Dear Love School

Dear Love School
promise?


__ADS_3

  ❝Ketahuilah, seseorang seperti diriku, hanya bisa menanti, menunggu waktu ketika kematian membayangi, aku hanya meminta sedikit waktu pada tuhan, untuk mewujudkan janjiku pada orang yang ku sayang, hanya sebentar, jika itu sudah terwujud maka aku akan hilang.❞


Kaylindra zeiden pratama


  ***


   "Tidak indra, aku tidak akan pernah meninggalkan mu atas alasan apapun, termasuk hal ini." Jawabku yang masih dalam pelukannya yang hangat dan lembut.


  "Maaf, maafkan aku jika suatu saat nanti kau terluka dan aku tak bisa menolongmu, atau membela mu, aku terlalu pengecut." Lirihnya yang kini beralih mengusap surai hitam panjang ku.


  "Aku tidak peduli indra, bahkan jika harus kehilangan nyawa, asal itu tentang mu aku rela." Jawabku lagi tanpa ragu.


  Entahlah, bagaimana aku bisa berkata seperti itu, rasanya aku begitu yakin dengan ucapan ku tadi. Mungkin ini karena aku sudah terlalu jatuh kedalam rasa cintaku padanya, tak dapat lagi membedakan mana yang harus kulakukan dan mana yang tidak. Cinta memang buta, dan itu memang nyata, ketika aku mencintai indra, bahkan aku rela mengorbankan nyawa, asal bisa melihat indra bahagia, itu bukan fiksi maupun sebuah kiasan palsu yang tidak pernah terbukti adanya.


  Banyak kisah cinta yang seperti itu, mungkin aku dan indra salah satunya? Kuharap saja tidak, aku tak ingin berpisah dengan indra.


   Walau indra tak merespon apa yang aku katakan tadi, aku merasakan sebuah kecupan singkat pada pucuk rambutku, setelahnya aku mendengar kekehan indra.


   "Jika kau rela mengorbankan nyawamu untuk ku, apalagi alasanku tetap bertahan, sementara kebahagian milikku telah hilang. Jangan bercanda oca, aku tak bisa membayangkan jika hidup didunia tanpa dirimu." Katanya, masih dengan suara halus nan lembut.


  "Maka dari itu, jangan ada yang pergi, berjanjilah, kita akan terus bersama sampai tua nanti, menikah, memiliki anak, hingga cucu sampai tua lalu maut memisahkan kita." Aku langsung melepaskan pelukanku pada indra, mengangkat jari kelingking ku untuk membuat sebuah janji.


   Indra menatapku teduh, senyum manis itu kembali merekah, namun sebuah gelengan menjadi jawaban atas janji yang ingin aku ikrarkan. "Aku tidak bisa berjanji jika mengenai hal itu, maaf." Jawabnya dengan nada sedih.


  "Apakah kau berniat meninggalkan ku?" Tanyaku bingung.


  "Tidak, hanya saja aku tak ingin membuat mu terlalu berharap, jika aku sendiri tahu, bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi, janjiku hanya ingin membuatmu bahagia, setelah itu mungkin aku akan tiada." Jawab indra lagi dengan sangat yakin, ada sorot sinar redup yang ku lihat dari mata indra, kilat cahaya yang tak terlalu nampak, namun begitu indah ketika aku bisa melihatnya dari dekat.


   "Kau akan pergi kemana? Tiada? Jangan berkata hal aneh indra." Aku malah tertawa pelan, sambil membenarkan rambutku yang sedikit berantakan.


  "Ketahuilah, seseorang seperti diriku, hanya bisa menanti menunggu waktu ketika kematian membayangi, aku hanya meminta sedikit waktu pada tuhan, untuk mewujudkan janjiku pada orang yang ku sayang, hanya sebentar, jika itu sudah terwujud maka aku akan hilang."


***


  Aku berjalan menuju kelas sambil membayangkan ucapan indra tadi, tentang apa yang dia maksudkan dalam setiap kalimat yang ia katakan, aku masih tidak paham, kenapa dengan indra? Apakah ada sesuatu hal yang kembali ia sembunyikan?


  Aku gusar, masih tak bisa menemukan jawaban atas ucapan indra tadi, masih membingungkan dan penuh dengan tanda tanya. Sepanjang perjalanan menuju kelas, aku terus mendengar bisikan siswa-siswa lain mengenai aku, mungkin karena pertengkaran ku tadi dengan glen.


  Aku mencoba menulikan telinga, berharap aku benar-benar tuli agar tak mendengar gunjingan mereka tentang aku dan indra, walau sayup-sayup aku terus mendengarnya, mulai dari mereka yang mengatakan bahwa indra memakai pelet, hingga sejenisnya dan bahkan ada yang bilang bahwa indra mengancamku agar mau berpacaran dengannya.


  Kenapa semua orang menyalahkannya? Tidak ada satupun dari mereka yang menyalahkan aku, atau mengatakan bahwa aku genit dan telah menggoda indra, kenapa tidak ada yang bergosip mengenai hal itu. Kenapa harus selalu indra yang dijadikan sasaran kesalahan, kenapa bukan aku saja.


  Aku menghentakan kaki ku kesal, mulai membuka pintu ruangan kelas ku yang tertutup, lagi-lagi aku melihat semua siswa dikelas menatapku tajam. Terutama yulan dan chika yang masih menyandarkan tubuh mereka pada dinding di kelas.


  "Apa?" Tanyaku pada mereka.


  Suasana kelas kembali ricuh, ketika satu persatu dari mereka mulai mendatangiku untuk bertanya secara rincin mengenai hubungan ku dengan indra.


  "Bisa kalian mundur?!" Bentak ku.


  Teman-teman ku semua langsung melonggarkan ruangan disekitar, membuat aku bisa kembali bernafas dengan lega. "Dengar, semua apa yang kalian tanyakan itu tidak benar, aku mencintai indra tanpa paksaan maupun pengaruh guna-guna atau semacamnya, indra lelaki baik menurutku, apapun yang dikatakan oleh semua orang. Sudah selesai tak ada lagi yang perlu aku bicarakan, karena kenyataannya memang begitu." Jawabku mantap.


  Semua teman-teman ku menghela nafas kecewa, mereka satu persatu mulai duduk ke kursinya masing-masing, menyisakan devan, audrey, yulan dan chika.


   "Ca, kamu beneran gak gilakan? Kamu tahu kan indra itu—"

__ADS_1


  "stop, aku benci mendengar seseorang yang mengatakan hal buruk tentang indra." Sambarku memotong ucapan audrey.


  "Ca, gue denger tadi di kantin lo ngomong pake bahasa lo-gue, tapi kok sekarang jadi aku-kamu lagi? Mau cari perhatian yah?" cecar joe sang ratu gosip yang ikut memperpanas suasana.


  "Gue emang bisa ngomong pake bahasa lo-gue, cuma gue pikir bahasa itu gak sopan, jadi gue cuma ngomong pake bahasa lo-gue sama orang yang gak punya etika dan gak tahu adab." Jawabku sambil menunjukan wajah mengejek pada joe.


  Dan benar saja, joe langsung mengumpat pelan walau masih bisa ku dengar, aku tertawa sarkastik, joe dengan mulutnya memang pantas mendapatkan pelajaran. Semua orang dikelas juga bungkam, termasuk audrey juga devan yang kini sudah kembali ke mejanya masing-masing.


    "Ca, kita perlu bicara." Yulan menarik tanganku menuju mejaku dan dirinya, diikuti chika yang berjalan mengekori.


  "kenapa? Mau mau menentang hubungan aku sama indra? Gak bisa yulan, aku udah terlanjur cinta sama indra." Ucapku terlebih dahulu sebelum yulan memulai pembicaraan.


  "Ca, kamu pernah mikir gak kenapa indra di jauhi satu sekolah?" Tanya yulan dengan nada pelan, sengaja agar orang lain tak mendengar percakapan antara aku dan yulan.


  "Indra itu bahaya ocaaa, dia itu punya alasan, punya banyak kebohongan yang dia sembunyikan, indra itu gak sebaik kelihatannya." Yulan menjawab sendiri pertanyaan yang dia lontarkan padaku.


   "Hanya karena masalalu? Iya kan? Hanya karena masalalunya indra dijauhi bukan? Yulan, semua orang itu pernah melakukan kesalahan, dan seharusnya kita memberi dia kesempatan untuk memperbaikinya, bukan di musuhi seperti ini." Ucapku melakukan pembelaan.


   "Iya ca, tapi glen sama gengnya gak mungkin ngerti itu, kamu pasti akan jadi sasaran berikutnya, aku gak tahu lagi harus lakuin apa buat bela kamu, tapi kamu harus hati-hati, aku gak mau sampai mereka lakuin sesuatu sama kamu, agar kamu menjauh dari indra." Jelas yulan, yang setelah itu memilih duduk ke kursinya, bertepatan dengan datangnya guru, juga indra yang mengekori dari belakang.


  Saat pelajaran sudah dimulai, aku ingin membuang air kecil, jadi aku meminta izin pada pak guru untuk pergi ke toilet.


  "Pak, saya izin ke toilet sebentar." Izinku dengan sopan pada pak guntur yang sudah cukup tua.


  "Ya, hati-hati oca." Jawabnya lembut.


  Aku mengangguk pada pak guntur dan mengucapkan terimakasih karena sudah memberi aku izin, pak guntur adalah salah satu guru seni yang berumur setengah abad, walau umurnya tak lagi muda, pak guntur sangatlah Gagah, pak guntur juga dikenal dengan guru yang paling baik.


   Sesampainya di toilet perempuan, aku langsung masuk kedalam salah satu bilik, menutup pintu dan langsung membuang air kecil. Setelah selesai, aku membuka pintu bilik toliet, namun sangat sulit, aku terus berusaha membukanya berharap pintu ini hanya macet, tapi kenyataannya berbeda.


  Aku tertegun dengan suara itu, suara yang tak asing di telingaku dan yang pasti itu adalah suara cia, Felicia kim, perempuan yang melalukan penyiksaan pada indra waktu itu.


  "Siram dia cila."


  Sedetik kemudian aku merasakan tubuhku basah karena air yang disiramkan dari atas bilik yang tak memiliki atap. Aku mengumpat kasar, berani-beraninya dia bermain seperti ini.


  "BUKA PENGECUT! LO KALAU MAU NYELESAIN MASALAH INI, MAJU! SINI BERHADAPAN SAMA GUE! PENGECUT SAMPAH! BUKA PINTUNYA!!" Teriak gue dengan sangat kencang sambil menggedor pintu kamar mandi yang ku yakini sudah di kunci dari luar oleh cia.


   Bukan jawaban yang aku dapatkan dari cia, malah sebuah siraman air lagi yang lebih banyak, parahnya air yang cia siramkan padaku merupakan air sisa rendaman kain pel, tercium dari baunya yang tidak mengenakan.


   Aku mengigil karena dingin yang menjalar diseluruh tubuhku. "Gue emang gak bisa berhadapan langsung dengan lo oca, tapi gue punya otak yang bisa gue pake buat jatuhin lo. Setelah ini jauhin indra."


   Aku mendengar ancaman cia tentang menjauh dari indra, namun aku tidak peduli dengan ancaman itu. Setelahnya hening, aku tak mendengar suara apapun lagi, baik cia dan kawan-kawannya, mereka sepertinya sudah pergi dan meninggalkan diriku yang jauh dari kata baik-baik saja.


  Aku mendudukan tubuhku diatas lantai, berpikir sejenak apa yang bisa aku lakukan. Aku menatap langit kamar mandi sebentar, disetiap kamar mandi terutama wanita terdapat bilik, seperti dikamar mandi ini, ada 4 bilik yang dapat digunakan oleh semua siswa, setiap bilik hanya dibatasi oleh sekat, setinggi 2 meter tanpa atap.


  Sebuah ide melintas dipikiran ku, dengan segera aku menaiki wc duduk, melihat bilik sebelah yang tak dikunci, aku bisa pergi lewat sana, dengan susah payah, aku menaiki pembatas bilik, pembatas bilik ini tipis, hanya setebal 5cm. Aku menginjakan sepatu ku pada pembatas bilik itu, berusaha membawa kaki yang tengah bertumpu pada wc duduk untuk ikut menginjak pembatas bilik, walau kesusahan namun nyatanya aku berhasil, kini aku sudah duduk diatas pembatas bilik, dengan kedua kakiku yang menjuntai pada wc bilik satunya. Aku kembali menginjakan salah satu kakiku, diwc duduk bilik yang lain ini, agar bisa turun dari atas bilik dengan selamat.


  Namun baru saja, aku siap meloncat dan membawa kakiku yang lain untuk ikut bertumpu pada wc duduk, kaki yang sedang menahan tubuhku di atas wc duduk tergelincir, hingga membuat tubuhku oleng dan jatuh kelantai dengan posisi kepala menyentuh lantai, aku tak ingat apa-apa lagi, karena rasa nyeri pada kepalaku yang membuat pandangan ku memburam sebelum semuanya menjadi gelap


   ***


    "Aw." Aku menjerit, begitu rasa sakit pada kepalaku tiba-tiba mencuat.


  Aku langsung membuka mata, mendudukan tubuhku juga memegang kepalaku yang terasa sakit. Aku sempat menahan rasa sakitnya selama beberapa detik, sampai suara menggelegar membuyarkan segalanya.

__ADS_1


   "DOKTER!! OCA UDAH SADAR!!" aku tahu teriakan itu, suara yang tak asing lagi bagiku.


  Itu kak bara, pastinya dan kenapa dia ada disini? Karena kebingungan aku melihat sekeliling menggulirkan mataku untuk memperjelas apa yang aku lihat sekarang.


  Rumah sakit, aku sadar akan tempat ini begitu melihat selang infus yang menjuntai juga jarum yang masih menusuk pada punggung tangan kiriku.


   "Dek, kamu inget kakak? Dek?" Aku menyipitkan mata begitu melihat seseorang yang tak lagi asing denganku, tentunya siapa lagi kalau bukan kak bara.


 


   "Engga. Kam—kamu siapa?" Tanyaku pura-pura berakting lupa ingatan.


  "Astagfirullah haladzim, dek, ini kakak, kakakmu." Ucapnya sedih.


  Aku tertawa terbahak-bahak, melihat ekspresi kak bara yang ketakutan sekaligus khawatir yang di lebih-lebihkan. "NGAKAK!"


   Aku tertawa dengan sangat keras begitu kak bara mengubah ekspresinya jadi datar juga memanyunkan bibirnya. "Emang kamu pikir itu lucu dek!? Kamu gak tahu kakak sekhawatir apa?! Kamu malah sempet-sempetnya Ngeprank!" Katanya dengan nada marah.


  Aku menghentikan tawaku saat mendengar suara kak bara yang naik satu oktaf. "Maaf kak, habisnya kakak aneh-aneh aja, mana ada aku lupa ingatan." Jawabku, memilih mengalah.


  "Permisi, saya ingin memeriksa pasien."


  Aku menoleh pada asal suara itu, seorang perawat menghampiri bangkarku, memeriksa degup jantungku dengan stensil yang dia bawa. Aku hanya menurut dan terdiam melihat perawat itu memeriksaku.


  "Keadaannya baik-baik saja." Ucap perawat itu, lalu menuliskan sesuatu pada papan jalan yang ia bawa.


   "Bapak tidak perlu khawatir, dia hanya membutuhkan istirahat untuk pemulihan." Kata perawat itu pada kak bara.


 


  Kak bara menganggukan kepala mengerti, bersama dengan perawat itu yang meninggalkan ruangan. "Kak, aku dibawa kesini sama siapa?" Tanyaku.


  "Indra, tadi sore dia nelefon kakak, dan bilang kamu dibawa ke rumah sakit." Jawab kak bara yang kini ikut duduk disampingku.


   "Indranya kemana?" Tanyaku lagi karena tak melihat kehadiran indra disini.


  "Indranya kakak suruh pulang, belum minta izin dia sama orang tuanya, nanti mereka khawatir." Jawab kak bara lagi, yang kini membawa tangannya untuk mengusap-usap pucuk rambutku.


   Aku terdiam, masih bingung dengan apa yang terjadi, bagaimana indra bisa menemukan ku? Apakah dia mencari ku karena aku tak kembali kekelas?


  "Lagian kamu kenapa sih dek? Kata indra dia nemuin kamu jatuh di kamar mandi sekolah, liat paha kamu robek sampai harus di jahit, dahi mu memar." Marah kak bara dengan wajah yang menggebu-gebu.


   "Maaf kak, aku gak hati-hati ." Jawabku bohong, tak ingin menjelaskan secara rinci tentang sebenarnya apa yang terjadi.


  "Untung indra nyari kamu, karena kamu gak balik ke kelas setelah izin ke kamar mandi, noh chika, yulan nangis-nangis tadi, liat kondisi kamu, muka pucat, menggigil, kena hipotermia karena baju kamu basah total." Tambah kak bara lagi panjang lebar, wajahnya terlihat marah mengingat kondisi diriku yang mungkin sangat buruk dimata mereka.


  Aku memilih mengambil tangan kak bara, lalu mengusapnya pelan, menenangkan kakakku satu-satunya agar tak lagi mengoceh panjang lebar, aku tahu kak bara adalah orang yang akan sangat khawatir dengan kondisi ku ketibang siapapun.


  Aku sengaja tak memberitahukan kejadian Sebenarnya, karena jika sampai kak bara tahu tentang bully yang aku alami, dia pasti akan memaksaku untuk pindah sekolah, dan tak bertemu lagi dengan teman-teman ku, kak bara sudah cukup marah karena kejadian yang aku alami dibandung, jadi sekarang dia akan lebih profektif tentang keselamatan ku.


   ***


DOORRR!! kaget dong:) heheh Akhirnyaa aku bisa fast update uwuwuwuwu ternyata nulis pas gabut juga idenya lancar gampang banget yah, wkwkwk gak ada seharian nih aku nulis sampe 2000 word, seneng bangett!! See you next chapter


 

__ADS_1


 


__ADS_2