
❝aku tahu ketika perjuanganku disia siakan, itu adalah tahap awal kau akan merasakan penyesalan dan sebuah kerinduan❞
Roosevelt anindia adriana
***
Pagi itu aku memulai aktivitas ku seperti biasanya, dan saat ini aku tengah menyisir rambut hitam legam ku agar tertata dengan rapih, membiarkannya tergerai walau kadang diriku membawa tali rambut jika saat dikelas nanti aku merasa panas dan gerah.
Sekali lagi melirik kaca untuk melihat penampilan ku, lalu tersenyum tipis, mengambil tas ku setelahnya pergi ke bawah untuk sarapan pagi.
Aku menuruni tangga dengan cepat ketika melihat ayah, bunda dan juga kak bara sudah berada disana, pasti mereka menunggu ku.
"Selamat pagiii!" Aku berteriak kecil sambil tersenyum pada mereka semua, mendatangi bunda untuk mencium pipinya, juga mencium pipi ayah tapi ketika aku hendak mencium kak bara dia hanya menggeleng dan mengelus pucuk rambutku.
Aku tertawa pelan, apakah kak bara malu jika aku menciumnya? Memang aku mungkin sudah lama tak lagi mencium kak bara tapi apakah dia benar-benar tak mau?
Aku mengangguk menarik kursi ku untuk ku duduki. "Hari ini adek terlihat sangat semangat sekali" Puji bundaku yang meliha diriku tak berhenti mengumbarkan senyum, aku hanya tertawa kikuk padahal menurutku ini sudah biasa kulakukan.
"Sepertinya ada hal yang membahagiakan iya dek?" Tanya ayah menatapku sambil menggoda, aku tertawa garing apa yang mereka pikirkan.
"Memang yah, bun dia sedang bahagia kar-" Ucapan kak bara segera ku putus ketika aku dengan sengaja menginjak kakinya, kebetulan aku dan dia duduk bersebelahan sehingga mudah bagiku untuk menginjak kakinya.
"Aaaww! Sakitt!" Kak bara berteriak hingga suara menggema ke seluruh ruangan makan membuat bunda dan ayah berhenti menyantap makanannya.
"Kenapa kakak! Makan!" Tegas ayah yang membuat kak bara ketawa cengengesan, kak bara lalu menatap ku horor karena dengan sengajanya aku menginjak kakinya.
Begitulah suasana meja makan keluargaku dipagi hari, tidak ada yang spesial hanya saja setiap paginya akan ada cerita mengenai kisah pertengkaran yang lucu.
Aku mendengus kesal, kenapa kak bara lama sekali? Apa dia tak melihat jam sebentar lagi akan masuk sekolah.
Aku kini sedang menunggu kak bara di gerbang rumahku, dia sedang mengeluarkan motor miliknya untuk mengantarkan diriku menuju sekolah, namun ini sudah hampir 5 menit menunggu tapi kak bara sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya.
"Oca!!" Aku terkejut dengan teriakan suara itu hampir saja membuat jantungku terasa lepas dari tempatnya, sudah ku persiapkan makian pada orang yang meneriaki ku tanpa malu ini.
Baru aja aku hendak berteriak balik dan mengumpat mataku menangkap gurat wajah seorang lelaki yang beberapa hari ini aku hindari keberadaannya.
__ADS_1
"Glen?! Kenapa disini?" Teriakku kesal pada glen yang tengah berada diatas motornya, apa dia gila, dia baru saja meneriaki ku.
"Santai... Santai aku disini untuk mengajakmu berangkat sekolah bersama." Jelasnya tak lupa dengan sebuah kekehan yang menjijikkan, menurutku.
"Tunggu, bagaimana kau tahu rumahku?" Tanyaku lagi dengan wajah yang menunjukan kecurigaan, yang aku takutkan dia mengikuti ku menuju rumahku bisa saja bukan?
"Cukup mudah, melihat seorang gadis yang tengah berdiam dipinggir jalan ketika nyatanya rumahku berada beberapa blok dari sini." Jelasnya tak turun dari motor yang ia gunakan.
Aku memutar bola mata jengah, kenapa pagiku yang indah harus hancur karena lelaki satu ini.
Tak lama kulihat kak bara yang keluar dari rumah, wajahnya pucat kuperhatikan kak bara juga memegangi bagian perutnya.
"Dek sepertinya kakak tidak bisa mengantarkan mu kesekolah, kakak diare." Katanya dengan suara parau yang menahan sakit, aku prihatin dan kesal secara bersamaan kenapa aku begitu sial.
"Lalu bagaimana aku ke sekolah kak?" Tanyaku pada kak bara yang sudah berjongkok menahan rasa sakitnya.
"Denganku saja." Tawar glen yang ternyata sedari tadi memperhatikan kami berdua, aku menggeleng menolak ajakan glen dia gila.
"Sudah berangkat dengan dia, dari pada tidak sekolah sama sekali, ayo!" Tegas kak bara lalu pergi dengan kencang menuju rumah, sepertinya dia mengalami diare yang sangat parah.
Aku menghela nafas pasrah, benar kata kak bara aku harus segera sekolah mungkin mencoba bersama dengan glen tidak ada salahnya.
Glen tersenyum penuh kemenangan dia menyodorkan ku sebuah helm, tanpa basa basi aku memakainya tanpa disuruh pun aku sudah berada diatas motornya.
"Pegangan yang erat oca." Ujarnya lalu menjalankan motornya menjauhi kediamanku.
Selama perjalanan aku tak berniat membuka pembicaraan dengan glen, jika glen bertanya aku hanya menjawab dengan singkat dan kadang aku berpura-pura tak mendengar pertanyaannya.
Sesampainya disekolah aku langsung turun dari motornya, memberikan helm yang kupakai pada glen. "Terimakasih." Ucapku singkat lalu pergi meninggalkan glen aku sama sekali tak berniat untuk mengajaknya menuju kelas berasama karena memang kelasku dengan glen cukup berjauhan.
Tapi ada yang aneh, sepanjang jalan semua orang menatapku dengan tatapan benci yang membuatku sedikit jengkel, mereka seperti berbisik ketika melihat aku berjalan disepanjang koridor.
Aku berusaha agar tidak memperdulikan apa yang mereka katakan tentang ku, mempositifkan pikiranku.
Sesampainya dikelas tatapan tak enak pun aku dapatkan dari beberapa siswa dikelas ku, aku tak mengenal mereka secara dekat tapi yang kulihat mereka meremehkan aku secara terang terangan.
__ADS_1
"Oca!!" Aku berhenti ketika mendengar seseorang memanggil namaku, aku menoleh mendapati yulan dan chika yang berlari menuju arahku.
"Hai... " Aku melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Namun kali ini chika dan yulan malah menatapku dengan tajam. "Hei kalian berdua kenapa?" Tanyaku heran pasalnya mereka menatapku seakan aku adalah seorang tersangka.
"Oca... Kau kesekolah bersama dengan glen?" Tanya chika pelan aku membulatkan mata apa mereka berdua melihatnya.
"I-ya." Jawabku terbata-bata, ya aku mengingat ancaman yulan dan chika padaku, agar tidak mendekati glen.
"Ocaa! Kan sudah aku katakan jangan dekat dekat dengan glen!" Teriak chika frustasi dia mengacak-acak rambut pendeknya yang terlihat semakin tak beraturan.
"Aku akan menjelaskannya ini tidak seperti apa yang kalian bayangkan." Ujarku dengan panik, sementara kulihat yulan hanya terdiam sambil melipat kedua lengannya.
"Ayo jelaskan..." Titah yulan aku menangguk karena disini aku memang tidak bersalah.
"Jadi tadi pagi aku sudah bersiap dipinggir jalan untuk menunggu kak bara, kak bara sedang mengeluarkan motor miliknya, tapi sudah beberapa lama aku menunggu kak bara tidak datang dan malah yang datang glen dia berhenti didepan ku menawarkan tumpangan, aku menolaknya namun kak bara datang mengatakan dia tak bisa mengantarkan aku karena diare, kak bara pula yang menyuruhku berangkat dengan glen."
Jelasku pada yulan dan chika yang membuat mereka berdua menatapku keheranan. "Jadi kau tidak sengaja bertemu dengan glen?" Tanya yulan, aku mengangguk karena memang kenyataannya seperti itu, aku tidak berbohong.
"Kalau tidak percaya kalian bisa tanya pada kak bara." tambahku, chika dan yulan hanya mengangguk sambil membuang nafas lega.
"Syukurlah ocaa, aku takut jika kau benar-benar mempunyai hubungan dengan glen, glen bukanlah orang baik." Tambah yulan lalu merangkul bahuku, aku tersenyum menatap mereka berdua, aku juga tahu mereka hanya mengkhawatirkan diriku.
"Ya sudah ayo duduk." Aku yulan dan chika berjalan menuju meja kami, karena sadar kami bertiga sudah jadi pusat perhatian para murid lain.
Aku membuang nafas lelah, pagi ini seharusnya menjadi sangat indah bukannya buruk seperti ini.
"Oca... Kau tahu aku sakit hati saat semua orang mengatakan bahwa kau adalah seorang gadis tak tahu malu." Rancau chika yang semakin terlihat lesu dengan wajahnya yang menunjukan raut kekhawatiran.
"Maafkan aku... Aku tahu seharusnya bukan ide bagus untuk berangkat bersama dengan glen." Aku menatap chika dengan sendu walau hatiku terasa sedikit tenang ketika chika mengkhawatirkan diriku.
Tiba-tiba mataku menangkap kedatangan indra dari pintu kelas, wajahnya terlihat dingin tak berekspresi dia melewati mejaku begitu saja tanpa menoleh padaku atau melirikku.
Tatapan matanya kosong seakan dia berjalan dikendalikan oleh sesuatu yang bukan dirinya.
Lagi lagi aku mengela nafas berat, kenapa lagi dengan lelaki satu ini? Kenapa dia selalu membuatku khawatir dan ketakutan secara bersamaan?.
__ADS_1
***
Vomment pliss bintang dan komenan mu bisa membuatku bersemangat!♡