Dear Love School

Dear Love School
dinner romantic


__ADS_3

  ❝Terus tersenyum dan tertawa seperti ini oca, walau nanti aku pergi dan tiada. Meninggalkan mu dalam sejuta luka.❞


Kaylindra zeiden pratama


      ***


     "Mau beli apa dek?" Tanya kak bara lagi, maksudku lagi dalam artian ini sudah sekian kalinya ia bertanya hal seperti itu, aku tahu mungkin kak bara merasa suntuk, apalagi kami berdua sudah setengah jam berkeliling supermarket yang sangat besar untuk membeli bahan makanan bulanan, seperti apa yang diperintahkan oleh bunda.


   "Masih banyak kak, noh liat listnya, masih banyak yang belum dibeli." Jawabku menunjukan selembar kertas panjang, berisi nama barang-barang yang perlu dibeli, aku melihat ada beberapa bahan yang belum dicoret, dan itu tandanya barang tersebut belum masuk kedalam troli.


  "Ah, nyesel ikut." Keluh kak bara, memaju-mundurkan troli belanja dengan sengaja, gabut.


   "Makanya bantuin, nyari ke bagian minyak sono." Titahku merasa muak dengan ocehan juga keluhakan kak bara, bagaimana ini tidak berlangsung lama jika dirinya terus mengikutiku dari belakang bahkan tak berniat membantu sedikitpun.


   "Kan kakak gak tahu merknya, nanti salah beli." Belanya lagi.


  Aku mendecih, merollingkan mata dan memilih memasukan roti tawar yang sudah ku sortir—menimang antara merk ini dan itu dan mana yang lebih bagus, masuk kedalam troli. Kak bara memang pandai memasak, hanya saja untuk urusan berbelanja dia benci akan hal itu.


   "Ya udah, makanya gak usah banyak ngeluh." Cercos ku sebal, muak dengan ungkapan kak bara yang berisik dan memekakan telinga.


    Aku kembali berjalan menuju rak lain, kini melihat selembar kertas itu, menemukan barang yang belum aku beli adalah, minyak, shampoo, odol dan juga selai. Baikalah aku harus menyelesaikan ini segera, sebelum kak bara kembali mengeluh. Biasanya belanja bulanan akan dilakukan bunda, namun kali ini harus aku dan kak bara yang melakukannya, karena bunda dan ayah masih berada di yogya.


  Kak bara masih terus bergumam tak jelas, menghentakkan kakinya pada lantai, merasa kesal karena aku abaikan. Kak bara memang kelewatan gabut, mungkin faktor karena kak bara tak memiliki kekasih? Entahlah yang pasti aku mulai jengkel dengan sikap kak bara, yang kekanak-kanakan.


   Setelah selesai membeli barang terakhir, kak bara dengan riang mendorong troli besar itu menuju meja kasir, mungkin merasa lega karena akhirnya kegiatan belanja yang menurutnya menyebalkan ini sudah berakhir. Begitu sampai dimeja kasir, aku teringat harus membeli obat merah, juga obat first aid lainnya karena kemarin aku gunakan untuk mengobati luka indra.


   "Kak bara, aku mau ke apotik sebentar yah, mau beli obat first aid, abis soalnya." Kataku pada kak bara yang masih mengantri untuk membayar belanjaan.


   "Ya udah, abis itu tunggu di mobil, jangan ke jauh." Jawabnya.


  Aku mengangguk, tak berlama-lama langsung keluar dari dalam supermarket, pergi ke apotek yang berada disamping supermarket. Hanya sebentar, karena supermarket dan apotek memang bersebelahan.


   Sesampainya diapotek, aku dengan segera memilih barang-barang yang perlu dibeli, obat merah, antiseptik dan juga beberapa kapas. Tak banyak, karena memang yang habis hanya itu, aku kembali berjalan menuju meja kasir untuk membayar barang milikku, disana aku melihat seseorang tengah membayar sesuatu pada kasir, perawakannya terlihat tak asing bagiku, hodie berwarna hitam, celana jeans, masker, dan juga topi yang menutupi seluruh bagian atas kepalanya. Walau begitu aku kenal dengan sosok ini, terutama ketika dirirnya mengeluarkan suara, aku langsung yakin bahwa itu adalah dia.


   "Indra?" Panggilku.


  Dan tepat, setelah panggilan itu ku ucapkan, lelaki berhodie itu menoleh, menatapku terkejut.


  "Oh, oca? Hai." Sapanya membuka masker yang sebelumnya ia gunakan.


   "Hai, sedang apa disini?" Tanyaku berbasa-basi.


  "Ah, hanya membeli obat sembelit." Jawabnya.


  Aku melihat sebuah plastik berwarna putih yang dikatakanya sebagai obat sembelit itu ia masukan keealam saku hodienya. Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, kini meletakan barang-barangku setelah indra selesai membayar.


   "Ca, aku tunggu didepan." Ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan apotek.


  "Terimakasih sudah berbelanja."


  Aku tersenyum kepada pelayan kasir itu, dia sangat ramah, aku segera mengambil plastik berisi obat-obatan milikku, keluar dari dalam apotek, bergegas menyusul indra. Begitu sampai dihalaman di tempat parkir apotek itu, aku melihat indra tengah duduk diatas motor scooter miliknya. Begitu tampan walau dilihat dari samping, angin malam menerbangkan rambutnya karena topi yang ia kenakan tadi sudah dilepas. Wajahnya begitu teduh, menyejukan hatiku.


  Sesempurna itukah seorang kaylindra?


  Aku mendatanginya, masih bersama senyum yang merekah, tak berbohong tentang kesempurnaan yang dimiliki oleh indra.


   "Aneh, kenapa kita selalu bertemu yah." Monologku asal, ikut berdiri disamping motor indra.


  "Kita adalah jodoh." Jawabnya.


  Aku terkekeh, semoga saja itu memang kenyataannya. Aku tidak tahu apakah sanggup hidup tanpa seorang indra.


   "Mau ku antar pulang?"


   "Tidak perlu, aku bersama kak bara."


   "Dimana?"


   "Tuh di supermarket, habis belanja bulanan." Jelasku.


  "Oh begitu" Jawabnya.


  "Mau bertemu dengan kak bara?" Tawarku, indra sempat berpikir sejenak dan kemudian mengangguk.


   Aku menggandeng tangan indra, mengajaknya pergi ke supermarket. Tangannya terasa begitu hangat, walau angin malam sangatlah kencang. Sesampainya didepan supermarket, aku menemukan kak bara tengah bersandar pada kap mobil sambil melipat Kedua tangannya.


  "Kak bara!" Teriak ku.


  Dirinya menoleh ke arahku, langsung kuberikan lambaian tangan. "Cih, pantes lama, janjian toh." Katanya begitu kami berdua sampai didepan kak bara.


   "Bukan janjian, tadi gak sengaja ketemu di apotek." Ralatku tak mau kak bara salah paham.


  "Hm" Jawabnya.


   "Selamat malam kak." Sapa indra sopan.

__ADS_1


   "Malam indra, udah sehat?" Tanya kak bara.


   "Sudah kak, berkat oca." Jawab indra.


  Aku langsung melotot, memberikan pukulan pada dada bagian kiri indra, pelan. "Argh." Indra meringis sambil memegangi dadanya, bekas ku pukul tadi.


  Aku langsung ketakutan, karena indra yang mulai limbung, hampir terjatuh jika tak ku tahan. Kak bara langsung berlari, membantu indra agar tak terjatuh. "Ndra kau tidak apa-apa?" Tanyaku bergetar, melihat reaksi indra yang kesakitan, berarti pukulan ku sangat kencang? Tapi rasanya, aku hanya menepuknya pelan.


   "Tidak apa-apa, aku baik." Jawabnya yang kini tengah berusaha berdiri tegap, walau tangannya terus memegang dadanya.


   "Lagian kamu ca, udah tahu tuh tangan pernah dipake mukul genteng sampe pecah, pukulan kamu tuh maut." Omel kak bara, yang membuat aku cemberut, rasanya aku tidak seseram itu walau memang pernah memecahkan genteng.


  "Sudah kak, aku baik-baik saja." Ucap indra, yang membuat aku lega, aku pikir indra terkena serangan jantung karena pukulanku.


  "Ya udah, kalian kalau mau main, boleh, tapi jangan sampai lewat dari jam 9. Kakak masih ada urusan sama temen, ndra anterin oca sampe rumah dengan selamat yah." Kata kak bara berpesan, lalu menepuk bahu kanan indra.


  "Lah, kok gitu?" Protesku tak terima, sebenarnya aku merasa senang karena kak bara memperbolehkan aku pergi bersama indra, hanya seperti mm, kamuflase agar tak terlalu terlihat senang.


   "Kalau begitu tidak usah jadi." Ancamnya.


  Aku langsung mengangkat kedua tanganku, memberikan gestur menolak. "Jangan, oke deh, makasih kak." Jawab pada akhirnya, aku lupa kak bara adalah lelaki yang paling peka dengan lingkungan sekitarnya.


   Kak bara mendengus, kemudian melambaikan tangannya, berjalan masuk kedalam mobil meninggalkan aku dan indra yang menatap kepergian kak bara dari parkiran.


  "Kak bara itu peka." Ucap indra tiba-tiba.


  Aku melirik kearahnya dan ternyata dia juga sedang menatapku, aku dan indra saling bertatapan dalam diam. Menganggumi segala ketampanan yang indra miliki, walau ada banyak luka yang tampak jika diperhatikan secara dekat, indra tak sebahagia itu.


   Indra memberikanku senyuman manisnya, melihat hal itu membuat jantungku berdebar tak karuan, bulshing dan juga malu secara bersamaan, padahal itu hanya sebuah senyuman.


   "Mau kemana sekarang?" Tanyanya, membuyarkan seluruh khayalan dan kekaguman ku pada indra.


  Aku mengidikan bahu tak tahu, merasa bingung juga ingin pergi kemana karena semua belum terencana, apalagi aku belum tahu destinasi wisata lain dijakarta, selain yang waktu itu aku kunjungi bersama dengan indra.


    "Sudah makan malam?" Tanyanya lagi.


  Aku menggeleng pelan sebagai jawaban. Memang benar aku belum makan sama sekali, maka dari itu aku dan kak bara berbelanja karena ketika hendak makan malam, persedian ikan didalam kulkas habis.


  "Kalau begitu kita pergi makan malam, jangan sampai sakit." Katanyanya, mengusak pelan rambut panjang ku yang tergerai. Kemudian menyapu pelan punggung tanganku, mengenggamnya penuh perasaan, mengajak ku untuk pergi ke tempat dimana motornya diparkiran.


  Tak banyak melawan, tapi hatiku berteriak kegirangan, walau sering melakukan skinship, aku akan selalu merasa seperti inilah pertama kalinya aku dan dia saling bersentuhan. Selalu excited dengan apa yang dia lakukan, terutama jika indra mengucapkan sebuah kata yang membuat ku merasa sangat di istimewakan.


   "Jangan melamun. Hm?"


  Aku mengedipkan mata begitu, suara indra terdengar dengan cukup kencang. Aku tertawa, karena sadar selama perjalanan aku melamun.


  Indra sebuah senyuman aneh, karena menurutku itu tak seperti senyuman manis yang biasa indra berikan. "Ke-kenapa?" Tanyaku bingung sendiri.


   "Kau sangat lucu, apalagi saat terkejut tadi." Jawabnya, jelas setelah mendengar hal itu aku menggerutu dalam hati.


   "Cih."


  Aku mendecih, lalu membuang muka, setelahnya tersenyum kecil. Sebenarnya aku merasa malu dengan pujian indra. Pipiku juga terasa panas setelah mendengar ucapan indra.


  "Ca."


  Aku langsung memandang indra, dilihatku lelaki itu sekarang menggenggam sebuah jaket berwarna cokelat, sepertinya itu adalah miliknya.


"Kemari." Perintahnya.


 "Untuk apa?" Tanyaku bingung.


  "Ck, banyak bertanya." Jawabnya yang kini mendekatkan tubuhnya padaku.


  Aku tercekat, sampai menghentikan deru napasku saking dekatnya aku dan indra. Dia melingkarkan kedua tangannya pada tubuhku, melebarkan jaket yang ia pegang tadi, memberikan isyarat agar aku memasukan tanganku pada bagian lengan jaket yang sudah ia lebarkan. Aku menurut, masih dengan agak terkejut, mulai memasukan tanganku kedalam bagian lengan jaket, memakainya dengan bantuan indra. Setelah kedua tanganku masuk kedalam lengan jaket, indra merapihkan kedua sisi jaket, kemudian menaikan zipper jaket hingga seluruh setengah tubuhku sudah terbungkus oleh jaket.


  "Bernapas oca."


   Aku langsung membuang nafas panjang-panjang, meraup banyak udara karena sedari tadi, benar aku menahan nafas. Dan sepertinya indra menyadari, bahwa selama dia memasangkan jaket itu, aku tak bernapas sama sekali.


 


   "HAHAHA"


  Aku terkejut bukan main, melihat sekarang indra tertawa terbahak-bahak, sangat kencang hingga kakinya ia gunakan untuk menginjak-injak diatas trotoar, sesekali perutnya ia pegang, seperti menahan kesakitan.


  Aku menyerngit heran, melihat tawa indra yang bahkan tak pernah ku lihat membuatku tergelak sendiri, indra menjadikan aku sebagai alasan kenapa dia bisa tertawa, dan aku suka itu. Lagi dan lagi, aku menemukan banyak rahasia yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya.


    Pun walaupun merasa jengkel, karena indra yang menjadikan aku sebagai lelucon. Namun, aku akhirnya ikut tertawa pelan, senang. Tentu saja.


  "Ca, kau sangat menggemaskan." Ucapnya girang, menarik kedua pipiku dengan sangat kencang.


   "Aw, aw sakit ndra. Yawlah." Sungutku kesal.


  Yang ku omeli hanya bisa tertawa kegirangan karena berhasil membuatku menggerutu. "Ayo, nanti kemaleman." Ucapku yang menarik hodie indra agar dia berhenti tertawa.

__ADS_1


   Lelaki itu tersenyum lembut padaku, dan akhirnya mulai menjalankan motornya bersama denganku yang sudah ikut naik. Kesekian kalinya, aku bersama indra mengelilingi kota jakarta dengan suasana malam yang dingin.


  Aku berharap ini bukan kenangan indah terakhir ku dengan indra, aku berdoa, semoga ada kenangan indah selanjutnya, tentang aku dan indra yang saling mencinta.


  ***


     "Mau pesen apa ca?" Tanyanya sambil memberikan aku daftar menu yang sangat glamour dengan warna gold yang mendominasi.


    Aku masih menatap indra tajam, tadinya ingin mengomel, karena dirinya membawaku ke sebuah restoran mahal. Bukan norak, hanya saja ini sangat berlebihan. "Sama aja, kaya pesanan mu." Jawabku, mendorong daftar menu itu.


  Indra kemudian berbicara pada waiters tentang makanan dan minuman yang kami pesan. Setelahnya waiter's itu pergi. Ini saatnya untuk mengomel.


   "Ndra, kenapa kesini? Ini tempat mahal banget." Cerocos ku tak terima.


  "Tidak apa-apa, sekali-kali."


   Aku mengusap keningku sendiri, bingung dengan apa dipikirkan oleh indra, pasalnya ini juga tidak direncanakan. Datang ke sebuah restoran mewah, dengan view yang sangat cantik, dinner romantic di balkon sebuah gedung di lantai 5. Dan yah, dari sini aku dapat melihat semua penjuru kota jakarta. Parahnya lagi, kami berdua disini seperti gembel, tentu saja, hanya datang dengan baju hodie juga jaket, jika jaket ini di buka maka hanya akan menampilkan kaos oblong kebesaran milik kak bara yang aku padukan dengan celana bermotif kotak-kotak. Sederhana sekali.


   "Kenapa, tidak suka?" Tanyanya.


  Dengan cepat aku menggeleng, aku suka, sangat, hanya saja mungkin ini terlalu dadakan, seperti tahu bulat.


   "Bukan, hanya saja. Tidak di rencanakan." Elakku tak ingin membuat indra kecewa.


  Aku minder, jujur saja. Semua yang berada disini rata-rata berusia dewasa dan lanjut, berpakaian mahal dengan gaya yang sangat glamor.


   "Lain kali kita datang lagi kemari, aku akan merencanakannya untuk datang bersamamu. Membuat cerita baru disini." Katanya.


  Ingin marah, tapi aku tak bisa. Ucapan indra akan selalu menjadi obat penenang, karena jujur itu sangat menenangkan.


   "Ya, lain kali kita datang lagi kemari, kalau perlu bersama anak-anak kita nanti." Ucapku, lalu tertawa.


   "Semoga." Jawabnya.


  Lilin menyala di meja yang kami tempati, meja bundar dengan lilin aroma terapi yang berada di bagian tengah. Juga sebuah vas bunga kaca, yang diisi oleh sebuah bunga mawar yang sangat indah.


  Ini benar-benar dinner romantis yang tak direncanakan.


  "Indra, foto yuk." Ajaku.


  Indra menoleh, lalu dia mengangguk meng-iyakan. Dengan cepat aku mengambil ponselku yang ku letakan diatas meja, membuka aplikasi kamera kemudian memfoto aku dan indra, karena posisi ku menghadap ke arah view, sehingga membuatku harus memutar kursi agar indra dapat terfoto juga pemandangan indah dapat ikut masuk kedalam foto.


  Beberapa kali jepretan, sampai aku selesai. Membuka galeri untuk melihat hasilnya secara langsung.


   "Bagus banget, aku post ig tidak apa-apa kan?" Tanyaku pada indra.


  "Tidak apa-apa." Jawabnya, aku tersenyum kegirangan, tapi kemudian meletakan handphone milikku kembali diatas meja.


  "Tidak jadi post ke instagram?" Tanyanya.


  "Nanti, aku mau menikamati waktu berdua bersama mu saja." Jawabku.


   "Terus tersenyum dan tertawa seperti ini oca, walau nanti aku pergi dan tiada. Meninggalkan mu dalam sejuta luka."


    ***


Aku yang selalu baper dengan pasangan ini, huahhhh 😭😭 pokoknya mau buat scene bahagia-bahagia dulu. Biar banyak kenangan yang di ingat.


Eh btw, aku ubah alurnya jadi tahun 2018 yah, jadi gak ada yang namanya corona. Dan ini ceritanya lagi ada di pertengahan januari, soalnya baru masuk sekolah kan kemarin.


Dan, restoran ini gak ada gengs, cuma khayalan aku doang. Kalau semisal ada restoran kaya gitu dijakarta ya alhamdulillah wkwkwkw😂


Apakah kalian mau membuat seorang glenda prawijaya menjadi sed boi? Atau pakboy? Komen dah.


Jangan lupa vomment, see you next chapter♡


   


Maaf kalau ada typo:v


  


  


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


  


__ADS_2