Dear Love School

Dear Love School
02. care


__ADS_3

Aku kebingungan, indra tiba tiba saja berdiri lalu pergi meninggalkanku setelah mengatakan itu, apa yang indra maksud?


Aku tak paham


Lalu tak lama ku lihat teman teman masuk kedalam kelas secara beriringan, kulihat juga ada yulan dan chika mereka terlihat sedang membicarakan hal lucu karena sedari tadi kulihat chika tertawa tiada henti.


Aku melihat mereka berdua datang kearahku, sambil tersenyum tak lupa dengan tawa yang masih terdengar, dan itu sangat lucu.


"Pagi oca!" Sapa chika dengan senyum yang merekah, aku menjawabnya dengan senyum kecil.


"Kamu sedang apa disitu?" Tanya yulan yang memperhatikan diriku yang masih duduk di sudut ruangan.


"Ahh? Hanya melihat-lihat keadaan kelas." Aku tersenyum kikuk, pasalnya yang aku takutkan mereka tahu aku baru saja bicara dengan indra, orang yang mereka hindari keberadaannya.


"Ohh, mari sini... Aku punya cerita lucu." Ucap chika, aku mengangguk lalu mendatangi mereka berdua, duduk di kursi ku.


Jadi aku saat ini duduk bersama dengan yulan, yulan bilang dia tidak akan bisa fokus belajar jika duduk satu meja bersama dengan chika, chika terlalu berisik.


"Kamu tau oca, chika bilang dia suka dengan mantan ketua osis, kamu tau kan ca kelas 12 ipa itu." cerita yulan dengan ekspresi yang meyakinkan tak lupa dengan putaran bola matanya yang menafsirkan betapa jijiknya yulan mendengar cikha menyukai mantan osis itu.


"Apasih yulan! Aku tak suka dengan rafi! Kan aku hanya bilang rafi itu tampan dan sangat rajin tidak bilang aku suka!" Elak chika dengan wajah merajuknya, aku semakin terbahak mendengar pertengkaran mereka berdua.


"Sudah sudah, jangan berdamai aku suka jika kalian bertengkar." Aku semakin terbahak ketika leean tiba tiba membuat kericuhan dengan memprofokasi yulan dan chika.


"Cukup cukup, ini masih pagi." lerai ku saat merasakan yulan dan chika mulai bertatap tatapan dengan sinis.


Aku mengatur nafasku yang tak karuan, karena sedari tadi lelah tertawa, begitulah yulan dan chika selalu ada saja masalah yang mereka buat, walau pada akhirnya sangat lucu tapi itu menggelikan.


Aku menatap kedua sahabatku ini setelah mengusap tetesan air mataku yang keluar karena terlalu banyak tertawa, ketahuilah selain mudah bergaul aku juga adalah gadis yang humoris dan sangat murah tersenyum.


"Jangan bertengkar, oke?" Aku melihat kedua sahabatku masih saja bertatapan dengan sinis, sepertinya chika masih marah kepada yulan karena membongkar rahasianya.


Aku hanya menggaruk garuk tengkuk tak tahu cara agar mereka berdua berdamai, walau ku tahu nanti mereka berdua akan berbaikan dengan sendirinya.


Tak lama anak anak berteriak menyerukan nama guru fisika kami, pak angga lelaki dengan kacamata min itu adalah guru fisika ku yang menyebalkan.


Sepertinya pak angga akan segera masuk kelas, benar saja tak lama kulihat pak angga melenggang memasuki ruangan kelas kami dengan santai sambil membawa setumpuk buku.


Yang kuyakini adalah tugas dan rumus yang membuat pening kepala.


***

__ADS_1


Setelah 4 jam pelajaran pak angga, aku yulan dan chika memutuskan untuk pergi ke kantin, kebetulan aku sangat lapar ternyata selain menguras pikiran pelajaran fisika juga menguras tenaga, menyebalkan!


"Kalian mau memakan apa?" Tanya yulan pada aku dan chika, aku sempat berfikir ingin memakan bakso tapi urung ku laksanakan karena tergoda dengan nasi uduk bu inem, kata yulan nasi uduk bu inem adalah nasi uduk yang sangat melegenda, memang si karena rasanya sangat enak dan harganya terjangkau.


"Aku mau nasi uduk lan!" Ucapku, yulan menagngguk lalu mengalihkan pandangannya pada chika.


"Gua batagor aja lan." Pinta chika dan langsung di hadiahi anggukan oleh yulan.


Sebenarnya yulan dan chika sering sekali berbicara bahasa betawi jika mereka sedang asyik berbicara berdua, tapi ketika bersama ku mereka lebih memilih menggunakan bahasa indonesia formal, karena kebetulan aku tak terlalu fasih berbahasa anak gaul.


  Yulan berjalan meninggalkan kami berdua untuk memesan makanan, keadaan kantin cukup ramai ada berbagai macam siswa yang tengah melakukan interaksi disini, yang paling banyak terdengar adalah suara tawa dari beberapa meja terlihat bercanda.


  Tak lama kulihat yulan menghampiri kami berdua, "Yuk cari tempat duduk, bu inem bilang pesanannya akan diantar." Yulan menarik tangan ku dan juga chika, gadis bedarah korea-indonesia ini sangat periang, yang membedakan nya dengan gadis korea lainnya adalah kulit yulan yang berwarna sawo matang.


  "Kita gabung sama grup sharon aja tuh!" Tunjuk chika pada segerombolan siswa yang tengah tertawa.


"Boleh... Lagian kayaknya sharon lagi gak sama geng nya, ayo!" Chika dan yulan berjalan mendekati meja sharon, di sana ku lihat ada devan dan juga audy.


  "Hai guy's! Izin gabung, boleh?" Tanya chika setelah sampai di depan meja mereka.


  "Chika? Ayo atuh sok gabung aja." Sharon menyetujui permintaan chika, kebetulan sharon juga teman sekelas ku, hanya saja ku dan dia jarang sekali bicara, tak terlalu dekat.


  Mungkin yulan menolak berkumpul dengan anak-anak yang memiliki jabatan dikelas, entahlah aku tak terlalu paham.


  Aku duduk di samping yulan, berhadapan langsung dengan devan, devan ini lelaki yang baik, dia menggunakan kacamata minus tapi tetap terlihat tampan dan juga bertanggung jawab.


  Aku merasakan yulan, chika, audy dan sharon tengah membicarakan hal yang lucu, karena sesekali kulihat mereka tertawa, sedangkan aku hanya menyimak pembicaraan mereka tak minta untuk sekedar memberi pendapat.


  Tak lama bi inem mengantarkan pesananku, aku tersenyum setelah bu inem memberikan ku sepiring nasi uduk lengkap dengan kerupuk dan lauk pauknya.


  "Selamat makan..." Ucapku pelan sambil menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutku, sambil tak henti menatap yulan dan temannya yang terus tertawa tiada henti, sedangkan devan sendiri memilih diam tak bersuara.


  "Oca?" Aku melirik arah suara itu, devan sudah menatapku dengan penuh tanda tanya, aku menautkan kedua alisku bingung.


  "Kamu menyukai musik?" Tanya devan, aku menggeleng setelahnya aku menjelaskan maksudku tak menyetujui pertanyaan devan.


 


  "Bukan tak suka, hanya kekurangan minat untuk mendalami." Jawabku melirik kearah devan.


  "Oppsss sorry? Your okey little boy?"

__ADS_1


Aku menoleh ketika mendapati suara ricuh di salah satu meja di kantin, yang kulihat indra terdiam dengan seragamnya yang sudah di basah karena siraman air teh, kurasa?


  Dan disana kulihat seorang gadis dengan angkuhnya menatap indra tak suka, aku mencibir, gadis itu terlihat bahagia saat melihat indra terdiam tak menjawab pertanyaan gadis itu.


  "Ohh come on dude? You can hit me? So i'm dead and you laughed so hard!" Tak cuma gadis dengan rambut berwarna biru itu, kulihat juga beberapa gadis ikut memperhatikan dari dekat.


  Yang kulihat indra hanya diam tak bergeming, dan bodohnya tak ada yang melerai pertengkaran ini, semua murid yang berada dikantin hanya diam menatap film gratis ini.


  Termasuk diriku yang tak paham apa apa.


  "Lo kan cowo! Coba pukul gue!" Tantang si cewe, aku cuma bisa memperhatikan indra juga tak banyak melawan.


  "Pengecut!" Cewe itu kembali menumpahkan es teh keatas rambut indra membuat semakin transparan baju seragam putihnya.


  Holly shit! Indra tak membalas perbuatan gadis itu, dan kini dia menjadi bahan tertawaan seluruh murid yang berada di kantin karena hinaan perempuan ini.


Aku geram, sudah ku ambil ancang ancang untuk mendatangi indra namun sebelum aku pergi aku merasakan sesuatu menahan tanganku, aku melihatnya yang ternyata devan.


  Aku melihatnya menggeleng kan kepala, memerintahkan agar aku jangan ikut campur dengan urusan mereka.


  Aku mengangguk, lalu kembali memperbaiki posisi duduku, tak melepaskan pandangan dari indra maupun gadis itu.


  Tak lama yang kulihat segerombolan perempuan itu pergi sambil tertawa tanpa rasa bersalah, ada yang salah? Kenapa indra tak mau melawan? Apa dia selemah itu?


  Aku menghela nafas tenang sambil menatap sisa nasi uduk yang belum kumakan, rasanya nafsu makan ku sudah hilang karena hal tadi.


  "Jangan dipikirkan... Indra baik baik saja." Ucap devan aku mengangguk mengerti walau sebenarnya hatiku masih begitu penasaran dengan semua ini.


  Tentang indra dan seluruh masalalu nya yang begitu misterius.


  Braaakkk


Aku terkejut saat mendengar dentuman keras, yang masih berada di sekitar kantin.


Aku menyusuri seluruh sudut kantin, dan aku membulatkan mata ketika melihat seorang murid laki laki sedang memukul indra dengan meninjunya.


Sialan!


Hai? Gimana? Ada yang mau kasih saran gak? Sok komen aja:) aku terima kok, tapi mohon gunakan bahasa yang baik yah? Dan jangan lupa vote dan komen:')


Tbc♡

__ADS_1


__ADS_2