
❝Mentariku, sinar yang selalu membuatku merasakan kehangatan dalam hatiku yang suram. Setiap dia tersenyum itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri untukku, ketika dia bersedih, aku akan merasakan hal yang sama yaitu terluka.❞
Kaylindra zeiden pratama
***
"Hahaha, gila aja sih ca, si siti masih ngarep sama cowo itu." ujar eneng dengan tawa yang menggelegar.
"Jangan gitu atuh neng, siti kan malu." Jawab siti lalu memukul bahu eneng dengan sangat keras. Aku hanya ikut tertawa mendengar cerita eneng tentang siti yang masih mengharapkan lelaki yang dia sukai saat sd.
"Jadi kangen bandung." Ujarku membuat mereka bertiga menoleh, termasuk indra yang duduk di sampingku.
"Makanya nanti kapan-kapan main ke bandung." Jawab eneng dengan semangat, aku mengangguk yakin pada mereka berdua bahwa aku akan pergi ke bandung nanti.
Kami berempat tengah duduk di paving blok bersama, menceritakan beberapa kisah lucu tentang bandung dan juga jakarta yang sangat berbeda jauh.
"Indra, menurut kamu oca teh kaya gimana?" Tanya siti, aku melirik indra yang berada di sampingku.
Indra diam, dari wajahnya terlihat seperti sedanf memikirkan jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh siti.
"Oca istimewa." jawab indra dengan wajah sendu, dua kata hanya dua kata yang berhasil membuat separuh nyawaku melayang ke udara.
Ini gila, jantung ku terus berdetak dengan cepat rasanya aku benar-benar terbawa perasaan dengan ucapan indra. Aku istimewa, bagaimana bisa indra berkata seperti itu.
Sungguh aku malu sekali
"Ciee, romantis pisannn." Teriak eneng kegirangan, dia menunjukkan wajah gemasnya pada kami semua membuat aku tersenyum kikuk.
"Acie, ciee. Ca." Siti malah mencolek perutku berusaha menggodaku, aku hanya menatapnya kesal berusaha menahan rasa malu.
"Kalian ternyata disini, di cariin bu aan tadi." Aku mencari asal suara itu, dan menemukan sosok lelaki yang tengah berdiri di hadapan siti, lelaki tampan itu lalu menoleh padakumembuat aku terkejut.
"Astaga, oca!" Teriak lelaki itu girang, dengan cepat lelaki itu berlari ke arahku hendak memeluk ku, namun dengan segera ku tahan.
"no! Jangan buat aku malu fian, kamu gak liat disini banyak orang." Semprot ku pada alfian, dia alfian ketua kelas di sekolah ku dulu, dia tampan sekali wajahnya mirip seperti pemain sinetron yang ada di tv.
"Terus mau nya di tempat sepi gitu?" goda alfian yang malah mendapatkan pukulan pada bahunya dari ku.
"Enak aja, emang kamu pikir aku cewe apaan?" Protes ku malah membuat alfian terkekeh.
"Udah dong fian, kasihan pacar oca dia cemburu tuh." Ucap eneng menunjuk indra dengan dagunya, aku melirik indra. Lelaki itu menatap alfian kosong seakan tak memiliki ekspresi yang harus dia tunjukkan pada fian.
"Apa? Neng oca udah punya pacar?" Tanya fian dengan wajah terkejutnya, lelaki tampan itu langsung memposisikan tubuhnya duduk di hadapanku.
Aku ingin menyangkal ucapan eneng, tapi di satu sisi eneng sudah mengatakan hal itu lagi pula aku tidak ingin melihat fian terus berharap padaku. Ya, fian adalah salah satu lelaki yang menyukai ku saat masih di bandung, bahkan fian pernah terang-terangan bilang menyukai ku di hadapan ayah dan bunda.
"Mm, ya dia adalah kekasih ku." Jawabku akhirnya berbohong, setidaknya aku butuh bantuan indra untuk masalah ini.
Aku menoleh pada indra, lelaki itu tak menunjukan reaksi apapun. Dia hanya menatap fian dengan tatapan tajam, juga ekspresi wajah yang kosong.
"Huahhhh fian patah hati kalau gitu." Teriak fian dengan suara menangis yang di buat-buat.
"Jangan buat oca malu fian, udah." Ucapku sambil menepuk bahu fian pelan, fian tipe lelaki lebay nan alay yang kadang membuat semua orang tertawa dengan tingkah konyolnya.
"Kenalin ini indra." Aku mengenalkan indra pada fian. Indra langsung mengulurkan tangannya berniat bersalaman dengan fian.
"Alfian nugroho kuncoro." Ucap fian dengan nada pelan, terlihat raut mukanya yang tak secerah tadi, sepertinya fian memang patah hati.
"Kaylindra zeiden pratama." Jawab indra, lalu melepaskan jabatan tangannya pada fian.
"Pantes neng oca mau, indra ganteng banget." Puji fian dengan wajah memelasnya, aku terkekeh pelan mendengar pujian fian. Padahal fian juga tampan, alisnya tebal hidungnya mancung dan cara bergayanya selalu stylist, tapi negatifnya fian terkadang bersikap rempong seperti ibu-ibu, terkadang fian juga biang gosip di kelas, tidak selaras dengan ketampanannya.
"Ya udah, ca. Neng sama siti mau ke bu aan dulu. Nanti balik lagi ke sini." Ucap eneng yang sudah bangun bersama dengan siti yang mengikutinya.
"Fian, ayo." Ajak eneng.
"Alim, fian palai didieu bae." Jawab fian, eneng dengan cepat menarik tangan fian dengan sangat keras hingga membuat fian terbangun dari duduknya.
"Sia teh mau jadi obat nyamuk! Mikir atuh fian, pusing pisan sirah eneng." Ucap eneng dengan nada khas sundanya, lalu membawa fian yang pasrah di tarik seperti tahanan oleh eneng.
Fian melambaikan tangannya padaku masih dengan wajah memelasnya, aku melambaikan tangan ku juga membalas fian. Lalu kembali terkekeh melihat tingkah eneng dan fian yang begitu lucu.
"Mereka berdua ada-ada saja." Gumam ku, lalu mengalihkan pandangan ku pada indra yang tak mengatakan apapun sedari tadi.
"Ternyata kau memang istimewa oca, semua orang menyukaimu." Ucap indra yang membuatku kebingungan, maksudnya apa?
"Kau hanya perlu berbaur indra untuk di sukai semua orang." jawab ku setelah mencerna kalimat indra tadi.
Indra menggelengkan kepalanya, air mukanya terlihat sendu dan memancarkan kesedihan yang luar biasa.
__ADS_1
"Tidak ada yang menerima diriku saat aku mencoba berbaur dengan semua orang." jawab indra, matanya masih menatap ke sembarang arah, angin siang menerbangkan rambutnya yang berwarna hitam.
"Bagaimana dengan aku?" Tanyaku, memiringkan kepala ku untuk melihat lebih jelas wajah indra.
Dia tersenyum tipis, lalu memalingkan wajahnya pada diriku hingga kami saling bertatapan dengan jarak yang cukup dekat.
"Kau memang berbeda, disaat semua orang membenciku hanya dirimu yang memaksa untuk berteman denganku." jawabnya lalu terkekeh, aku tersenyum ikut senang dengan jawaban indra.
Ya, aku memang aneh, seperti apa yang di katakan indra tadi, tapi aku merasa indra tidak seburuk apa yang orang katakan. Dia berbeda dengan caranya.
"Ah, aku malu. Sudahlah, ayo aku ingin berkeliling lagi." Ucapku lagi-lagi mengalihkan pembicaraan, tak ingin meneruskan pembicaraan random seperti ini.
"Mau kemana lagi? Kita sudah berkeliling seluruh kota tua." Jawab indra, yang ikut berdiri.
"Oca! Oca!" Aku menajamkan telinga ku tak kala suara berat memanggil namaku, termasuk juga indra yang ikut mencari asal suara itu.
"Hey oca!" Teriak suara itu lagi, aku mengedarkan pandanganku dan menemukan sesosok lelaki dengan kaos yang sama seperti yang di pakai oleh siti dan eneng tetapi lebih modis dengan tambahan jaket denim juga celana levis yang ia gunakan.
Lelaki itu tak lain adalah kamal, lelaki yang selama ini aku hindari, yang membuatku merasakan mimpi buruk hingga beberapa bulan lamanya.
Aku menetralkan nafasku, mencoba bersikap biasa saja tak kala lelaki itu sudah ada di hadapanku.
"Hai, oca. Apa kabar?" Tanyanya dengan raut wajah santai.
"Aku—baik." Jawabku, sambil meremat dress yang ku gunakan, aku takut.
Aku juga tak sadar, tanganku sudah mencengkram lengan indra dengan sangat erat. Mungkin indra merasakan rasa sakit karena cengkraman ku padanya yang sangat keras.
"Dia siapa?" Tanya kamal, tentu saja raut wajahnya santai seakan merasa tidak ada yang pernah terjadi di antara aku dan dirinya.
"Dia—kekasihku." Jawabku bohong, aku melirik indra dengan tatapan sayu, berharap indra mengerti dengan apa yang aku katakan.
"Apa! Kamu sudah punya kekasih?" Teriak kamal seperti terkejut, terbukti dari matanya yang membulat dan mulutnya yang sedikit terbuka.
"Ya, dia kekasihku. Aku harus segera pergi, senang bertemu dengan mu kamal." Ujarku lalu menarik tangan indra menjauh dari kamal, berharap lelaki itu tidak mengikuti langkahku.
Setelah merasa benar-benar aman dari kamal, aku langsung melepaskan genggaman tanganku pada indra, masih mencoba menahan rasa takut dan air mata yang bisa saja jatuh.
"Maaf, aku berbohong." Ucapku dengan nada lirih, sejujurnya aku sudah tidak kuat. Aku merasakan sesuatu tapi lagi-lagi ku tahan, aku tak ingin merusak waktu ini.
"Kau kenapa? Kau ketakutan?" Tanya Indra bertubi-tubi, aku menggelengkan kepala dengan cepat, tak ingin indra tahu.
Seharusnya kamal ada di penjara, lelaki psikopat itu. Jika bukan karena dirinya masih di bawah umur dan jika bukan karena ayah memilih damai, mungkin kamal sudah membusuk di penjara karena ulahnya sendiri.
"Oca!! Oca!!" Aku mendapati eneng dan siti berlari menuju ke arahku, mereka seperti tengah di kejar setan.
"Cepat pulang." Titah eneng dengan nafas yang memburu, sepertinya eneng berlari dengan sangat kencang.
"Lah? Kenapa?" Tanyaku, bingung.
"si fian, dia malah bilang ke semua orang kalau kamu ada di sini. Bisa berabe nantinya." Jelas eneng sambil memegangi dadanya.
"Udah sono pulang ca." Tambah siti lagi membuat aku semakin kebingungan.
"Tapi kan aku masih mau main sama kalian." Tolak ku, sebenarnya aku tidak masalah jika semua orang tahu aku ada disini.
"Ca, udah ini demi keselamatan kamu, kamu lupa? Lagi pula kita udah seru-seruan tadi. Iya kan neng?" Ucap siti lalu melirik eneng, eneng megangguk setuju dengan ucapan siti.
Aku terenyuh, mereka bahkan masih mengerti kondisi ku ketika seperti ini. "Kalau begitu aku pulang, terimakasih eneng, siti." Ucapku lalu memeluk mereka berdua dengan sangat erat.
Aku melepaskan pelukaku lalu menatap menatap mereka dengan tatapan sedih, rasanya baru sebentar kami bertemu kenapa harus berpisah lagi?
"Ini, ada oleh-oleh dari bandung, buat ayah guna sama bunda dona, ada oleh-oleh spesial juga buat kak bara." Eneng memberikan 3 buah paper bag besar padaku, aku ingin menolaknya tapi eneng melotot padaku bersikeras agar aku menerimanya.
"Terimakasih eneng, siti. Aku akan merindukan kalian berdua." Ucapku, berjalan bersama dengan indra meninggalka eneng dan siti, walau hatiku berat tapi ini sudah menjadi jalannya, yang terpenting aku akan selalu mengingat mereka berdua, sahabat terbaikku.
Aku bersama dengan indra berjalan diiringi suara sunyi di antara kami berdua, acara jalan-jalan ini hancur hanya gara-gara fian dan segala masalahku.
Semua ini terjadi karena kesalahku, seandainya aku tidak memiliki wajah ini, wajah yang di anggap semua orang sebagai wajah paling sempurna. Aku bukannya tidak bersyukur, hanya saja ini begitu rumit untuk di mengerti.
Seharusnya kamal ada di penjara saat jika bukan karena usianya yang masih muda dan karena ayah yang dengan baik hatinya menutup kasus itu. Padahal aku yang menjadi korban, aku harus merasakan trauma karena hal yang di lakukan kamal, lelaki itu menculiku.
Lelaki berengsek yang begitu mencintaiku bahkan seperti terobsesi dengan diriku.
"Ca, jangan melamun." Aku terkejut begitu merasakan indra menepuk bahuku, aku langsung menatapnya dengan wajah lelah.
"Mau pulang?" Tanya Indra.
"Memang tujuan selanjutnya kemana?" aku balik bertanya.
"Ada, aku ingin mengajakmu ke monas. Tapi, jika kau lelah kita bisa segera pulang." jelas indra, aku berpikir sebentar.
__ADS_1
"Lanjutkan saja." Jawabku mantap, indra hanya mengangguk lalu memberikan helm nya padaku, indra mengeluarkan motornya bersama aku yang kini menaiki motornya, menuju tempat tujuan selanjutnya. Monas.
***
"Mau membeli layang-layang?" Tanya Indra begitu mendapati pedagang layang-layang di sekitar lapangan monas.
Aku mengangguk, meng-iyakan tawaran indra sepertinya akan sangat asik bermain layangan di siang menuju sore seperti ini, anginnya juga cukup kencang.
Indra berjalan menuju pedagang layang-layang yang tengah berkeliling, aku tidak terlalu memperhatikan apa yang indra bicarakan karena sedari tadi aku terus memandangi tugu monas yang sangat tinggi.
"Ini, kau bisa memainkannya?" Tanya indra sambil menyerahkan sebuah layang-layang padaku.
Aku tersenyum tipis, layangan kecil yang sangat lucu dan tentu saja aku bisa memainkannya. Ini adalah permainan ku saat di bandung dulu.
"Tentu saja aku bisa, kau akan melawan diriku yang sudah sangat handal." Ujarku lalu terkekeh, mengambil layangan yang berada di tangan indra.
Dia juga membeli dua layang-layang mungkin satu untuk dirinya. "Oke, kita lihat saja." Ucap indra dengan nada menantang.
"Kau pegang ini, aku akan berlari untuk menerbangkannya." Aku memberikan layanganku kepada indra.
Aku menarik gulungan benang kecil bersama dengan tangan kanan ku yang memegang seuntai benang yang terhubung dengan layangan.
Aku berlari dengan cepat agar layangan bisa terbang. "ayo, lepaskan." teriak ku pada indra, indra menurutinya dan dengan cepat melepaskan ke atas layangan miliku.
Aku terus berlari sambil mengendalikan layanganku, hingga layanganku terbang dengan ketinggian sedang di atas langit. Aku berteriak kegirangan.
"Bagaimana?" Tanyaku pada indra yang sedang berlari ke arahku.
"not bad." Jawabnya, aku tersenyum bangga karena berhasil menerbangkan layanganku.
Setelahnya aku ikut membantu indra menerbangkan layangan miliknya, layangan tidak akan bisa terbang jikalau tidak ada yang membantunya.
Layangan kami berdua terbang begitu tinggi, selain layangan aku dan indra ada beberapa layangan milik pengunjung lainnya juga yang ikut menemani.
"Indra pengen duduk." Ucapku merasa pegal karena terus berdiri.
Indra yang tengah berada di sampingku langsung melirik ku, walau tangannya masih sibuk mengendalikan layangan dengan benang.
"Duduk di sini mau?" Tawarnya, indra menyuruhku duduk di atas paving blok, sama seperti di kota tua.
"Oke." Jawabku lalu duduk disana, indra juga ikut duduk di sampingku.
"Kalau lelah, kemarikan." Ucap indra memintaku untuk memberikan gulungan benang yang berada di tanganku.
Aku memberikan benang itu pada indra, melihat apa yang dia lakukan. Indra berdiri lalu pergi dengan membawa benang miliku, tak jauh dari sini indra berhenti pada sepetak lahan. Lahan itu belum di tutupi oleh paving blok, dan indra menancapkan kayu yang menjadi tumpuan benang, bersama dengan miliknya juga.
Setelahnya indra kembali berjalan ke arahku dan ikut duduk di sampingku.
"Kita cukup lihat mereka di sini." Ucapnya.
"Kau tahu? Hal apa yang belum bisa ku wujudkan sampai sekarang?"
"Aku tidak tahu, memangnya apa?" Tanyaku penasaran.
"Membuat orang yang ku sayangi bahagia, sebelum aku benar-benar pergi." Jawabnya, aku kebingungan tak paham dengan apa yang di ucapkan oleh indra.
"Kau mau pergi kemana?"
"Pergi, ketempat yang sangat jauh selamanya." Jawabnya, aku terheran semakin merasa pembicaraan ini menuju pada hal tentang kematian.
"Maksdumu, kematian?" Tanyaku lagi.
"Ya, semua orang pasti akan merasakan yang namanya kematian. Tapi sebelum itu terjadi aku ingin membahagiakan seseorang yang benar-benar ku sayangi." Jelasnya.
"Dan kau tahu siapa orang itu?" Tanyanya tapi kini indra memalingkan wajahnya menatapku, sehingga kami berdua saling bertatapan.
"Mentariku, sinar yang selalu membuatku merasakan kehangatan dalam hatiku yang suram. Setiap dia tersenyum itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri untukku, ketika dia bersedih, aku akan merasakan hal yang sama yaitu terluka. Dan aku telah meminta pada tuhan untuk memberikan diriku waktu, agar bisa membuatnya bahagia, dan tertawa di sisa hidupku."
"Dan itu adalah dirimu oca, kau mentariku, akan selalu menjadi sinar dalam gelapnya kehidupanku."
***
Hollaa, update guys, dilarang baper, jangan lupa vomment yahh
__ADS_1