerikan.


"Mas, ada kiriman paket, tolong diterima,"


Suara itu terdengar untuk yang kedua kalinya. Kali ini suara itu terdengar dekat sekali. Amri menoleh kesana - kemari, mencari asal suara itu. Ia melangkah ke pintu depan dan membukanya pelan-pelan. Tidak ada siapapun, padahal jelas sekali telinganya mendengar suara dari luar juga ketukan pintu.


"Mas, ada kiriman paket, tolong diterima,"


Ini kali ketiga ia mendengar suara itu. Amri bukanlah seorang pengecut, namun kali ini ia benar-benar merasa nyalinya menciut. Suara tanpa wujud itu benar-benar telah meneror seluruh jiwa dan raganya.

__ADS_1


"Katakan, siapa kau dan apa maksudmu melakukan ini ?!" serunya.


Sunyi. Tak ada jawaban, hanya desah nafas dan detak jantungnya sendiri yang terdengar. Amri bagaikan orang gila. Hingga akhirnya, tatapannya tertuju pada sudut ruangan, sesosok bayangan mengenakan pakaian oranye. Kumal dan lusuh. Bayangan itu mengenakan topi Eiger berwarna coklat menutupi sebagian wajahnya. Bayangan itu berdiri, diam tak bergerak.


Amri menggosok-gosok matanya, harapannya adalah apa yang dilihatnya adalah halusinasi, sepersekian detik kemudian ia kembali menatap ke sudut ruangan... sosok itu hilang entah kemana. Amri tersenyum kecut, "Konyol sekali," gumamnya sambil membalikkan badan.


Ia melompat kaget, ada sesosok tubuh wanita berdiri di hadapannya. Ketika hendak membuka mulut, rahangnya serasa kaku saat wanita itu memegang kedua pipinya. Dan, ......


...__________...


Kurir wanita itu keluar dari bangunan mewah berlantai dua. Tubuhnya limbung, jalannya sempoyongan sambil sesekali berhenti sejenak, untuk memuntahkan cairan encer berwarna putih, bau kurang sedap. Bau miras. Bercak-bercak kuning kecoklatan dan basah, bukanlah satu-satunya penghias baju dengan warna dasar oranye yang compang-camping, masih ada warna merah kehitaman pada celana jeans nya.


Sambil menahan rasa sakit pada kepala dan pangkal pahanya, wanita itu terus berjalan ke arah sepeda motor yang diparkir tak jauh dari bangunan mewah itu. Ia mempercepat langkahnya manakala terdengar seruan dari arah belakang.


3 orang pemuda muncul, masing-masing membawa sebuah botol berwarna hitam. Mereka berjalan semakin lama semakin dekat, menyebar dan salah satunya menghadang jalan.


"Hei, kami belum selesai.... mengapa kau buru-buru pergi ?" ujar pemuda tinggi kurus bertelanjang dada, dialah si penghadang jalan.


"Maaf, mas... kumohon biarkan aku melanjutkan perjalanan, masih banyak barang yang harus diantar," suara gemetar wanita itu seakan menjadi penghibur pemuda itu.


"Bukankah motto OkGo salah satunya adalah memberikan pelayanan yang terbaik dan memuaskan ?" kali ini orang kedua angkat bicara, ia sudah duduk di sepeda motornya.


Wajah wanita itu pucat pasi, sekalipun ia memohon-mohon sampai menangis, orang-orang itu tetap saja tak tergerak hatinya, "Aku sudah melakukan tugasku dengan baik, mengapa tak kalian biarkan aku kembali bekerja atau perusahaan akan memecatku?"


"Paket itu kosong, nona... apakah kau ingin mempermainkan kami ?" tanya orang ketiga.


"Ti... tidak mungkin, kami para kurir hanya bertugas mengantar barang sampai ke tujuan tanpa cacat... tidak berani melanggar privasi para kostumernya,"


"Buk..."

__ADS_1


Wanita itu merasa kepalanya dipukul dengan benda yang cukup keras, pandangannya mendadak kabur, lututnya lemas tak bertenaga dan akhirnya, roboh tak sadarkan diri.


...__________...


__ADS_2