
Aku tersenyum lebar ketika melihat diriku kini sudah berada di taman mini indonesia indah. Sedari dulu aku memang ingin berkunjung kesini, hanya saja ada banyak hal yang menghalangi dan untungnya indra lah yang mengajak ku ke tempat ini.
"Kau suka?" Tanyanya, aku mengangguk senang, biarlah indra menganggap ku nora atau sebagainya karena di bandung tidak ada taman mini.
"Baguslah, mari." Indra mengenggam tanganku, aku hanya mengikutinya tidak mengelak genggaman tangannya padaku.
Karena ku yakin indra tidak bermaksud jahat, mungkin dia tidak ingin aku hilang. Apalagi daerah ini sangat asing untukku.
Aku terus memandang sekeliling, disini cukup ramai hingga sempat terjadi antrian tadi. Aku melihat banyak sekali wahana permainan, dari yang sudah aku tahu hingga menurut ku sangat asing.
Indra juga tidak banyak berbicara, dia terus menggenggam erat tanganku. Sebenarnya aku tidak tahu tujuan indra, jadi aku memilih diam saja.
Kami berdua sampai di sebuah tempat, indra sempat mengantri untuk membeli tiket, lalu aku melihat indra kembali mengajak ku dimana tempat ini terlihat seperti stasiun kecil. Dan yang ku lihat indra mengajak ku untuk menaiki gondola.
Sebuah gondola berhenti di hadapan kami, seorang petugas membukakan pintu gondola. Indra memberi isyarat padaku untuk masuk kedalam kereta gondola terlebih dahulu, aku mengikutinya, melangkah pelan memasuki gondola dengan perasaan yang campur aduk.
Aku duduk disalah satu kursi panjang yang tersedia didalamnya, kemudian indra ikut memasuki gondola dan duduk berhadap-hadapan dengan ku. Petugas itu menutup pintu gondola dan menguncinya, aku menggigit bibir bawahku gugup, ini memang pertama kalinya aku menaiki gondola, dan jujur aku cukup ketakutan.
Aku semakin takut tak kala kereta gondola ini mulai berjalan, membawa kami berdua menuju ke atas hingga terlihat seluruh pemandangan yang berada dibawah.
Aku merasa kereta gondola ini bergoyang seperti hendak jatuh kebawah, ingin rasanya aku berteriak karena perasaan ini tidak bisa kompromi.
"Kau takut?" Aku melirik lelaki dengan tatapan mata sendu itu, lalu mengangguk kecil.
"Tidak perlu khawatir, kita aman disini." Indra mengusap punggung tanganku pelan.
Aku tersenyum tipis sambil mencoba menghilangkan panaroid didalam hatiku, ini tidaklah seburuk itu aku harus berani.
Aku menarik nafas pelan lalu membuangnya, berusaha menenangkan hatiku menganggap bahwa ini akan baik-baik saja.
"Jangan takut, disini sangatlah indah." Ucap indra, aku melirik lelaki itu dan melihat betapa santainya indra saat menatap pemandangan di bawah sana dari jendela yang tersedia.
"Coba lihat." Ucap indra lagi, tapi kini dia menatap ku memberikan arahan agar aku mau melihat kearah jendela itu.
Aku mengangguk pasrah lalu mencondongkan badanku mendekat pada jendela, aku sempat menutup kedua mataku karena tidak yakin dengan apa yang aku dapatkan. Karena yah, aku memang takut dengan ketinggian.
"Buka matamu." Interupsi indra lagi dengan suara halusnya membuat aku reflek membuka kedua mataku.
Aku terdiam sebentar saat melihat pemandangan yang ada di bawahku. Ini sangat indah, dari atas sini aku melihat banyak sekali orang berlalu lalang, juga gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Pemandangan ini sangat indah sekali, sampai tidak sadar bahwa aku menatap kagum tidak lagi takut pada ketinggian atau memperdulikan indra.
Aku mendengar suara kekehan kecil yang membuat atensi ku pada pemandangan di bawah teralihkan. Aku melirik indra, karena tidak menyangka lelaki yang biasanya bersikap dingin itu tertawa dengan cukup keras.
Matanya menyipit dan mulutnya terbuka tidak biasanya indra seperti ini, aku melihat mengenggam handphone di tangan kanannya. Aku yang melihat kejadian langka ini hanya tersenyum tipis, merasa bahagia karena berhasil membuat indra tertawa.
"Apa aku menganggu dirimu?" Indra berhenti tertawa saat aku menatapnya cukup lama.
"Tentu saja tidak." Aku tersenyum lebar hingga menunjukan deretan gigiku.
"Sudah ku katakan ini sangat indah bukan?" Ucapnya lagi, aku hanya mengangguk samar melemparkan pandangan ku pada jendela gondola.
"Indra." Aku terdiam karena tidak berhasil menahan diriku, sebenarnya aku memiliki pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada indra.
Dan sedari tadi aku mencoba untuk menahannya, karena yakin pertanyaan ini tidak akan berakhir dengan baik. Mungkin saja indra akan tersinggung.
"Kenapa?" Tanyanya, suasana didalam gondola kembali hening, aku tidak berani untuk mengucapkan pertanyaanku.
Tapi disatu sisi aku sangat penarasan, karena jujur ini adalah hal yang paling aku tanyakan pada indra.
"Oca?" Tanya indra lagi, aku mendongak untuk menatap kedua matanya. Mungkin terlihat jelas dari sorot mataku yang menujukan rasa ketakutan.
"Aku-aku ingin bertanya." Ucapku dengan terbata, aku mencoba meyakinkan hatiku untuk mengutarakan hal yang selama ini ingin aku ungkapkan.
"Kenapa-alasan apa yang membuat kau di jauhi oleh semua orang di sekolah." Akhirnya kata itu berhasil aku keluarkan walau rasa takut indra akan marah.
Aku menatap indra dengan ragu-ragu, ku pikir indra akan marah atau membentak ku. Tapi, yang ku dapatkan adalah sebuah senyuman tipis yang bahkan tidak terlihat.
Tatapan indra menjadi sendu, dia menatapku seakan beban yang di miliki cukuplah banyak, sorot matanya yang tajam berubah menjadi lembut.
Aku tidak mengerti tapi aku merasakan kesedihan yang begitu mendalam pada diri indra.
"Alasan mereka menjauhi ku, adalah masalalu ku yang buruk." Jelas indra sambil menghela nafas panjang.
Aku menatapnya perihatin, selama ini semua orang menjauhi indra hanya karena sebuah masalalu. Yang mungkin semua orang tidak tahu kronologinya secara jelas, itu hanya sebuah opini dari mulut ke mulut yang kadang di lebihkan.
Kenapa mereka bisa mempercayai hal seperti itu dan memutuskan untuk menjauhi indra yang jelas-jelas tidak salah apapun pada mereka.
"Dan, mungkin jika kau mengetahui masalalu ku. Kau juga akan menjauhiku." Suara indra terdengar sangat rapuh, banyak sekali kesedihan dalam ucapannya.
Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku menyangkal apa yang dikatakan oleh indra. "Aku tidak akan pernah menjauhimu jika alasannya hanya karena sebuah masalalu." Ucapku, aku menahan nafas sebentar untuk melanjutkan kalimatku berikutnya.
__ADS_1
"Kita hanya manusia biasa, melakukan suatu kesalahan adalah hal yang pasti pernah semua orang lakukan. Seharusnya kesalahan di masalalu dijadikan sebuah pelajaran untuk memperbaiki diri, bukan di jadikan alasan untuk saling bermusuhan ataupun saling menjatuhkan." Ucapku panjang lebar, masih tidak habis pikir dengan orang-orang yang membenci indra.
Ku lihat indra hanya tersenyum lebar karena ucapan ku, jujur aku sangat kesal dengan maraknya kasus bullying di indonesia. Apa sebenarnya yang berada di otak para pembully, apa mereka berpikir bahwa dirinya lah yang terbaik.
"Kenapa kau tidak pernah melaporkan kasus ini?" Tanyaku lagi, kali ini dengan raut wajah yang serius.
"Tidak perlu, karena melihat dirimu percaya padaku saja sudah menjadi hal yang membahagiakan untuk ku."
Aku tertegun begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh indra, astaga dia sering sekali membuat aku blushing.
Dengan segera aku membuang muka berharap indra tidak melihatnya, karena aku sendiri tidak sanggup jika melihat wajahku saat memerah.
***
Aku bersama dengan indra kini tengah berada di depan istana yang cukup besar, aku tertegun beberapa saat karena ini adalah pertama kalinya aku bisa melihat secara langsung tempat yang selama ini ingin aku kunjungi.
Indra masih senantiasa berada disampingku, walau rasa canggung setelah ucapan indra didalam gondola tadi masih tersisa.
"Kau mau naik atas?" Tawarnya sambil menunjuk pada bagian balkon istana dimana ada beberapa orang yang tengah berfoto disana.
Aku mengangguk antusias, indra yang melihat begitu senang hanya tersenyum kecil. Lalu kembali menarik tanganku, sepertinya indra ingin mengajak ku pada bagian balkon atas istana.
Dan benar saja, setelah menaiki beberapa tangga akhirnya aku dan indra sampai pada balkon lantai kedua istana ini. Dari sini aku bisa melihat pemandangan yang sama seperti sana di gondola, tapi rasanya sangat beda, aku merasa seperti seorang puteri didalam cerita dongeng.
Bersama dengan seorang pangeran yang tengah menikmati waktu mereka berdua. Ah, aku terlalu banyak berkhayal, tapi sungguh ini sangat menyenangkan.
"Mau berfoto?" Tanyanya, aku menatap sebentar pada indra, lebih tepatnya berpikir apakah aku bisa berpose dengan baik jika indra memfotoku.
Rasanya aku sangat malu sekali, tapi pada akhirnya aku mengangguk. Indra membuka handphone miliknya, sudah mengangkat smartphonenya di atas udara bersiap untuk memfoto diriku.
Aku bergaya sederhana hanya tersenyum tipis pada kamera. "Satu, dua, tiga." Aba-aba dari indra menandakan bahwa dirinya telah selesai memotret diriku.
"Mau lagi?"
"Tidak perlu, sudah cukup." Aku menolak dengan canggung, pasalnya aku tidak yakin dengan gayaku pasti sangat jelek.
Suasana di atas balkon ini tidak seramai tadi karena beberapa wisatawan sudah turun dan hanya tersisa aku, indra dan tiga orang wisatawan lain.
"Cuaca sangat mendukung sekali." Indra menatap jauh pada langit yang tidak terlalu terang dan tidak gelap.
Aku hanya memandang dalam wajah indra yang sangat tenang, rambut hitam legamnya terbang karena angin yang meniupnya. Aku tertegun dengan apa yang aku lihat, bayang-bayang mengenai kehidupan indra yang sangat mengerikan, semua orang tidak menyukainya, semua orang membencinya tidak terkecuali aku dan keluarga ku. Mungkin.
Indra menoleh padaku, aku terkejut karena ketahuan terus memandangi wajahnya yang sangat tampan dengan kagum.
Apa itu adalah kejujuran yang berasal dari hatinya?
"Aku ingin mengatakan hal itu saat pertama melihat mu di sekolah, tapi aku tidak memiliki keberanian." Jelas indra sambil menatap ku dengan sangat lekat.
Aku tersenyum lebar mencoba menahan jeritan dan gejolak rasa aneh dalam diriku. Juga berusaha menetralkan jantungku yang berdegup sangat kencang.
Indra sangat keterlaluan dan terlalu jujur dengan perasaannya padaku.
"Kau lapar?" Tanyanya lagi.
"Ya, aku lapar." Jawabku singkat, sebenarnya aku sedang berusaha untuk terlihat biasa saja didepan indra.
"Ayo, kita mencari tempat makan." Indra berjalan pelan meninggalkan balkon istana ini, bersama dengan diriku yang mengikutinya dari belakang.
Kami berdua turun kebawah entah mau kemana seperti yang dikatakan indra tadi, mungkin dia ingin mengajakku makan.
Indra mengajak ku ke sebuah taman bermain kecil, disana hanya ada dua ayunan dan juga dua perosotan, tidak banyak anak-anak yang bermain disana malah hanya ada satu orang anak yang tengah bermain dengan ibunya, mungkin.
"Kau tunggu disini, aku akan membeli makanan sebentar." Titah indra, aku tidak banyak berbicara hanya menangguk paham.
Aku duduk disalah satu ayunan, menggoyang-goyangkan kaki ku di udara.
Tidak lama aku melihat indra datang padaku sambil membawa satu plastik makanan, dia menghampiri ku lalu ikut duduk di salah satu ayunan disebelah ku.
Ayunan ini cukup besar, sepertinya tidak masalah jika orang dewasa menaikinya. Kebetulan tubuhku juga tidak terlalu berat.
"Ini aku hanya bisa menemukan roti, jika kau ingin makan kita harus ke daerah sebelah sana." Indra menujuk sebuah tempat yang cukup jauh dari daerah istana ini.
"Tidak apa, terimakasih." Aku mengambil roti didalam plastik yang indra berikan padaku.
Roti cokelat, aku sangat menyukainya. Mengapa indra bisa mengetahui kalau aku suka sekali dengan roti rasa cokelat.
Mungkin hanya tebakannya asal saja, jangan terlalu pede oca.
"Oh ya, indra boleh aku meminta tolong?" Tanya ku pada indra, indra hanya menjawab dengan anggukan.
"Setelah ini kau bisa mengantarkan ku ke kota tua? Sebab aku akan menemui teman ku dari bandung disana." Jelasku, indra menatap ku hangat lalu menangguk pelan.
__ADS_1
"Kebetulan tujuan kita selanjutnya adalah kota tua." Jawabnya, aku tersenyum senang.
Setidaknya aku tidak terlalu merepotkan indra jika memang tujuan kita selanjutnya adalah kota tua.
"Jam berapa teman mu akan datang, sekarang sudah siang." Indra berbicara sambil menatap jam tua yang berada di tangan kirinya.
Jam itu sangat sederhana, berwarna silver dengan jarum jam berwarna emas. Desainnya pun sudah sangat ketinggalan jaman.
"Aku tidak tahu, tapi temanku akan menelfon. Mungkin sekarang dia sedang berada di bank indonesia." Jawabku asal, karena mengingat apa yang dikatakan oleh eneng tentang wisata yang akan mereka kunjungi.
Dan kemungkinan besar mereka tengah berada di bank indonesia.
"Kalau begitu kita pergi sekarang." Indra berdiri dari ayunan, setelah menghabiskan roti miliknya.
Aku menatap roti milikku yang masih setengah utuh. Tadinya ingin ku buang tapi urung ku lakukan tak kala melihat indra menatap ku dengan isyarat untuk memakan roti itu sampai habis.
"Habiskan." Ucapnya, aku menurut dan langsung menghabiskan sisa roti milikku.
***
Aku turun dari motor indra ketika lelaki itu selesai memperkirakan motornya di tempat parkir yang tersedia. Aku membuka helm yang ku gunakan menyisakan rambut ku yang sedikit berantakan.
Aku melihat penampilan ku sejenak pada kaca spion motor indra, menyisir rambutku dengan jari agar terlihat lebih rapih.
"Sudah rapih." Indra yang masih berada di atas motor ikut merapihkan rambutku dengan jarinya.
Aku sempat tertegun sebentar dengan perlakuan indra. Lagi-lagi lelaki itu membuat aku merasa istimewa dengan segala perhatiannya padaku.
"Ah. Terimakasih." Jawabku dengan sebuah senyuman canggung.
Lalu indra menggenggam tanganku, berjalan berdua di antara keramaian. Suasana kota tua sangatlah ramai, melebihi taman mini. Disini lebih banyak anak muda yang tengah menikmati suasana siang hari yang cukup tenang dengan angin berhembus.
"Padahal hari sudah siang, tapi jakarta tetap ramai yah." Ucapku basa-basi merasa suasana hening ini tidak bisa di biarkan begitu lama.
"Ya, Jakarta memang seramai ini. Tapi aku penarasaan dengan bandung, sepertinya berlibur disana akan sangat tenang dan tidak seramai disini." Jelas indra masih fokus pada jalanan kota jakarta yang ramai sekali.
"Bandung memang tempat yang paling tepat untuk berlibur sendirian, karena suasanya yang cukup dingin." Aku menjelaskan suasana liburan yang cocok di bandung.
"Kapan-kapan aku akan mengajakmu berlibur ke bandung." Ajak ku dengan sebuah tawa kecil pada indra.
Indra menatapku sekilas lalu dia ikut tersenyum. "Baiklah, lain kali kau yang akan menjadi tour guide ku saat di bandung."
"Tentu, kau pasti akan menyukainya." Tambahku lagi.
Setelahnya suasana kembali hening, aku sibuk memperhatikan bebarapa pasangan yang tengah berkencan. Romantis sekali, banyak pasangan yang menggunakan baju couple dengan gaya fashionable.
Apakah aku dan indra juga dapat disebut kencan? Karena rasanya indra selalu memberikan perhatian lebih padaku.
"Jangan melamun, ayo." Aku tersentak saat indra menepuk bahu kiriku, aku melamun. Lebih tepatnya berkhayal.
"Wah, indah sekali." Aku menatap kagum bebarapa bangunan tua sisa penjajahan belanda, disini aku melihat secara langsung tempat yang ingin juga aku kunjungi.
Aku juga melihat beberapa orang tengah bersepeda di tengah ramainya orang yang berlalu lalang. Aku juga melihat ada orang yang berpenampilan mirip seperti noni belanda dengan gaun putih juga wig yang melengkapi penampilan mereka sehingga benar seperti noni belanda.
"Kau mau menyewa sepeda?" Aku terkejut tersadar dengan keberadaan indra disamping ku.
"Memang bisa?" Tanyaku lugu.
"tentu saja bisa." Jawab indra setelahnya dia tertawa kecil, aku kebingungan adakah yang lucu dari hal ini.
Apa mungkin pertanyaan ku tadi tentang menyewa sepeda, karena jujur aku tidak tahu bahwa disini juga disediakan layanan untuk menyewa sepeda. Ku pikir mereka semua membawa sepedanya masing-maisng.
"Sudahlah jangan dipikirkan, kau tunggu disini, jangan kemana-mana. Jangan menuruti kata siapapun termasuk orang yang tidak kau kenal." Peringat indra padaku, aku lagi-lagi hanya menangguk paham dengan perintah indra, tidak ingin melanjutkan pembicaraan.
Setelahnya indra benar-benar pergi dari hadapanku, aku hanya duduk di atas paving blok sambil melipat kedua kaki ku.
Beberapa menit kemudian aku melihat sosok indra yang tengah mengendarai sebuah sepeda ontel, dia tersenyum ke arahku aku menatapnya dengan sebuah tawa.
Dia mengayuh sepedanya menuju kearahku. Aku dengan segara bangun sambil membersihkan bajuku. Saat sampai didepan ku indra turun dari sepedanya, menstandarkan sepedanya terlebih dahulu agar tidak jatuh.
"Wah, ku pikir ini adalah sepedamu." Pujiku saat melihat kemiripan antara sepeda ini dengan sepeda milik indra.
"Hampir mirip memang." Jawabnya, aku melihat indra mengambil sesuatu dari keranjang sepeda yang menempel di depan stang sepeda.
Aku terus menatap gerak-gerik yang akan di lakukan oleh indra. Yang ku dapati indra mengambil sebuah topi, seperti topi pantai karena memiliki lingkar kepala yanng cukup besar. Dengan sisi-sisinya di penuhi dengan bunga-bunga plastik.
Dengan perlahan indra memasangkan topi itu di kepala ku, sebelumnya indra sudah merapihkan rambut ku agar terlihat bagus saat menggunakan topi.
Aku kembali terdiam, sial. Jika aku terus bersama dengan indra jantungku mungkin tidak akan sehat. Karena perbuatnya yang akan selalu membuat diriku terpana sekaligus malu.
__ADS_1
***