
“***Lelaki dengan beribu kekurangan
Tapi memiliki sejuta kelebihan
Lelaki yang ucapannya yang selalu menghangatkan
Dan sikap nya yang selalu membuatku nyaman
Aku menyukainya ketika dia memberikan ku sebuah perhatian
Aku menyukainya ketika dia memberikan sebuah kecerian di hidupku yang suram.
Dia datang seperti ombak dan pergi seperti semilir angin.
Aku mencintainya, lelaki itu, lelaki yang menyukai syair dan puisi yang selalu menenangkan.
Tak lupa dengan sebuah senyuman manis yang memabukan
Kini aku sadar, lelaki itu telah mengisi ruang hampa dalam hidupku
Membuatku segan dan tak rela untuk sekedar lupa atau hilang sedetik saja tanpa kehadirannya.
Wahai lelaki dengan sejuta anugerah pemberian tuhan, aku mohon jadikan lah aku menjadi pelengkap dalam setiap detik menit jam dan hari dari kehidupanmu yang membahagiakan***”
***
***❝entahlah, aku tak tahu kenapa aku bisa tertarik padamu, bahkan setiap detik waktuku selalu ku gunakan untuk memikirkanmu❞
Roosevelt anindia adriana
******
Namaku Roosevelt anindia adriana, panggil saja aku oca itu lebih mudah, aku sudah hampir dua bulan bersekolah di tempat baruku ini, tepatnya di salah satu SMA internasional di jakarta, sekolah yang lebih baik dari sekolah ku yang dulu, kuharap hal itu sama seperti kisahku yang mungkin akan lebih baik ketika aku bersekolah di sini.
Kuharap seperti itu.
Aku adalah orang yang periang, tapi juga orang yang penuh rasa penasaran tapi aku gadis yang pandai bergaul.
Baru dua bulan bersekolah disini, aku sudah mendapat teman baru.
Song yulan, dan chika azalea
Mereka teman ku yang sangat baik, sebenarnya aku juga mempunyai teman teman yang lain, hanya saja aku dan mereka tak terlalu akrab.
Aku bersyukur karena diriku bisa masuk kelas unggulan di saat aku sudah hampir 1 bulan tertinggal pelajaran di sekolah, yah karena selama 1 bulan itu aku memutuskan untuk menetralkan pikiranku yang kalut karena pindahan mendadak seperti ini.
Untungnya aku bisa paham dan mengerti bahwa orangtua ku melakukan ini, demi masadepanku.
Dan mari kita dengarkan kisah ku ini, tak terlalu menyenangkan hanya saja kuharap kalian ikut merasakan betapa indahnya dicintai dan istimewakan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi ini aku pergi kesekolah seperti biasanya, hanya saja aku datang terlalu pagi karena ku lihat suasana kelas masih sangat sepi.
Padahal kulihat matahari sudah tersenyum menatap bumi, tapi kenapa mereka tak bisa menyambutnya dengan suka hati.
Karena terlalu bosan aku memutuskan untuk duduk di kusriku sambil membaca buku pelajaran, hitung hitung menghafal di kala waktu luang.
Hari ini akan ada mata pelajaran fisika, membosankan! Sangat! Aku tak suka dengan fisika yang memusingkan kepala.
Mungkin terutama pada bagian rumusnya, semua orang tahu itu.
Sambil menatap langit langit ruangan kelas yang bewarna biru, aku terdiam sejenak, menajamkan telingaku ketika tak sengaja mendengar rintihan suara kecil di dalam kelas ini.
Sontak aku berdiri hendak berlari dari ruangan kelas ini, karena pikiran ku sudah tertuju pada makhluk astral yang memang kemungkinan ada di ruangan kelas ini.
Namun sebelum aku berlari, aku melihat seorang lelaki tengah berdiam diri di sudut ruangan sambil memegang notebook berwarna hitam dan tak lupa dengan headsets yang selalu dia siapkan.
Tapi dia sama sekali tak pernah berinteraksi dengan siswa yang ada dikelas ini.
Aneh bukan?
Namanya kaylindra zeiden pratama, teman temanku bilang dia biasa di panggil indra.
Karena aku sangat penasaran dengan indra, aku pernah bertanya pada yulan dan chika, kedua sahabatku ini hanya mengidikan bahu tak tahu.
Tapi satu pesan yang pernah yulan berikan padaku, agar jangan dekat dekat dengan indra karena dia berbahaya, dan satu lagi dia tak bisa diajak komunikasi.
Aku tak tahu maksud dari perkataan yulan, yang bisa kutangkap hanya itu aku tak boleh dekat dekat dengan indra.
Aku hanya bisa mengikuti kemauan yulan, karena aku siswa baru disini, tak pernah tahu tentang apapun yang pernah terjadi di sekolah ini.
Walaupun sebenarnya aku tak percaya dengan ucapannya yulan, sebab dengan mata kepalaku sendiri aku melihat indra membantu tukang kebun sekolah untuk menyiram bunga, melihat indra dengan senang hati membantu seorang nenek nenek menyebrang jalan.
Itu sudah cukup membuktikan bukan kalau indra baik.
Aku sedari menatap indra yang tak terganggu sedikitpun, atau indra tak menyadari kedatanganku?
Indra cukup tampan, tak terlalu jelek untuk seorang yang tak mempunyai teman, ketahuilah selama 2 bulan aku bersekolah di sini, aku tak pernah melihat indra bermain bersama teman temannya.
Dia hanya pergi kekantin saat istirahat pertama, lalu pergi ke perpustakaan ketika istirahat kedua, jangan tanya dimana aku bisa mengetahui hal itu, aku ini seorang stalker handal, tak sulit untuk mendapat informasi keberadaan indra.
Dengan keberanian yang sudah aku kumpulkan, aku berjalan mendekati indra, lalu ikut duduk di sampingnya. Aku menelan salivaku saat indra melirikku lalu memutuskan kontak matanya. Apa aku jelek? Sehingga indra tak mau menatapku?
__ADS_1
Tak boleh negatif thingking.
"Hai? Kamu indra yah?" Aku dengan malu malu bertanya pada indra, yang ku lihat indra hanya menjawab dengan anggukan dan senyum kecil.
"Aku Roosevelt anindia adriana, panggil saja oca." Aku mengulurkan tanganku mengajak indra berjabat tangan.
Selama beberapa detik, tanganku menggantung di udara, karena untuk kepersekian detik indra tak membalas jabatan tanganku. Apa benar indra sangat berbahaya, tapi dia tak terlihat menakutkan.
"Baiklah, kalau kamu tak mau berjabat tangan denganku, tapi bolehkah aku ikut menemanimu?" Tanya ku sambil menarik tanganku perlahan, jujur saat ini aku merasa malu karena tak di notice oleh indra.
Lagi lagi indra tak menjawab apa apa, dia mengacuhkan pertanyaanku, aku mendengus kesal, apa benar indra bisu? Setidaknya jika memang benar dia bisu jawablah pertanyaan ku dengan bahasa isyarat bukan diam.
Tapi tidak mungkin indra bisu, aku sendiri pernah melihatnya berbicara pada orang lain. Mungkin ini sudah karakter indra yang keras kepala dan sangat cuek.
Pun tak mendapat jawaban dari indra, aku tetaplah aku, gadis keras kepala yang ingin apapun kemauan ku terwujud, walau tanpa se izin indra aku duduk di sampingnya.
Ya ikut duduk di lantai bersama dengan lelaki cuek yang dingin.
Sepertinya indra tak menghiraukan kehadiranku, buktinya dia tetap serius menulis di atas notebooksnya, sebegitu cueknya kah dia? Apakah hal itu yang membuatnya di jauhi banyak orang?
Itu masih menjadi sebuah misteri.
Aku mengumpulkan keberanian ku agar menguatkan hati jika pertanyaan ku kembali tak di respon oleh indra. Jika memang penasaran aku harus mencari tahu sendiri, agar mendapatkan hasil yang memuaskan.
"Indra? Kamu sedang apa?" Tanyaku menatap indra yang masih fokus pada notebooksnya, seperti hantu aku disini keberadaan ku sepertinya tak di anggap ada oleh indra, lelaki kejam.
"Indra? Kamu kenapa? Kamu tak bisa berbicara?" Tanyaku dengan bertubi tubi, aku kesal indra kembali mengacuhkan pertanyaanku.
Namun dugaan ku salah, saat mengatakan itu indra melirik ku lama, lalu menarik jari telunjuknya menuju bibirku, mengisyaratkan agar aku diam.
"Jangan berisik, lebih baik kau dengarkan ini." Indra memasangkan earphones pada telinga kiriku, sempat kurasakan jari lentik indra yang menyelipkan poni rambutku agar tak menghalangi jalannya untuk memasukan earphones pada telingaku.
Sejenak aku terdiam, perlakuan indra? Bagaimana bisa? Aku tercengang sebelum pada akhirnya menyadari bahwa indra tak seburuk apa yang mereka katakan.
Indra baik, astaga lelaki itu telah membuat jantungku berirama tak karuan, hatiku bahagia, karena sudah di notice indra, sebuah anugerah untukku.
Tak lama kudengar alunan melodi memenuhi gendang telingaku, suaranya halus dan pelan berirama menenangkan hati dan jiwa.
Lagu klasik jaman dulu, membuatku teringat ayah dan bunda, apa indra menyukai lagu seperti ini?
Serasa padi tersenyum mesra
Bertiup bayu memanggil sukma
Akan kah esok kau senyum jua
Memberi hangatnya sejuta rasa
Aku tersenyum simpul, ketika mendengar kutipan lirik lagi itu, aku tak tahu judulnya apa namun aku menyukainya.
"Kau suka?" tanya indra padaku, aku menjawab dengan anggukan antusias lagunya memang sangat menyayat hatiku.
"Aku menyukainya indra, sangat." Aku tersenyum menatap mata hazel milik indra, dia juga membalas senyumanku, dia tersenyum sangat manis.
Lalu dari arah luar terdengar keributan siswa yang hendak berjalan memasuki kelas, ku lihat indra secepat kilat menarik earphones miliknya di telinga ku dan mendorong dorong tubuhku.
"Indra ada apa?" Tanyaku kebingungan pasalnya indra seperti sedang di kejar setan.
__ADS_1
"Kau tak akan aman jika mereka tahu kau berteman denganku."