
07. T U M B A L
Mak Bolot mengalihkan perhatiannya ke arah halaman rumah, sepasang matanya yang sayu menatap kosong dan mulutnya terbuka, menceritakan apa yang sudah terjadi beberapa tahun yang silam.
‘Wanita yang ada di foto itu bernama : Feni. Seorang wanita yang cantik, menawan, ceria dan enerjik. Dia adalah puteri nomor dua pasangan suami-isteri IBRAHIM dan ASTUTI, sebuah pasangan suami-isteri yang sempurna dan harmonis di mata orang yang memandangnya. Akan tetapi, di balik itu semua... mereka adalah orang-orang berwatak aneh, kemelut rumah tangga senantiasa mewarnai hari-harinya.
Setelah kakaknya menikah, Ibrahim pergi ke luar negeri, meninggalkan isteri dan anak-anaknya, jarang sekali pulang untuk menjenguk keluarga dan hanya mengirimi uang untuk biaya hidup keluarga, meski terkadang tidak cukup. Mau tidak mau, Astuti harus bekerja sendiri dan dibantu oleh si kecil Feni, sementara Leni kakaknya juga jarang berkunjung ataupun membantu keuangan ibunya, sekalipun bersuamikan orang yang kaya.
Begitu banyaknya tekanan hidup dan harus menanggung 3 orang anak ditambah lagi cucu yang dititipkan oleh Leni setelah dicerai suaminya, Astuti frustasi, depresi dan stress berat.
Berbagai macam perasaan bercampur aduk jadi satu dalam dirinya; Astuti yang dulunya seorang wanita lemah-lembut, penuh perhatian dan cinta-kasih, berubah menjadi pemarah, mudah tersinggung, dan lepas kendali. Untuk melampiaskan perasaannya itu Feni-lah yang jadi sasaran luapan emosinya. Tak segan-segan Astuti menampar, memukul dan menyiksa Feni dengan berbagai macam cara. Pelan tapi pasti, Feni mengalami tekanan lahir-batin.
Sebagai tempat berkeluh kesahnya, Feni yang sudah berangkat remaja itu adalah teman-temannya. Siapa yang menyangka mereka malah menjadikan Feni sebagai bahan permainan, bahan ejekan dan bahan tertawaan. Rasa penasaran, putus asa, kecewa, amarah dan dendam senantiasa mengiringi hidupnya hari demi hari, hingga akhirnya Feni nekad dan gantung diri di lantai dua. Di saat ajal menjemput, terucap kata-kata seperti lagu yang liriknya aneh :
^^^“Bila aku kembali dari kematianku ...^^^
^^^Kuharap dunia tersenyum kepadaku ..^^^
^^^.^^^
^^^Datang, datanglah kepadaku, ^^^
^^^Disitulah kau temukan ketakutanmu,^^^
^^^Datang, datanglah kepadaku ...^^^
^^^Ketakutanmu, sumber hidup abadiku,’"^^^
Ironisnya tak seorang pun mengetahui kematian Feni selain Mak Bolot yang selama ini dekat dengan Feni. Keluarga Feni seakan tidak mempedulikan hidup-matinya dan yang menguburkan jenazahnya adalah Mak Bolot.
7 hari setelah kematian Feni,makamnya seperti dibongkar orang dan jenazahnya menghilang. Roni, adik keempat Feni tiba-tiba menderita penyakit aneh; Vina, adik kedua Feni menjadi pelacur. Kejadian yang menimpa putera-puterinya, membuat Astuti Shock dan setelah membunuh cucunya, puteri LENI, ia menjadi gila. Dalam keadaan yang kacau balau itu, Ibrahim tiba-tiba kembali dari luar negeri dan melihat keadaan rumah yang berantakan, menjadi heran terlebih saat melihat Astuti duduk di lantai ruang tengah yang penuh dengan ceceran darah dan potongan-potongan tubuh manusia, sementara tangan kanannya gemetaran memegang sebuah pisau dapur yang masih basah oleh darah. Begitu Ibrahim memasuki ruangan tengah, Astuti seperti kesetanan ... ia menyerang Ibrahim dengan pisau dapur itu.
Untunglah Ibrahim yang sedikit mengetahui ilmu bela diri dengan cepat bisa menguasai keadaan. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam diri Astuti, maka, diputuskannya untuk memasukkan Astuti di RS Jiwa dan menjual rumah yang menyimpan tragedi berdarah itu.
Meski rumah itu dijual dengan harga murah, tapi, tak ada seorang pun yang berniat tinggal ataupun memilikinya.
__ADS_1
Rumah itu jadi terbengkalai. Mak Bolot yang sudah lama bekerja sebagai pembantu disana, menjadi sayang membiarkan rumah itu terbengkalai karena diabaikan pemiliknya. Maka, memutuskan untuk membeli, menjaga dan memeliharanya seumur hidup.
Setelah Mak Bolot menjadi pemilik tunggal rumah itu, barulah banyak orang yang meliriknya. Ada yang mencoba untuk menyewa ataupun membelinya, namun, semua penghuninya tidak dapat bertahan lama, karena mereka kerap kali selalu mengalami kejadian-kejadian aneh dan mengerikan. Salah satu kejadian aneh yang paling sering mereka alami adalah ... munculnya sesosok wanita misterius berbaju putih, berambut sebatas pundak secara tiba-tiba di wajah setiap penghuninya.
Wanita tersebut tidak memiliki sepasang biji mata pada kelopaknya, dan salah satu bekas penghuni rumah tersebut ABIGAIL.
Nasib keluarga Abigail nyaris serupa dengan keluarga Feni. Saat Abigail dan ayahnya meninggalkan rumah tersebut, mereka mengalami kecelakaan maut yang membuat REZA, ayah Abigail tewas di tempat dan Abigail sekarat dan kehilangan hampir seluruh ingatannyatentang rumah itu. Siapa yang menyangka, Abigail kembali lagi ke rumah itu setelah 10 tahun terjadinya kecelakaan tersebut dan ingatannya tentang rumah angker tersebut belum kembali sepenuhnya; sementara, KUTUKAN ARWAH PENGHUNI RUMAH ANGKER yang tidak lain adalah arwah Nona Feni belum dipatahkan. Mak Bolot mengakhiri ceritanya dengan tertawa terkekeh-kekeh mengerikan’.
Fred menundukkan kepalanya, sedikit demi sedikit misteri tentang rumah angker itu mulai terungkap. Akan tetapi, ia masih tidak mengerti dengan menghilangnya Farid dan sikap Liza yang mendadak berubah menjadi liar. Mak Bolot hanya mengatakan satu patah kata saja, satu patah kata itu adalah : “TUMBAL”.
“Lalu, apa yang harus kamilakukan untuk menghadapi Arwah Feni, Mak ?” tanya Fred.
Mak Bolot membanting-banting tongkatnya ke lantai, setelah menghela nafas panjang ia berkata, “Ayah Abigail menemukan kerangka Nona Feni di ruang bawah tanah, mengeluarkannya dari sana kemudian menguburkan kerangka itu di pemakaman yang tak jauh dari sini. Setelah menguburkan kerangka tersebut, ia bersama Abigail meninggalkan rumah ini, bermaksud untuk melepaskan diri dari kutukan tersebut. Akan tetapi, mengalami kecelakaan maut, bersamaan dengan itu makam Nona Feni yang baru, rusak dan jasadnya menghilang lagi ... selama itu terjadi, jangan harap kutukan itu akan berakhir ... dan selama itu pula Arwah Nona Feni tidak akan pernah berhenti menebar teror dan meminta korban,”
Setelah Mak Bolot ,meletakkan foto Feni ke tempatnya semula, kembali ia berkata, kali ini nadanya terdengar lebih mengancam, “Ingatlah ! Arwah Nona Feni adalah ungkapan rasa kesepian, amarah, benci, dendam, putus asa dan lain sebagainya yang tak terlampiaskan. Apabila kalian salah memperlakukan jasadnya, seumur hidup kalian... jangan harap bisa tenang dan itu adalah malapetaka bagi semua orang di dunia ! camkan ini baik-baik ! Dan apabila kalian tidak mempercayai kata-kataku seperti teman kalian, HANZEL ... kalian boleh mencobanya... dan aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kalian !” setelah berkata demikian, Mak Bolot tertawa aneh dan meninggalkan ruangan itu, sementara Fred dan yang lain saling pandang.
Rekaman kamera : Senin, 11 Januari 2010; Pk. 18:30:45 WIB (Kamar No. 2 dan Lantai 2)
Hanzel dan Robert tampaknya sudah mulai tak sabar dan bosan menunggu kedatangan Fred dan yang lain. Mereka berjalan mondar-mandir sambil menggerutu di teras rumah, mereka mulai cemas dan khawatir hingga mereka tidak tahu ada sesuatu yang buruk dan aneh sedang terjadi di kamar no. 2 tempat Liza dan Yohana beristirahat.
Tercium aroma busuk di dekat wajah Yohana dan Liza, bau busuk yang menyengat, sayup-sayup telinga mereka mendengar suara tawa seorang wanita. Liza membuka matanya, apa yang ia lihat, membuat ia berteriak histeris. Tepat di dekat wajahnya, tampak wajah seorang wanita berambut panjang, hitam dan kusut tergerai, sepasang kelopak matanya putih pucat, tidak ada biji mata seakan menatap wajah Liza, bau busuk kian menyengat membuat perutnya mual dan seakan seluruh isi perutnya hendak tumpah keluar.
Jeritan Liza ini membangunkan Yohana, ia terkejut sekali melihat keadaan Liza. “Liza, ada apa ?!” teriakan Yohana tak mendapatkan jawaban, teriakan Liza malah lebih keras, menyusul kemudian kain selimut yang menyelimuti tubuh Liza terjulur dan mengikat leher Liza dengan kencang, setelah itu tubuhnya terbanting di lantai kamar dan seperti ada yang menariknya keluar, Liza berontak tangan-tangannya berusaha melepaskan ikatan yang membelit lehernya.
Yohana berteriak-teriak minta tolong, tak seorang pun mendengar teriakannya karena ruangan kamarnya adalah ruangan kedap suara sementara jaraknya dengan teras agak jauh. Mau tidak mau, Yohana berusaha keras untuk mengabaikan rasa sakit di betis dan lehernya dengan merangkak menuju pintu dan berteriak sekencang-kencangnya. Usahanya ini membuahkan hasil, Hanzel dan Robert segera berlari menghampiri Yohana, “Ada apa, Yoh ?!” tanya Hanzel sambil membimbing Yohana bangun. “Liza seperti diserang sesuatu yang aneh,” jawab Yohana. Robert segera masuk ke kamar tapi tidak mendapati Liza, “Dimana Liza ?”
Baru saja Yohana hendak menjawab, terdengar suara ribut-ribut di lantai 2. Tanpa menunggu lama, mereka segera naik ke lantai dua. Saat tiba di lantai dua, tampak sesosok tubuh meronta-ronta di udara, dialah Liza. Kain yang melilit leher Liza, menarik Liza ke langit-langit, Liza masih berusaha melepaskan kain yang mengikat lehernya dengan gerakan setengah putus asa. Hanzel segera memegangi tubuh Liza, “Bertahanlah, aku akan menolongmu !” Setelah berkata demikian, ia menoleh ke arah Robert, ”Turunkan dia !”
Robert segera bekerja dengan cepat, tangannya bergerak memotong kain yang mengikat leher Liza. Liza berhasil diselamatkan meski wajahnya sudah mulai membiru, tapi, mendadak Yohana berteriak-teriak, ada yang menarik kakinya dan itu berasal dari arah lubang tempat Abigail dan Gembul terperosok.
Buru-buru semua orang meraih tangan Yohana dan dengan susah payah akhirnya, Yohana berhasil diselamatkan dan menjauhkannya dari lubang itu. Mereka jatuh terduduk dengan nafas tersengal-sengal, sementara, wajah Liza pucat pasi manakala melihat sosok bayangan wanita berputih, berambut hitam panjang dan kusut berdiri tak jauh di belakang Yohana, wanita itu menatap tajam ke arahnya, detik berikut bayangan itu memasuki lubang dengan gerakan aneh.
“Sebaiknya, kita segera pergi meninggalkan tempat ini, entah mengapa perasaanku tdak enak sekali,” kata Hanzel yang tiba-tiba saja merasakan bulu kuduknya berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, semua orang bergegas meninggalkan tempat itu. Pintu tertutup, suasana kembali menjadi sunyi. Sayup-sayup terdengar suara tawa aneh seorang wanita yang seakan memenuhi ruangan itu. Foto keluarga Reza yang sejak tadi tergantung di dinding, tiba-tiba jatuh dan dari langit-langit ruangan bagian tengah pada pasak kayu penyangga atap, sesosok tubuh melorot turun dan menggantung di tengah-tengah udara.
Rekaman kamera : Selasa, 12 Januari 2010; pukul 00:25:15 WIB – Kematian Liza
__ADS_1
Hanzel dan Robert serta yang lainnya, duduk di ruang tengah; sementara Liza dan Yohana sedang menjelaskan apa yang mereka alami beberapa jam yang lalu. Begitu selesai bercerita, Hanzel berdiri dan berkata, “Isu tentang keangkeran rumah ini ternyata bukanlah kabar burung belaka. Semula aku tidak mempercayainya, akan tetapi, setelah mengalami sendiri, aku merasa bersalah karena telah menyeret kalian pada kejadian-kejadian yang tidak bisa diterima oleh akal sehat bahkan membahayakan jiwa kalian. Aku benar-benar menyesal,”
“Sudahlah, tak ada gunanya menyesali diri, kita sama sekali tidak menduga ada kejadian seperti ini. Ini semua di luar dugaan kita,” sahut Robert, “Fred sudah lama meninggalkan kita, apa sebaiknya kita mencarinya,” sambungnya.
Hanzel melirik jam tangannya, sudah hampir jam 22:00 WIB, “Menurut Fred, Abigail dan Gembul terperosok ke dalam lubang, tak jelas hidup-matinya. Farid pun menghilang tiba-tiba; Andre dan Ryan juga belum kembali, tidak mungkin kita berpencar mencari mereka. Dalam situasi genting seperti ini, kita harus tetap bersama. Tapi ... “ ucapannya terputus, mendadak ia teringat Ratna yang sejak tadi tidak kelihatan batang hidungnya, “Kemana Ratna ? Apakah kalian tahu kemana dia ?”
Semua orang seperti tersadar, buru-buru mereka segera meninggalkan ruangan tengah sambil berteriak-teriak memanggil Ratna. Tidak ada jawaban, kembali mereka kebingungan, kecemasan tercermin di wajah masing-masing. Seluruh ruangan dan setiap sudut rumah diobrak-abrik, namun, Ratna seperti hilang ditelan bumi. “Coba kalian hubungi ponselnya, bukankah, dia selalu membawa-bawa ponselnya kemanapun ia pergi,” usul Robert. Hampir semua orang mengeluarkan ponselnya, sebagian menghubungi Fred, sebagian menghubungi Abigail dan sebagian lagi menghubungi Ratna, akan tetapi, tidak ada sinyal sama sekali. Untuk kesekian kalinya, mereka memeriksa seisi ruangan dan setiap sudutnya, malam itu benar-benar malam yang sibuk dan kacau, hingga akhirnya Robert menemukan tubuh Ratna tergeletak tak berdaya di rerumputan di halaman belakang rumah, buru-buru ia membawanya masuk ke dalam.
Kedatangan Robert itu segera disambut dengan umpatan kemarahan Hanzel, “Ratna Pingsan ! Bagaimana ini bisa terjadi ?! Keparat, rumah ini benar-benar membuatku frustasi !”
“Kau tidak perlu marah-marah seperti itu, semua kejadian ini berada di luar dugaan kita...” sahut Robert. Lonceng pada jam dinding, berdentang sebanyak 12 kali, tidak ada tanda-tanda Fred dan teman-temannya kembali. Setelah kejadian aneh itu, Robert dan Hanzel membagi tugas untuk berjaga bergiliran, sementara Liza, Yohana tidur di lantai dengan beralaskan tikar. Sedang Ratna yang masih belum sadar dari pingsannya, dibaringkan di sofa. Malam itu yang mendapat tugas jaga pertama kali adalah Robert, ia berjaga di teras rumah, pikirannya menerawang jauh ke angkasa yang saat itu disinari bulan purnama yang bentuknya masih belumlah sempurna. Namun, sinarnya menerangi hampir di setiap sudut halaman rumah yang ditumbuhi beraneka ragam tanaman lebat. Kabut tipis mulai merayap turun dari balik punggung pegunungan yang mengelilingi rumah itu, membuat Robert harus menaikkan kerah bajunya hingga menutupi bagian tengkuknya, yang mendadak saja bergetar manakala mendengar bunyi burung malam tepat di atap rumah, berbunyi mengerikan.
Di dalam ruangan tengah, gambarnya bergoyang-goyang dan mengalami perubahan fokus dengan sendirinya selama 30 detik, setelah merekam fenomena aneh. Terdengar suara tawa aneh seorang wanita, sebuah ektoplasma yang membentuk sosok tubuh seorang wanita berambut panjang, melayang-layang di udara dan mengelilingi sofa tempat Hanzel dan yang lain berbaring. Gerakannya begitu pelan sekali, setelah terbang berkeliling sebanyak 3 kali, ektoplasma tersebut terbang menuju lantai 2 dan kemudian menghilang. (terekam pada pukul 00:25:25 WIB).
10 menit kemudian Liza bangun, berdiri dengan pandangan mata yang kosong, berdiri sambil menatap ke sekeliling ruangan, berdiri cukup lama dan dengan melangkah aneh menuju ke ruang makan selanjutnya menaiki anak tangga. Sesampai diambang pintu, pintu itu terbuka dan Liza melangkah masuk ke dalam setelah itu tidak muncul-muncul lagi.
Saat jam dinding menunjukkan pukul 01:30:45 WIB, listrik padam. Terdengar suara kaca pecah dan ribut-ribut di kamar no 1. Suara itu membangunkan Hanzel dan yang lain. Situasi yang gelap gulita itu, membingungkan mereka.
Hanzel merogoh sakunya dan mengeluarkan HP, berkat nyala pada LCD hp-nya, barulah ia melangkah ke kamar no 1, Kamar ABIGAIL dan FRED, sementara yang lain mengikuti dari belakang.
“Fred, Abi apa kalian ada di dalam ?” panggil Hanzel sambil menggedor-gedor pintu kamar. Tak ada jawaban, karena tak ada jawaban akhirnya Hanzel mendobrak pintu dan menyeruak masuk diikuti teman-temannya. Apa yang mereka temukan di dalam, membuat mereka terbelalak ... seisi ruangan kamar berantakan seperti habis diobrak-abrik orang, alas tidur robek disana-sini dan kotor, kaca meja rias pecah berantakan, dan foto-foto Fred dan Abigail yang tergantung di dinding berjatuhan dan kacanya hancur berkeping-keping, berserakan di lantai.
Hanzel meraih lampu senter yang tergeletak di lantai, setelah senter menyala, barulah ruangan sedikit lebih terang, dia memeriksa setiap sudut kamar dengan teliti. Mendadak tampak oleh Hanzel sesosok tubuh wanita berambut sebatas leher dan berpakaian putih berdiri di dekat tirai jendela, sebelah kanan tempat tidur. Namun, setelah lampu senter diarahkan ke tempat wanita itu berdiri, bayangan wanita itu menghilang. “Apa kalian juga melihatnya ?” tanya Hanzel kepada Robert dan Yohana serta Ratna yang saat itu juga ada disitu, entah sejak kapan ia sadar dari pingsannya, sementara pandangan matanya seperti orang kebingungan.
“Apa maksudmu ?” tanya Robert.
“Sumpah, tadi aku melihat seorang wanita berdiri disana,” kata Hanzel sambil menyorotkan senternya ke arah tempat wanita itu berdiri. “Selain seisi kamar yang berantakan, kami tak melihat apa-apa lagi,” ujar Yohana. Hanzel menyorotkan senternya ke arah Yohana, Ratna dan Robert, “Lho... kemana Liza ?” tanyanya kemudian.
Baik Robert, Yohana maupun Ratna baru menyadari bahwa Liza tidak ada bersama dengan mereka. Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera mencari Liza ke segala tempat, setiap sudut ruangan kecuali lantai 2. Mereka sudah trauma memasuki ruangan lantai 2 setelah kejadian yang nyaris mencelakakan dirinya. Pada saat itulah, listrik kembali menyala, mereka bisa sedikit menarik nafas lega. Semula saat lampu padam, gerak mereka terbatas, akan tetapi, setelah listrik kembali menyala, mereka segera memperluas lokasi pencarian, kali ini mereka memberanikan diri untuk memeriksa lantai 2. Begitu sampai di ambang pintu, Hanzel berhenti sejenak lalu berkata, “Apapun yang terjadi, kita jangan sampai terpisah,ya...”
Setelah itu tangannya meraih gagang pintu dan memutarnya, pintu terbuka perlahan dan dari dalam tercium aroma busuk menyengat, buru-buru mereka segera menutup hidung dan mulutnya dengan kain untuk kemudian membuka pintu lebar-lebar dan melangkah masuk. Bau busuk kian tajam dan kain yang menutupi hidung dan mulut mereka tidak lagi bisa menahan aroma tersebut.
Ketika lampu dinyalakan, Yohana dan Ratna berteriak histeris hampir bersamaan, sementara, Hanzel dan Robert membelalakkan mata melihat pemandangan yang terpampang di hadapannya. 2 sosok tubuh menggantung tepat di tengah ruangan, lehernya terikat tali yang disematkan pada pasak-pasak kayu penyangga atap rumah. 2 sosok tubuh itu segera saja dapat dikenali oleh Robert dan yang lain.
Farid dan Liza, mayat Farid sudah membusuk. Sementara, keadaan mayat Liza lebih mengerikan lagi : kulitnya pucat sepucat kertas, sepasang matanya terbelalak lebar melukiskan rasa penasaran juga kesakitan, perjuangan hidup-mati, tapi, sudah tak ada lagi cahaya kehidupan disana, melainkan kosong, dan sebagian lidahnya terjulur keluar. Sebuah pemandangan, yang mungkin tidak akan bisa mereka lupakan seumur hidup.
__ADS_1
_____