
#3. OKB ( Orang Kaya Baru ) a.k.a Pesugihan Doni Damaryanto
Aku menghabiskan waktu hampir seharian di dalam kamar mandi. Kejadian semalam membuatku jijik, ngeri dan linglung. Tangan-tanganku terus menggosok sekujur tubuh, berharap bisa menghilangkan kengerian yang masih terasa.
Semuanya, sia-sia... Bulu hitam lebat di sekujur tubuh, sepasang sorot merah yang memancar diantara dahi dan hidung, seringai dan tawa menyeramkan dari makhluk itu yang seakan tidak mau pergi begitu saja. Kalaupun itu mimpi, mengapa semua serasa nyata. Aku berteriak histeris, menangis tersedu-sedu, mengingat kebodohanku.
"Dhea..." panggilan Mbak Reni mengejutkanku, "Apakah kau baik-baik saja ?" Ia bertanya. Aku terdiam, aku baik-baik saja atau tidak, masa bodoh, aku tak tahu harus menjawab apa.
Ketukan pintu dari luar kamar mandi untuk kesekian kalinya, memaksaku untuk keluar dari bathtub dan membuka pintu. Mbak Reni berdiri diambang pintu, tanpa ragu-ragu lagi, aku melompat dan memeluknya, tangisku meledak, tak bisa kubendung lagi.
"Lo... Lo... Lo, kamu ini kenapa, Dhe..." Kata Reni sambil menepuk -nepuk punggungku yang bergerak naik turun.
"A... A... Aku malu bertemu dengan siapapun," rengekku sambil menyeka bau harum menyengat di sela-sela Isak tangisku.
"Kau ini bicara apa ?" tanya Reni.
"Semalam aku.... Aku.... Aku... Bercinta dengan..." aku tak melanjutkan kata-kataku, tangisku kian menjadi-jadi.
"Hei... Kau bicara ngelantur," bentak Reni, "Saat kami masuk, hanya ada kau seorang diri. Memang, kami sempat terkejut melihatmu berantakan. Tapi, sungguh tidak ada siapa-siapa disana" jelas Reni.
Penjelasan Reni memang sedikit membuatku tenang, "Ta... Ta... Tapi, i... I...tu," kataku gugup.
"Ah, sudahlah.... Kau sudah selesai atau belum? Kalau sudah, cepat keluar. Sebentar lagi ada meeting," ujar Reni.
Aku menurut, setelah mengeringkan tubuhku dan berpakaian rapi, aku menuju lobby, disana Pak Jonas dan yang lain sudah duduk, beberapa pramusaji tengah mempersiapkan makan pagi. Sepanjang hari itu, aku tidak berani memandang wajah Pak Jonas. Saat mata kami beradu pandang, buru-buru kubuang mukaku, kurasakan pipiku merona merah, membuatku semakin salah tingkah.
***
Sebuah gambar rumah mewah berlantai dua dengan gaya arsitek Belanda, lengkap dengan interior dan kolam renang. Itulah yang disodorkan oleh Mas Dewa ke hadapanku saat berada di kantorku yang baru. Arsitek muda itu menjelaskan secara rinci bahan-bahan material dan biaya pembangunannya. Rumah berlatar belakang area persawahan dan deretan pegunungan serta perbukitan. Impianku sejak kecil yang dulunya hanya mimpi belaka karena aku bukan berasal dari keluarga kaya seperti keluarga Dhea. Tapi, kini aku mampu mewujudkannya, aku tak perlu merasa canggung atau kecil hati saat berhadapan dengan Dhea, isteri yang selalu kucintai dan kusayangi. Jonas, kini bagiku hanyalah seekor lalat pengganggu. Dia tidak ada apa-apanya lagi dibandingkan denganku.
***
"Barbeque Itali ?" tanya Dhea, "Serius ?"
__ADS_1
Aku mengangguk, "Benar. Bukannya, kau suka ?"
"Barbeque Itali itu mahal, mas... Lagipula disini, mana ada yang jual ?" ejek Dhea.
"Ada. Bagaimana kalau kita berangkat malam ini ?" tantangku.
Dhea menatapku heran, aku balas menatapnya, ia memang cantik, aku harus bisa membahagiakannya walau aku tahu dia telah mengkhianatiku. Aku memang sengaja merahasiakan keadaanku yang sudah berubah drastis, aku ingin memberinya kejutan.
"Kau serius, mas ?" Dhea tidak percaya.
"Ayo kita berangkat. Memang, jarak antara WestFood Mania Resto dengan rumah kita jauh. Aku akan menghubungi temanku dulu, semoga saja dia bersedia menghantarkan kita kesana, sementara, basuhlah tubuhmu terlebih dahulu dan kenakanlah pakaian yang telah kusediakan di tepi pembaringan. Biar kau tidak tampak lesu seperti itu,"
Dhea menurut, ia segera pergi ke kamar mandi yang memang dibangun menjadi satu dengan kamar tidur. Setelah tubuhnya menghilang di kelokan, aku mengeluarkan ponselku, menekan nomor pada keypad. Setelah menunggu tidak lama, aku sudah terhubung dengan suara pria di seberang sana.
"BMW X7 PLUS, segera," kataku.
"Siap, bos," kata pria di seberang dan pembicaraan via ponsel berakhir.
Sambil menunggu Dhea, aku memanjakan diri dengan duduk di sofa yang baru kubeli beberapa hari yang lalu, sepasang mata ini memandang ke langit-langit ruangan.
***
Suara itu nyaris tak terdengar untuk itu aku mengabaikannya saja sebab bisa jadi angin malam yang menerobos pepohonan di halaman depan rumah dan masuk ke dalam melalui lubang angin bisa menimbulkan suara aneh. Namun, panggilan kedua membuatku mulai merasa tidak tenang. Aku memandang ke sekeliling ruangan, tak ada siapapun di ruangan itu.
Panggilan ketiga terdengar lebih jelas dan arahnya berasal dari halaman depan. Aku mengintip keluar melalui celah-celah tirai jendela. Tidak ada siapapun. Di halaman depan.
" Doni," suara itu berasal dari dalam, tepat di belakangku, aku menoleh dan ...
Seorang wanita berdiri tepat di hadapanku, wajahnya mirip dengan Dhea, isteriku, tapi yang jelas wanita itu bukan Dhea. Kulit Dhea tidak sepucat itu, sorot mata Dhea lebih tajam menusuk, tidak sekosong, sedingin dan sehampa wanita itu.
"Guru mengutusmu, bukan ?" tanyaku.
Wanita itu tidak menjawab, melainkan menyeringai mengerikan.
__ADS_1
"Pergilah, kau... Tolong katakan pada beliau, saya tidak melupakan ritual itu, tinggal mencari korban yang tepat, itu saja," kataku.
Sosok itu tetap diam, tak bergerak. Sesaat lamanya kami berdiri berhadap-hadapan, saling tatap, membisu. Sepasang mataku beralih ke arah perutnya.
Rahangku kaku melihat seakan di dalam perutnya ada sesuatu yang bergerak-gerak : berputar, naik-turun, timbul tenggelam di permukaan kulit dan dagingnya. Dan...
"Ccrroott..."
Sebuah benda hitam sebesar kepala manusia, menyeruak keluar, merobek seluruh jaringan pembuluh darah di bagian perutnya. Darah hitam menyembur keluar memercik dan membasahi wajah dan bajuku, sebagian lagi membasahi hampir seluruh ruangan.
Benda hitam itu melompat, menerjang ke arahku, gerakannya begitu cepat sekali, aku tidak menduganya, tubuhku terbanting ke belakang. Saat sosok itu membuka mulutnya tampak deretan gigi-gigi yang runcing, air liur mengalir dari sela-selanya, menetes, tercium aroma busuk menyengat. Aku nyaris putus asa saat ujung-ujung gigi yang runcing itu menempel pada batang leherku. Mataku terpejam, menunggu ajal menjemput, akan tetapi....
Aku membuka mataku, mendapati diriku terbaring di lantai dan Dhea menatapku heran.
"Mimpi sialan !!" umpatku.
"Kau baik-baik saja, mas ?" tanya Dhea, "Wajahmu pucat sekali, apa kau sakit ?" sambil menyeka keringat yang membasahi kening dan wajahku.
"Tidak apa-apa, sayang.... Kau, kau tampak cantik sekali malam ini," pujiku. Dhea menundukkan wajah yang merona merah, ia tampak menggemaskan tak heran banyak kaum Adam menginginkannya menjadi isteri.
"Gaun ini indah dan bagus, mas... Dimana kau membelinya,"
Aku tersenyum. Dia tampak bahagia sekali, itulah yang kuharapkan. Saat hendak menjawab pertanyaannya, terdengar klakson mobil dari arah depan. Dengan dibimbing Dhea, aku berdiri dan di halaman rumah telah menanti sebuah sedan mewah.
Aku melirik ke arah Dhea, sepasang matanya berbinar-binar melihat BMW X7 Plus berwarna metalik.
"Kau suka ?" tanyaku.
Dhea mengangguk. Aku tersenyum, "Itu milikmu. Ayo kita berangkat sekarang," ajakku sambil menggandeng tangannya. Kamipun melangkah keluar dan segera meninggalkan tempat itu.
"Serius, mas ?" tanya Dhea.
Aku mengangguk dan tersenyum ramah.
__ADS_1
__________