Dear Love School

Dear Love School
bulshing


__ADS_3

❝Dia adalah hujan, tak akan bisa di tebak kehadirannya, kadang kehadirannya dibutuhkan, tapi kadang juga tidak di inginkan.❞


Roosevelt anindia adriana


***


Aku tersenyum melihat kata kata itu, sudah jelas dan susah pasti seseorang yang mengirim pesan itu adalah indra, lelaki dingin itu yang akan selalu membuatku tertarik.


Aku membalasnya dengan senyuman yang tak kunjung berhenti dari bibirku, lebih tepatnya aku sangat bahagia karena mendapat pesan dari indra. Yah katakan aku sudah berlebihan karena terlalu bahagia mendapatkan pesan dari indra.


Roosevelt anindia A.


[Oke, aku akan menyimpan no mu]


Roosevelt anindia A.


[Tak perlu khawatir, oh jaket mu juga akan ku kembalikan esok]


Aku meletakan ponselku setelah terdapat notif bahwa pesan ku untuk indra sudah terkirim, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dari debu dan juga melepaskan penat di hari ini dengan berendam di air panas, rasanya pasti menenangkan.


***


Aku menghela nafas panjang, merasa bosan dengan hari ini, siang ini aku sedang berada di perpustakaan sekolah, bukan untuk membaca buku, lebih tepatnya mengalihkan pikiran ku dari indra yang kembali ke sifat semulanya, pendiam dan seolah olah tak mengenali ku.


Entahlah, aku merasa aneh dengan diriku sendiri kenapa bisa-bisanya diriku terus memikirkan hal yang belum tentu dipikiran oleh indra. Aku sudah membaca 2 novel, dan masih ada pula sisa sisa di atas mejaku, termasuk buku pelajaran. Aku tak memiliki selera hari ini, sebenarnya tadi yulan dan chika mengajakku untuk pergi ke kantin, tapi aku menolaknya dan berakhirlah di perpustakaan yang keadaan sepi ini.


Ku tatap indahnya langit yang berwarna biru siang ini, sinar mentari tak terlalu menyorot bumi, tapi aku menyukai udaranya, tak dingin tak juga panas. Pandanganku beralih pada sebuah paper bag berwarna cokelat milikku, yang didalam nya terdapat jaket milik indra.

__ADS_1


Ya seperti ucapanku kemarin, bahwa aku akan mengembalikan jaket ini pada indra, tapi entah kapan aku bisa mengembalikannya, sementara indra sendiri seperti menjauh dariku.


Dia adalah hujan, tak akan bisa di tebak kehadirannya, kadang kehadirannya dibutuhkan, tapi kadang juga tidak di inginkan. Tapi walaupun begitu, aku akan selalu bersyukur, karena dengan hadirnya dia, dunia ku serasa menjadi berwarna.


"Kau disini untuk membaca buku atau melamun?"


Aku reflek menoleh, mengalihkan pandanganku dari sang langit, dan ternyata yang sedang duduk disamping ku ini adalah sang hujan, bukan hanya hujan tapi juga bintang.


Aku tersenyum tipis, dengan tatapan yang tak beralih dari indra, lelaki ini sangat sempurna tapi kenapa dia begitu dibenci oleh banyak orang.


"Aku sedang membaca buku, hanya kebetulan hanyut dalam pikiran." Jawabku sambil membenarkan helaian rambutku yang melewati mata.


"Kau suka sejarah?" Tanyanya sambil mengambil buku sejarah yang kubawa, menyibak setiap lembarannya, menampilkan tulisan yang sudah lama dengan berbagai bahasa kuno yang sulit di mengerti.


"Ya, aku menyukainya." Tak mengalihkan pandanganku dari indra, dia akan selalu menjadi pusat perhatianku, karena sejujurnya tak ada yang kurang dari indra, dia tampan, dia baik, dan dia perhatian, setidaknya itulah sikap baik yang kutangkap dari indra.


"Bagus... Jangan pernah melupakan sejarah, karena kisahnya terbentuk karena perjuangan. Termasuk kisah masalalu harus selalu dikenang walau alurnya menyakitkan." Aku membuka kedua mataku lebar-lebar, apa yang ku dengar tadi? Aku tertawa pelan.


"Ini milikmu, terimakasih." Aku memberikan paper bag yang berisi jaket milik indra, "Ini juga milikmu, terimakasih." Aku tersenyum menerima sebuah paper bag berwarna soft pink, yang kuyakini berisi pakaianku.


Aku lalu berdiri membawa beberapa buku yang berserakan diatas meja, walau dengan susah payah aku berhasil membawa semuanya. "Aku akan pergi ke kantin, sekali lagi terimakasih." Aku meninggalkan indra yang masih diam tak menatap sedikitpun ke arah ku.


Lalu aku memutuskan untuk berjalan dengan membawa buku buku tadi, susah payah aku mulai mengembalikan buku-buku tadi ke tempat semulanya, dan ini adalah buku terakhir, buku sejarah dengan tebal halaman 700 lebar, yang penuh dengan kisah masalalu dan juga berbagai makhluk bersejarah.


Aku berdiri di depan rak buku khusus sejarah, aku kebingungan karena tak ada tangga di sini, sementara aku harus menaruh buku ini ke rak paling atas, aku melihat sekeliling, sepi sekali, penjaga perpustakaan mungkin sudah keluar untuk beristirahat.


Aku menghela nafas berat, dengan sekuat tenaga mencoba menggapai bagian atas rak itu, aku memang terlalu pendek untuk menggapai bagian atas itu, tapi kemudian aku merasa tubuhku di angkat oleh seseorang, aku sempat menggeliat tak nyaman, sampai akhirnya yang kulihat adalah indra yang tengah menggendong tubuhku untuk mencapai bagian atas lemari.

__ADS_1


"Ayo, simpan." Kata indra yang tak bisa jelas kulihat wajahnya, aku dengan gemetar menyimpan buku itu ketempatnya semula, ini gila apa yang indra lakukan, dia menggendongku?


Setelahnya indra menurunkan aku, membuatku kembali bisa memijak lantai walau dengan perasaan kalang kabut, karena perlakuan indra tadi, oh ayolah siapa yang tidak akan merasa terkejut jika di perlakukan seperti itu, oleh orang yang memiliki sifat aneh seperti indra.


Aku membalikkan tubuhku, hingga bertemu dengan indra yang masih berada dibelakangku, aku tersenyum tipis. "Terimakasih" Ucapku, lalu pergi dengan membawa paper bag tadi.


Ini sungguh gila, aku merasa indra memiliki banyak hal yang belum ku ketahui segalanya, dia bisa cuek di satu sisi dan tiba tiba menjadi care di sisi yang lain, jika indra terus bersikap seperti ini, aku tak tahu jantungku akan bertahan berapa lama.


Karena terlalu kaget, aku berjalan dengan arah yang tak jelas hingga berakhir dikantin sekolah, padahal aku tak sempat berfikir untuk datang ketempat ini, sudahlah kebetulan aku juga lapar.


Aku duduk disalah satu meja yang kosong, kantin sudah cukup sepi, karena sebentar lagi jam pelajaran akan segera dimulai, tak apa aku hanya ingin minum untuk menyegarkan tenggorokan dan juga menenangkan pikiran.


Aku sudah memesan pop ice pada ibu kantin yang sebentar lagi pasti akan di antarkan olehnya, sambil menunggu pesanan aku kembali melamun, indra akhhhh kenapa denganku? Aku tak bisa berhenti memikirkan lelaki itu, apakah dia mempunyai kepribadian ganda? Sifatnya akan selalu berubah sewaktu-waktu, dan sifatnya membuatku kebingungan.


"Oca?" Aku tersentak kaget, ketika tiba tiba seseorang menepuk pundakku, membuat segala lamunan ku buyar, astaga siapa yang mengganggu ku ketika aku sedang melamun.


Aku menoleh, jika yang menepuk pundak ku tadi adalah yulan ataupun chika, hendak ku marahi karena menganggu waktu melamunku, namun aku salah, seseorang yang berada disamping ku adalah lelaki dengan tubuh tinggi atletis, wajah putih juga rambutnya yang berwarna cokelat.


Tertegun sebentar, dengan lekat aku menatap lekaki itu yang masih berdiri di belakangku, deja vu aku merasakan hal itu saat melihat lelaki ini, aku mencoba mengingat apakah aku pernah bertemu dengannya?


Sampai sekelebat memori melintas di otakku, dia... Lelaki ini adalah lelaki yang melakukan pemukulan pada indra kemarin saat di kantin, aku melotot lalu dengan cepat mengerjap sambil menjauhkan tubuhku darinya, aku ketakutan, jujur, aksi yang dilakukan kemarin olehnya, sangat tak berperikemanusiaan, dia memukul seseorang tanpa ampun, aku sudah meng claim bahwa lelaki yang kini duduk disampingku memiliki penyakit kelainan jiwa, ataupun mungkin dia psychopath, yah... Yah mungkin saja dugaan ku benar.


"Hey? Kau ketakutan, kenapa?" Ucapnya dengan santai padaku, aku menggeleng dengan wajah yang mungkin sudah pucat karena yang kurasakan keringat dingin bercucuran di pelipisku.


"Oh ayolah, aku tak semenakutkan itu, kau melihatku melakukan pemukulan kemarin di kantin?" tanyanya dengan ekspresi wajah yang sangat penasaran, aku menggeleng pelan, seolah tak mengetahui bahwa kemarin aku melihat aksi pemukulan itu.


"Ya, kau melihatnya, aku tak seburuk itu, namaku glen, aku melakukan pemukulan itu hanya untuk bersenang-senang." Jelasnya, aku kembali melotot, dia gila, dia mengatakan bahwa hal yang kemarin dia lakukan hanya untuk bersenang senang? Hal bodoh apa yang dia ucapkan.

__ADS_1


Tak lama kulihat bibi kantin mengantarkan minuman milikku, mencairkan suasana mencekam antara aku dan lelaki ini, siapa namanya? Oh yah, glen.


"Namamu Roosevelt anindia adriana bukan?" Tanyanya lagi, yang kujawab dengan anggukan kecil sambil membenarkan posisi dudukku dan juga dengan keadaan ku yang tidak baik baik saja.


__ADS_2