DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXXIV - R i t u a l #5 ( babak kelima ) [ Tamat ]


__ADS_3

#5. Menuju Peristirahatan Terakhir


Sementara itu, di dusun Karang Dua, teror menghilangnya bayi saat lahir makin meresahkan penduduk. Kaum wanita khususnya bagi yang sudah menikah, enggan mempunyai anak. Keadaan ini diperparah lagi dengan banyaknya wanita yang bunuh diri karena kehilangan bayinya.


Tidak sedikit para penduduk lokal, khususnya pasangan-pasangan muda memilih untuk pindah ke tempat lain yang dianggap aman. Dusun Karang Dua mendadak menjadi desa mati. Beberapa pemuda dusun yang masih bertahan, memberanikan diri untuk bertindak demi mengembalikan keamanan, ketentraman dan kedamaian Dusun Karang Dua.


Setelah melalui perundingan yang cukup alot antara sesepuh desa dan para pemuda, maka dibentuklah BADATI KADU ( Barisan Pemuda Inti Karang Dua ) dimana perkumpulan tersebut terdiri dari barisan pemuda yang memiliki kemampuan bela diri dan rata-rata anggotanya adalah Para Ayah muda yang pernah menjadi korban atau kehilangan bayinya. Paidilah pemimpinnya.


Semenjak kehilangan bayinya, Paidi selalu terbayang oleh wujud atau sosok pembunuh anaknya. Ia tidak pernah melupakan jeritan pilu dan kesakitan Bianca, isterinya. Maka, ia berusaha untuk mencari tahu asal-usul makhluk itu. Obsesi yang begitu kuat mempertemukannya dengan Ki Alas ( Mbah Alas ).


Lewat Mbah Alas, Paidi digembleng dengan ilmu-ilmu Kanuragan yang cukup tinggi dan mengerti bagaimana cara menangkap dan membunuh perwujudan Kuyang itu. Di masa-masa penggemblengan diri, korban terus menerus berjatuhan di tanah kelahirannya itu. Iapun juga terkejut, Desa yang dulunya ramai, mendadak berubah menjadi desa mati. Penjelasan dari sesepuh desa, membuatnya bertekad untuk menyelesaikan semuanya, akan tetapi, ia tak bisa melakukannya sendirian.


Tidak mudah bagi Paidi untuk mengembalikan kepercayaan diri para pemuda yang trauma, namun, itulah yang harus diperjuangkan hingga membuahkan hasil dengan Badati Kadu-nya.


***


Malam itu, suasana dusun Karang Dua tampak mencekam, bulan purnama yang menggantung di langit, sebagian wajahnya yang berselimutkan awan-awan hitam tipis seakan enggan memancarkan sinarnya ke sekitar dusun yang sudah beberapa dekade ini merayap menjadi sebuah desa mati. Suara lolongan serigala yang saling sahut membuat para penduduk yang tersisa enggan untuk keluar rumah. Hanya beberapa orang petugas ronda yang memberanikan diri berkeliling untuk memantau keadaan sekitar.


Sebuah bayangan melayang-layang di tengah udara, hinggap dari atap satu ke atap lain, merayap bagaikan seekor cicak lalu kembali melayang menerobos ke semak-semak. Bayangan itu berhenti pada sebuah rumah yang saat itu terdengar suara teriakan pilu wanita yang hendak melahirkan. Wanita itu adalah Jeng Atik. Ia sudah 4 jam merasakan perutnya mulas. Bu Minah yang bertugas sebagai dukun beranak itu mencoba membantu persalinannya.


"Tekan terus, Jeng kepalanya sudah kelihatan, terus, jeng kau pasti bisa melakukannya," katanya di sela-sela teriakan ibu muda itu. Sementara di luar kamar seorang pemuda tampak tak tahan mendengar pekik kesakitan Jeng Atik, isterinya. Beberapa pemuda berjaga-jaga disana termasuk Paidi.


Sepasang mata Paidi mengamati ke setiap sudut ruangan dengan senter ditangannya dan sorot senter terhenti pada bayangan yang sudah lama mengintainya dari pasak-pasak kayu pada langit-langit ruangan.


"Cepat, siapkan sapu lidi sebanyak mungkin," serunya pada beberapa pemuda yang berdiri di depan rumah. Bayangan yang berupa kepala wanita berambut panjang dengan seluruh organ dalam terburai itu tampak terkejut. Ia menoleh kesana-kemari dan sapu-sapu lidi telah mengurungnya, ia mendesis-desis bagai ular tak ada jalan keluar untuk melarikan diri. Mendadak sebuah gumpalan asap putih menutupinya. Paidi tersentak, terlebih ada bayangan lain muncul, "Bang, Kuyang itu milikku, aku akan membawanya pada majikannya, jangan khawatir bayi itu akan selamat," terdengar suara di balik asap itu.


"Prak!"


Sapu lidi yang sudah mengepung kuyang itu hancur berantakan dan asap putih itu bergerak naik ke atas membobol atap rumah.


Paidi tidak tinggal diam ia melompat mengejarnya, " Kalian, ikut aku... Bersama-sama kita mengejarnya," katanya pada para Badati Kadu.


***


Nyala api dan sorot cahaya senter bergerak beriringan, mereka bagaikan setan-setan api yang berseliweran menembus kegelapan malam dan semak-semak. Mereka terus bergerak hingga tanpa sadar menyeberangi sungai kecil pembatas dusun Karang Dua dengan Karang Tunggal. Dan berhenti di sebuah bangunan.


Paidi sudah tiba terlebih dahulu di hadapannya, seorang pemuda duduk bersila, seakan tidak mempedulikannya.


"Jadi, kaukah yang selama ini mengirim kuyang di desa kami dan sekitarnya. Apa sebenarnya maksudmu ?" tanya Paidi.


"Kaukah yang bernama Paidi ?" tanya pemuda itu, "Kedatanganmu sudah kutunggu-tunggu, saudaraku,"


"Siapa, kau ? Darimana kau tahu namaku ? Dan, aku sama sekali tak mengenalmu,"


Pemuda itu membalikkan badannya, sepasang sorot matanya tajam menusuk. Dari sudut bibirnya tersungging senyuman tipis, "Aku tahu siapa kau, saudaraku... Suatu kehormatan bagiku bertemu dengan saudara seperguruan yang akan mengakhiri semua kejadian ini. Tapi, aku takkan mau mati konyol di tangan seorang yang bukan ksatria sejati. Aku tahu kau akan datang dan aku tahu ini adalah hari terakhirku...."


"Hentikan omong kosongmu, bung.... Aku bahkan tak mengenalmu, bagaimana mungkin kau bisa mengatakan bahwa aku adalah saudara seperguruanmu," ujar Paidi.

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum, "Baiklah. Kalau begitu kau pasti tahu jurus apa ini ?" setelah berkata demikian pemuda itu mengambil segumpal tanah dan melemparkannya ke arah Paidi.


Bagi orang awam, itu hanyalah segumpal tanah biasa, akan tetapi bagi Paidi itu adalah sebuah kekuatan yang mampu menghancurkan batu sebesar gunung.


"Wwuutthh,"


Gumpalan tanah itu meluncur deras bagai sebatang anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Paidi mengelak ke samping dan benda itu membentur sebuah dinding batu di belakangnya.


"Dduuaarr !!"


Sebuah ledakan keras terdengar memekakkan telinga. Paidi lolos dari serangan tersebut tapi, dinding batu yang menjadi sasarannya berlubang. Menyusul serangan kedua, ketiga dan keempat. Paidi mengelak kesana-kemari, terkadang melompat dan bersalto di udara, serangan itu sama sekali tak mengenainya akan tetapi, benda-benda di dekatnya hancur berantakan. Paidi terkejut, "Api Penghancur Tulang," desisnya perlahan.


Pemuda itu tersenyum, "Bagus sekali jurus Burung Sri Gunting-mu... Kau telah menguasai salah satu jurus andalan Mbah Alas," katanya.


"Siapa sebenarnya, kau ? Bagaimana kau mengenal Mbah Alas saudara seperguruan Ki Sena?"


"Ha... Ha... Ha... Ha... Bagus sekali, kalau begitu mari kita bermain-main sejenak. Hiath !" Tubuh pemuda itu melenting ke udara dan saat turun tapak kanan kirinya berkelebat menyerang Paidi.


Sekalipun hanya tapak tangan biasa, tapi, sesungguhnya ada tenaga dalam yang mengalir dahsyat, terkena sedikit saja, korban pasti terluka dalam. Paidi mengelak sambil sesekali membalas dengan serangan yang sama. 2 pemuda itu segera terlibat dalam pertempuran yang cukup sengit. Setiap kali tangan-tangan mereka beradu terdengar ledakan-ledakan keras membuat udara di sekitar tempat itu seakan bergetar.


"Tapak Seribu" kata Paidi sambil melompat mundur beberapa tindak demikian pula lawannya. Untuk sesaat pertarungan terhenti 2 pemuda itu kini berdiri berhadap-hadapan.


"Aku sama sekali tak menyangka, Ki Alas mempunyai murid tangguh sepertimu. Sayang sekali kau kurang percaya diri, saudaraku," kata pemuda bertubuh tinggi tegap itu, "Jika kau bertemu dengan lawan yang tangguh, mudah sekali dia membunuhmu," sambungnya.


"Cukup. Aku tak mengenalmu, mengapa kau selalu memanggilku demikian," sahut Paidi.


Tubuh pemuda itu membara, seakan sekujur tubuhnya diliputi oleh api. Ia menyerang bagaikan bola-bola api raksasa. Paidi terkejut, "Tenaga Inti Api," katanya sambil menggerakkan kedua tangannya membentuk lingkaran besar untuk mengurung terjangan bola-bola api yang bergerak saling susul menyusul.


"Bbllaarr !!"


Benturan keras terjadi, tubuh Paidi terjengkang ke belakang 2 meter jauhnya, sementara tubuh lawannya yang masih diliputi oleh api itu terdiam bagai patung. Para penduduk desa sudah pada berdatangan, pertarungan itu memancing mereka menuju ke tempat terjadinya pertarungan itu mereka sempat melihat tubuh Paidi terjengkang dan roboh bergulingan di tanah, untungnya pemuda itu memiliki daya tahan tubuh yang cukup kuat ditambah lagi dengan tenaga dalam dan ilmu Kanuragan yang cukup tinggi sehingga hanya terluka ringan.


"Kau tak apa-apa, bang ?" tanya salah seorang penduduk.


"Tidak apa-apa, hanya terkejut saja, baru pertama kali ini aku berhadapan dengan seseorang yang ilmunya sama denganku. Kalian menyebar, tubuh kuyang itu pasti berada di sekitar tempat ini. Dan, setelah kalian menemukannya, masukkan kantong ini ke dalam tubuhnya atau kalian bakar saja, dengan demikian mereka takkan bisa kembali ke tubuhnya. Aku yakin jumlahnya lebih dari satu. Berhati-hatilah. Sementara aku akan menghadapi pemuda itu," katanya sambil menjejakkan kaki ke tanah untuk kemudian tubuhnya melesat pesat ke arah pemuda bertubuh tegap itu.


Pemuda bertubuh tegap itu masih berdiri bagaikan patung, tampaknya ia sudah menantikan serangan balasan dari Paidi. Saat seberkas cahaya melesat ke arahnya, ia tersenyum, "Bagus, inilah yang kutunggu-tunggu. Pertarungan dua pria sejati, Guru... Aku bangga bisa bertemu dengan saudara seperguruanku sebelum mati. Terima kasih karena kau mempertemukannya denganku, aku bisa mati dengan tenang," setelah itu ia berseru, "Ayo, kemarilah tunjukkan seluruh kepandaianmu, saudaraku !!"


Baru saja ia menutup mulutnya, Paidi sudah menghujaninya dengan pukulan dan tendangan serta jurus-jurus yang dahsyat. Pemuda itu dengan tenang meladeninya, kembali terjadi pertarungan sengit. Mereka saling pukul, saling tendang dan saling mengadu tenaga dalam sesekali melompat ke belakang untuk kemudian saling terjang.


Setiap kali tangan, kaki dan tenaga dalam mereka beradu terdengar bunyi ledakan yang cukup keras, seakan berlomba dengan bunyi Guntur mengiringi Sambaran kilat yang seakan hendak mengoyak langit beserta isinya. Dari jauh tampak 2 sosok bayangan mengamati pertarungan itu dari atas pohon. Kaki mereka menapak pada ranting-ranting pohon yang bergerak naik turun oleh hembusan angin kencang. Mereka adalah Ki Sena dan Ki Alas.


"Ini harus terjadi, kak," kata Ki Sena.


"Tak kusangka... Kau memiliki murid tangguh dan berbakat, dik... Sayang, jalan yang ia tempuh salah. Seharusnya, mereka bisa menjadi saudara seperguruan yang saling menjaga, bukannya saling mengadu ilmu seperti ini," ujar Ki Alas.


"Aku menyesal telah membiarkannya menuruti hawa nafsu,"

__ADS_1


"Tak ada yang perlu kau sesalkan. Nak Doni sebenarnya adalah orang baik.... Aku salut pada pribadinya itu," kata Ki Alas, "Dalam pertempuran ini, dia lebih banyak mengalah, jika mau mudah saja baginya untuk membunuh Paidi,"


"Sudahlah, kak... Jika dilanjutkan, mungkin Paidi yang keluar sebagai pemenang, dari dulu sampai sekarang... Aku tak mungkin menandingimu, kak..." Ujar Ki Sena. Mendadak pandangan matanya beralih ke tempat lain, "Hei, apa itu ?"


Ki Alas mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Ki Sena. Dari arah Utara tampak segerombolan cahaya merah melayang tinggi ke udara. Cahaya merah itu berputar-putar di udara dan bergerak turun dengan cepat sekali.


"Kuyang-kuyang itu. Mereka menjadi beringas, liar tak terkendali. Mereka berontak," sahut Ki Alas.


"Benar. Lihatlah mereka bergerak menuju ke arah Doni,"


***


Pemuda bertubuh tinggi dan tegap itu tersenyum melihat sekumpulan cahaya merah mengarah pada dirinya sementara Paidi meningkatkan serangannya tapi terhenti manakala terdengar seruan dari para penduduk desa.


"Bang, kuyang-kuyang itu !!"


Paidi menoleh, cahaya merah itu sudah mendekat, mereka menyatu dan membentuk gumpalan-gumpalan daging berwarna merah membara cahaya petir mengenai salah satunya dan dalam sekejap gumpalan daging itu terbakar hebat. Secara kasat mata, daging terbakar itu bagaikan bola api terbang dan ukurannya cukup besar. Paidi yang jatuh terduduk tak sempat mengelak lagi ketika benda itu berada di dekatnya. Namun mendadak ia merasakan tubuhnya didorong ke samping dan sesosok tubuh lain telah menghadang bola api itu.


"Wwuusshh..."


"Plok... Plok... Plok..."


Terdengar pekikan yang menyayat hati, pemuda yang menjadi lawan Paidi membiarkan tubuhnya sebagai perisai, dalam sekejap mata tubuh pemuda itu terbakar hebat lalu roboh ke tanah dan tak bergerak - gerak lagi.


Kejadian itu begitu cepat sekali, Paidi terkesiap melihat tubuh yang terbakar itu ambruk di dekatnya. Entah ada sebuah perasaan aneh yang membuat Paidi sedih dan kehilangan. Pemuda yang menjadi lawannya berkorban untuk keselamatannya. Ini membuatnya syok...


Pada saat itulah Ki Sena dan Ki Alas muncul, Paidi terkejut buru-buru ia memberi hormat, "Gu... Guru," sapanya.


"Bangunlah, nak..." kata Ki Alas yang lalu menjelaskan apa yang sudah terjadi juga siapa yang menjadi lawan dan bersedia mengorbankan diri untuk menyelamatkan nyawanya.


Ki Sena menambahkan, bahwa Doni meninggalkan pesan untuk para penduduk Desa Karang dan sekitarnya, "Harta kekayaan Doni Darmayanto sebagian diberikan kepada para penduduk yang menjadi korban Kuyang-kuyang peliharaannya. Sekalipun itu tidak mungkin bisa membangkitkan semua yang telah meninggal tapi, dengan harta itu Desa Karang dan sekitarnya bisa mempergunakannya secara bijak,"


Paidi terpaku, ia sama sekali tak menyangka harus bermusuhan dengan saudara seperguruannya, gara-gara dendam lama, toh dendam tidak akan membangkitkan mereka yang sudah meninggal.


______ TAMAT _____


Senin, 26 September 2022


Terima kasih untuk para pembaca yang Budiman dan setia mengikuti cerita-cerita yang saya tulis ini.


Saya mohon bantuan dan kerjasamanya untuk :


like, share, vote dan follow berikut komentarnya, ya.


Sampai jumpa pada kisah-kisah saya selanjutnya.


Salam sehat selalu

__ADS_1


Penulis


__ADS_2