
***❝Tak apa kau menolak seluruh perhatian ku, tapi ku yakin kau akan merindukannya, ketika kau tak merasakannya lagi di kemudian hari❞
Roosevelt anindia adriana***
***
"Lelaki pengecut lo! Mati aja ***!" Aku terkejut saat mendengar teriakan umpatan kasar dari seorang lelaki yang tadi sempat meninju wajah indra. Kedua teman lekaki itu hanya tertawa sekeras kerasnya melihat pimpinan mereka menyiksa indra dengan terus memukulinya.
Brugh
Lelaki itu kembali memukul rahang bagian kiri indra, indra hanya terdiam di tengah sambil menahan rasa sakit yang kurasakan sangat perih, ku lihat juga ujung bibir indra berdarah, aku tak tahan melihatnya. Aku harus melerai pertengkaran ini, segera karena sungguh semua orang menjadi penonton menyaksikan ini semua, aku sudah menggeram kesal, mengumpat dengan suara pelan, yang mungkijmn terdengar oleh devan maupun teman temanku yang lain.
"Jangan... Kumohon jangan oca." Aku melihat devan menahan tanganku lagi untuk tidak ikut melerai pertengkaran itu, astaga kenapa dengan devan setahuku dia adalah lekaki berani, kenapa dia sama sekali tak mau ikut melerai pertumpahan darah ini.
"Oca! Kamu duduk." Aku menggertakan gigi ketika mendengar perintah dari yulan, yang jelas aku tak suka mendengarnya, namun sekali lagi aku sadar, aku hanya murid baru di sini, tak tahu apa apa.
Aku menuruti keinginan yulan untuk kembali duduk ketempat dudukku, ikut menjadi penonton dalam film ini, dan parahnya indra tak membalas pukulan lelaki itu, dia terlihat pasrah menerima segala perlakuan lelaki gila itu dengan teman temannya. Aku mengepalkan tanganku, sungguh aku merasa kesal melihat perkelahian ini.
"Hahahhaha mati aja lo! Sialan!" Lagi lagi lelaki itu berteriak sambil membenturkan kepala indra ke tembok yang berada di sampingnya, aku menutup mulut, hampir saja aku berteriak, ketakutan, dan itu sangat parah, aku menangis sudah tak kuat lagi melihat keadaan indra.
__ADS_1
"Udah kalian bubar! Kalian mau saya bawa ke ruang BK? Pergi sekarang berandalan!" Itu suara rafi, mantan ketua osis yang jabatannya belum ada yang menggantikan. Tuhan masih menyayangi indra.
Lelaki dengan kawanan nya itu mendengus kesal, menatap tajam rafi yang sudah melotot membuatnya terlihat seram dan menakutkan. "Lo tunggu aja! Lo gak bakal bisa hidup dengan tenang!" Lelaki itu menunjuk indra dengan telunjuknya sebelum berlalu pergi bersama teman temannya.
Aku melihat rafi tengah berbicara dengan indra, tak jelas apa yang mereka bicarakan, aku disini hanya bisa menghembuskan nafas lega, untungnya indra tidak apa apa, walau keadaannya berantakan, merasa miris dengan kehidupan indra yang begitu menyedihkan.
"Segitu takutnya indra kenapa kenapa?" Ucap devan, aku bingung apa maksudnya?
"Tidak-aku hanya yah kamu tahu bukan bullying adalah hal yang sangat buruk, aku merasa kasian padanya." Jawab ku berbohong, baiklah aku baru saja menambah dosa yang sangat besar.
"Kan sudah kukatakan, kamu tidak usah ikut campur urusan apapun dengan indra. Sekali lagi kamu dengar bukan?" Tanya yulan dengan nada dingin, yang sangat menakutkan, aku hanya mengangguk cepat.
Saat sedang terdiam pikiranku tiba tiba teringat pada indra, setelah ku lihat lagi indra sudah tak ada di tempat, aku mulai khawatir apalagi dia sendirian yang ketakutan indra akan kembali di pukuli oleh rombongan berandalan itu.
Tapi setelah mengambil beberapa barang itu, aku kebingungan karena tak tahu kemana perginya indra, aku membuang nafas lelah, menyesali kecerobohan ku yang terlalu terburu buru, sampai aku lupa bahwa aku tak tahu kemana perginya indra.
Aku berjalan menyusuri lantai 2 dimana di sana ada perpustakaan, namun nihil aku tak menemukan indra, aku berlari menuju balkon belakang sekolah yang dari atas aku langsung dapat melihat tama belakang sekolah, namun kembali nihil aku tak menemukan apa apa.
Kemana indra?
__ADS_1
Aku menjatuhkan kotak first aids dan juga baju yang ku bawa ke lantai, menetralkan jantung ku yang sudah berdebar tak menentu karena berlari dengan sangat kencang, oke aku putus asa, aku hanya ingin membantu indra, apakah sesulit ini? Aku mengambil kotak itu dan juga baju miliku yang memang ukurannya sangat besar, seperti itulah bunda ku selalu membelikan baju sekolah dengan ukuran extra large karena mungkin dia tidak ingin aku menampilkan lekuk tubuhku.
Aku kembali berjalan menajuh dari balkon, sambil sesekali berpikir kemana perginya indra, suasana lantai 2 sangat sepi karena kebanyakan murid sedang berada di kantin yang berada di lantai 1,aku tersenyum miris begitu menyadari usahaku gagal, aku tidak akan pernah bisa membantu indra.
Langkah ku tiba tiba berhenti ketika menyadari sesuatu, dengan cepat aku berlari menuju lantai tiga untuk segera menuju rooftop aku ingat setahuku beberapa orang yang mengalami masalah akan pergi ke atap sekolah untuk menenangkan diri, tapi entahlah itu benar atau tidak dan aku juga belum persis mengetahui apakah indra ada disana atau tidak.
Tapi kuharapkan ada.
Aku membuka pintu rooftop yang terlihat sedikit usang, ku tarik nafas panjang karena ini adalah pertama kalinya aku pergi ke rooftop bilang aku gila karena memiliki keberanian untuk datang ketempat ini, yang barang kali jarang di jamah oleh manusia, tapi sekali lagi karena indra aku melakukan semua ini, karenanya.
Aku berjalan menyusuri rooftop karena atap ini cukup luas, pandangan ku terkunci pada sebuah sofa yang berada di tengah tengah atap, sofa yang lusuh, keadaan di atap ini pun tak seindah apa yang sering ku baca di cerita, tak ada bunga maupun ayunan, atau bangku taman yang menyenangkan melainkan hanya debu dan juga sorot sinar matahari yang sangat terasa, disini sangat panas.
Tapi itu tak mengurungkan niatku, aku berjalan menuju sofa itu, dan betapa terkejutnya diriku ketika melihat indra duduk disana dengan keadaan yang tidak baik baik saja, aku segera ikut duduk di sofa itu, indra sempat melirik ku sebentar sebelum akhirnya memutuskan kontak mata, kembali menatap hamparan bangunan tinggi yang terlihat jelas dari sini.
Aku mendecih, apakah dia sekeras kepala ini? Cukup sudah dirinya tak bisa membela diri, apa harus juga dia tak peduli dengan kondisi nya sendiri, menyebalkan!
Sedikit kasar, aku menarik rahang bagian kiri indra agar dia bisa langsung menatapku, kulihat indra kebingungan karena tentu saja aku baru saja membuat indra bisa menatap wajah ku lemat lemat. "Diam!" Ucapku sambil mengeluarkan beberapa cairan anti septic yang berada di salam boks itu, membasahinya kesebuah kapas, lalu dengan telaten aku menempelkan kapas itu di wajah indra yang cukup buruk karena pukulan lelaki berandalan itu.
"Sshh... Sakit... " Lirih indra saat aku mengusapkan betadine di bagian lukanya, menutupnya dengan kapas dan juga plaster, aku telah selesai membersihkan luka yang berada di wajah indra, tanpa sadar tanganku menyisir rambut hitam indra untuk di tata agar telihat lebih baik. Entah perasaan ku, aku merasa indra menatapku, tapi aku tetap memfokuskan untuk menyisir surai hitam itu dengan jemari ku. Wangi lemon dan garam laut tiba tiba menyapa hidungku, aku tahu ini adalah harum shampoo yang digunakan oleh indra.
__ADS_1
"Jangan terluka lagi, aku tak suka." Entah apa yang merasuki ku karena tak sadar aku mengatakan hal itu pada indra dengan seulas senyum yang tampil percaya diri dari mulutku.
Semua ini karena indra