
❝Lalu apakah ini yang dinamakan candu? Hanya dengan sebuah tatapan aku merasakan kehangatan, dan bersama genggaman tangan aku merasa sangat di istimewakan.❞
Roosevelt anindia adriana
***
Aku menatap nanar halaman sekolah yang begitu sepi, sunyi dan dingin. Hujan deras tengah mengguyur kota jakarta hari ini, dan sekarang aku tengah berada disebuah lobi, lebih tepatnya lobi sekolah. Menunggu hal yang tidak tahu pasti kapan akan datang.
Setelah bel berbunyi siang tadi, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan mengambil beberapa buku untuk ku pinjam, aku membutukan buku itu untuk bahan pembelajaran nanti malam.
Namun karena terlalu asyik membaca di perpustakaan, aku sampai lupa waktu dan setelah keluar dari perpustakaan aku sudah tertinggal bus. Jadilah kini aku menunggu jemputan kak bara di dalam lobi, kak bara bilang dia sedang rapat BEM dan sebentar lagi selesai, tapi ini sudah lebih dari setengah jam aku menunggunya, namun tak ada tanda-tanda kedatangan kak bara.
Aku bergerak gelisah sendiri, tak ada siapa-siapa di ruang lobi ini selain aku dan seorang resepsionis atau apalah yang jelas jik ada orang tua murid yang datang, resepsionis perempuan itu akan mengurusnya. Perempuan itu sibuk dengan handphonenya tak sama sekali peduli dengan diriku, lebih tepatnya menganggap diriku tidak ada.
Yulan bilang gadis itu adalah gadis magang, umurnya tak beda jauh dari aku maupun yulan. Yulan juga berkata bahwa ibu yang biasanya menjadi resepsionis tengah cuti hamil.
Aku mencoba tak peduli, namun lama-kelamaan aku juga merasa sangat bosan. Dengan cepat aku mengambil ponselku lalu menelfon kak bara, tapi nomor kak bara tidak aktif. Atau mungkin dia menunggu dihalte bus sekolah? Dan mengira aku berada disana, dengan cepat aku mengambil barang-barang ku termasuk tote bag yang aku bawa.
Saat aku keluar dari lobi sekolah, suasana sangat sepi tak seramai biasanya. Dan kini aku hanya melihat tetesan hujan yang volumenya semakin membesar setiap menitnya. Aku membuka tas yang sebelumnya terpasang di punggungku, membuka resleting tas pada bagian bawah untuk mengambil jas hujan milik tas ini, setidaknya buku didalamnya tidak akan terkena air hujan.
Setelah selesai memakaikan jas hujan pada tas miliku, aku kembali memakainya. Menatap sekeliling, bersiap untuk melawan derasnya aliran hujan, tak ada yang salah dengan air hujan aku menyukainya dan aku sangat tidak takut akan sakit jika terkena hujan.
Aku melangkahkan kakiku, mulai menuruni anak tangga kecil menuju bagian bawah aspal, setetes air hujan membasahi bagian kepalaku hingga terasa dingin disana. Lalu aku kembali melangkahkan kakiku kedua kalinya, kali ini cukup aneh, tak ada air hujan yang menetes pada tubuhku. Aku mendongakan kepalaku mencari penyebab kenapa aku tak terkena air hujan dan benar apa dugaanku, aku menemukan sosok lelaki dengan hodie berwarna abu, juga dengan sebuah payung ia genggam, yang sekarang tengah dijadikan pelindung untuk menghalangi air hujan.
Aku tersenyum lebar, menatapnya dengan perasaan campur aduk seperti biasanya, antara senang terkejut sekaligus terkesan. Lelaki yang selalu bisa membuatku tertawa bahagia walau terkadang bisa membuatku menangis.
"Jangan nekat, jika kau terkena air hujan lalu sakit, bagaimana?" Tanyanya dengan wajah serius.
Aku hanya terkekeh, merasa sangat senang dengan apa yang baru saja ia katakan. Tentang kesehatanku dan juga rasa khawatirnya yang sangat kentara.
"Aku akan baik-baik saja." Jawabku
Dia menghela nafas, sambil menatap ku dengan dalam, tatapan yang membuatku merasa damai. "Ayo, kita pulang menaiki bus saja." Ucapnya sambil menarik tanganku lembut, aku hanya bisa menurut mengikuti setiap langkahnya dari samping sambil menatap jalanan sekolah yang sangat sepi.
Tangan indra sebenarnya tengah menggenggam tanganku erat, aku hanya berpura-pura tidak tahu akan hal itu dan memilih diam, tak apa, aku juga merasa sangat nyaman dengan semua ini.
Berjalan berdua dibawah derasnya air hujan, menikmati setiap gemercik air yang turun dalam volume yang besar, menghasilkan sebuah irama acak yang terdengar nyaring pada gendang telinga, terkadang semilir angin menambah suasana senyap nan damai yang mengelilingi kami berdua. Rasanya aku seperti bermimpi, bersama dengan indra berjalan menuju halte bus. Tentu saja mungkin kalian berpikir ini hanya sebuah khayalan semata, karena terlihat seperti drama, namun kenyataannya memang seperti itu, aku bersama dengan indra.
Kami berdua sampai dihalte bus yang tak terlalu jauh dari sekolah, hanya beberapa langkah dari gerbang sekolah. Indra menutup payung yang sebelumnya ia gunakan untuk melindungi kami berdua dari derasnya air hujan.
Aku mengigil ketika angin tiba-tiba bertiup dengan cukup kencang, menusuk tulang, menerbangkan setiap helai rambutku yang terurai.
"Dingin?" Tanya padaku, aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.
Tiba-tiba indra mengambil kedua tanganku, ia genggam dengan sangat erat, membawanya hingga sangat dekat dengan mulutnya, aku tak tahu apa yang akan dia lakukan. Namun, setelahnya tiupan hangat diberikan oleh indra pada kedua tanganku yang masih ia genggam dengan erat.
Aku termangu ditempat, tak menyangka indra akan melakukan hal ini. Aku sempat bertatapan mata dengannya, dengan tatapannya yang selalu sendu penuh dengan kelembutan terkadang juga sebuah kesedihan yang begitu mendalam.
"Masih dingin?" Tanya lagi, masih dengan posisi yang sama.
Aku lagi-lagi mengangguk karena memang kenyataannya seperti itu, walau tak terlalu dingin seperti tadi namun rasa dingin itu masih kurasakan. Dia memberikan ku sebuah senyuman lembut, penuh arti dengan satu pejaman mata yang terasa begitu menyesakan untukku.
Kedua tangan indra kembali membawa tanganku, kali ini dia lebih mendekatkan tubuhnya padaku, lebih dekat, semakin mengikis jarak diantara kami berdua, kemudian masing-masing dari tangannya menggenggam salah satu tanganku, lalu membawanya masuk pada saku hoddie yang ia gunakan.
"Rasanya akan lebih hangat." Ucapnya dengan mata yang tetap berfokus padaku, terkadang disetiap tatapannya padaku terpancar beberapa hal yang bahkan sama sekali tak ku mengerti, sorot mata penuh luka yang terus berusaha terlihat tegar dengan sebuah senyuman lembut yang begitu menganggumkan.
Sekiranya hanya itu yang dapatku ku mengerti, walau terkadang merasa bodoh dengan asumsi ku sendiri, karena sikap indra yang selalu berubah setiap saatnya.
Lalu apakah ini yang dinamakan candu? Hanya dengan sebuah tatapan aku merasakan kehangatan, dan bersama genggaman tangan aku merasa sangat di istimewakan.
***
Hari ini aku berdandan dengan cukup cantik, lebih tepatnya sedikit dilebihkan dari pada sebelumnya, aku bahkan menyematkan sebuah jepit rambut berwarna biru dan putih berbentuk bunga yang bermekaran pada rambutku yang ku biarkan terurai.
Jepitan itu sangat istimewa, indra membelikannya padaku saat aku tak sengaja bertemu dengannya di sebuah cafe, pertemuan yang tak disengaja, hari itu aku hanya berniat untuk membeli makanan, namun menemukan sosok indra yang tengah makan disana. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar bersama terangnya sinar sang bulan, pergi menuju pasar malam yang tak berada jauh dari cafe itu.
Sebenarnya aku bersama kak bara saat itu, tapi karena melihat kami berdua bertemu dan kak bara akan ada urusan akhirnya dia memutuskan untuk menitipkan aku pada indra, kak bara memang sangat peka. Jadilah malam itu kami berdua bermain dipasar malam, dan dengan indra yang membelikan jepit rambut ini untukku.
Setelah selesai memakai pelembab bibir, aku keluar dari kamarku dan menumakan kak bara sudah sangat tampan dengan kemeja berwarna putih juga celana bahan berwarna hitam yang begitu mendominasi, dan rambutnya yang ia tata dengan sedemikian rupa hingga terlihat sangat rapih.
Aku yakin ini tidak akan berjalan dengan lancar.
"Kakak sangat tampan." Jawabku sambil menarik knop pintu kamarku.
Aku berjalan mendekati kak bara, untuk melihatnya lebih dekat, kakak ku memang tampan.
"Tentu saja, kakak." Sombongnya.
Aku memutar bola mata malas, lebih tepatnya menyesal karena telah memuji kak bara.
"Aku tarik kembali ucapanku." Ucapku sambil berlalu pergi meninggalkan kak bara.
Ku dengar sebuah kekekan kecil dari kak bara.
"Iya, adik kakak juga sangat cantik hari ini. Ralat, lebih tepatnya selalu cantik setiap saat." Pujinya yang kini memeluk tubuhku dari belakang.
Aku tersenyum senang, merasa sangat beruntung karena memiliki sosok kakak seperti kak bara, dia selalu perhatian bahkan selalu mengkhawatirkan keadaanku walau terkadang menyebalkan.
"Terimakasih kak, ayo nanti kita terlambat." Ujarku sambil melepaskan pelukannya padaku.
Dia mengangguk kemudian menggandeng tanganku menuju garasi. Hari ini adalah hari istimewa, karena hari ini adalah pembagian rapot siswa, setelah hampir 1 minggu aku bergelut dengan kertas ulangan dan akhirnya hari yang ku nanti-nanti tiba.
Sekolah meminta saat mengambil rapot agar ada wali murid yang mendampingi, karena hari ini ayah dan bunda sangat sibuk jadilah kak bara yang menemaniku untuk mengambil rapot disekolah. Sebenarnya aku cukup kecewa karena lagi-lagi mereka berdua tak bisa datang untuk mengambil rapotku, tapi aku bersyukur karena masih ada kak bara yang selalu menemaniku.
***
__ADS_1
Aku membuka pintu mobil, lalu keluar sambil membenarkan seragam yang aku gunakan. Hari ini kak bara memutuskan untuk membawa mobil, sengaja katanya.
"Ayo kak." Ajak ku sambil menggandeng tangannya, baru berjalan beberapa meter dari parkiran, aku sudah mendengar berbagai macam bisikan dari orang-orang yang melihat kak bara dan selalu saja, kak bara akan selalu menjadi seseorang yang disukai banyak orang karena ketampanannya.
"Berasa jadi idol kakak dek." Ucapnya sambil terkekeh pelan, aku mengerucutkan bibir karena kesal menjadi bahan gunjingan banyak orang.
Aku Samar-samar mendengar reaksi orang-orang begitu melihat aku dan kak bara, ada yang mengatakan bahwa kak bara adalah kekasihku, ada yang mengatakan bahwa kak bara adalah kakak ku, ada juga yang berteriak tak jelas sambil memandangi kak bara dengan tatapan kagum.
"Udah jangan di dengerin, kelas kamu dimana dek?" Tanyanya yang mengetahui aku merasa sangat risih dengan ucapan orang-orang mengenai aku dan kak bara.
"Disini." Aku melepaskan tautan tanganku dengan kak bara, berjalan mendahuluinya untuk menunjukan dimana kelasku.
Sebenarnya sengaja ku lepaskan, karena aku selalu benci ketika menjadi pusat perhatian terutama untuk hal yang buruk seperti saat ini, menjadi bahan gosip semua siswa disekolah.
Aku memasuki ruangan kelasku yang ramai sekali, diikuti kak bara dari belakang tentunya. "Wah dek, sekolah kamu bagus banget yah, pantes spp bulannya melebihi jajan kakak sebulan." Ujarnya sambil tertawa garing, ketika memasuki ruangan kelas, semua orang disana menatap kak bara dengan tatapan kagum.
Bahkan semua aktivitas yang terjadi didalam kelasku terhenti seketika, mulai dari wali murid hingga muridnya menatap kakak ku dengan tatapan aneh.
"AAAAAHHHH, Kak bara, assalamualaikum."
Chika yang sebelumnya tengah duduk bersama dengan seorang ibu-ibu disana langsung berlari untuk bersalaman dengan kak bara. "Waalaikumsalam, eh chika." Jawab kak bara berbasa-basi.
"Sama siapa kesini nya?" Tanya kakakku.
Chika yang ditanya hal seperti itu tentu saja sudah tersenyum-senyum tidak jelas, tapi di mataku itu terlihat menjijikkan, ew, apakah seperti itu rasanya jatuh cinta? Apakah aku seperti itu saat bersama dengan indra?
"Kak, diliatin tuh." Ucapku sambil menyenggol kak bara dengan siku tanganku.
Kak bara tersadar, kemudian memberikan sebuah senyuman manis pada semua orang disana. "Ayo kak, disini tempat duduknya." Ajak chika dengan sangat antusias, aku yang melihat hal itu hanya bisa mengekori kak bara dari belakang sambil menggerutu kesal.
"Selamat pagi yulan." Sapaku begitu melihat yulan yang tengah duduk di kursi dekat mejaku.
"Pagi oca." jawabnya dengan wajah semringah, disamping yulan aku melihat seorang perempuan yang sangat cantik, wajahnya putih dan matanya bulat, yang jelas bukan asli orang indonesia.
"Hai kak juyi." Sapaku pada kak juyi, aku sudah beberapa kali bertemu dengan kak juyi walau terkadang masih pangling dengan kecantikan kak juyi.
"Hallo oca."
"Hai yulan." Sapa kak bara dengan senyuman manis khas kak bara.
"Hai juga kak bara, ganteng banget hari ini." puji yulan dengan begitu jujur, kak bara hanya terkekeh sudah terbiasa jika di puji tampan.
Aku mendudukan diriku bersama dengan kak bara di kursi yang bersebelahan dengan yulan juga kak juyi. "Dek.
"Kenapa kak?" Tanyaku begitu mendengar kak bara memanggilku.
"Cewe yang disamping yulan itu siapa?" Tanyanya setengah berbisik.
"Namanya kak juyi, kakaknya yulan." Jawabku biasa saja.
"Dia udah menikah kak." Ucapku.
Kak bara langsung melotot, menatapku tak percaya. "Seriusan dek?!" Tanyanya dengan cukup keras.
"Iya."
"Sial banget, baru mau di gebet."
Aku tertawa pelan mendengar misuhan kak bara karena mengetahui kalau kak juyi sudah menikah, dasar kak bara.
"Eh dek, kamu sekelas kan sama indra? Dimana dia?" Tanya kak bara sambil mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kelas untuk mencari keberadaan indra.
"Belum datang kali kak." Jawabku yang juga tak merasakan kehadiran kaylindra dikelas ini.
Setelahnya wali kelasku datang diikuti sosok indra dibelakangnya, lelaki itu tak berani menatap ke sekeliling dan indra datang tanpa ditemani siapapun, atau lebih tepatnya sengaja tidak datang untuk mengambil rapot milik indra.
***
"Selamat yah, gak sangka kamu bakal ranking 3." Ucap kak bara setelah kami berdua keluar dari ruangan kelas.
Wali kelasku bilang aku ranking 3, devan ranking 2 dan tebak siapa yang mendapatkan peringkat pertama? Tentu saja indra, guru-guru sudah sangat tahu bahwa lelaki itu pandai, dan tidak dapat diragukan lagi kecerdasannya.
"Nanti malem traktir yah?" Ucapku dengan sebuah senyuman manis.
"Iyaa."
Aku tertawa senang karena mendengar kak bara akan mentraktirku, lumayan lah aku akan memintanya makan di cafe yang terkenal dan memesan banyak makanan.
Tentang indra, ya seperti apa yang ku katakan tadi, wali murid indra tidak datang. Banyak orang yang mengatakan selama bersekolah di sma ini, tidak ada yang pernah tahu seperti apa wajah kedua orang tua indra, karena jika ada yang berhubungan dengan wali murid, kedua orang tua indra tidak akan datang dan indra sudah dibenci sejak pertama masuk sekolah, terutama karena provokasi dari glen dan antek-antek nya.
"Kenapa yah orang tua Indra gak datang." Tanya kak bara padaku.
Aku hanya mengidikan bahu tak peduli, sebenarnya tak ingin menjawab pertanyaan kak bara. Kami berdua berjalan bersama menuju parkiran, tentu saja masih dengan tatapan tajam, mencemooh hingga kagum pada kak bara dan aku, resiko memiliki kakak setampan kak bara jadi aku harus maklum dan membiasakan diri.
"Oca."
Langkah ku terhenti begitu mendengar suara khas yang begitu aku kenal memanggil namaku, aku menoleh memastikan jika suara yang aku dengar adalah suara seseorang yang sangat istimewa bagiku.
Dan benar saja, begitu aku menolehkan kepala aku menemukan sosok indra yang tengah berdiri tak jauh dari tempat ku dan kak bara. Indra mendatangi aku dan kak bara, kemudian memberi salam kepada kak bara dengan mencium tanganya.
"Eh indra, selamat yah bisa jadi peringkat pertama." Ucap kak bara memberikan selamat.
"Iya kak, terimakasih." Jawab indra dengan sebuah senyuman manis.
__ADS_1
"Kak, saya ingin meminta izin untuk mengajak oca pergi bersama saya, saya berjanji akan mengembalikan oca secepatnya." Izin indra pada kak bara.
Aku sempat terkejut karena tak menyangka indra meminta izin pada kak bara untuk membawaku.
"Ya tentu saja, jaga oca baik-baik." Jawab kak bara memberikan izin, kemudian menepuk bahu indra pelan.
Setelahnya kak bara melambaikan tangan padaku, berlalu pergi memasuki mobil meninggalkan aku dan indra berdua.
"Ca, ayo." Ajak indra sambil menarik tanganku, menjauh dari halaman parkir menuju gedung sekolah.
"Ndra? Kita mau kemana?" Tanyaku begitu melihat indra menaiki tangga menuju lantai tiga.
Dan benar seperti apa dugaanku, indra mengajak ku untuk pergi ke rooftop disana suasananya sangat berbeda, tidak seperti sebelumnya, aku melihat beberapa pot bunga berjajar didekat pagar pembatas, ada juga bunga rambat yang sengaja di lilitkan pada panggar pembatas.
"Wow, kau menghias rooftop ini?" Tanyaku.
"Ya, kau suka?" Ucapnya, bertanya balik padaku.
"Tentu saja." Jawabku girang, bukan hanya kebohongan. Tempat ini begitu indah dan tak sekumuh biasanya, lebih rapih dan bersih.
"Kemari." Indra kembali menarik tanganku, kini dia mengajaku untuk berdiri di belakang pagar pembatas yang sudah penuh oleh bunga-bunga.
"Kau tahu kenapa aku membawa mu kemari?" Tanyanya.
Aku menjawab dengan gelengan karena memang tak tahu alasan indra mengajak ku rooftop. Indra dengan senyuman manisnya menggapai kedua tanganku, menggenggamnya dengan sangat erat, tak seperti biasanya.
"Kau rasakan ini."
Tanganku dibawa oleh indra menuju dada sebelah kirinya, aku terkejut ketika merasakan sebuah degupan yang sangat kencang dengan ritme yang tidak menentu.
"Kau bisa merasakannya? Betapa kencangnya detak jantungku, dan kau tahu, ini hanya terjadi ketika aku bersama denganmu."
Aku menatap indra semakin tak percaya. "Sebenarnya aku ingin menanyakan ini padamu, apakah saat bersama denganku kau merasakan hal yang sama?" Tanyanya.
Aku mengigit bibir bawahku sendiri gugup, tak tahu apa yang harus aku ucapkan, lidahku terasa sangat kelu sulit untuk mengucapkan sepatah kata.
"Sebenarnya banyak yang belum ku ceritakan padamu, tapi hari ini aku akan mengatakan apa yang sebelumnya tak pernah kau ketahui."
Aku hanya menatap lelaki yang ada dihadapanku ini dengan sangat lekat, sesekali memandang kagum indra yang sangat tampan dengan rambutnya yang beterbangan karena tertiup angin.
"Saat pertama melihat mu aku merasakan hal yang sangat berbeda, senyuman mu dan tatapan hangat pada semua orang membuat ku merasa sangat senang untuk menatapmu setiap saat, entah saat kau tengah membaca buku, saat menulis bahkan saat tertawa dan berbicara kau akan selalu mempesona." Jelasnya.
"Dan semenjak hari dimana kau mendatangiku, mengajaku untuk berteman aku merasa kau benar-benar gadis baik, ketika semua orang membenci ku hanya kaulah yang bertahan dan selalu membelaku."
"Dan sejak minggu lalu, aku menyadari sesuatu hal, bahwa aku mencintaimu oca. Mau kah kau menjadi kekasihku?"
Aku semakin terdiam, tak dapat lagi berkata-kata perasaanku sangat senang dengan pernyataan cinta yang indra utarakan, tapi aku bingung dengan semua ini, bukankah ini tidak terlalu cepat? Walaupun sudah hampir 1 bulan aku mengenal indra, namun rasanya ah... Aku ragu.
"Oca."
Aku sadar dari lamunan ku, dan kini memberanikan diri untuk menatap wajahnya. "Indra, kau tahu aku cukup takut untuk memulai sebuah hubungan, aku hanya takut dan apakah aku bisa? Membahagiakan mu, melindungi mu ataupun membuat mu tertawa, dan aku hanya khawatir ketika aku tak bisa melakukan hal itu kau akan berpaling dariku." Jelasku dengan sangat jujur, dengan keberanian yang sedari tadi aku kumpulkan akhirnya aku berani mengungkapkan hal ini.
Tanggapan indra kemudian hanya sebuah tawaan kecil dengan deretan giginya yang sengaja ia tunjukan. "Seharusnya aku yang mengatakan hal itu, karena aku tahu aku belum cukup pantas untuk melindungi mu, membahagiakan mu dan membuat mu tertawa bersamaku. Namun satu yang dapat ku pastikan, aku bisa memberi mu banyak cinta dan kasih sayang yang tak akan pernah kau rasakan sebelumnya."
Aku terenyuh dengan ucapan indra, cinta, selama ini aku belum merasakan hal itu, walau pernah beberapa kali menjalin hubungan, tapi rasanya selalu hambar dan tak pernah membahagiakan karena rata-rata lelaki yang menjadi kekasihku hanya memandangku dari kecantikan yang aku miliki, bukan dari cinta ataupun hati.
"Indra, ayo kita coba membangun hubungan, dan saling membahagiakan." Jawabku dengan sangat yakin.
Indra tersenyum dengan sangat lebar, kemudian memeluk ku dengan sangat erat. "Biarkan aku merasaka detak jantungmu yang berdetak dengan sangat kencang." Ucapnya dalam sela-sela pelukan mesra aku dan dirinya.
Hari ini, dengan suasana yang sangat membahagiakan bersama hembusan angin sore juga senja yang menyaksikan akhirnya aku dan indra bersama dalam sebuah ikatan hubungan, berjanji satu sama lain akan saling melindungi dan membahagiakan.
Dengan detak jantung yang begitu berdebar dengan sangat cepat, akhirnya aku menemukan sesuatu hal yang sudah lama ingin aku temukan, sebuah kenyamanan dan cinta yang begitu mendalam.
***
**Hallo akhirnya ara update lagi:( ada di draf ini chapter😭 gimana? Akhirnya indra sama oca offcial nih, kiww mau minta pj gak sama oca dan indra pasangan yang penuh drama ini AWOKAWOKAWOKAWOK😂😏
Konflik belum dimuali guys, saksikan saja gimana akhirnya kisah mereka berdua apakah akan sesedih romeo and Juliet atau seindah cerita Disney?
Btw, kalian bingung sama visual indra sama oca ye kan? Ara sih gak pernah netapin visual tetap ke cast indra maupun oca, terserah kalian mau bayangin indra sama oca pake muka siapa, mau itu angga yunanda, sm zara jk48. Atau Iqbal sama vanessa prisilia, pokoknya terserah kalian.
Tapi disini aku pas lagi nulis cerita ini selau ngebayangin muka na jaemin sebagai indra😂😏 dan jeon heejin sebagai oca.
Mau liat muka mereka kalau versi aku? Nih
Na jaemin**
,
Jeon heejin
__ADS_1