
❝Saat jatuh cinta, rasa khawatir dan cemburu akan sangat besar, sama seperti saat ini, ketika aku mengkhawatirkan dirinya dan yang pada akhirnya menyadarkan aku bahwa aku telah jatuh cinta.❞
Roosevelt anindia adriana
***
Aku masih berada disini, didalam kelas dengan keheningan yang menyelimuti. Indra, lelaki itu sudah pergi meninggalkanku didalam kelas, tentu saja dia harus meninggalkan ku, seperti apa yang dia katakan saat diatap, dia memiliki alasan untuk menjauhi ku ketika berada di hadapan banyak orang.
Sebenarnya aku masih memikirkan ucapan glen sewaktu dikantin tadi, rasanya begitu aneh. Glen mengatakan bahwa dia suka padaku? Sedangkan aku hanya pernah bertemu dengannya beberapa kali, bahkan bisa dihitung dengan jari. Lalu dari mana dia bisa menganggap dirinya menyukai ku?
Bukan aku berharap, hanya saja ini tidak masuk kedalam akal, atau ada yang glen rencanakan? Semoga saja bukan hal yang buruk, atau tidak dirinya benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama padaku, ya semoga saja hanya itu.
Aku mendengar suara derap langkah mendekat menuju kelas, yang yakini pasti itu adalah yulan dan chika mereka pasti mengkhawatirkan ku karena pergi tiba-tiba dari kantin.
Dan benar saja, mereka berdua datang dengan wajah masam terutama chika, gadis dengan rambut pendek itu bahkan terlihat kesal. Mereka berdua mendatangi mejaku, chika yang sudah mendudukan tubuhnya di atas meja yang bersebelahan dengan mejaku dan yulan yang sudah duduk dikursi didepan mejaku.
Mereka semua menatapku dengan sangat tajam.
"Ada apa?" Tanyaku pada akhirnya, merasa penasaran dengan apa yang membuat mereka menjadi seperti ini.
"Bagaimana bisa kamu mengenal glen?" Tanya chika.
"Aku? Mengenalnya? Jangankan mengenalnya, berkenalan secara resmi saja aku tidak pernah melakukannya." Jawabku dengan nada malas, aku jadi teringat pertemuan pertama ku dengan glen, lelaki itu mengenalkan dirinya sendiri dan sudah mengetahui siapa aku.
Chika menghela nafas panjang, seperti merasa lega akan sesuatu hal. "Kami pikir kamu benar-benar mengenal glen dan dekat dengannya, apalagi kamu pernah berangkat ke sekolah bersama dengannya." Jelas yulan, aku hanya mengangguk paham mengerti kenapa mereka menunjukan wajah tegang seperti ini.
"Jangan khawatir, aku tak menyukai lelaki seperti glen, walau dia memang tampan, tapi kak bara bilang dia adalah anak berandalan di tempat kuliahnya, bahkan glen berteman dengan kating kak bara yang dikenal nakal." Ucapku.
Kupikir chika dan yulan akan terkejut namun yang kudapatkan dari ekspresi mereka biasa saja, tidak ada keterkejutan yang mereka tunjukan.
"Kenapa? Hal itu sudah tidak asing dengan sosok glen, lelaki berandalan itu memang sudah terkenal sebagai lelaki yang tak terurus." Cerita chika dengan menggebu-gebu, sepertinya mereka memiliki banyak dendam dengan glen.
"Ya, untuk apa juga aku menerimanya." Tambahku.
"Tapi kamu harus berhati-hati oca, glen bukanlah orang yang mudah menyerah, dia pasti akan mendapatkan apa yang dia inginkan apapun caranya." Peringat yulan padaku.
Aku mengangguk paham, kemudian menggenggam tangan chika dan yulan secara bersamaan. "Terimakasih kalian sudah mengkhawatirkan ku, aku akan berhati-hati." Ucapku meyakinkan mereka berdua.
Setelahnya terjadi acara meluk-memeluk yang cukup haru antara kami bertiga, walaupun pertemanan kami terbilang masih baru, tapi aku yakin, chika dan yulan selalu menginginkan yang terbaik untukku.
***
"Kak! Kak bara." Teriakku begitu melihat keadaan rumah yang sepi sekali, sekarang sudah menunjukan pukul 17.15 seharusnya ayah dan bunda sudah datang dirumah dengan kak bara juga tentunya, namun keadaan rumah sepi sekali.
"Kak bara!!" Teriak ku lagi sembari terus berjalan menuju kamar kak bara, diluar aku sudah melihat motor kak bara terparkir disana.
"Apa sih ca, teriak-teriak." Aku terkejut begitu melihat kak bara keluar dari dalam kamarnya dengan wajah berantakan, sepertinya kak bara baru bangun tidur.
"Dih, baru bangun yah? Ayah sama bunda kemana kak?" Tanyaku.
Kak bara menguap malas, menggaruk-garuk rambutnya yang mulai panjang. Aku menatapnya jijik, kak bara memang jorok.
"Memang bunda tidak memberi tahu?"
Aku menggeleng, karena aku memang tidak diberi tahu apa-apa oleh bunda maupun ayah.
"Mereka berdua pulang ke Yogyakarta, nenek masuk rumah sakit. Mereka akan tinggal di yogya sekitar tiga hari." Jelas kak bara, aku hanya ber-oh ria tidak berniat bertanya apapun lagi.
"Ya udah, kakak mandi sono, bau ih badannya." Ejekku.
"Iya, nanti." Jawabnya yang hendak menutup pintu kamarnya.
Dengan cepat aku menahan tangan kak bara, agar tidak menutup pintu kamarnya.
"Kak, tunggu."
"Hm, kenapa?" Tanyanya.
"Oca mau cerita nih." Ujarku pada kak bara.
"Masuk deh." Jawabnya lalu masuk kedalam kamarnya, aku mengikuti langkah kak bara masuk kedalam kamar miliknya.
Kamar kak bara sangat rapih, dan tertata dengan tepat pada tempatnya, kamar kak bara bertema monokrom, semua yang berada dikamar kak bara berwarna hitam dan putih, mulai dari kasur, sofa, meja belajar hingga matras.
Berbeda dengan kamarku yang lebih berwarna tapi kamar bara sangat wangi daj juga bersih. Aku duduk disofa kecil yang berada dikamar kak bara, sedangkan kak bara tengah sibuk membersihkan buku-bukunya yang berada diatas meja belajar.
"Mau cerita apa dek?" Tanyanya yang terus sibuk dengan pekerjaannya.
"Jadi tadi disekolah, glen nyatain perasaannya sama oca."
"APA!?"
__ADS_1
Sesuai dugaanku, kak bara pasti akan terkejut, terlihat jelas dengan dirinya yang sudah melepaskan buku-buku yang sebelumnya ia pegang, lalu ikut duduk disamping sambil menatapku dengan serius.
"Terus gimana? Kamu nerima dia?" Tanya kak bara penasaran.
"Ya enggaklah, siapa sih yang mau sama cowo modelan kaya glen, kak." Jawabku sambil merollingkan mataku malas.
Kak bara menghela nafas panjang, mungkin dia berpikir aku akan menerima glen.
"Bagus dek, jangan sampe kamu deket sama cowo kaya glen, dia itu gak pantes buat kamu." Nasihat kak bara padaku, aku hanya mengangguk meng-iyakan.
"Tapi, kamu harus hati-hati, glen pasti gak akan mudah menyerah secepat itu, kamu jangan pergi sendirian yah, jangan dekat-dekat juga sama glen dia berbahaya." Tambah kak bara lagi.
"Kakak aneh sama kamu ca." Kak bara berucap sambil mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar yang berwarna hitam putih.
"Aneh kenapa kak?" Tanyaku penasaran.
"Gak di Bandung, gak di Jakarta, selalu ada aja orang yang suka sama kamu. Padahal kamu baru pindah 2 bulan yang lalu." Jawab kak bara.
Aku tak menanggapi apa yang dikatakan kak bara, aku sendiripun bingung. Di Bandung aku selalu jadi incaran para cowo disana, dan di Jakarta? Baru 2 bulan aku disekolah sudah ada yang menyatakan perasaan cintanya padaku.
Bunda pernah bilang, aku dan kak bara memiliki inner beauty yang menurun dari bunda, kata ayah pula bunda dulu juga sama seperti ku. Ada banyak orang yang menyukai bunda, dan sepertinya itu turun menurun.
"Gak tahu deh kak, aku bingung." Jawabku.
"Kakak gak mau, sampai kejadian kaya kamal terulang lagi sama kamu dek, hati-hati yah."
Aku mengangguk paham mengerti dengan ucapan kak bara, ya aku tidak ingin kejadian yang ku alami saat di bandung terulang di Jakarta, cukup sekali aku merasakan hal menyeramkan seperti itu. Kali ini aku akan mencegahnya.
"Kalau emang udah bahaya banget, kamu mending pindah sekolah aja yah dek."
***
Hari ini adalah hari pertama ulangan akhir semester, semalaman aku belajar dengan sangat giat walau aku memakai sks, sistem kebut semalam. Bukannya malas, minggu-minggu kemarin aku gunakan untuk merangkum catatan dan tugas-tugas yang tertinggal, tugas mencatat ku sangat banyak karena aku tertinggal pelajaran selama 2 bulan lamanya.
Dan pagi ini aku tengah berjalan mengelilingi sekolah untuk mencari ruanganku, seperti sekolah pada umumnya, ruangan akan diacak saat ulangan seperti ini. Aku mendapatkan ruangan 12, yang entah berada dimana karena aku baru menemukan ruangan 10. Biasanya di bandung, setiap ruangan ulangan berisi orang-orang dari kelas yang berbeda, entah itu kakak kelas, adik kelas maupun teman satu angkatan yang berbeda kelas.
Sehingga kemungkinan untuk menyontek dan bekerja sama lebih kecil.
Aku berhenti disebuah kelas, kita menemukan sebuah kertas tertempel di jendela bertuliskan no 12 dan aku yakin itu adalah ruanganku, dengan cepat aku memasuki ruangan untuk melihat dengan siapa aku duduk.
Saat memasuki ruangan, keadaan sebelumnya ramai tiba-tiba menjadi hening ketika kehadiranku mereka semua menatapku. Aku yang merasa situasi ini tidak bagus, hanya bisa memberikan sebuah senyuman tipis pada mereka semua, kemudian berlalu pergi untuk mencari mejaku.
Aku mengedarkan pandanganku ketika mendengar teriakan suara yulan, dan benar saja aku melihat yulan tengah duduk disalah satu kursi di ruangan ini. Aku dengan cepat menghampiri yulan, berharap meja ku tidak jauh dari dirinya.
"Aku senang sekali ternyata kita satu ruangan." Ucap ku dengan girang.
"Ya aku juga."
"Tapi bagaimana bisa?" Tanyaku bingung.
"Huruf pertama namamu adalah R dan aku S, pada absen kelas antara namaku dan namamu hanya dilewati 2 orang saja. Setiap ruangan akan ada 5 orang yang berasal dari kelas yang sama." Jelas yulan.
Aku mengangguk mengerti, pantas saja aku bisa bersama dengan yulan.
"Kamu tahu meja nomor 11?" Tanyaku pada yulan.
"No 11 berarti dua meja dari mejaku, didepan sana." jawabnya sambil menunjuk sebuah meja kosong dibagian depan.
Aku mendatangi meja itu lalu meletakan tas beserta papan jalan yang ku bawa, didalam ruangan ini banyak sekali orang yang tak ku kenal, rata-rata mereka adalah adik kelas.
Aku kembali mendatangi yulan untuk sekedar berbincang-bincang, menanyakan chika juga, aku tidak tahu gadis itu berada di ruangan yang mana.
"Yulan, kamu tahu chika ada di ruangan yang mana?" Tanyaku.
"Chika ada di ruangan 5, dia seruangan sama devan." Jawab yulan, aku hanya mengangguk paham.
Merasa tenang, setidaknya masih ada orang yang chika kenali walau tak seruangan dengan aku dan yulan.
"Ca duduk, pengawasnya udah datang tuh."
Aku dengan segera kembali menuju mejaku, duduk dengan rapih. Sebelumnya aku berdoa agar kali ini ulangan ku di lancarkan, dan aku bisa mendapatkan nilai terbaik.
***
Aku menatap suntuk beberapa buku yang tergeletak diatas meja perpustakaan, ada beberapa jenis tapi didominasi oleh buku fisika. Ya, aku memanfaatkan waktu istirahat yang cukup panjang untuk membaca buku diperpustakaan, tentu saja, setidaknya dengan begini aku dapat menghafal walau sedikit.
Sebenarnya pikiranku tak tenang, memikirkan indra. Karena sedari tadi aku tak bertemu dengannya, aku juga tak tahu dimana ruangannya, aku sempat berniat mendatanginya menuju rooftop. Tapi tidak jadi karena aku merasa, aku terlalu sering memikirkan indra, padahal aku bukan siapa-siapanya.
Dan berakhirlah aku disini, bersama tumpukan buku yang hampir setengahnya sudah ku baca. Aku ingin pergi ke kantin tapi malas.
"Hei, ternyata kamu disini."
__ADS_1
Aku melirik siapa yang berbicara itu, dan aku menemukan devan yang berdiri disampingku sambil membawa dua cup es.
"Ya, aku disini." Jawabku berbasa-basi.
Devan ikut duduk disalah satu kursi kosong disampingku. "Ini untukmu." Devan menyerahkan se-cup es rasa cokelat padaku.
Aku menatap devan bingung, kenapa dia memberikan es padaku?
"Itu pemberian chika, tadi aku bertemu dengannya dijalan menuju kemari, tapi dia menyuruhku untuk memberikan ini padamu, katanya dia ingin buang air besar." Jelas devan seakan mengerti dengan rasa bingung ku.
"Oh, kalau begitu terimakasih." Jawabku sambil mengambil se-cup es itu, lalu meminumnya, kebetulan aku juga haus.
"Tumben tidak pergi ke kantin?" Tanya devan.
Aku memilih kembali membuka buku fisika, menyibakan setiap halaman buku yang penuh dengan rumus-rumus tentang gaya dan segala hal. "Hanya malas." Jawabku.
Kali ini aku serius membaca hukum newton, dan beberapa penjelasannya.
"Ca."
"Hm, kenapa?" Tanyaku tak mengalihkan pandanganku dari buku yang tengah ku baca.
"Glen datang kemari." Jawab devan dengan suara pelan hampir sedikit berbisik.
Aku dengan cepat menutup buku fisika itu dan melihat apakah yang dikatakan oleh devan benar adanya. Dan ternyata benar, lelaki bernama glen bersama dengan teman-temannya datang ke meja ku.
"Selamat pagi menjelang siang oca." Sapanya begitu sampai di depanku.
"Hm, pagi." Jawabku malas, aku kembali membuka buku dan membacanya lagi, tak berniat berbincang-bincang dengan glen dan kawan-kawannya.
"Kamu ngapain sama orang ini?" Tanya glen dengan nada mengintimidasi.
Kulihat glen menatap tak suka pada devan, sedangkan devan hanya bisa menundukan kepalanya tak berani membalas tatapab tajam glen padanya.
"Aku yang memintanya datang kemari, lagi pula ini bukan urusanmu." Jawabku ketus, devan menatapku tak percaya seakan hal tadi adalah sebuah mimpi.
"Ya kamu benar, tapi kamu tahu aku cemburu!" Pekik glen.
Aku tertawa sarkas, apa katanya? Dia cemburu?
"Lalu? Apa peduliku? Aku harus menjaga perasaan mu? Bahkan kamu tidak memiliki hak untuk mengatakan bahwa kamu cemburu." Jelasku disertai dengan senyuman yang meremehkan.
"Oca, apa kamu benar-benar menolakku? Apa semua ini gara-gara lelaki ini? Atau karena indra?" Tanyanya dengan wajah yang sangat serius.
Aku menatapnya tak percaya, bagaimana dia bisa berpikir devan adalah alasan aku menolaknya.
"Glen, sudah ku katakan berkali-kali, aku tak menyukai mu, aku bukanlah seseorang yang bisa membohongi perasaan ku sendiri, disaat aku berkata tidak suka berarti aku memang tidak suka." Jelasku sambil menatapnya tak suka.
"Tapi cinta akan hadir jika kamu terbiasa, beri aku kesempatan." Paksanya dengan wajah memelas.
"Bagaimana bisa cinta datang karena terbiasa, jika aku tidak bisa terbiasa dengan adanya dirimu?" Jawabku yang mulai malas dengan perdebatan tak ada ujungnya ini.
Aku berdiri dari dudukku, sambil mengambil buku-buku yang sebelumnya tengah kubaca, aku berniat meninggalkan glen untuk menghentikan perdebatan konyol yang tak ada hentinya ini.
"Ayo devan." Ajaku pada devan yang terus diam dan tak berkata apa-apa.
Aku dan devan pergi meninggalkan glen dan kawan-kawannya, lalu berjalan menuju rak buku fisika untuk menyimpan buku-buku yang ku bawa.
"Biar aku membantu mu." Tawar devan yang juga berdiri disampingku.
"Ya." Jawabku menerima tawaran devan, memberikan buku-buku yang sebelumnya aku bawa kepada devan supaya dirinya bisa membantu ku untuk menaruh buku-nuku itu.
Setelah selesai aku segera pergi dari dalam perpustakaan bersama dengan devan yang masih mengikutiku. Diperjalanan keluar dari perpustakaan, aku melihat sosok indra yang tengah membaca buku tak jauh dari tempat ku duduk sebelumnya.
Dirinya begitu fokus membaca buku, hingga tak sadar aku terus menatapnya dalam diam. "Ca ayo." devan menarik tanganku untuk segera pergi dari tempat indra.
Namun aku benar-benar tak bisa mengalihkan pandanganku darinya, bahkan saat devan menarik tanganku untuk segera pergi, aku terus menjatuhkan pandanganku pada sosok lelaki dengan senyum manis dengan wajah yang tampan itu.
Tanpa ku duga, indra mengalihkan pandangannya lalu memberikan tatapan yang sulit ku artikan, kemudian dia tersenyum padaku, senyum manis yang selalu indra tunjukan padaku.
Aku membalas senyuman itu, setelahnya aku tak lagi menatapnya seperti tadi, rasanya aku sudah sangat tenang saat mendapatkan sebuah senyuman darinya.
Itu sudah cukup untuk mengobati rasa khawatirku padanya. Saat jatuh cinta, rasa khawatir dan cemburu akan sangat besar, sama seperti saat ini, ketika aku mengkhawatirkan dirinya dan yang pada akhirnya menyadarkan aku bahwa aku telah jatuh cinta.
***
**Gaes gaes, jadi gini, seharusnya gini, oca kalau ngomong sama temannya pake bahasa indonesia nonbaku, jadi biasanya pake aku-kamu. Tapi pas ngomong sama indra, bahasa indonesianya pake baku jadi kau-aku.
Nah masalah, aku tuh masih suka gak sadar, malah kalau sm temen-temen oca, aku pake bahasa indonesia baku, jadi semisal kalau ada scene oca lagi ngomong sm temen2nya pake bahasa indonesia baku tolong di kasih tahu yah biar aku revisi lagi.
Maklum gaes kebiasaan, aku udh nge-blend banget sama tulisan baku jadi agak susah ngebeda in nya:v**
__ADS_1