
❝Sang bintang yang mempunyai sinar terang, hanya saja tak di ketahui banyak orang, ya itulah indra❞
Roosevelt anindia adriana
\*\*\*
"Nama yang indah, kau sudah tahu namaku bukan?" Tanyanya, aku kembali menggeleng pura pura tak mengetahui apapun yang dia tanyakan.
"Kenapa aku gemas denganmu... " Dia mencubit kedua pipiku pelan, aku hendak mengelakpun tak bisa, gerakannya terlalu tiba tiba. "Kau gadis yang sangat lucu." Jelasnya lagi, aku memutar bola malas, sambil melepaskan kedua tangannya dari pipiku, aku mencoba bersikap biasa saja dengan meminum pop ice milikku.
"Saya harus pergi... " Aku berdiri dari dudukku sambil membawa paper bag tadi, meninggalkan lelaki dengan nama glen itu sendirian. Aku tak mendengar apapun, tak mendengar glen memanggilku, tapi syukurlah karena aku tak mau berlama-lama dengan lelaki kurang aja seperti itu.
Aku berjalan dengan cepat menuju kelasku, mungkinkah ada yang melihat hal tadi? Saat glen bersama denganku? Semoga saja tidak ada, karena aku paling membenci ketika menjadi pusat perhatian dan pusat pembicaraan, apalagi tentang diriku yang tidak baik.
Yang kulihat dikelas semua orang tengah sibuk dengan pembicaraannya masing masing, termasuk dengan yulan dan chika yang sedang berbicang di meja mereka. Aku hanya melewati mereka, lalu duduk di kursi yulan.
Mengambil nafas panjang, membiarkan pikiran ku tenggelam dalam masalah yang terus berkepanjangan, semua yang terjadi hari ini adalah sebuah beban Pikiran untukku, semua ini harus aku pikirkan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Eh, oca kenapa?" Aku menoleh melihat yulan dan chika menatapku dengan khawatir, aku menggeleng mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
"Oca tidak asik, masa ada masalah tidak mau cerita?" Aku hanya tersenyum ketika chika mengakatan itu, sebenarnya aku adalah orang yang tertutup, aku sulit menceritakan masalahku pada seseorang, dan lebih memilih untuk memendamnya sendirian.
"Ocaaa, kok tadi kamu bisa sih sama si glen pembuat masalah itu, haduhhh.. " Aku meringis ketika tiba tiba Joelien, atau joe yang bisa di sebut sang ratu gosip, mendatangi meja ku dengan membawa berita bahwa aku tadi bersama dengan glen.
"Apa? Oca sama glen?" Chika bertanya pada joe, joe hanya mengangguk sambil bergaya dengan angkuhnya, meninggalkan meja ku. Aku mendecih, ternyata benar berita itu akan menyebar dengan sangat cepat.
"Oca?" Yulan berkata padaku dengan nada dingin dan sangat meintrogasi, aku mengidikan bahu tak mau memberikan penjelasan apa apa, karena tak ada yang perlu di jelaskan.
"Ocaaa yang benerrr!" Chika menarik kursi kosong yang ada disampingku, aku meliriknya sebentar, membuang nafas malas. "Tidak ada yang perlu dijelaskan chika, yulan... Itu hanya kebetulan, lagi pula dia tak mengatakan apapun." Jelasku pelan, agar tak didengar oleh siapapun.
"Kamu yakin?" Tanya yulan
"Yakinlah..." Jawabku jujur karena memang hal itu hanya ketidaksengajaan, tak mungkin glen sengaja menemuiku.
"Ya sudahlah, aku hanya memberitahu, jangan dekat-dekat dengan glen, dia bukan orang yang patut didekati." Nasihat yulan, aku mengangguk mantap, siapalah yang mau mendekati orang seperti glen.
Tiba-tiba mataku beralih pada indra yang melewati mejaku, wajahnya muram bahkan dia tak melirikku, tapi aku merasakan hal yang berbeda, sesuatu yang aneh, entahlah atau memang ini adalah sosok indra yang berbeda, karena sejujurnya aku belum tahu sepenuhnya tentang indra.
Sang bintang yang mempunyai sinar terang, hanya saja tak di ketahui banyak orang, ya itulah indra.
***
Kebiasaan ku saat pulang sekolah adalah menunggu jemputan kak bara, kadang aku merasa kesal, kenapa aku tidak diperbolehkan pulang sendirian? Padahal aku yakin jika diberitahu pasti aku akan mengetahui jalannya, ketibang aku harus menunggu dipinggir jalan seperti ini? Menyebalkan memang.
Aku mengusap peluh yang bercucuran didahiku, hari ini cuaca cukup panas, aku memperhatikan jalanan yang cukup sepi, yah semua murid sudah pulang tentu saja ini sudah lewat dari 30 menit dari waktu pulang sekolah, dan aku masih menunggu disini.
__ADS_1
"Hei? Kau masih disini?" Aku terkejut ketika melihat seseorang yang sudah berada dihadapanku, seseorangnya yang tak lain adalah glen, dengan motor ninjanya yang berwarna merah.
Mau apalagi dia?
"Kau menunggu seseorang?" Tanyanya, sambil turun dari motornya, ikut berdiri disampingku. "Ya aku menunggu jemputan." Jawabku dengan nada ketus, bukan tak ramah, hanya saja aku risih berada disamping lelaki ini.
"Mau ku antar pulang?" Tanyanya, aku menggeleng menolak ajakannya "Tak usah, sebentar lagi jemputan ku datang." Elakku tak mau melirik lelaki ini.
"Siapa memang yang akan menjemputmu?" Tanyanya lagi, astaga dia kepo sekali dengan urusan orang lain. "Keluargaku." Jawabku singkat, ayolah enyah dari sini.
"Benar dia akan menjemputmu?"
"Tentu saja" Jawabku
"Baiklah, aku tidak akan memaksa jika jemputan mu belum datang, kau bisa menelefonku." Glen menaiki motornya lagi, sambil memakai helmnya, "Aku duluan oca." Aku hanya mengangguk, melihat motornya mulai menjauh.
Aku menarik nafas lega, untungnya dia sudah pergi.
Kring kring kring
Aku mencari sumber suara itu, suara bel sepeda, dan ternyata itu adalah indra yang membawa sepedanya menuju ke hadapanku.
Aku tersenyum semringah, melihat indra yang memberhentikan sepedanya dihadapanku, aku senang dengan kehadiran indra.
"Pulang bersama?" Tanyanya masih berada diatas sepeda, aku mengangguk menaiki sepedanya.
Aku tak membutuhkan motor, ataupun mobil mewah, aku menyukai keadaan seperti ini, rasanya sederhana tetapi sangat istimewa.
"Oca?"
"Iya? Kenapa?"
"Tadi aku melihat glen bersamamu..." tanya indra, aku tersenyum mengetahui maksud pertanyaan indra. "Dia mengajakku pulang bersama dengannya." Jawabku jujur.
"Tapi kenapa kau menolak?" Tanya indra, aku terkekeh pelan, sambil melemparkan pandanganku pada banyak orang yang memperhatikan aku dan indra.
"Aku tak suka pulang bersama dengan orang asing, lagi pula aku belum terlalu mengenalnya." Jelasku, yang kulihat indra hanya mengangguk pelan.
"Aku juga orang asing, kau dan aku bahkan jarang sekali menyapa." Ucapnya, aku terdiam memang benar apa yang dikatakan oleh indra, dia dan aku jarang sekali berinteraksi.
"Kau bukan orang asing, kau berbeda, kau istimewa dan aku memepercayaimu." Ucapku spontan mengucapkan hal itu, membuat tiba tiba atmosfer sepi mengelilingi kami berdua.
Dan setelahnya, aku dan indra hanya saling terdiam tak mengucapkan sepatah katapun, membiarkan angin dan hangatnya mentari sore menjadi peneman diantara kesunyian kami berdua.
Tapi kemudian, tangan kiri indra menarik tangan kiriku membawanya menuju pinggangnya memberikan isyarat agar aku berpelukan padanya.
__ADS_1
Aku tersenyum kecil, mengikuti kemauan indra untuk memeluk pinggangnya dari belakangnya, pelukan ku erat sekali tak merelakan indra untuk melepaskannya.
Menyandarkan kepalaku pada punggung indra, melepaskan seluruh keluh kesahku dengan menjadikannya sebagai sandaran.
Tak memperdulikan bahwa aku dan indra menjadi perhatian banyak orang, karena ini adalah duniaku, aku mempercayai lelaki ini, dia tidak akan menyakitiku dan aku tahu keputusanku.
Tuhan, biarkan ini terus terjadi, jangan membiarkan segala hal ini menjadi yang terakhir bagiku, karena sesungguhnya aku benar benar nyaman berada di sisi indra.
***
"Terimakasih... Tidak mampir?" Tawarku pada indra yang masih berada diatas sepedanya.
"Tidak usah... Aku akan segera pulang, sebelumnya terimakasih sudah mempercayaiku, aku harap kau tidak menyesalinya... "Jelasnya setelah itu indra pergi dengan mengayuh sepedanya, aku menghela nafas panjang ucapnya tadi ku yakin memiliki makna didalamnya, yang tentunya aku ketahui maksudnya.
Aku menggelengkan kepala, sambil berjalan menuju rumahku saat aku membuka gerbang kulihat motor kak bara sudah terparkir disana.
Aku berlari dengan cepat menuju pintu rumah, dengan amarah yang siap untuk aku lampiaskan, tentu saja.
"KAK BARAA!!" Aku berteriak mencari keberadaan kakak lelaki ku ini, apa yang dia pikirkan sehingga lupa ingin menjemputku.
"Ada apa oca? Tidak usah berteriak, kakak masih muda." Jawabnya dari arah dapur, aku segera berlari bersiap memukulnya dengan tasku.
"KAK BARA!! KENAPA TIDAK MENJEMPUTKU!!" aku memukul kak bara dengan tasku, sambil mencubit perutnya membuat kak bara berteriak kesakitan.
"Aduh, sakitt sakitt ocaaaa!" Kak bara berusaha mengindar dariku, tapi aku dengan sigap kembali memukulnya.
"Udah oca udahhh, sakit ihhh." Kak bara mengambil tas milikku, menjauhkan tas itu agar aku tak kembali memukulinya.
"Kak bara!!" Aku berteriak, kemudian cemberut menatap malas ka bara yang ternyata lupa untuk menjemputku.
"Ya maaf oca, tadi kakak ada urusan, lagipula tadi pulang diantar sama cowo yang kemarin itu kan? Sekarang pake sepeda lagi, sengaja biar lama dijalannya, pake peluk pelukan segala." Jelas kak bara, aku melotot jika kak bara melihatku dan indra kenapa dia tidak memberhentikan indra, padahal kasian indra.
"Bukan pelukan kak bara... Aku berpegangan... Itu berbeda." Bela ku sambil memutar bola mata, sebenarnya aku tahu itu adalah berpelukan tapi aku hanya mencari alasan saja.
"Alah, alasan masa cuma berpegangan sampai bersandar dipunggung cowoknya." Tambah kak bara, aku tersipu malu pasalnya kak bara melihatnya ya ampun bagaimana ini.
"Ihh kak bara, udah tahu kaya gitu, kenapa gak berhentiin indra sih." Bela ku lagi, memang benar perdebatan antara adik dan kakak tidak akan ada habisnya.
"Bagaimana mau memberhentikan, kakak gak tega, masa adeknya lagi mesra mesraan di ganggu." Jawab kak bara, aku tertawa garing, kak bara memang baik sekali.
"Heheh kak bara pengertian banget sih." Aku mencubit pipi kak bara gemas, yah dia memang kak bara, walau kadang menyebalkan dia akan selalu mengerti keadaanku dan ku yakin dia akan selalu menyayangiku.
***
**Finishh heheh😂 gimana bab kali ini? Maaf kalau kesannya kurang kerasa sama kalian, kalian bayangin aja yah gimana indra sama oca naik sepeda, Sebenernya naik sepeda itu siasat si indra supaya bisa lama lama sama si oca, wkwkwk😀😝😏 ****** kali memang😁😅
__ADS_1
Tapi ya udahlah, kalian boleh disini kasih saran, malah aku bersyukur banget kalau kalian mau komen untuk ceritaku ini.
Makasihh***