Dear Love School

Dear Love School
changes


__ADS_3

❝Indra apapun itu tolong jangan membuat aku merasakan yang namanya sebuah kehilangan, ketika dirimu sudah hampir dalam genggaman dan ketika hatiku sudah merasa nyaman.❞


Roosevelt anindia adriana


***


Setelah indra selesai mengobati ku, indra menyuruhku untuk kembali ke kelas, dia sempat memberikan sebuah senyuman manis padaku.


Kini aku tengah berdiri di depan kelas ku, aku merasa bimbang haruskah aku masuk kedalam bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apapun dengan chika dan yulan.


Atau mereka berdua marah padaku, sungguh aku bingung. Aku menarik nafas dalam lalu membuangnya, menatap pintu kelas ku yang tertutup.


Aku mendorong pintu kelasku yang menampilkan suasana kelas ku yang ramai, tapi saat aku masuk semua kegiatan mereka terhenti, mereka semua langsung menatap ku dengan tatapan tajam yang tidak bisa ku jelaskan.


Ku lihat chika dan yulan berlari ke arahku, memeluk tubuhku dengan sangat erat. Saat ini posisiku masih di depan papan tulis, aku menatap kedua sahabatku dengan tatapan bingung. Mereka kenapa?


"Oca plis kamu bilang, kamu baik-baik aja kan?" Chika yang sudah melepaskan pelukannya dari ku langsung meneliti setiap inci tubuhku.


Sedangkan yulan masih menatap ku dengan tatapan sendu. Aku mengalihkan pandangan ku pada seluruh teman-teman ku yang menatap ku dengan perihatin.


"ASTAGA! Oca! Kaki mu kenapa?" Teriak chika heboh saat melihat sebelah kaki ku yang di perban.


Aku menggeleng lemah mengatakan bahwa aku tidak apa-apa. "Oca! Jujur kamu kenapa, siapa yang melakukan ini?" Tanya chika lagi, dari raut wajah chika terlihat sangat jelas bahwa dia ingin sekali menangis melihat keadaanku.


"Glen yang melalukan ini padamu?" Akhirnya yulan bersuara, aku terkejut bagaimana bisa yulan menebak bahwa ini adalah ulah glen.


Aku ingin sekali menjawab tapi lidah ku terasa kelu dan tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. Yang bisa ku lakukan hanya menggeleng tidak membenarkan lagi ucapan yulan.


"Kamu jangan bohong oca... Semua orang di kelas ini tahu, kamu bertengkar dengan glen di lorong menuju kantin, iya kan? Banyak saksi mata yang melihat dirimu di tendang oleh glen karena kamu mencoba melindungi indra." Jelas yulan, aku dengan segera menggeleng menandakan bahwa apa yang di katakan oleh yulan itu tidak benar.


"Bu-bukan seperti itu... " Ucapku dengan sedikit terbata-bata, aku gugup karena di tatap oleh seluruh teman-teman di kelasku.


"Oca, kamu sebaiknya jujur kita bisa mengadukan kasus ini pada guru bk, dan menyeret indra agar keluar dari sekolah ini." Devan yang sedari tadi mendengarkan memberikan sebuah saran.


Aku semakin menggeleng dengan kuat tidak setuju dengan saran yang diberikan oleh devan. Aku melirik meja indra yang masih kosong, indra belum kembali dan guru belum datang.


"Lalu apa oca? Aku melihat kamu di tendang sama glen demi melindungi indra, iya kan?" Kali ini yang bersuara adalah sharon.


"Aku tidak melindungi indra... Justru indra yang melindungi ku dari glen. Indra membantuku, melepaskan cengkraman glen padaku." Jelasku pada akhirnya dengan suara nada pelan.


Ingin sekali rasanya aku menangis sekeras-kerasnya, aku tidak beharap akhirnya akan seperti ini.


"Kalau begitu kenapa glen menahan dirimu, kamu memiliki hubungan spesial dengan glen?" Tanya devan, oke. Kenapa sekarang devan sangat menyebalkan. Dan kenapa sekarang aku seakan adalahs seorang tahanan yang tengah di interogasi.


Aku menatap yulan, chika dan seluruh teman sekelasku. Mereka terlihat sangat mengkhawatirkan diriku apalagi jika berurusan dengan seorang glen.


"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan glen, aku hanya tidak sengaja menabraknya saat hendak kembali ke kelas."


Aku melihat semua teman-teman ku membuang nafas lega, entah lega karena apa yang pasti raut wajah mereka tidak setegang tadi.


"Di sini indralah yang menolongku dari glen." Tambahku lagi mereka semua melotot kaget dengan pernyataanku.


"Oca, sudah jangan bahas lagi mengenai glen maupun indra. Yang jelas kami mengkhawatirkan mu." Ucap devan yang sekarang mendekat ke arahku, sambil memeluk erat.


Aku terkejut kenapa devan melakukan hal ini, apa devan tidak merasa malu dengan sorakan riuh anak kelas ketika melihat pelukan devan kepadaku.


Aku memberontak mencoba melepaskan pelukan devan dari tubuhku, walau sorakan riang terdengar dari teman-temanku.


Tapi devan tidak mengidahkan pukulan ku pada dadanya yang akhirnya membuatku secara paksa menginjak kakinya dengan cukup keras.


Devan berteiak kesakitan bersama dengan rengkuhannya padaku yang mengendur. Aku menatap nyalang pada devan karena bisa dengan berani memeluk seseorang tanpa alasan yang jelas.


Tapi tatapan nyalang ku berubah menjadi terkejut saat melihat seseorang tengah berdiri di ambang pintu memperhatikan hal yang baru saja terjadi.


Dia dan bukan lain adalah indra, yang sekarang sudah melenggang pergi dari kelas. Sebelumnya dia memberikan sebuah senyuman padaku, entah senyuman yang menunjukan bahagia atau apa yang jelas aku merasakan indra sangat terpukul.


Aku ingin mengejar indra, tapi langkahku tertahan saat yulan menarik lenganku, memberikan sebuah gelengan kepala padaku. Sepertinya yulan mengetahui bahwa indra sedari tadi sudah berada disana.


Aku memutuskan untuk membiarkan indra sendirian, karena setelahnya guru mata pelajaran kimia datang membuat semuanya berlari menuju tempat duduknya.


Aku harus menjelaskan semua ini pada indra, harus. Aku tidak mau ada kesalah pahaman antara aku dan dia. Dan persetan untuk devan yang menurutku tidak sopan.


***


Pulang sekolah ini tidak seperti biasanya karena kak bara sudah menunggu di depan gerbang, dia sangat tampan dengan hoodie yang menutupi tubuhnya, juga dengan sebuah celana jeans yang menambah kesan masculine pada kakak ku.


Aku tersenyum manis dan langsung menghampiri kak bara yang masih berada di atas motor miliknya. Aku sekarang tengah berjalan dengan yulan dan chika, mereka biasanya pulang bersama dengan mobil pribadi karena rumah mereka satu arah.

__ADS_1


Yulan dan chika sudah menjerit tidak jelas karena bertemu dengan kakakku, sebelumnya kak bara pernah bertemu dengan mereka saat menjemputku pulang.


Dan pada saat itu chika mengatakan bahwa dia falling in love dengan kak bara. Sedangkan yulan malah teringat dengan oppa-oppa korea yang katanya mirip dengan kak bara.


Memang benar kak bara sangatlah tampan dari segi apapun, tubuhnya tinggi besar wajahnya tampan dengan hidung mancung yang begitu simetris, kulitnya yang putih dengan rahang yang tegas membuatnya terlihat sangat maco.


Mungkin jika kak bara bukanlah kakak kandungku, sudah ku pacari sedari dulu.


"Ocaaa... Tolong beri aku restu untuk menikah dengan kak bara" Rengek chika yang sepertinya sudah tergila-gila dengan ketampanan kak bara.


Setahuku kak bara memang tidak memiliki kekasih, dia berkata belum ingin mencari seorang gadis jika masih meminta uang pada ayah dan bunda.


Kak bara memang suami idaman yang membuat siapapun pasti menginginkan untuk menjadi istrinya.


Aku menggelengkan kepala ku heran dengan sikap chika. "Kak bara." sapaku pada kak bara lalu mengambil tanganya untuk bersalaman.


"Bagus, sekolah yang benar dek." Kak bara mengusap rambutku pelan, membuat chika dan yulan menjerit secara bersamaan.


Chika yang terlanjur senang bertemu dengan kak bara, langsung menggeserkan tubuhku agar dirinya bisa bersalaman dnegan kak bara.


"Assalamualaikum kak bara." Chika bersalaman dengan kak bara dengan gayanya yang terlihat tenang. "Walaikumsalam, chika." Jawab kak bara sambil memberikan sebuah senyuman pada chika.


"Nih kaya chika oca, kalau ketemu sama orang tua kasih salam, bukan malah nyapa pake kata hallo." Titah kak bara membuatku memutar bola mata jengah.


Chika sialan dia pandai sekali mencari muka di depan kakak ku. Untung saja chika sahabatku.


Suasana di depan gerbang cukup ramai dengan mobil-mobil yang terparkir, motor dan mobil berlalu lalang keluar dari sekolahan. Termasuk seseorang yang menyita pandanganku, yaitu indra dengan motornya.


Dia sama sekali tidak melirik ku yang jelas-jelas berada di sampingnya, aku membuang nafas berat.


Kenapa ini semakin rumit saja.


"Heh, oca malah melamun." Kak bara menepuk bahuku karena sadar aku sedang melamun.


Aku menatap terkejut pada kak bara, aku tidak melihat keberadaan chika maupun yulan lagi. "Kak, chika sama yulan kemana?" Tanyaku yang malah di jawab dengan tawa kak bara.


"Tuhkan kamu melamun, sudahlah ayo." Kak bara menyentil dahiku, meringis pelan Karena sentilan kak bara tidak main-main.


Aku menaiki motor kak bara yang cukup tinggi, hingga kak bara menjalankan motornya meninggalkan halaman sekolah.


***


Hari ini adalah hari sabtu dan teman kelompokku setuju untuk datang pada hari sabtu pada pukul 09.00 dan sekarang sudah lewat dari 1 menit.


Mungkin jalanan kota jakarta macet apalagi hari ini adalah sabtu. Rumah sudah dalam keadaan beres, bunda ku tidak bekerja pada hari sabtu, termasuk juga ayah. Sedangkan kak bara sedang berada di dalam kamarnya, entah bermain apa yang jelas aku tidak peduli.


Di atas meja ruang tamu sudah ku siapkan makanan kecil dan juga minuman yang sudah ku seduh. "Dek, teman-teman mu datang tuh." Teriak bunda dari arah pintu utama.


Aku dengan segera berjalan menghampiri mereka, dan ternyata benar mereka sudah datang. Tapi, yang ku lihat hanya ada chika, yulan dan alyssa, tanpa ada indra kemana lagi lelaki itu.


"Kalian. Ayo cepat masuk." Sapaku pada mereka bertiga, aku kini hanya menggunakan kaos kemeja kebesaran milik kak bara yang katanya sudah tidak muat padanya dengan rambut yang ku kepang satu.


Chika, yulan dan alyssa masuk kedalam rumahku yang sederhana. Aku mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Huahh oca rumah mu besar juga" Teriak chika padaku, aku tersenyum tipis pada mereka bertiga yang tengah memperhatikan interior dan desain rumah kedua orang tua ku.


"Kalian membawa kulit jagungnya?" Tanyaku pada mereka bertiga.


Yulan mengeluarkan sebuah plastik dari dalam paper bag yang dia bawa, aku meyakini bahwa isinya adalah bahan-bahan untuk prakarya yang akan kami buat.


"Oh iya. Ayo minum terlebih dahulu, lihat bunda ku memasakan kue ini khusus untuk kalian." Aku menyodorkan piring berisi kue kering buatan bunda tadi pagi.


Mereka bertiga mencicipi kue buatan bunda sementara aku dengan segera membuka aplikasi chat pada handphone ku untuk menanyakan keberadaan indra.


Roosevelt anindia adriana


[indra kau dimana? Teman-teman ku sudah menunggu mu]


Terikim


Aku menutup ruang chat ku dengan indra, tapi setelahnya tidak ada tanda-tanda indra membalas pesan dariku.


Jujur setelah kejadian di sekolah pada hari itu, devan sepertinya sangat getol untuk mendekatiku. Atau mungkin hanya perasaan ku?


Devan sangat sering mengajak ku ke kantin bersama, dia sering mengajak ku untuk pulang bersama dengannya dan devan sekarang sangat sering memberikan kabarnya padaku, atau sekedar berbasa-basi.


Walau kadang risih dengan sikapnya tapi aku berusaha untuk menghargai yang dilakukan oleh devan.

__ADS_1


Semenjak hari itu juga aku semakin jarang berinteraksi dengan indra, lelaki itu seakan menghindar dari ku. Dia tidak lagi mengajak ku untuk pulang bersamanya, dia tidak lagi menyapaku.


Pernah saat itu aku ingin berbicara empat mata dengan indra tentang perubahan sikapnya padaku, tapi indra mengalihkan pembicaraan dan mengatakan bahwa dia sedang ada urusan.


Aku tidak mengerti dimana letak salahku pada indra, tapi aku juga tidak berhak untuk meminta penjelasan lebih kepada indra karena aku tidak memiliki hubungan yang mengharuskan aku untuk bertanya hal itu pada indra.


Aku dan dia tidak lebih dari sekedar 'Teman' ya aku tahu statusku.


"Oca... Kok malah melamun." Alyssa menepuk bahuku pelan membuat ku terperangah, menatap mereka bertiga dengan tatapan bingung.


"Oca, akhir-akhir ini kau sering sekali melamun. Kau punya masalah?" Ucap yulan padaku, dengan cepat aku menjawab dengan gelengan.


"Tidak ada. Sudahlah ayo cepat kerjakan prakaryanya." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengambil bahan-bahan yang di bawa oleh yulan.


"Indra mana yah? Apa dia tidak datang?" Tanya alyssa masih sibuk dengan kue kering yang berada ditangannya.


"Kenapa sih syya nanya in si indra, udah biarin aja." Ucap chika menunjukan raut wajah tidak sukanya sebab membahas tentang indra.


"Bukan gitu ka, enak banget tuh orang dateng kagak dapet nilai iya." Ku lihat alyssa bergumam sebal.


"Iya juga sih, ya udah jangan masukin indra ke dalam nama kelompok. Biar aja dia buat sendiri." Saran chika membuatku menggeleng heran.


Aku dengan yulan malah tengah sibuk menggunting kulit jagung yang telah kering, untuk di desain menjadi sebuah bunga.


Ya, kami berempat memutuskan untuk menjadikan bunga dari kulit jagung sebagai hasil prakarya kami untuk tugas kelompok kali ini.


Dan setelah mereka berdua membantu ku dengan yulan untuk menyelesaikan tugas ini.


Tidak berselang lama, kak bara keluar dari kamarnya hanya dengan pakaian rapih juga tas yang ransel yang dia bawa. Chika yang melihat penampilan kak bara langsung tersenyum kegirangan.


"Caa, kenapa kakak mu sangat tampan." Bisik chika di telinga ku, aku hanya terkekeh mendengar komentar chika tentang penampilan kak bara.


Sementara yulan terdiam yang sepertinya menahan rasa kagumnya pada kak bara, karena yang ku lihat pipi yulan sudah bersemu merah.


"Ahhhh!!" Aku terkejut bukan main mendengar teriakan alyssa, dia sudah memandangku dengan tatapan terkejut.


"Oca!! Kenapa kamu tidak bilang bahwa ada oppa korea di rumah mu!!" Teriak alyssa yang malah di balas sebuah pukulan oleh chika.


Kak bara yang terkejut dengan teriakan alyssa mendatangi kami berempat, tas ransel yang sebelumnya dia genggam kini telah bersandar pada punggungnya.


"Kenapa dek?" Tanya kak bara sambil menatapku.


"Ah, tadi kak ada kecoa. Heheh" Aku berbohong pada kak bara.


"Oh, kalau ada kecoa pake semprotan anti serangga, tuh ada di dekat tv." Ucap kak bara aku hanya mengangguk menuruti apa yang dia katakan.


"Kakak mau kemana?" Tanyaku menyadari betapa rapihnya kak bara dengan kemeja juga tubuhnya yang sangat harum.


"Mau ngapel lah dek, mumpung malam minggu." Ucapnya padaku sambil terkekeh.


"Bohong." Cecar ku menatap kak bara dengan tatapan menggoda.


Kak bara tertawa kecil sambil menunjukan deretan giginya yang rapih. "Iya, kakak mau mengerjakan tugas kuliah, kamu mau pesan makan tidak?" Tanya kak bara, aku langsung mengangguk antusias dengan tawaran kak bara.


"Pizza kak yang spesial." Ucapku, kak bara meng-iyakan lalu mengusap rambutku.


"oke, oh yah semoga karya kalian menjadi yang terbaik." Ucap kak bara pada kami semua sebelum pergi meninggalkan teman-teman yang sudah menahan nafas karena perlakuan kak bara padaku.


"Ocaaa... Tolong kenapa kak bara itu kakak able banget... " Teriak chika tidak jelas.


"sumpah ocaa! Lo gak kasih tahu sama gue kalau lu punya kakak seorang idol." Kini giliran alyssa yang merancau tidak jelas padaku, aku mengerutkan kening karena bahasa yang di gunakan oleh alyssa.


"Kata yssa kenapa kamu tidak kasih tahu dia kalau kamu punya kakak seorang idol" Jelas yulan padaku, aku kemudian tertawa karena ucapan yssa yang baru ku mengerti.


"Oca, pacarmu di depan tuh." Aku menautkan kedua alisku bingung menatap kak bara yang seharusnya sudah berangkat, kenapa kak bara kembali lagi.


"Pacar?" Tanyaku kak bara mengangguk membuat ku semakin penasaran. Sebelumnya suara ruang tamu penuh dengan tawa tapi sekarang hening.


Aku dengan rasa penasaran ku yang semakin besar mengikuti langkah kak bara untuk menunjukan siapa 'pacar' yang dia maksud.


Dan ketika aku sampai di depan pintu, aku melihat sosok yang sangat aku rindukan selama ini, kaylindra zeiden pratama yang kini tengah berbincang dengan ayahku.


Mungkin mereka berdua bertemu saat ayah tengah membersihkan rumput di halaman.


Tiba-tiba pandangan indra bertemu dengan ku, ekspresinya berubah yang semula dia ceria tapi setelah menatapku wajahnya berubah menjadi dingin.


Indra apapun itu tolong jangan membuat aku merasakan yang namanya sebuah kehilangan, ketika dirimu sudah hampir dalam genggaman dan ketika hatiku sudah merasa nyaman.

__ADS_1


***


__ADS_2