
***❝Hidup indra seperti boneka pandora, akan selalu ada yang lain di dalam dirinya yang akan terungkap seiring berjalannya waktu, dan aku akan menjadi salah satu orang yang membuka sisi lain dari indra.❞
Roosevelt anindia adriana***
***
Aku terdiam, menghirup wangi yang sangat menenangkan, lavender dan yang kucium harum itu berasal dari seragam yang digunakan oleh indra, aku lupa itu adalah seragam ku.
Sore ini bersama dengan angin yang bertiup dengan langit yang berwarna jingga, hingga sinar mentari yang akan terganti oleh sang rembulan, menjadi saksi bagaimana bahagianya diriku, saat ini.
Sepanjang perjalanan aku maupun indra tak banyak berbicara, kami berdua sama sama terdiam, membiarkan naluri saling bersautan dalam jiwa yang penuh rasa penasaran, perasaan apa yang indra rasakan?
Aku maupun indra tak berani mengungkapkan bahwa aku sedang dalam keadaan bahagia ketika bersamanya, saat berdua seperti ini, kurasakan sebuah tarikan gaya, dimana aku harus diam, menjadikan indra sebuah pacuan utama dari fokus yang tak bisa ku bagi.
Aku tersenyum, bersama dedaunan yang berguguran sepanjang perjalanan, membayangkan hal ini bisa terus terjadi didalam kehidupanku, sebagai sebuah kebiasaan dan juga kewajiban yang harus indra tunaikan sebagai seorang panutan, kelak.
Namun, hal itu masih dalam sebuah khayalan yang menurutku tak akan menjadi kenyataan.
Aku tak yakin sepenuhnya, bahwa aku bersama dengan indra, ahh sudahlah.
***
Aku membuka helm yang ku kenakan, lalu memberikannya pada indra yang masih berada di atas kendaraannya, juga dengan pengamanan di bagian kepalanya.
"Terimakasih." Ucapku, aku memilin rok yang ku gunakan, tak mampu menahan malu sekaligus speechless karena indra benar benar mengantarkan ku sampai ke depan rumahku.
"Sama-sama" Jawabnya, indra tak melirik kearahku, dia tengah sibuk membenahi tasnya juga helm yang kuberikan padanya.
"Tidak mau mampir?" Tanyaku
"Tak usah, mungkin lain kali..." Indra menatapku sebentar membuatku membiarkan membidik kedua obsidiannya, yang berwarna hazel.
Setelahnya, indra memutuskan kontak mataku dengannya, lalu pergi bersama kendaraannya, aku masih terdiam ditempat, melihat indra yang mulai menjauh dan wangi aroma lavender yang mulai hilang bersama dengan senja, yang sudah tertelan oleh rembulan malam.
Aku menghela nafas beratnya setelahnya, menjadikan hari ini sebagai catatan hari penuh permasalahan, hari dimana aku tahu bahwa orang yang sering membuatku penasaran, memiliki sejuta rahasia yang menakutkan, bukan menakutkan dalam artian seram, hanya saja hidup indra tak segampang kehidupan biasanya.
__ADS_1
Aku juga tak terlalu tahu, hanya saja itulah yang kurasakan.
"Cieee yang barusan di anterin cowok." Aku tersentak kaget, sambil memegang dadaku, aku melotot menatap sang empu yang sudah membuat lamunan ku buyar sketika.
"Dari mana aja sih kak!? Oca tuh nungguin dari lama." Aku berkacak pinggang, menghentakkan kakiku keaspal jalan, memutar bola mata malas, melihat kakak ku, yah dia ka bara.
"Ya maaf dek, tadi kakak ada rapat pengurus BEM." Jawab ka bara, lalu mendorong motor klx nya menuju halaman rumahku, "Buka gebrangnya dek." Titah ka bara yang masih memegang motornya, aku berjalan dengan ujung telapak kaki sengaja di hentakan, membiarkan ka bara tahu bahwa aku sesungguhnya merasa kesal karena ulahnya.
Aku mendorong gerbang rumah, meninggalkan ka bara yang masih sibuk dengan motornya, aku memutuskan untuk masuk kedalam rumah, rumah yang akan selalu seperti ini, sepi, tak ada siapa- siapa, tidak ada sambutan orang tua untuk anaknya, tak ada tawa di meja makan ketika malam hari menjelang.
Semuanya akan selalu sibuk dengan urusannya masing masing, namun aku mencoba paham, bahwa kedua orang tuaku seperti itu adalah untuk ku, untuk kak bara, jadi aku harus menerimanya walau itu sangat menyakitkan.
"Dek... Tadi cowo siapa?" Tanya kak bara yang sudah mendahului jalanku yang lambat, membuang sembarang tas yang digunakan olehnya. "Cuma temen kak." Jawabku, menghempaskan tubuh kecilku di atas sofa. "Temen apa demen?" Tanya kak bara dari arah dapur, aku lebih memilih fokus pada tv yang tak menyala.
"Temen! Apa sih kak bara!" Aku menbentak kak bara dengan cukup keras, jika ada bunda pasti aku sudah mendapat omelan karena membentak seseorang yang lebih tua dariku, tapi aku juga merasa kesal karena ulah kak bara.
"Ya biasa aja dek, kok nyolot." Teriak ka bara yang kulihat sudah berada disamping ku sambil membawa segelas jus mangga. "Abisan kak bara bikin kesel sih!" Aku memukul bahu kak bara dengan cukup keras, "Sakit dek, sakitt." Kak bara menlenguh kesakitan sambil mengusap-usap bahunya yang baru saja ku pukul.
"Nih, coba minum dulu." Kak bara memberikan segelas jus mangga yang dibawa olehnya padaku, aku melirik sebentar ke gelas di sodorkan oleh kak bara, aku mengambilnya meminumnya dengan sekali teguk.
Aku berjalan dengan lunglai, tak bersemangat menuju kamarku yang berada di lantai 2, menaiki satu persatu anak tangga yang sepertinya sangat banyak, aku membuang nafas berat, tak pelak hari ini banyak membuatku sedikit lelah dan juga bahagia yang tak terkira, ada banyak pertanyaan di benakku seputar beberapa kejadian bergilir yang terjadi.
Tentang indra
Tentang keluarganya
Tentang kehidupannya
Tentang sikapnya
Tentang apapun yang menyangkut dengan indra, akan selalu penuh dengan misteri dan kejutan.
Hidup indra seperti boneka pandora, akan selalu ada yang lain di dalam dirinya yang akan terungkap seiring berjalannya waktu, dan aku akan menjadi salah satu orang yang membuka sisi lain dari indra.
***
__ADS_1
Setelah selesai mengganti pakaian, aku kembali turun kebawah untuk makan malam bersama dengan kak bara, dan yang sudah kulihat ada banyak makanan yang tersaji di meja makan, yang kuyakini adalah masakan kak bara.
"Ayo makan dek." Kulihat kak bara menghidangkan sebuah ikan goreng ke atas meja, aku tersenyum melihat kak bara yang tak malu malu menggunkan apron, dengan lengan kemeja nya yang sedikit di gulung.
"Kak, bunda dan ayah kenapa belum pulang?" Tanyaku, sambil menarik kursi meja makan untuk ku duduki. "Ada rapat pemilihan kepala divisi di perusahaan ayah, kita doakan semoga ayah terpilih. Kalau bunda sedang sibuk dengan pembukuan, adek tahu bukan sebentar lagi akhir tahun, bunda pasti akan sangat sibuk." Jelas kakak ku, sementara tangannya sibuk memberikan ikan untuk ku dan untuknya.
"Iya, aku lupa kak, hehe." Aku terkekeh sendiri karena sebelumnya ayah dan bunda sudah mengatakan bahwa akan sangat sibuk bulan bulan ini.
Kak bara menggeleng gelengkan kepalanya, karena ulahku yang bertanya tentang hal yang seharusnya sudah ku ketahui.
"Udah dek, ayo buru makan, kalau udah dingin nanti gak enak." Titah kak bara, aku mengangguk sambil memakan makanan yang sudah di siapkan oleh kak bara, bersyukurlah aku karena memiliki seorang kakak seperti kak bara yang baik hati dan juga sangat menyayangi diriku.
"Kakak, oca mau tanya... "
"Tanya apa?" Tanya kak bara menghentikan aktivitasnya memakan nasi. "Apa hal yang membuat seseorang mengalami pembulyian?" Tanyaku, menatap kak bara, jangan tanya kenapa aku bertanya seperti itu pada kak bara, kak bara kuliah mengambil jurusan psikologi hal ini sudah tak lagi asing dengan dirinya.
"Biasanya, ada suatu masalah yang menyebabkan seseorang di bully atau pun mengalami penghinaan." Jawab kak bara dengan santai, aku tahu kakak yang satu ini sangat pandai dan dapat di andalkan.
"Tapi kan kak, masa harus di jauhi oleh semua orang? Dan kenapa orang lain tak mau membantu saat melihat kejadian pembullyian itu." Jelasku dengan nada yang serius, ini adalah mengenai indra aku harus mencari tahu.
"Hmmm sepertinya hal itu terjadi karena masalalu seseorang yang mengalami pembullyian itu, ada sesuatu kisah di masalalu yang membuat orang menganggap seseorang itu sebagai seseorang yang patut di jauhi." Kak bara menatap kedua bola mataku dengan intens, aku sedikit gelagapan, karena takut kak bara tahu maksud dari pertanyaanku.
"Memang kenapa dek? Orang yang di bully itu adalah lelaki tadi yang mengantarkan mu pulang?" Ucap kak bara, aku tersentak bahkan aku tersedak hingga terbatuk.
"Bu-kan kak, aku hanya bertanya." Aku tersenyum kikuk, dengan segera menyelesaikan makan malam ku, "Aku akan pergi belajar, terimakasih atas makan malamnya kak bara." Aku berdiri dengan cepat menuju kamarku, fiuhh jangan sampai kak bara tahu bahwa orang yang di bully itu adalah indra, bisa gawat.
Aku mengambil ponsel miliku yang berada diatas nakas, melihat ruang chat di handphone ku yang sudah penuh dengan berbagai chat dari teman teman lamaku yang berada di bandung, dan juga grup angkatan sekolah, juga kelas, tapi ada satu pesan yang paling menarik perhatianku, pesan yang membuat diriku mengalami hipotermia secara mendadak.
Unknown
Aku indra, tolong simpan nomer ku, aku takut suatu saat nanti kau membutuhkan bantuanku.
Unknown
Seragam mu akan ku kembalikan esok, terimakasih atas hari ini, kau adalah orang pertama yang melakukan hal itu untukku, setelah 2 tahun lamanya.
__ADS_1
Jika ada typo tolong katakan, oke?