Dear Love School

Dear Love School
make up


__ADS_3

❝Karena sekeras apapun seseorang menampilkan sesuatu hal yang terbaik dari dirinya, akan selalu jelek dan buruk dimata pembenci.❞


Roosevelt anindia adriana


 


  ***


Ruang tamu hening saat kehadiran indra di tengah-tengah kami berempat. Tidak ada lagi teriakan alyssa maupun suara berisik chika yang sebelumnya mendominasi ruang tamu ini.


  Sekarang yang terdengar hanya suara dari berbagai alat yang di gunakan untuk membuat bunga, seperti gunting dan juga cutter. Mungkin kehadiran indra membuat mereka merasa canggung untuk bersuara.


  Indra juga tidak mengeluarkan sepatah katapun dia hanya terdiam sambil mengerjakan tugasnya membuat bunga, aku kesal sungguh kenapa mereka bisa seperti ini.


  "Sudah selesai." Aku tersenyum senang saat bunga yang telah di buat sudah selesai ku tata di dalam pot plastik yang kami beli. Jika di tanya tentang tata menata sesuatu aku adalah ahlinya, entah dari mana bakatku ini yang jelas aku suka menata suatu ruangan ataupun benda.


  "Bagus banget oca, aku baru tahu lho kamu bisa menata bunga sampai sebagus ini." Puji alyssa aku yang mendengarnya hanya terkekeh, menurutku alyssa terlalu berlebihan.


   "Oca emang gitu, kalau semisal kelas itu punya dia mungkin udah dia tata sedemikian rupa." Kini chika yang menimpali aku hanya bisa terkekeh sambil menatap mereka satu persatu.


  "Memang cita-cita mu ingin menjadi apa oca?" Tanya yulan, aku berpikir sebentar untuk cita-cita aku mempunyai banyak, tapi ada beberapa cita-cita yang menurutku cocok dan menjanjikan untuk ku.


  "Aku ingin menjadi dokter." Jawabku, mereka semua melotot dengan jawabanku, termasuk indra yang sekarang menatap ku dengan tatapan bingung.


  "Ca, tidak nyambung kamu pandai mendesain tapi bercita-cita menjadi seorang dokter?" Ujar chika dengan wajahnya yang menunjukan raut bingung dengan apa yang aku katakan.


  "Alasan kamu ingin menjadi dokter?" Tanya yulan, aku terdiam untuk kembali berpikir jawaban apa yang akan ku berikan.


  "Karena jika seseorang yang aku sayang terluka aku bisa mengobatinya. Dia sangat suka membuat tubuhnya sendiri penuh luka." Jawabku sambil tertawa kecil, chika, yulan dan alyssa langsung menatap ku dengan curiga.


  "Siapa hayoo?" Alyssa menatap ku dengan tatapan menggoda sambil menunjuk wajahku dengan jarinya.


  Aku tersenyum tipis tidak berminat untuk menjawab pertanyaan alyssa. "Pasti devan. Iya kan? Secara kan devan lagi giat banget pdkt-an sama oca." Jawab chika.


  Aku menggeleng kuat tidak setuju dengan ucapan chika. "Aku tidak suka dengan devan, dia tidak sopan apalagi saat memeluk ku waktu itu. Jujur aku risih bahkan aku menginjak kakinya karena kesal." Jawabku sambil mengerucutkan bibir.


  "Apa?! Kamu menginjak kakinya?" Tanya alyssa dengan nada terkejut.


  "Ya. Aku menginjaknya, tidak sopan, berlaku semena-mena seperti itulah devan menurutku." Jawabku acuh menuangkan sirup dari dalam teko untuk diriku sendiri.


  Aku meminumnya merasakan betapa segarnya sirup saat membasahi kerongkongan keringku. "Hm, kau benar devan memang kurang sopan." Tambah yulan yang mendengarkan pembicaran kami.


  Aku hanya melihat indra terdiam tidak menunjukan reaksi apapun dari apa yang kami obrolkan, padahal aku tengah berusaha membuat indra tahu bahwa semua hal yang ia lihat beberapa hari lalu tidak seperti apa yang dia bayangkan.


  "Sudahlah, aku tidak akan memaksa kamu untuk menerima devan, kalau memang kamu tidak nyaman." Ucap chika dengan nada menyesal.


  Selama beberapa hari ini chika lah yang menjadi 'Mak comblang' dalam proses pdkt antara aku dan devan, walau aku tidak menanggap hal itu sebagai pendekatan.


  "tidak apa-apa, jika aku dan devan tidak memiliki hubungan spesial, setidaknya aku bisa berteman dengannya." Jawabku dengan wajah ceria, aku tidak ingin membuat chika merasa menyesal karena telah menjodohkan aku dan devan.


  "Ini sudah selesai bukan? Aku harus segera pergi, kakak ku akan berangkat ke korea dan aku ingin mengantarkannya ke bandara." Jelas yulan pada kami semua.


  Yulan memang mempunyai seorang kakak perempuan, kakaknya bernama song juyira dan sudah menikah, kak yira sering sekali ke indonesia untuk mengunjungi ayah dan ibunya yang berada di indonesia.


  "Oke." Aku bangkit dari duduk ku lalu berjalan untuk mengantarkan yulan yang sudah membersekan barang-barangnya.


  "Ca, aku juga harus pulang hari ini aku harus pergi bersama dengan mama ke Surabaya untuk mengunjungi nenek." aku melihat chika yang juga ikut pulang dengan yulan.


 


  "Gue sendirian dong? Kagak gue gak mau, gue juga mau balik." Aku melirik alyssa yang juga membereskan barang-barangnya.


  "Jadi mau pulang semua ini?" Tanya ku pada mereka bertiga yang sudah selesai membereskan barang-barangnya.


  "Kayanya sih." Jawab chika yang melihat kedua sahabatnya sudah selesai membereskan barang-barang mereka.


  "Ayo ku antar sampai depan pintu." Aku sudah berjalan untuk mengantarkan mereka sampai pintu, tapi teriakan yulan menghentikan langkah ku.


   "Janganlah ca, kita bisa sendiri kok." Ucap yulan, aku hanya menjawabnya dengan anggukan.


   "Kami pamit yah, dah oca." Aku tersenyum saat mereka bertiga melambaikan tangannya padaku, berjalan pergi meninggalkan aku dan indra di ruang tamu.


  Aku kembali duduk di tempat ku semula, ikut membereskan sampah-sampah yang tersisa di atas meja. Indra juga membantuku jadi pekerjaan ini lebih cepat selesai.


  "Oca." Aku melirik indra yang memanggil namaku, oke. Jujur aku ingin berteriak sekatang apakah indra tidak marah lagi padaku?


   "Ya." Jawab ku berusaha menetralkan perasaan ku juga ekspresi wajahku.


  "Besok kau tidak ada acara?" Tanya indra padaku, aku tertegun dengan mata sedikit menyipit.


  "Tidak ada, memang kenapa?" Jawabku menghentikan segala aktivitas yang tengah ku lakukan.


  


   "Besok aku akan menjemputmu pukul sembilan pagi." Ucap indra, aku langsung melotot dia ingin mengajak ku kemana? Apakah dia ingin mengajak ku untuk sebuah kencan? Jangan terlalu pede oca, bisa saja dia mengajakmu untuk melakukan hal lain.


   "Kemana?" Tanyaku.


   "Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan mengelilingi kota jakarta." Jawabnya sambil menatap kedua mataku.


  "Ah, oke." Jawabku dengan canggung, jujur aku merasa sangat senang dengan ajakan indra padaku.


   "Lho? Teman-teman mu kemana oca?" Ku lihat bunda datang dari arah dapur sambil membawa nampan yang berisi kue kering.

__ADS_1


   "Udah pulang bun." Jawabku.


   "Yah, padahal kue bunda baru aja matang." Ucap bunda dengan nada sedih.


   "Eh, masih ada indra toh?" Bunda yang melihat indra langsung mengambil tempat duduk di samping indra.


   "Nih makan dulu kue buatan bunda." Bundaku menyodorkn kue buatannya pada indra.


  Indra tersenyum canggung sambil mengambil kue kering buatan bunda. "Oh yah, kata kak bara indra ini yang sering nganterin oca yah kalau kak bara telat jemput oca?" Tanya bunda.


  Aku membuang muka malu, kak bara memang kurang ajar bagaimana bisa dia menceritakan hal ini pada bunda.


  "Ah, iya tante." Jawab indra dia tersenyum kecil pada bunda, bunda hanya tertawa melihat tanggapan indra.


  "Jangan panggil tante, panggil aja bunda." Pinta bunda pada indra, indra hanya mengangguk kecil sementara aku sudah merasa malu karena kak bara yang berani-beraninya menceritakan hal ini pada bunda.


  "Terimakasih yah indra, oca memang orang baru di jakarta jadi belum terlalu tahu tentang namanya kota jakarta. Kalau bisa nanti kamu ajak deh oca keliling kota Jakarta." Kata bunda sambil terkekeh kecil.


  Indra hanya menjawab 'iya' bersama dengan tawa yang membuat suasana ruang tamu menjadi sedikit riuh.


   "Ada apa ini rame banget?" Aku mencari asal suara berat yang ku tahu itu adalah suara milik ayah.


  Ku lihat ayah ikut duduk di samping bunda, sementara bunda terus menunjukan senyumnya.


  "Ini yah bunda lagi ngobrol sama indra, ternyata orangnya asik banget yah." Ucap bunda yang membuat mata ayah membulat.


  "Oh yah?" Ayah menunjukan ekspresi seolah-olah terkejut dengan apa yang dikatakan oleh bunda.


  Indra hanya tersenyum tipis melihat reaksi ayah tentang dirinya. "Wah, ayah yakin kok teman pilihan oca adalah yang terbaik. Sebaik pilihan ayah untuk bersama dengan bunda."


  Kami semua tertawa ketika mendengar ucapan ayah, walau tidak terkesan lucu tapi kami ingin membuat suasana ruang tamu ini terasa hangat.


  Aku tersenyum melihat betapa lepasnya indra tertawa, selama beberapa bulan ini aku belum pernah melihat indra tertawa lepas.


  Aku hanya sering melihatnya terdiam dengan wajah tanpa ekspresi seolah dunia adalah musuhnya. Tapi saat melihat indra tertawa seperti ini, aku merasa indra tidak seburuk apa yang di katakan oleh orang lain.


  Bagi ku indra adalah sebuah misteri yang perlu di pecahkan rahasianya agar semua orang tahu, sesuatu yang di takuti belum tentu berbahaya.


***


  Aku merebahkan tubuhku di atas kasur sambil menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih, pikiranku melana pada sebuah imajinasi tentang hari esok dimana aku dan indra akan pergi bersama.


  Rasanya ini adalah sebuah kesempatan yang bagus untuk ku, untuk menjelaskan segala yang indra lihat hari itu. Aku tidak tahan jika harus terus saling berdiam diri dengan indra.


  Setelah acara berbincang-bincang antara aku, ayah, bunda dan indra selesai. Indra memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


  Setelah indra pulang ayah mengatakan padaku bahwa indra adalah seseorang yang sangat baik, ramah dan juga sopan. Bahkan ayah mengatakan bahwa indra sudah sangat pas untuk menjadi pacarku.


  Tapi itu tandanya ayah dan bunda sudah merestui hubungan ku dengan indra. Ya, jika hal itu memang benar-benar terjadi, tapi aku yakin hal itu tidak akan terwujud.


Aku tersentak kaget ketika suara dering telefon ku berbunyi, dengan tergesa-gesa aku mengambil ponsel ku yang ku letakkan di atas nakas.


  Saat aku melihat nama yang berada di layar telefonku, aku tersenyum kecil saat mengetahui yang menelefon ku adalah sahabat ku yang berada bandung yaitu eneng.


  Dengan segera aku mengangkatnya.


  "Assalamualaikum oca!"


  Aku terkekeh karena teriakan eneng dari sana, dia adalah gadis yang sangat energik dengan logat khas sundanya yang sangat melekat.


  "Wa'alaikumsalam eneng." Jawabku.


  "Haduh oca, kamu teh dari mana aja? Jarang banget telefonan sareng eneng?"


  Aku terkekeh pelan, eneng memang seperti itu dia menggunakan bahasa campuran jika berbicara dengan ku.


  "Maaf neng, ternyata sekolah di jakarta itu padat banget tugasnya."


  "Mangkanya tah, eneng mah alim pindah ka jakarta."


"Ya mau gimana lagi neng, kan harus ikut sama orang tua." Jawab ku.


  Padahal sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan bandung, tapi ini harus ku lakukan.


   "Eneng hilap, kumaha oca damang?"


  "Baik kok, eneng disana gimana? Keluarga eneng Sehat? Gimana kabar siti?"


  "Alhamdulillah di sini sehat sadayana, siti mah jangan di tanya dia mah makmur bin sejahtera." jawab eneng dengan tawa yang menggelegar dia adalah tipe orang yang berterus terang dengan keadaannya. Mau sedih, bahagia, baik, buruk eneng akan selalu bercerita.


  "Bukan bin kali neng, tapi binti." Timpal ku.


  "Ah, uhun hilap eneng teh."


  "Eneng mah kaya gitu kan? Orangnya hilap mulu"


  "Uhun ca, oh ca eneng ti sakola bade aya acara study tour ka Jakarta, eneng sareng siti palai ketemu sama oca."


  "Kapan acaranya teh?"


  "Besok ca, tempat na ka bank indonesia, ka ragunan sareng ka kota tua. Pas ka kota tua nanti eneng telefon deui oca. Nanti kita ketemu disana."


  "Kebetulan, oke deh nanti jangan lupa kabarin yah. Salamin sama siti jangan mentang-mentang sejahtera dan makmur hilap ka babaturan."

__ADS_1


  "Sip, nanti eneng pites sirah na si siti, kalau sombong sama temen."


  "Hahah, oke, makasih yah neng, see you tomorrow."


  "See you tomorrow juga ocaa."


Panggilan berakhir setelahnya, ya begitulah eneng dia akan selalu mempunyai ciri khas dengan bahasa sundanya walau kadang dirinya sering mencampurnya dengan bahasa indonesia.


  Dia bilang bicara dengan ku tidak boleh menggunakan bahasa sunda lengkap, karena aku memang tidak terlalu paham dengan bahasa sunda, dan juga karena aku memang bukan orang sunda.


  ***


   Keesokan paginya aku sudah berdandan dengan rapih, sekarang sudah menjukan pukul setengah sembilan setidaknya ada setengah jam untuk berbicara dengan ayah dan bunda yang tengah bersantai di ruang keluraga.


  Aku mendatangi mereka dengan sebuah senyum merekah, aku cukup bergaya simple hanya menggunakan dress tanpa lengan selutut berwarna biru muda dengan tas selempang berwarna putih yang mendominasi pakaian ku.


  Aku juga membiarkan rambutku terurai begitu saja menurut ku itu lebih baik.


  "Morning ayah bunda." Sapaku pada mereka berdua, aku sengaja tidak menyapa kak bara yang memang berada disana.


  "Morning. Pagi-pagi udah rapih, mau kemana?" Tanya bunda, aku hanya tersenyum tipis aku malu jika harus mengatakan bahwa aku akan jalan bersama dengan indra.


  Karena yang aku takutkan mereka malah beranggapan aku dan indra akan berkencan.


  "Biasa bun, dia mau nge-date sama indra." Cerocos kak bara, reflek aku langsung melotot padanya bisa-bisanya kak bara berkata seperti itu.


  "Beneran dek?" Tanya bunda, aku yang sudah ketahuan hanya tertawa sambil menunjukan gigiku.


  "Gerak cepat banget indra." Ucap ayah, aku langsung terdiam, gerak cepat bagaimana aku saja belum tahu dia akan mengajak ku kemana.


  "Jadi kalian mau kencan?" Tanya bunda lagi.


  "Tidak bunda, aku dan indra bukan berkencan, indra hanya ingin mengajak ku untuk mengelilingi kota jakarta" Jawabku mengelak apa yang di katakan oleh bunda.


  "Bunda mengerti, tidak apa-apa lagi pula bunda percaya pada indra, dia anak yang sangat baik." jelas bunda aku tersenyum girang.


  Bunda sudah memberi lampu hijau jika seandainya aku dan indra memiliki hubungan spesial.


  "Bunda bagaimana sih? Oca kan masih sma bun, biarin dia fokus sekolah dulu." Protes kak bara, aku mengpoutkan bibirku kesal dengan ucapan kak bara.


  Kenapa sepertinya kak bara sangat tidak suka dengan indra, padahal jika tidak ada indra pada hari itu, mungkin aku tidak akan berada disini sekarang.


  "Biarin oca nikmatin masa SMA nya, bunda yakin oca pandai menjaga diri, kamu tidak berkaca pada dirimu sendiri, sudah berpacaran saat di bangku smp. Bagaimana itu?" Aku terbahak mendengar bunda memarahi kak bara.


  Dulu saat di bandung kak bara adalah most wanted di sekolahnya, dia masuk jajaran lelaki tampan play boy saat smp dan sma. Kak bara terkenal play boy dan sering mempermainkan perasaan perempuan. Hingga aku sendiri takut terkena karma dari perbuatan kak bara, maka dari itu aku sering meminta maaf pada perempuan yang di sakiti oleh kak bara. Bahkan, aku juga suka membantu seseorang yang menyukai kak bara untuk dekatnya.


  Tapi sayangnya kak bara tetaplah play boy kelas kakap, dan sekarang dia insaf mungkin saja karena sampai sekarang dia belum mempunyai kekasih.


  "Bara kan lelaki bun, banyak perempuan yang terpesona dengan bara." Jawab kak bara sambil terkekeh pada bunda.


  Bunda hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak lelaki nya, selanjutnya bunda meneruskan pekerjaannya merajut.


  Tin tin tin


Aku tersenyum ketika mendengar klakson motor indra dari depan rumah, dengan segera aku merapihkan diriku untuk berpamitan pada ayah, bunda dan kak bara.


  "Bun, yah, kak. Oca pamit dulu yah." Ucapku setelah menyalami mereka satu persatu.


  "Iya, hati-hati oca." Ucap bunda padaku, aku tersenyum tipis menjawab ucapan bunda. Lalu berjalan menuju pintu depan untuk melihat indra.


  Dan benar saja aku sudah melihat indra tengah bediri di samping motornya, dia cukup casual dengan sebuah jaket biasa dan juga celana jeans berwarna hitam.


  Aku menghampirinya dengan sebuah senyuman kecil. "Hallo, selamat pagi indra." Sapaku lalu tertawa kecil.


  "Hai oca." Jawabnya saat melihat ku yang kini berada di hadapannya.


Aku bingung ketika melihat indra menyunginggkan sebuah senyuman manis yang sangat tulus, aku sempat tertegun sebentar karena senyuman indra yang sepertinya memiliki makna tersirat.


   Aku lupa bahwa indra memiliki sebuah senyuman yang sangat manis, hanya saja semua orang tidak mengetahuinya.


  Karena sekeras apapun seseorang menampilkan sesuatu hal yang terbaik dari dirinya, akan selalu jelek dan buruk dimata pembenci. Termasuk semua orang yang melihat indra, andaikan mereka berada pada sudut pandang ku saat ini, dimana sekarang bagi ku indra adalah seorang malaikat yang sangat tampan.


Translate


Uhun-iya


Sareng - sama


Hilap - lupa


Alim - tidak mau


Kumaha - gimana


damang - baik


Sadayana - semuanya


Bade - mau


Palai - mau


   ***

__ADS_1


__ADS_2