
***❝Aku menyukai kupu-kupu, sama seperti saat ini, ketika aku merasakan kupu-kupu tengah terbang didalam perutku, karena bahagia mendapatkan perhatian darimu❞
Roosevelt anindia adriana***
***
Indra mengalihkan pandangannya dariku, mencoba untuk mencairkan suasana yang telah kubuat kaku, yah aku bodoh sekali mengatakan hal yang seperti pada seorang sedingin indra.
"Aku tidak tahu, kenapa aku bisa peduli padamu, padahal teman temanku sudah melarangku untuk mencoba bersimpati kepadamu, namun anehnya, seperti sekarang ini aku bahkan rela berlari untuk memberikan mu obat." Aku tersenyum miris ikut menatap langit, hatiku sebenarnya mencelos tak kala saat indra menolak seluruh perhatianku dengan sangat kasar.
"Aku juga tak meminta mu untuk menceritakan kenapa tadi kamu hanya diam saat di pukul oleh orang lain, dan disini hanya ada satu yang ingin kukatakan, aku sekarang adalah temanmu. Kamu bisa memanggilku jika membutuhkan bantuan ku." Aku menoleh pada indra yang ternyata juga sedang menatapku, tersenyum lebar pada indra sehingga kedua mataku menyipit.
"Jangan jadi temanku, kau tidak akan aman, menjauhlah aku tak butuh bantuanmu." Indra dengan angkuhnya mengatakan hal itu, membuatku merasa jengkel sekaligus kesal, mendengus pelan lalu dengan cepat diriku membalas ucapan indra. "Aku tak butuh pengakuan mu, karena dengan begitu aku sudah membulatkan keputusanku, kita berteman." Tegasku sambil berdiri, aku menyerahkan sebuah seragam putih pada indra.
"Pakai, bajumu basah, nanti kamu kedinginan." Setelah mengatakan hal itu aku langsung meninggalkan indra di rooftop dengan sedikit rasa kecewa karena rasa peduli ku tak di anggap oleh indra.
Sekali lagi aku perlu menulis beberapa daftar indra telah membuat hatiku terluka, tapi anehnya setelah mengatakan hal itu aku tersenyum kecil menuruni anak tangga menuju lantai dua dimana berada kelasku.
"Dia baik..."
***
"Dari mana saja dirimu oca." Aku nyengir menatap kedua temanku yulan dan chika yang sudah bekacak pinggang didepan kelas ketika melihat kedatanganku. "Maaf... Tadi agak lama, sakit perut banget soalnya." Aku meringis lebih tepatnya dilebih lebihkan, sambil memegangi perutku yang tak terasa sakit.
__ADS_1
"Maaf yah membuat kalian menunggu." Ucapku pada kedua sahabatku ini, sambil menggait kedua tangannya untuk kuajak masuk kedalam kelas, "Kamu tahu kan aku khawatir, gimana kalau kamu nyasar?" Ucap chika khawatir sambil memonyongkan bibirnya. "Maaf kan aku udah bilang, tadi sakit perut banget." Alasanku lagi sambil tersenyum kepada mereka berdua.
"Hmm, ya udah inget jangan jauh-jauh" Yulan melepaskan kaitan tanganku lalu berjalan menuju kursinya. "Makasih yah udah khawatir." aku tersenyum menatap kedua sahabatku yang sangat baik ini.
Aku duduk disamping yulan, dengan chika yang masih membicarakan hal yang menurutku tidak penting, "Oca.. Kayaknya devan suka deh sama kamu." Chika mengoyang-goyangkan punggung tanganku yang berada diatas meja belajar.
"Ya udah chika... " Ucapku malas aku masih terlintas didalam pikiranku indra yang tadi mengatakan hal yang sangat menyakitkan, sangat. "Beneran? Kamu mau terima devan kalau dia bener suka sama kamu?" Gini giliran yulan yang bertanya, menatapku dengan satu alis sedikit berada diatas.
"Tidak tahu juga, aku sedang malas membahas percintaan." Jawabku sambil menempelkan dahi ku diatas meja, terasa lemas kakiku tak sanggup lagi untuk berdiri. Kurasakan sikap indra padaku sangat kejam, dia seharusnya berterima kasih padaku karena di antara banyak orang yang membencinya, aku masih memiliki rasa empati untuknya, bukan dengan menolak peduliku dengan cara yang kasar, setidaknya jika merasa tidak nyaman, ungkapkan dengan cara baik baik, bukan seperti ini.
Justru hal itu membuatku semakin berpikir keras, apakah yang terjadi dengan indra dan sekolah ini?
Tapi sekali lagi, ini adalah kemauan ku aku harus tahan dan kuat dengan segala resikonya termasuk ditolak oleh indra sendiri.
"Ca.. Oy.. Kenapa kali nih anak." Aku tersentak kaget ketika yulan menguncang tubuhku dengan sangat keras, hingga kepala ku hampir saja terjatuh kebawah. "Hmmm." Aku mengangkat kepalaku sambil menatap bingung kedua sahabatku. "Ada bu nada... " Chika menunjung bu nada yang sedang berjalan menuju kelas, seketika itu chika langsung berlari menuju kursinya yang sebenarnya ada dibelakangku.
Ingatkan aku lagi bahwa aku harus kuat jika ingin berteman dengan indra.
***
Aku mendecih sambil menatap gelisah kearah jalanan yang mulai sepi dengan kendaraan, meluaskan pandangan mencari seseorang yang tengah ku tunggu, ka bara, namanya bara leksamana adriana dia adalah kakakku yang sekarang tengah kuliah di salah satu universitas terkenal di jakarta.
Dan kini aku sedang menunggu kedatangannya untuk menjemputku, biasanya ka bara akan datang untuk menjemput di sekolah, tapi ini sudah lewat dari 30 menit aku menunggu ka bara di depan gerbang sekolah yang sudah sepi.
"Kemana sih ka bara... " Aku menghentakkan kaki sebal, tidak mungkin aku harus menunggu disini untuk beberapa jam kemudian? Aku bukan manja dan tidak mandiri, aku tidak tahu rute menggunakan bus untuk pulang kerumahku, aku juga belum terlalu pandai menggunakan aplikasi ojek online. Karena oleh itulah aku bertahan berdiri disini ketibang harus pergi menaiki bus setelahnya aku hilang.
__ADS_1
Tapi kemudian aku melihat sebuah motor scooter berwarna merah berhenti di hadapanku, aku melihat lebih jelas siapa dia sebab yang kutahu ka bara menggunakan sebuah motor cross bukan scooter.
Aku menelisik dengan seksama, mencermati siapa seseorang yang berada dihadapan ku saat ini, aku tak bisa melihatnya dengan jelas karena terhalang oleh helm yang digunakan olehnya.
"Ayo naik..." Ucap lelaki ini masih duduk di atas motornya, aku menautkan alis bingung, sedikit ketakutan, apalagi dia bukan orang aku kenal.
"Tunggu kamu siapa?" Tanyaku pelan sambil menatap lelaki itu, dengan tatapan tajam yang menginterogasi. "Ini aku... " Dia membuka helm yang dipakai olehnya, aku terkejut setengah mati, karena yang dihadapan ku kini adalah indra, yah KAYLINDRA ZEIDEN PRATAMA.
"Lho? Indra.. Kok—"
"Ssttt sudah... Aku tahu, mari aku akan mengantarmu pulang." untuk kedua kalinya indra menutup mulutku dengan jarinya, mataku membulat ketika indra meneliti seluruh wajahku. "Ayo... " Indra menarik tanganku perlahan sehingga tubuhku hampir menyentuh samping motornya jika bukan indra yang menahanku.
Aku mengangguk pelan saat indra memberikan helm untukku, aku memakainya secara perlahan, walau masih bisa kulihat indra menatap ku dengan sangat hangat.
Ahhhhh
Aku tak tahu, tapi aku merasa kupu kupu terbang didalam perutku saat tahu indra memperhatikan ku, pipiku memanas tentunya, karena— yah kalian tahu aku bisa di sebut seorang fans indra.
"Tunggu!" Aku tersentak saat indra kembali menahan lenganku saat aku hendak menaiki motornya. "Kenapa?" Tanyaku pelan tak berani menatap kedua matanya yang berwarna hazel itu.
Indra tak menjawab pertanyaanku, yang kulihat indra membuka jaket yang dipakai olehnya, Kemudian indra memeluk pinggangku aku tak tahu apa yang lakukan hanya saja setelahnya aku melihat jaket yang di pakai oleh indra sudah menempel di pinggangku. Aku menatap indra dengan bingung, kenapa dia memasangkan jaketnya di pinggangku.
"Ke—"
__ADS_1
"Kau memakai rok pendek, aku tak suka menjadi pusat perhatian karena membawa seorang gadis yang memamerkan pahanya" Ucap indra memotong ucapanku, aku semakin menatap indra tak percaya, karena dia baru saja memberikan perhatian untukku.
"Ayo naik."