
❝Jika suatu saat nanti kau tidak mencintaiku lagi, aku tidak akan menyerah, akan ku ceritakan padamu kisah tentang perjuangan hubungan kita di masalalu, agar kau ingat hanya ada aku yang selalu tulus mencintaimu❞
Kaylindra zeiden pratama
***
Hari ini merupakan peringatan ke seminggu hubungan ku dengan indra, pagi tadi bahkan aku sempat mencubit kulitku sendiri, karena tak menyangka aku bisa berpacaran dengan seseorang yang di anggap misterius oleh semua orang.
Kaylindra zeiden pratama
Lelaki yang selalu ku perhatikan gerak-geriknya, yang disetiap dia berkata akan selalu ada aku yang memperhatikan ucapannya. Dimana ketika dia pergi, ada aku yang selalu menatapnya, lelaki yang dulu ku anggap 'aneh' dengan segala sikapnya, akhirnya bersama dengan ku dalam ikatan hubungan.
Seminggu ini banyak hal yang tak aku ketahui dari indra, ku pikir indra akan kaku, dan sangat asing dengan namanya 'berpacaran'. Namun, nyatanya aku salah, lelaki dengan senyuman manis iti merupakan lelaki yang sangat romantis, di setiap ketikannya pada ku melalui WA akan terselip beberapa kalimat puitis yang entah sengaja atau tidak.
Seperti ini
Jika suatu saat nanti kau tidak mencintaiku lagi, aku tidak akan menyerah, akan ku ceritakan padamu kisah tentang perjuangan hubungan kita di masalalu, agar kau ingat hanya ada aku yang selalu tulus mencintaimu
Aneh memang, padahal aku hanya bertanya bagaimana jika suatu saat nanti aku tak mencintainya lagi. Dan satu lagi, indra romantis, sangat romantis, hampir setiap hari lelaki itu mengirimkan cokelat kerumahku, cokelat berbentuk hati juga dengan sebuket bunga mawar merah, aku sempat bertanya kenapa harus bunga mawar berwarna merah dan dirinya menjawab.
Karena warna merah tengah menggambarkan perasaan ku saat ini, bahagia karena akhirnya dicintai oleh gadis istimewa seperti mu.
Aneh lagi untuk indra.
"Kok melamun." Aku terkejut dan tersentak begitu mendengar suata berat kak bara, dengan cepat aku kembali melakukan tugas ku yaitu memotong bawang merah.
"Lagi mikirin indra yah?" Godanya sambil mencolek dagu ku.
Aku menepis tangan kak bara, lalu menatapnya tak suka. "Apasih kak, udah tuh nanti gosong." Aku mengalihkan pembicaraan kak bara dengan alasan ikan yang tengah ia goreng akan gosong.
Ya, pagi ini aku dan kak bara tengah membuat sarapan pagi, hari ini adalah hari senin, seperti biasa ayah dan bunda akan selalu sibuk, sedangkan kak bara hari ini ada jam kuliah siang nanti, jadi dia masih memiliki waktu untuku. Liburan sekolah akan berakhir senin depan, aku tak berlibur kemana pun karena kesibukan kedua orang tuaku yang tak dapat di tunda, aku memakluminya.
"Ca, tumben yah pa—"
Ting tong ting tong
Aku melirik kearah pintu utama, suara bel berbunyi. Dengan segera aku meninggalkan pekerjaan ku untuk melihat siapa yang datang, tapi aku sudah yakin yang datang ini adalah seseorang yang satu minggu ini sering datang kerumahku di pagi hari.
Begitu aku membuka pintu, aku tersenyum, ternyata benar dugaan ku, lelaki ini yang datang.
"Hallo selamat pagi." Sapanya dengan ramah.
"Pagi." Jawabku.
"Seperti biasa mba, tapi kali ini lebih besar." Ucapnya menunjuk sebuah kardus besar yang ia letakan di sampingnya.
Aku terperangah, karena kardus ini sangatlah besar, sempat berpikir apa yang dia masukan kedalam kardus sebesar ini.
"Wow."
"Ini mba, tanda tangani terlebih dahulu." Tukang paket yang masih menggunakan helm bewarna merahnya ini menyerahkan sebuah kertas dan juga pulpen padaku, dengan segera aku mentanda tanganinya.
"Apakah ini berat?" Tanyaku.
"Tidak mba, ini tidak berat, mba bisa mencoba mengangkatnya."
"Oke terimakasih." Ucapku, setelahnya sang kurir tadi pergi, biasanya dia akan menaiki motor tapi pagi ini dia membawa mobil box berwarna merah.
Aku menatap kardus berwarna cokelat yang berada di hadapanku, aku sempat mendengus, paket ini lagi, aku bukannya tak bersyukur hanya saja ini terlalu berlebihan menerutku. Apakah harus setiap hari indra mengirimi ku hadiah, entah cokelat, bunga atau barang-barang yang lain?
Dan setiap aaku mengeluh dengan apa yang ia berikan, lelaki itu hanya akan menjawab dengan kata-kata puitis seperti biasanya, ingin marah pun tak jadi ketika membaca untaian kata yang ia tulis didalam paket yang selalu ia berikan.
Aku dengan cepat mengangkat kardus itu, ternyata benar apa yang di katakan oleh kurir tadi, kardus ini tidak berat, bahkan sangat ringan. Sempat berpikir apa yang indra berikan kali ini padaku.
Aku menyimpan kardus itu diatas meja di ruang tamu, dengan cepat berlari mengambil gunting untuk membuka lakban yang mengunci bagian atas kardus. Setelah mengambil gunting dengan segera aku membukanya, sedikit penasaran dengan isinya, aku terkejut begitu membuka bagian atas kardus, diatas sini aku melihat sebuah boneka teddy bear berwarna cokelat yang sangat besar terbungkus sebuah plastik transparan, aku terlalu senang dengan segera mengeluarkan boneka itu dari dalam kardus.
Aku kembali terperangah, karena begitu melihat bagian depan boneka terdapat boneka kecil lain yang saling berpelukan, jadi boneka besar itu memeluk dua boneka yang sedang berpelukan. Pada bagian atas plastik diberi sebuah pita berwarna pink, juga sebuah amplop berwarna putih dengan hiasan sehelai daun.
Inilah yang biasanya aku nanti-nantikan dari hadiah pemberian indra, biasanya lelaki itu akan selalu menyelipkan sepucuk surat berisi ungkapan hatinya yang terkadang membuat aku malu sendiri untuk membacanya.
Karena penasaran aku segera mengambil amplop itu, lalu membukanya. Membaca tulisan rapih latin miring yang sangat khas dari seorang kaylindra.
Selamat pagi matahari ku,
Kau tahu definisi apa yang cocok untuk menggambarkan dirimu?
__ADS_1
Menurutku kau sangat cocok jika menjadi mentari
Selalu bersinar memberikan kehangatan dan juga kecerian ketika sang bulan pergi meninggalkan malam.
Seperti dirimu, kau datang pada kehidupan ku yang suram, memberikan banyak penerangan untuk ku gunakan mencari jalan kebahagian yang selama ini tak aku temukan.
Ya, kau matahari dan cahaya hidup ku.
Oca
—indra, sang bintang
malam yang kesepian.
Aku tersentuh dengan sepucuk surat itu, membawa kertas berwarna kuning itu pada dekapan ku. Merasa sangat bahagia, padahal iini hanya sebuah surat sederhana yang mungkin sudah biasa ditulis oleh indra.
Benar, apa yang dikatanya, dia akan banyak memberikan aku cinta, padahal baru seminggu bersama dengannya aku sudah mendapatkan hal yang sebelumnya tak pernah ku dapatkan.
Sempat aku bertanya padanya, kenapa dia mengirimi surat seperti ini. Kenapa tidak langsung chat saja, toh aku juga tak pernah membalas suratnya. Tapi indra berkata, menulis pada secarik kertas lebih membahagiakan ketibang menulis pada layar smartphone.
Aku pernah merasakanya, yang memang. Sangat menyenangkan.
"Wah indra ternyata romantis yah."
Aku sempat tersentak kaget, sampai memegangi dadaku sendiri karena suara kak bara yang berada dibelakangku. Dengan cepat juga aku menyembunyikan kertas itu, tak ingin kak bara melihatnya walau pasti kak bara sudah membacanya tadi, sungguh menyebalkan punya kakak seperti kak bara .
"WOW, boneka, so sweet banget." Ucap kak bara sambil mengambil boneka besar itu.
"Apa sih kak."
"Kayanya nih, indra bucin banget sama kamu dek." Kata kak bara, aku hanya merollingkan mata malas.
"Ya kalau gak bucin, mana mungkin indra pacaran sama aku kak." Jawabku asal.
Aku mengambil boneka yang sekarang tengah di pegang kak bara. "Sini, aku mau ke atas. Kakak terusin aja masaknya yah." Ucapku membawa boneka itu dengan sedikit berlari, mengucapkan selamat karena berhasil kabur dari kak bara.
Untungnya kak bara juga tak banyak protes, sepertinya dia cukup peka dengan kondisi ku sekarang.
***
"DEK!! indranya nih!!" Suara kencang itu membuat aku buru-buru merapihkan rambutku dengan segera, sesekali melihat kaca lagi untuk menyempurnakan kecantikanku.
Aku yang mendapatkan omelan kak bara hanya bisa tersenyum kuda, membalas tatapan galaknya yang sengaja di buat-buat.
"Kak aku berangkat yah." Pamitku.
Kak bara hanya mengangguk, kemudian tersenyum padaku mengusap sekilas rambut panjangku yang sengaja ku ikat satu. "Hati-hati jangan pulang malam-malam yah." Nasehatnya, aku hanya menjawabnya dengan senyuman tipis sambil berlalu pergi dari hadapannya.
"Dadah kak bara!!" Teriak ku dari kejauhan, berlari menuju pintu depan untuk melihat kekasih ku yang sangat tampan.
Pastinya, indrakan memang tampan, aku tidak berbohong tentang hal itu. Begitu aku membuka gerbang rumahku, aku sudah menemukan sesosok lelaki dengan rambut yang sudah cukup panjang, wajahnya terlihat begitu bahagia dengan senyuman manis yang biasa ia tampilkan.
Aku mendatanginya, walau tatapan kami sudah bertemu sejak aku membuka pintu gerbang, namun tatapan indra tak teralihkan, dia terus menatapku dengan senyumannya. Aku sempat merasa gugup dan malu, apalagi dengan indra rasanya memang berbeda.
"Selamat pagi." Sapaku begitu tepat berada dihadapannya.
"Selamat pagi, oh iya apakah kita berjanji untuk memakai pakaian berwarna sama?" Tanyanya.
Aku sempat kebingungan sampai akhirnya menyadari bahwa warna pakaian kami sama, indra dengan celana jeansnya yang berwarna biru telur asin, aku dengan baju jumpsuit bahan jeans berwarna telur asin. Aku sempat terkekeh, padahal aku tak tahu bahwa dia juga menggunakan pakaian yang berwarna sama denganku.
"Mungkin kita berjodoh." Jawabku lalu tertawa pelan.
Indra hanya tersenyum, lalu memberikan helm yang ditaruhnya pada bagian depan motornya padaku. Aku memakainya dengan cepat, sambil menaiki motor scooter berwarna merah miliknya.
"Sudah?" Tanyanya.
"Sudah."
Setelah aku menjawab bahwa aku siap, motor indra mulai melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumahku, aku sempat melambaikan tangan begitu melihat kak bara berdiri didepan pintu utama rumah.
"Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?" Tanya indra dengan suara yang cukup keras.
"Nyenyak, bagaimana denganmu?" Aku berbalik bertanya pada indra, sedikit memiringkan kepalaku kesebelah kiri supaya indra bisa mendengar jawabanku.
"Tidak, semalam aku tidak bisa tidur." Jawabnya dengan nada suntuk, aku menyerengitkan alis bingung, apakah indra baik-baik saja?
"Kenapa? Kenapa tidak bisa tidur?" Tanyaku khawatir.
"Semalam aku tidak bisa tertidur karena memikirkan betapa beruntungnya diriku bisa memiliki gadis istimewa seperti mu." Jawabnya, setelahnya terdengar kekehan kecil.
__ADS_1
Aku tersipu malu, sempat merespon ucapan indra tadi dengan tawa kecil, karena blushing dengan apa yang ia katakan. Romantis, selama seminggu berpacaran dengan indra ada banyak hal yang sebelumnya tak pernah aku ketahui dari sosok indra termasuk dirinya yang merupakan lelaki romantis dengan segala ucapan manisnya.
"Gombal." Jawabku setelah menetralkan jantungku yang berdegup begitu kencang.
"Itu kenyataan, aku tidak berbohong. Apakah kau pernah menyesal pernah menerima aku?" Tanyanya kemudian.
Aku dengan segera menggeleng, walau indra tak mungkin melihat gelengan kepalaku, namun dengan segera aku memeluk indra dari belakang dengan sangat erat, menyandarkan kepalaku pada bahunya seperti waktu itu.
"Aku tidak pernah menyesalinya, karena aku sangat bahagia bisa dimiliki oleh mu." Ucapku pelan.
Tak ada jawaban dari lelaki itu, hanya gerakan tangannya yang kini mengusap pelan telapak tanganku yang berada pada bagian pinggangnya.
Indra, lelaki itu benar-benar akan selalu menjadi canduku dan alasanku terus bahagia, walau dunia tengah berduka.
***
"Wah, time zone." Ucapku senang begitu memasuki kawasan time zone yang cukup luas.
Aku bersama indra berjalan masuk kedunia yang penuh dengan permainan itu, saling berganteng tangan. Tadinya ku pikir indra hanya akan mengajakku ke gramedia seperti apa yang dia katakan padaku, bahwa dia hanya ingin minta ku temani membeli buku, tapi nyatanya belum sampai ke tempat gramedia indra sudah mengajakku ke mall dengan alasan lebih baik membeli buku di toko gramedia yang berada di mall saja.
Dan belum juga sampai ke toko gramedia, dia sudah mengajakku kemari. Dasar indra.
"Kau boleh memainkan apapun yang kau ingin." Ucap indra padaku.
Aku tersenyum tipis, sebenarnya merasa tidak enak karena terus merepotkan indra, dari awal bertemu dengan lelaki itu sampai sekarang memiliki sebuah hubungan aku selalu bergantung pada indra, terkadang aku sudah berusaha menolak apapun pemberian indra, namun lelaki itu terus memaksa, dan meminta diriku untuk menerima apa pemberiannya.
"Hari ini aku yang traktir." Ucapku dengan girang.
"Aku saja, perempuan tidak perlu mengeluarkan uang." Jawabnya dengan nada santai.
Aku dengan segera menggeleng, menolak ucapannya. "Pokoknya kali ini aku yang traktik, sebagai tanda terima kasihku, karena bisa bersama dengan indra." Jawabku lagi, tak lupa menyertakan sebuah senyuman lebarku.
Jawaban dari indra hanya sebuah anggukan yang aku anggap pernyataan setuju dan menerima apa yang ku katakan. "Ayo, aku ingin bermain ini." Dengan girang aku menarik tangan indra untuk mengikuti langkahku menuju sebuah permainan.
Aku berhenti didepan sebuah permainan bola basket, disana ada keranjang berisi bola basket dan ada sebuah ring pada bagian depannya. Sebelumnya aku sudah membeli sebuah tiket dan diberikan kartu, jadi jika aku ingin bermain tinggal ku pakai kartu itu.
Setelah aku menggesekan kartu pada tempatnya, permainan dimulai, aku diberi waktu 60 detik untuk memasukan sebanyak-banyaknya bola kedalam kerajang yang berada di bagian atas. Aku sedikit kesusahan begitu memasukan bola kedalam jaring, apalagi tinggi badanku yang tidak memadai, waktu 60 detik pun habis, aku hanya bisa memasukan 2 bola basket kedalam keranjanh.
Menghela nafas kecewa, aku langsung merasa lemas karena tak berhasil mencetak rekor. "Sudahlah, kau sudah berusaha dengan baik." Puji indra sambil mengusap pelan pucuk kepalaku.
"Ya, kau benar." Jawabku berusaha memberikan sebuah senyuman pada indra.
"Bagaimana kalau sekarang kau yang main?" Tawarku pada indra.
Indra sempat menolak dengan menggelengkan kepalanya, namun aku terus memaksa indra agar mau bermain bola basket ini.
"Baiklah." Pasrahnya dengan senyuman tipis yang akan selalu menawan dimataku.
Permainan indra dimulai, waktu terus berjalan, indra terus berpacu dengan waktu tapi aku sungguh terkejut karena dari awal permainan dimulai bola lemparan indra tak ada yang meleset, semua mencetak gol yang bagus dan pas.
Waktu habis dan aku begitu tercenang begitu terpampang jelas berapa bola yang masuk kedalam kerajang, 20 bola dalam 1 menit, apakah itu masuk akal? Bagaimana bisa?
"Wow, kau memiliki bakat terpendam rupanya." Kelakarku sambil menggoda indra.
Indra hanya tertawa kecil, kemudian mengambil kupon yang keluar dari dalam mesin sebanyak 200 lembar, lumayan saat pulang nanti bisa ku tukar dengan hadiah.
***
Aku sangat senang karena hasil dari bermain di time zone tadi aku mendapatkan boneka litle pony yaitu pinkie pie. Juga beberapa hadiah lain seperti jam tangan, boneka kecil hingga sepasang botol minum dari hasil kupon yang kami dapatkan.
"Kemarikan biar ku bantu." Indra mengambil paper bag berisi hadiah yang aku dapatkan.
Kami sudah selesai bermain ditime zone dan memutuskan untuk keluar darisana untuk mencari makan, lapar, dan sekarang sudah masuk waktu jam makan siang.
"Mau makan apa?" Tanya Indra.
Kami berdua tengah berjalan-jalan disekitar mall, tujuannya hanya untuk mencari toko gramedia yang sedari tadi tak kami temukan walau sudah bertanya pada beberapa orang.
Namun, aku cukup terkejut begitu pandanganku menemukan sesosok lelaki aneh yang selalu membuatku risih dengan segala sikapnya, tengah berdiri tak jauh dari kami berdua menatap kami dengan senyuman aneh yang menyeramkan.
"Jadi ini yang membuat mu menolaku oca?" Ucap glen dengan nada santai namun dingin nan tajam.
***
__ADS_1