DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )

DARI DUNIA LAIN UNTUK ANDA ( Kumpulan Cerita Misteri )
Bab XXXI : K u r i r ( babak keenam )


__ADS_3


Fera Budi Utami


Amri terbangun dari tidur manakala telinganya mendengar pintu kamar diketuk-ketuk seseorang dan namanya dipanggil-panggil. Saat ia membuka pintu ibunya, Nyonya Siregar berdiri diambang pintu, sepasang matanya yang sayu memandang Amri tanpa berkedip.



"Ada apa, Bu ?" tanyanya.


"Ada seorang laki-laki setengah tua ingin bertemu dengan mu, nak,"


"Laki-laki? Siapa dia ?"


"Entahlah, ibu pikir dia adalah salah satu teman misterius mu,"


"Siapa namanya, Bu ?"


"Dia tak ingin menyebutkan namanya, dia hanya bilang ingin bertemu denganmu karena ada hal yang ingin disampaikan. Tapi, karena kau tak mengenalnya, ibu akan menyuruh nya pergi,"


"Jangan, Bu... Baiklah, akan kutemui dia,"


"Berhati-hatilah, nak... Ibu khawatir dia akan berbuat buruk padamu,"


Amri tertawa tawar, "Bu, saya sudah berumur 28 tahun, nyaris 30 jadi saya bisa menjaga diri. Tapi, baiklah say akan berhati-hati,"


***


Seorang pria paruh baya, berdiri di ruang depan, seandainya tanpa tongkat besi berwarna hitam setinggi pinggang, laki-laki itu tak mungkin bisa berdiri dengan tegak, karena pada tulang lutut kanannya seakan tak mampu menjadi penyangga tubuhnya yang agak gemuk itu. Melihat kedatangan Amri, laki-laki itu tersenyum ramah.


"Aku rasanya pernah bertemu dengan laki-laki itu, tapi, dimana, ya ?" tanya Amri seorang diri. keningnya berkerut, seakan menggali ingatannya yang terkubur sekian lama oleh jalannya sang waktu yang kian merayap cepat.

__ADS_1


"Maaf, pak... Kalau boleh tahu siapa bapak, seingat saya kita tidak pernah bertemu," kata Amri sambil mempersilahkan orang itu duduk.


Laki-laki paruh baya itu tersenyum ramah, "Iya, nak tidak apa-apa... Kita memang tidak pernah bertemu satu sama lain, tapi, Fera anak angkatku mengenalmu sebelum kau mengenalnya,"


"Maaf, pak... Saya tidak mengerti dengan perkataan Anda,"


"Baiklah... Bisakah kau ikut aku keluar barang sebentar saja ? Ada yang ingin kusampaikan padamu. Ini berkaitan dengan paket-paket misterius yang kau terima tapi, paket itu kosong,"


***


Gazebo berukuran 3x5 M² itu berdiri di bawah sebuah pohon yang rindang, letaknya tak jauh dari rumah utama. Disitulah laki-laki paruh baya itu duduk sambil meluruskan kaki kanannya pada dipan, melihat kedatangan Amri, ia tersenyum dan menurunkan kakinya. Amri membalas senyumannya dengan ramah untuk kemudian duduk di hadapan pria yang ternyata bernama Soepomo itu.


"Terima kasih atas kesediaan Mas Amri menemui saya," kata Soepomo.


"Bapak berkata, bahwa kurir wanita itu mengenal saya, padahal saya tidak mengenalnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi ?" tanya Amri.


"Iya, memang tidak masuk akal, tidak bisa diterima dengan nalar. Ketahuilah, setiap orang yang meninggal tidak wajar, dia hanya bisa mengingat hal terakhir kali sebelum ia meninggal," jelas Pak Pomo.


"Saya tidak mengerti, pak..."


Setelah berkata demikian, laki-laki itu menatap lurus ke depan. Tatapannya tampak sayu, jelas ada perasaan duka yang mendalam berkecamuk di dalam dirinya.


Soepomo mulai bercerita tentang asal-usul kurir wanita yang bernama Fera itu.


***


Semenjak covid 19 merebak di berbagai negara, dunia serasa lumpuh. Sosial, politik, ekonomi dan budaya pun terkena imbasnya. Semuanya seakan mati. Indonesia pun tak luput dari bencana yang mematikan itu.


Orang yang biasanya kerja, harus berdiam di rumah selama berhari-hari, sementara kebutuhan perut hampir tidak pernah bisa berhenti. Maka mau tidak mau mereka harus dituntut untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup.


Pada masa-masa sulit itu, bisnis online mulai naik daun hingga sekarang. Semua serba instan, salah satunya adalah perusahaan jasa ekspedisi. Tanpa kurir, perusahaan tersebut tidak akan berjalan, demikian pula sebaliknya, tanpa adanya perusahaan ekspedisi, seorang kurir bagaikan bunga di tepi jalan yang sewaktu - waktu bisa berubah menjadi sampah, sementara, kebutuhan hidup makin meningkat.

__ADS_1


Pernyataan di atas adalah realita kehidupan yang hampir terjadi setiap detik. Mungkin bagi orang-orang tertentu, menganggap bekerja sebagai kurir, adalah hal yang membosankan, ada pula yang berpendapat kurir adalah pekerjaan yang hina atau memalukan, tapi tidak bagi yang menjalankannya. Kurir adalah salah satu pekerjaan paling mulia, memperlakukan paket barang orang lain bak berlian.


Diantara sekian banyak kantor ekspedisi OkGo adalah sebuah perusahaan yang benar-benar memperlakukan barang orang lain bagai berlian demikian pula para kurirnya. Itulah sebabnya, banyak orang mempercayakan barang untuk dititipkan dan dikelola dengan baik pada kantor ini.


Namun dibalik nama besar dan harum kantor ini, tersembunyi beberapa kisah kelam yang orang jarang tahu. Tersembunyi diantara sekian banyak berkas atau dokumen perusahaan yang tersimpan dalam lemari besi dan dikunci dengan kode rahasia, tidak sembarang orang mengetahuinya.


***


Siang itu, panas begitu menyengat, jalanan begitu lengang dan sepi. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah jalanan beraspal yang seakan terbakar oleh terik matahari. Angin berhembus perlahan, menerbangkan butiran-butiran debu ke berbagai penjuru mata angin.


Sebuah sepeda motor melesat kencang membelah butiran-butiran debu tersebut. Sosok bertubuh ramping, tertutup oleh jaket parasit berwarna oranye dengan emblem OkGo pada bagian dada kanan dan label nama bertuliskan "FERA UTAMI" pada dada kiri. Helm teropong menutup seluruh kepalanya. Diantara helm dan masker tampak sepasang mata bulat, menatap lurus ke depan. Box delivery yang tergantung pada bahu kiri dan kanan seakan menahan punggungnya agar tetap duduk dengan tegak.


Kurir wanita itu bernama Fera Utami, ia bergabung dengan kantor OkGo sebagai kurir baru 5 bulan. Semula ia bekerja sebagai agen pemasaran di sebuah dealer sepeda motor, karena merebaknya virus covid 19, ia adalah salah satu pegawai korban PHK, sementara ia harus menanggung beban hidup 5 orang anggota keluarga : ayah - ibu yang sudah lanjut usia, seorang suami pengangguran dan 2 orang anak yang baru berusia 7 dan 9 tahun, putus sekolah.


Panas yang menyengat, tak mematahkan semangatnya untuk mengantar barang sampai tujuan dengan selamat. Ia terus memacu sepeda motornya sambil menoleh kesana kemari mencari-cari rumah di kawasan perumahan elite di kota Pasuruan yang biasanya ramai oleh kendaraan bermotor berlalu lalang. Ia berhenti sejenak sambil membuka berkas2 pengiriman, rumah berlantai dua di hadapannya itu tujuannya.


Setelah diperiksa dengan teliti, barulah ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari delivery boxnya.


"Mas, ada paket... tolong diterima," katanya sambil mengetuk pintu gerbang besi berwarna kuning.


Dari dalam rumah muncul seorang wanita berumur sekitar 50 tahunan.


"Permisi, bu... apa benar ini rumah Mas Toni ?" tanya Fera.


"Benar, mbak... ini rumahnya tapi beliau sedang keluar," jawab wanita itu.


"Oh, begitu... kebetulan ini ada paket buat beliau," kata Fera sambil menyodorkan bungkusan di tangan kanannya.


"Terima kasih, mbak... mari masuk dulu untuk sekedar minum," ujar wanita itu sambil menanda tangani berkas yang juga disodorkan Fera.


"Terima kasih, bu. Tapi, masih banyak paket yang harus saya antar... terima kasih pula atas kesediaannya menyisihkan waktu untuk bekerja sama dengan OkGo. Saya mohon diri dulu," kata Fera ramah untuk kemudian kembali melangkah ke sepeda motornya dan melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Itu adalah sebagian dari pelayanan yang diberikan oleh Fera sebagai kurir OkGo. Semua orang suka dengan pelayanan yang diberikan olehnya. Akan tetapi, tidak semua orang memperlakukannya secara manusiawi.


__________


__ADS_2