DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXVI - K u r i r ( babak pertama )


__ADS_3

"Mas, ada kiriman paket, tolong diterima," ketukan pintu perlahan mengiringi suara yang terdengar mengambang dan hampa dari pintu depan rumah Amri.


Pintu terbuka, seorang pemuda bertubuh jangkung muncul dari dalam ruangan. Ia menatap seorang wanita berpakaian OK GO. Pakaian khas kurir kantor OK GO yang bergerak di bidang jasa ekspedisi. Tapi, pakaian itu tampak Kumal dan compang-camping. Topi Eiger warna coklat menutupi sebagian wajahnya sehingga pemuda itu tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.


"Mas Amri, ya?" tanya wanita itu sambil menyodorkan sebuah kotak dibungkus dengan plastik hitam.


"Benar, mbak...," kata pemuda itu sambil menerima paket tersebut, "Kalau boleh tahu, siapa nama mbak ?"


"Fera. Tolong tanda tangan di kolom ini, mas," ujar kurir wanita itu sementara tangannya memberikan beberapa berkas kepada Amri. Debu yang menghiasi tangannya tak bisa menutupi kulit pucat wanita itu.


"Terima kasih, mbak Fera," ujar Amri sambil menanda tangani berkas yang disodorkan, dan saat mengangkat wajahnya, ia terkejut manakala melihat di hadapannya tidak ada siapapun.


Angin dingin menusuk berhembus perlahan, menerpa tengkuk pemuda itu, merinding. Tapi, semua perasaan aneh itu dibuangnya, sambil melangkah masuk ke dalam sementara tangannya menimang-nimang bungkusan hitam yang baru ia terima.


"Kring"


Bunyi telepon membuat pemuda bernama Amri tersentak. Buru-buru ia melangkah dan mengangkat telepon.


"Hallo, rumah Amrinudin, dengan siapa saya berbicara,"


"Oh, mas Amri,ya... ini dari Rahmat petugas kurir dari kantor OkGo. Sebenarnya hari ini saya ditugaskan untuk mengantar paket yang Anda pesan, mas.... tapi, karena adanya kesalahan tehnis, maka, paket yang seharusnya diterima hari ini, tertunda. Mohon maaf yang sebesar-besarnya, mas," terdengar suara dari seberang sana.


"Oh, tidak apa-apa, mas... paketnya baru saja saya terima,"


"Mohon maaf, mas.... paket anda masih ada pada saya... bagaimana mungkin sudah diterima ?"


"Benar, mas... ini sudah saya terima. Tadi ada seorang wanita bernama Fera yang mengantarnya,"

__ADS_1


"Fera ? Seingat saya di perusahaan kami tak ada kurir wanita bernama Fera, mas. Mungkin salah alamat,"


"Tidak, mas. Paket sudah saya terima dan saya sudah menanda tangani berkasnya," ujar Amri.


"Maaf, mas Amri ... kalau boleh tahu, bagaimana ciri-ciri wanita itu?"


"Pakaian yang dikenakan persis seperti pakaian kurir dari ekspedisi OkGo, hanya saja agak Kumal dan compang-camping. Saya tidak bisa melihat wajah wanita itu karena tertutup oleh topi Eigernya dan kulitnya tampak pucat, pak. Kalau memang tak ada kurir wanita yang bernama Fera itu, lantas dia siapa, mas ?"


...__________...


Amri duduk menatap serius kotak berbungkus plastik hitam yang baru diterimanya dari Fera. Nama, alamat berikut kode pos dan segala ***** bengeknya benar. Tidak ada cacat atau apapun yang salah dari paket itu. Ia menyiapkan cutter dan gunting untuk membukanya tapi, ragu-ragu.


"Nak," sapaan lembut dari arah belakang mengejutkannya. Seorang wanita setengah baya berjalan mendekat, "Dari tadi kau kelihatan bingung, sebenarnya ada apa, nak?"


Amri tertawa tawar, "Paket ini membuat saya bingung, Bu....," katanya sambil menimang-nimang barang pada tangan kirinya, "Seorang kurir wanita mengantarkannya siang tadi. Tapi, bersamaan dengan itu, ada telepon dari Rahmat, dia mengatakan paket saya masih ada padanya,"


"Ini yang membuatku heran, Bu. Menurut ibu, apa yang harus saya lakukan?"


"Nak, sebaiknya, kau tunggu saja paket dari Rahmat. Paket dari wanita yang bernama Fera itu, sebaiknya jangan diotak-atik,"


"Terima kasih atas saran ibu," ujar Amri sambil meletakkan kembali paket di meja ruang tengah.


"Nah, begitu lebih bagus... sekarang kau pergilah tidur. Dari kemarin-kemarin kelihatannya tidak bisa tidur nyenyak. Boleh ibu tahu kenapa, nak ?"


"Tidak apa-apa, Bu.... mungkin karena mimpi Buruk,"


"Ceritakanlah, nak ?"

__ADS_1


Udara di sekitar ruangan serasa panas, keringat mengucur deras dari dahi pemuda berusia 28 tahun itu. Ia tampak ragu-ragu, terlebih saat tatapan mata sang Ibu membuatnya seakan berada di hadapan para eksekutor yang sewaktu-waktu siap menjatuhkan vonis tak terduga. Setelah menyeka keringat dengan ujung lengan bajunya, ia mulai bercerita.


...__________...


Amri terbangun, mendapati dirinya tengah berada di sebuah tanah lapang yang cukup luas. Sebuah tempat yang cukup asing, kering kerontang, sejauh mata memandang yang tampak hanyalah tanah-tanah tandus, banyak rekahan disana-sini bak sawah kering di musim kemarau.


Pakaian yang ia kenakan terdapat bercak-bercak darah yang mengering. Bau amis, apek dan busuk membuat perutnya mual. Buru-buru pakaian tersebut dilepas dan ia baru sadar bahwa pakaian tersebut berwarna oranye dengan emblem OkGo di dada sebelah kiri. Bau kurang sedap itu makin menggelitik hidungnya, refleks ia membuang baju itu jauh-jauh.


"Mengapa aku ada di tempat ini sambil mengenakan pakaian kurir ?" tanyanya pada diri sendiri. Pandangan matanya menyapu ke sekeliling... lengang dan sepi tak ada orang sama sekali.


Kaki-kakinya bergerak melangkah perlahan, "Aku harus segera meninggalkan tempat ini," itulah tekadnya. Sekian lama ia berjalan, namun pemandangan yang tersaji selalu sama, tanah gersang dan tandus, ia terus melangkah dan melangkah namun sepasang matanya terbelalak manakala ia kembali ke tempat dimana ia bangun.


Baju kurir itu adalah tanda satu-satunya.


"Sial, apa sebenarnya yang terjadi?!" umpatnya. Baru saja menutup mulut, sepasang matanya terbelalak, baju kurir yang ia buang mendadak bergerak.


Dari dalam baju bagian leher perlahan-lahan menyembul keluar sebuah benda hitam. Astaga, itu adalah kepala manusia, berambut hitam panjang dan kusut. Menyusul kemudian sepasang tangan berkulit putih pucat keluar dari baju bagian lengan. Yah, kini baju itu dikenakan oleh sesosok tubuh wanita yang berlumuran darah. Tubuh itu diam tak bergerak, jantung Amri berdegup kencang, bau busuk menguat dari tubuh tersebut.


Sepasang mata Amri tak lepas memandangnya, terlebih saat tubuh tersebut mendadak bergerak perlahan. Amri merasakan kedua lututnya lemas manakala sosok wanita berpakaian kurir itu berjalan merangkak menghampirinya.


Pemuda itu mundur beberapa tindak. Tubuhnya bergetar hebat sekali, "Si... siapa, kau.... ?" tanyanya.


Sosok itu tidak menjawab, dari sela-sela rambutnya yang hitam, kusut, panjang, dan tergerai, muncul sepasang cahaya merah, tajam menusuk.


Amri histeris manakala, sosok itu membuka mulutnya dan memuntahkan cairan berwarna putih bercampur belatung, cacing, kelabang, kalajengking dan hewan-hewan melata lain pada wajahnya dan sosok itu hilang saat Amri mendapati dirinya sudah berada di ruang kamarnya. Bau aneh masih bisa ia rasakan, mengaduk-aduk seisi perutnya, demikian pula hewan-hewan melata yang berjalan diatas permukaan kulit wajahnya. Ia ingin muntah tapi seakan terhenti di ulu hati dan kerongkongannya.


Mimpi Buruk itu hampir setiap malam datang, mengganggu tidurnya seakan tak ingin hilang, menghantuinya saat hendak memejamkan mata barang sebentar saja.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2