
❝Kau tidak akan bisa membuat ku tertawa jika kau sendiri tidak bahagia, jangan lupa jaga kesehatan, maaf aku tak bisa mendampingi mu ketika aku masih takut menghadapi kenyataan❞
Kaylindra zeiden pratama
***
"Kenapa? Ada masalah denganmu?" Tanyaku tak kalah ketus dan tajam.
"Hahahah, bodoh kamu perempuan terbodoh yang pernah ku temui oca." Hinanya dengan smrik diwajahnya.
"Jaga bicaramu!"
Aku sempat terkejut tak kala indra mengeluarkan suara yang membela diriku, wajahnya datar tanpa ekspresi terlihat tak senang dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh glen.
"Oh, lo berani? Sini!" Bentak glen yang sudah menarik kaos pada bagian leher indra.
Aku semakin kalang kabut begitu indra menatap glen dengan sangat tajam, jika tak dilerai pasti akan terjadi perkelahian yang cukup besar, karena tak mau itu terjadi aku dengan segera memanggil satpam untuk memisahkan mereka berdua, walau hanya bertatap-tatapan tapi aku yakin jika tak di lerai mereka berdua akan berkelahi.
"KALAU KALIAN MAU BERTENGKAR LEBIH BAIK DI LUAR SAJA! MENGANGGU PENGUNJUNG YANG LAIN!" Bentak seorang satpam yang tadi ku panggil.
Glen dan indra yang mendengar teriakan itu langsung memisahkan diri, tak lagi menatap tajam satu sama lain seperti tadi. Glen sudah melengos melewati tubuhku, walau samar ku dengar ucapannya yang membuat aku menggeram, lelaki brengsek yang tak punya hati seperti glen memang tak pantas untuk di maafkan.
Aku menghela nafas panjang, berusaha untuk tak marah dengan apa yang dikatakan oleh glen tadi, aku kesal, tentunya acara kencan ku dengan indra harus hancur hanya gara-gara seorang glen yang begitu menjengkelkan.
Ingin sekali aku memukul lelaki dengan wajah blasteran bule itu, menyebalkan.
"Ca, kau tak apa-apa."
Aku tersentak, kembali ke dunia nyata setelah mendengar panggilan indra.
"Ya, aku baik-baik saja. Ayo, aku lapar." Ajak ku berusaha mencairkan suasana yang sedikit kaku.
***
"Ayo!! Kita ke kantin, aku rindu makanan kantin." Teriak chika semangat, wajahnya berbinar begitu membahas makanan terutama makanan yang berada di kantin.
Aku hanya tertawa pelan, merasa senang melihat chika yang begitu bersemangat, jujur aku merindukan sikap chika yang optimis dan pantang menyerah ini. "Ayo ca." Ajak yulan sambil menarik pergelangan tanganku pelan.
Aku mengikuti langkah mereka berdua, terkadang mereka juga membahas hal-hal yang mereka lakukan selama liburan. "Ca, kamu liburan kemana?" Tanya chika yang sadar aku hanya mengekor dari belakang.
"Gak kemana-mana, ayah dan bunda ku sibuk." Jawabku setengah berbohong.
Ya, aku jujur tentang kedua orang tuaku yang memang sibuk dan untuk tidak pergi kemana-mana, aku berbohong karena selama dua minggu kemarin indra sering mengajakku pergi jalan-jalan, berdua saja tentunya.
"Yahh, sayang banget, kalau tahu kamu gak sibuk tadinya ingin ku ajak ke korea." Timpal yulan yang menyayangkan liburan ku habis sia-sia.
Aku membalas ucapan yulan dengan senyuman, tak berniat menimpali ataupun mengomentari ajakan yulan yang pastinya tidak dapat terjadi karena sudah berlalu.
"Oh iya, yulan ke korea ada acara apa?" Tanya chika, si gadis berambut bob yang periang dan penuh tawa.
"Hanya kumpul keluarga biasa." Jawab yulan.
Chika yang memang selalu penasaran dengan kehidupan orang lain, juga hiperaktif disegala tempat membuat percakapan antara yulan dan dirinya berlangsung begitu lama, banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh chika, entah tentang hal kecil maupun sesuatu yang tak penting pun di pertanyakan.
Aku hanya ikut menyimak, terkadang menjawab sekenanya ucapan chika, yang memintaku untuk ikut berpendapat sama seperti dirinya. Aku tak pandai mencari topik, jadi jika aku kehabisan pertanyaan, maka pembicaraan pun selesai, tak ada basa-basi seperti apa yang di lakukan chika kini.
Tak terasa kami sudah memasuki area kantin yang begitu ramai. "Padahal baru hari pertama sekolah, kantin udah rame banget." Komentar chika yang melihat kepadatan di kantin sekolah.
Aku megangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh chika, hari pertama sekolah memang belum di mulai pembelajaran yang intensif, murid dibiarkan bercanda, bertemu dan menyalurkan rindu setelah hampir 2 minggu tak bertemu.
"Agak males kalau ramai gini." Keluh yulan yang memang tak betah dengan keramaian, yulan memang sangat tenang, lebih suka kedamaian juga kesunyian yang menyejukan pendengaran.
"Ayo dong, masa hari pertama sekolah gak makan soto, pliss yah, aku yang cari tempat deh." Bujuk chika memohon pada aku dan yulan.
Aku sempat saling melirik dengan yulan, menanyakan apakah harus menuruti permintaan chika yang satu ini. Setelah tahu apa jawabnnya, aku dan yulan serentak mengangguk, tanda setuju dengan keinginan chika.
"YES! kalau begitu, ah—itu dia." Pekik chika yang langsung berlari dengan sangat cepat untuk mengambil sebuah meja kosong yang baru saja ditinggalkan oleh murid sebelumnya.
"OCA, YULAN, SINI!!" Teriak chika dengan suara yang sangat tinggi, untungnya suasana kantin sangat riuh siang ini, sehingga suara chika tak terlalu terdengar oleh orang lain.
Aku dengan yulan hanya bisa cengo, sambil mendatangi meja yang sudah dipilih oleh chika, mejanya berada diujung, dekat pembatas. "Chika berisik banget sih." Ucap yulan yang baru saja duduk dikursinya.
"Maaf, abisnya takut gak kedengaran." Bela chika, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku, merasa sudah biasa dengan tingkah mereka berdua.
"Ayo, kalian mau pesen apa? Aku yang traktik." Ucapku pada mereka berdua.
Mendengar tentang traktiran, yulan dan chika langsung menujukan raut bahagia. "Tumben banget ca, ada apa ini?" Tanya yulan yang tahu aku tak akan mentraktir seseorang tanpa alasan yanh jelas.
"Hanya sedang mendapatkan rezeki." Jawabku asal, padahal ini sebagai perayaan aku jadian dengan indra, tapi aku tak ingin mereka tahu dulu tentang hubunganku, pasti mereka akan menentangnya jika mereka tahu.
"Asik, oke deh, aku yang pesenin." Ujar yulam yang sudah berdiri dari duduknya.
"Aku mau, soto." Ucap chika .
__ADS_1
"Aku juga, batagor aja." Aku ikut menambahkan.
"Oke, oke batagor 2 soto 1, minumnya es teh manis aja?" Tanya yulan lagi.
Aku dan chika mengangguk serentak, meng-iyakan pertanyaan yulan tentang minuman yang akan kami pesan.
Setelahnya yulan pergi untuk memesan makan, meninggalkan aku dan chika berdua. "Ca."
"Hm, kenapa?" Tanyaku.
"Kak bara kabarnya gimana?" Tanya chika.
Aku sempat menatap chika lalu terkekeh, kak bara lelaki dengan wajah tampan itu selalu menjadi primadona banyak gadis karena ketampanannya.
"Dia baik kok, kangen yah?" Godaku.
chika malah menutup wajahnya, malu. Karena seperti apa dugaanku, chika rindu dengan kak bara.
"Kamu beneran suka sama kak bara?" Tanyaku lagi.
Chika dengan antusias menganggukan kepalanya, menatapku dengan serius seakan meminta arti pertanyaanku.
"Kalau kamu bener-bener suka sama kak bara, nanti aku bantu pdkt, gimana?" Tawarku.
"Serius? Beneran ca, kamu mau bantu?" Tanya chika lagi dengan wajah kesenangan.
"Iya, aku bantu kok."
"ASIK!! Makasih oca." Teriak chika girang.
Aku ikut membalas teriakan girang chika dengan tawa. "Heh, rame banget ada apa?" Aku melirik asal suara itu, yang tentunya saja seorang yulan yang datang membawa sebuah nampan berisi 2 piring batagor dan 1 mangkuk soto.
"Tidak ada apa-apa." Jawabku dengan sangat cepat, tak ingin kalau chika yang menjawabnya pasti akan terjadi banyak kesalahanpahaman, tentang aku yang berniat membantu chika dekat dengan kak bara.
"Oh, ini makanan kalian." Yulan memberikan pesanan kami masing-masing.
"Es nya nanti nyusul." Tambah yulan lagi.
"Terimakasih yulan." Ucapku, lalu memakan batagor yang kupesan tadi.
Kami makan dalam diam, terutama chika yang begitu menikmati rasa soto yang dia pesan, terkadang terdengar pujian kecil saat chika merasakan nikmat pada makanan yang kini tengah ia santap.
Aku hanya sesekali terkekeh, diantara aku dan yulan, hanya chika lah yang paling terbuka dengan segala masalahnya, entah tentang masalah percintaannya maupun keluarganya, chika selalu menceritakannya kepada kami berdua, chika bilang dia tak pernah sanggup menahan suatu beban sendirian, dia butuh sandaran.
Aku langsung mencari arah suara itu, benar saja, aku menemukan lelaki yang sama seperti hari itu, aku tak pernah mengetahui jelas namanya. Namun, aku berusaha tak peduli dengan lelaki itu.
Aku tersentak begitu merasakan getaran pada saku almamater yang ku pakai, aku mengambil benda pipih itu untuk melihat siapa yang mengirimi aku pesan, dan ketika aku membuka room chat whatsapp, aku melihat chat indra ada pada barisan paling atas dengan 3 pesan belum terbaca.
indra♡
[*Jangan lupa makan siang]
[Kau tidak akan bisa membuat ku tertawa jika kau sendiri tidak bahagia, jangan lupa jaga kesehatan, maaf aku tak bisa mendampingi mu ketika aku masih takut menghadapi kenyataan]
[Aku mencintaimu*]
Aku tersenyum tipis ketika membaca pesan itu, aku tahu kenyataan yang di maksud oleh indra itu adalah tentang hidupnya, rumit seperti itulah katanya, dia pernah berjanji padaku untuk menceritakan semuanya, kehidupannya dan alasan glen juga orang-orang membencinya. Suatu hari nanti dia akan menjelaskan itu, ketika aku benar-benar tak mencintainya lagi, atau ketika perpisahan itu terjadi.
Entah apa maksudnya, aku hanya bisa meng-iyakan, walau sebenarnya tak sabar mengetahui hal yang selama ini menjadi alasan kenapa indra selalu mendapatkan cacian.
Roosevelt anindia adriana
[*Kau juga, jangan lupa jaga kesehatan]
[Sudah makan? Kalau belum, nanti aku akan keatas untuk membawakan mu makanan]
[Aku juga mencintaimu*]
Setelah mengetikan balasan untuk pesan indra, aku menutup layar handphoneku kembali memasukannya kedalam saku, suasana kantin semakin riuh, begitu seorang glen masuk kedalam kantin dengan tampanh tengilnya.
Lekaki berwajah blasteran itu berjalan menuju tempat temannya tadi, ikut berdiri disana sambil memasukan kedua tangannya pada saku celananya.
"Hallo semua, disini aku ingin berbicara mengenai satu hal." Aku terus memfokuskan pandanganku pada glen.
Semua orang yang berada dikantin juga sama, mereka menatap glen dengan wajah bingung.
"Jadi gini, aku mau kasih tahu kalian kalau seorang Roosevelt anindia adriana, atau yang biasa kalian panggil oca telah berpacaran dengan kaylindra zeiden pratama, seorang lelaki berwajah polos dan berhati busuk." Jelas glen pada semua orang.
Sontak semua mata tertuju padaku, aku langsung menggeram marah, glen memang perlu ku beri pelajaran atas apa yang ia lakukan.
__ADS_1
"Aku punya buktinya." Glen meminta temannya membuka sebuah kertas besar yang dia bawa, setelah kertas besar itu terbuka, aku terkejut karena dalam kertas itu terdapat print-an fotoku dan indra yang sedang melakukan kencan.
"Kalian lihat? Lancang sekali bukan seorang murid baru seperti oca, berkencan dengan indra bahkan mereka menjalin sebuah hubungan." Tambah glen lagi, rasanya memprovokasi.
Aku geram, aku juga marah karena perlakuan glen yang serendah itu.
BRRAAKK
Karena marah, aku menggebrak meja dengan sangat keras, bangkit dari dudukku lalu menghampiri glen dengan tatapan nyalang.
PLAAKK
"itu untuk tindakan lo yang murah!"
"Lo gak punya hak buat ngjudge orang lain disaat lo gak lebih baik dari orang yang lo judge! Lo pikir dengan lo ngumbar hubungan gue dengan indra dihadapan semua orang, gue bakal putus dari indra? Engga!" Teriak aku marah, jari telunjukku terus menunjuk wajah tengil glen yang terlihat biasa saja setelah mendapatkan tamparan keras dari ku.
"Lo itu pengecut, lelaki pengecut yang pernah gue temuin, lo benci dengan indra? Dan bodohnya lo malah memprovokasi semua orang agar bisa membenci indra. Lelaki murah, yang lebih pengecut dari indra." Tambahku dengan wajah meledek.
"Lo gak tahu apa-apa oca! Lo jangan sok bela indra!" Bela glen juga dengan nada yang tinggi.
"of course, gue emang gak tahu apa-apa, tapi setidaknya gue gak jadi pengecut dengan membenci seseorang tanpa tahu alasan kenapa dia di musuhi."
"Dengar ini glen, pengecut akan selalu kalah karena pengecut seperti lo itu gak lebih dari sampah, ingat ucapan gue dan jangan sekali-kali lagi lo ganggu indra, gue gak takut sama lo." Tutup gue sebelum akhirnya pergi dari dalam kantin, suasana kantin masih hening, mungkin terkejut dengan pertengkaran antara aku dan glen.
Aku dengan langkah cepat langsung berlari menuju rooftoop tentu saja untuk bertemu dengan indra, namun belum sampai diatas rooftoop, aku sudah menemukan sosok indra yang berdiri di koridor jalan menuju rooftoop, dia menatapku dengan sendu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku langsung berlari memeluk indra, memeluk lelaki itu seakan tak ada lagi hari esok. Aku terisak pelan, mencoba menguatkan diriku begitu merasa sakit yang teramat dalam, indra, apakah harus serumit ini kisa hidupmu, bahkan aku pun terkadang tak tahu harus melakukan apa ketika diriku sudah benar-benar terjebak dan tak lagi dapat pergi.
Indra membalas pelukanku, lalu mengusap lembut punggungku, dia tak mengatakan apapun sampai beberapa menit kemudian sebuah kata yang mengejutkan terucap dari bibirnya.
"Inilah ca, yang selama ini aku takutkan, aku akan selalu membuat merasa kesusahan terutama dengan kehidupanku yang menyulitkan, ini baru permulaan dan kau dapat pergi jika sudah tak tahan, aku bisa merelakan mu sebelum aku akan terus berada dalam penyesalan, jika tahu kau akan mendapatkan penyiksaan, karena semua masalahku yang merumitkan."
***
**Haiyoo fast update, gimana gimana suka? Heheh, aku akan sering fast update untuk tfl dan juga cerita ini, karena sekitar beberapa chapter lagi cerita dear love school tamat yeayyy, so hope your enjoy!!
Eh kenalan dulu yuk sama visual temen2 oca
Chika azalea as sakura izone
**Uwuuu gemush, walau bukan 00l tapi sakura imut banget:)
Song yu lan as minju izone**
Felicia kim as nancy momoland
Glenda prawijaya as choi hansol (vernon seventeen)
Cilarissa anggraeni as nagyung fromis9
Adalena Jessicha as gyuri fromis 9
Bara leksmana adriana as Jaehyun nct127
**Selamat debut anak-anak kuhhh:) heheh, kalau kalian mau bayangin visual lain bebas kok, jangan terpaku sama visual yang aku pake yahh, wkwkwkw:v
Salam manis dari ocaa, yang imut dan cantik banget**:)
__ADS_1
**