Dear Love School

Dear Love School
my crush


__ADS_3

โAda banyak sesuatu yang aku sembunyikan, dan pastinya itu sangat menyakitkan, kau hanya perlu menunggu, suatu saat nanti kau akan tahu, ketika dirimu tak lagi mencintaiku atau ketika waktuku semakin tak menentu, dan aku pastikan setelahnya aku akan pergi, bahkan tidak akan pernah kembali.โž


Kaylindra zeiden pratama


***


Malam ini Kota Jakarta diguyur hujan lebat, petir terus bergemuruh sedari tadi. Aku yang tengah merangkum catatan hanya bisa menatap langit yang gelap dari kaca jendela kamarku. Sepi, rumahku terasa tak berpenghuni, kak bara yang sibuk dengan tugas kuliahnya dan aku dengan tugasku.


Seperti apa yang dikatakan bunda, pagi tadi aku pulang dari rumah sakit setelah dirasa kondisi ku baik-baik saja dan dari siang tadi kaylindra tidak datang untuk menjengukku. Ya, aku memang berharap lelaki itu bisa datang dan menemuiku, tapi seperti yang ia katakan, dia akan datang jika sempat, jadi sepertinya indra tengah ada masalah sehingga tidak bisa mengunjungiku. Positif thingkinglah, oca.


Sore tadi, ayah dan bundaku berangkat menuju Yogyakarta, katanya nenek kembali masuk rumah sakit, aku tak tahu separah apa kondisi nenekku, karena aku memang tidak terlalu dekat dengannya, mungkin karena jarak.


Aku kembali melanjutkan acara merangkum catatan pelajaran, aku meminta pada yulan untuk memfoto buku catatan miliknya dan dikirimkan padaku, agar aku lebih mudah merangkum, ketibang harus menggunakan buku paket.


DUARR


Aku terkejut, karena mendengar guntur yang berbunyi sangat kencang sampai-sampai jendela kamarku terbuka, dan gordeng jendela kamarku terbang kesana kemari karena tertiup angin.


Dengan malas aku menutup jendela kamarku, sebelum itu pandangan mataku melihat sesuatu dibawah sana. Aku memperjelas apa yang ku lihat, ada seseorang dengan seragam yang sama seperti seragam sekolahku tengah berdiri diatas hujan yang deras. Aku mengusap kedua mataku berharap tadi hanya ilusi, namun kini orang itu menatapku nanar, wajahnya pucat dan dipenuhi oleh luka.


Aku membulatkan mulutku tak percaya, bergegas turun kebawah mengambil payung lalu keluar untuk menemui orang itu.


"Indra!" Teriakku setelah membuka pagar rumahku.


Lelaki yang aku panggil namanya itu hanya menatapku sendu, wajahnya benar-benar buruk dan dipenuhi oleh luka. Aku mendekatkan diriku pada indra, memayungi dirinya agar tidak terkena air hujan, walau sebenarnya tubuhnya sudah basah.


"Ayo masuk." Ucapku.


Dia hanya menggelengkan kepalanya tak bersemangat. "Ayo!" Akhirnya dengan paksa aku menarik tangan indra masuk kedalam rumah.


Dia bisa sakit jika terus berdiri disini, setelah sampai didepan rumah aku menutup payung yang sebelumnya aku gunakan. "Tunggu disini, jangan kemana-mana, aku akan mengambil handuk." Ujarku, kemudian berlari menuju kamar kak bara.


"Kak bara!! Kak bara!!" Teriak ku sambil mengetuk pintu kamarnya, karena lama aku memutuskan untuk masuk tanpa menunggu kak bara membukakan pintu.


Yang kulihat kak bara sudah berdiri diambang pintu hendak membukakan pintu untukku, namun tertahan karena aku sudah masuk duluan. Tanpa peduli dengan kak bara, aku langsung berlari menuju lemari kak bara, mengambil sepotong baju dan juga celana miliknya.


"Hey, hey ada apa?" Tanya kak bara bingung.


"Indra ada dibawah kak, wajahnya babak belur, dan dia kehujanan." Jawabku, kemudian kembali berlari meninggalkan kak bara.


Aku melihat indra masih berdiri diteras rumah, dia menatapku sendu. Aku mendatanginya, memberikan handuk yang sebelumnya aku ambil dikamar kak bara pada indra.


Pandanganku tak bisa lepas dari dirinya, wajahnya, matanya dan setiap gerakannya. Aku prihatin, apa yang terjadi dengan indra sehingga dirinya bisa seperti ini? Seberapa banyak orang yang ingin membuatnya celaka? Apahkah yang ia katakan tentang banyaknya musuh yang membencinya itu benar?


"Oca." Panggilnya lirih.


Aku berusaha menyembunyikan rasa sedih dan khawatirku dengan menatapnya pelan. "Iya?"


"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya.


Bagaimana dia masih bisa berkata apakah aku tidak apa-apa, disaat dirinya tidak baik-baik saja?


"Ayo masuk, ayah dan bunda sedang tidak ada di rumah." Jelasku sambil menarik tangan indra untuk masuk kedalam rumah.


"Oh iya, ini pakaian milik kak bara, pakailah. Kamar mandi disebelah sana." Tunjuku pada pintu kamar mandi yang berada disamping dapur.


Indra menerima pakaian itu, lalu meninggalkan ku menuju kamar mandi yang sebelumnya aku tunjuk.


Setelah indra pergi, aku mengusap wajahku sendiri, bagaimana bisa? Seseorang seperti indra? Seseorang yang aku kenal baik dan ramah, harus selalu terluka?


Dan dia masih bersikap biasa saja? Seakan ini bukan hal yang menyulitkan baginya? Aku menggeram kesal, jika aku tahu indra terluka karena siapa, aku tidak akan pernah memaafkannya.


Mengalihkan pikiranku, aku kemudian mengambil beberapa obat dari dalam kotak p3k yang berada dirumah. Antiseptik, plester, betadine dan juga kapas sudah ku bawa dan kuletakan diatas meja ruang tamu.


"Indranya mana?"


Aku melihat kak bara turun dari lantai 2 sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia tanyakan.


"Dia lagi ganti baju kak." Jawabku lesu.


"Parah banget yah?" Tanya kak bara.


Aku menjawabnya hanya dengan anggukan, tak berniat menjelaskan apa yang ku lihat. Tak lama indra datang dari arah kamar mandi, dan sudah menggunakan pakaian yang aku berikan.


"Astaga. Apa yang terjadi indra?" Tanya kak bara terkejut begitu melihat wajah indra.


"Tidak apa-apa kak, ini bukanlah hal yang besar." Jawab indra dengan sebuah senyum yang dipaksakan, walau sudut bibirnya terluka parah.

__ADS_1


Indra mendatangi kami berdua, lalu ikut duduk disampingku. "Bukan hal besar kaya gimana? Lihat muka kamu ancur kaya gitu." Tegas kak bara dengan nada yang sedikit tinggi.


Indra lagi-lagi hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis, mungkin jika bibirnya tidak terluka parah bisa jadi indra akan tersenyum lebar.


"Kamu berantem? Sampai muka kaya gitu?" Tanya kak bara lagi.


Indra menggeleng. "Bukan kak, aku membantu ibu-ibu yang hampir di jambret. Tapi, malah aku yang terkena sasaran para preman itu." Jawab indra.


Aku menatapnya lemat-lemat, tidak mungkin aku tidak bisa percaya bahwa luka-luka ini disebabkan oleh preman-preman, indra pasti berbohong.


"Oh. Lain kali hati-hati, akhirnya muka kamu yang jadi korban kan?" Ujar kak bara.


"Ya udah, sekarang oca obatin luka indra yah, takut infeksi. Kakak mau ke kamar dulu."


Kak bara beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan kami berdua diruang tamu. Setelah kak bara pergi, aku menatap wajah lelaki yang kini duduk disampingku, sejujurnya aku tak tahan melihat wajah indra yang benar-benar buruk dan dipenuhi luka.


Aku mengambil kapas dari dalam plastik, sedikit membasahinya dengan antiseptik, lalu mengusapkannya pada luka indra, dia meringis kesakitan, bahkan berteriak ketika aku tak sengaja menekan luka di bagian bibirnya.


"Sakit ca." Lirihnya dengan suara parau.


Aku kembali mengusapkan kapas itu pada wajah indra, dan tak terasa setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku.


"Kenapa menangis?" Tanyanya yang menyadari air mata terus menetes dari mataku.


Aku tidak menjawab, memilih untuk mengusap air mataku sendiri sambil terus mengobati luka indra. Sejujurnya aku tak tahan, tak tahan terus menerus melihat indra terluka tanpa alasan yang jelas, dan sampai sekarang aku belum mengetahui alasan indra selalu terluka.


Walau dia berkata, ini karena preman tapi aku tahu, ini tak seperti apa yang dia katakan. Indra berbohong.


Setelah selesai membersihkan luka indra, aku menuangkan betadine pada kapas yang baru, kemudian menutupnya pada luka indra memberi plester sampai kapas itu benar-benar menempel pada luka indra.


"Jangan bersedih." Ucapnya sambil mengusap air mata ku yang kembali tumpah.


"Inilah kenapa aku tidak ingin kau berada didekat ku, aku akan membuatmu terluka oca, banyak orang yang membenci ku. Kau tak aman jika bersamaku."


"Lalu bagaimana? Aku mencintai mu!" Teriak ku frustasi, sedih melihat keadaan indra dan kesal dengan apa yang dia katakan.


"Aku juga, tapi seperti apa yang telah di gariskan aku dan kau tidak akan bisa bersama, seperti bulan dan matahari, selalu menyinari bumi tapi tak pernah bisa bertemu dalam waktu yang sama, kita berpisah saja yah?"


Aku menggeleng kuat, air mataku semakin tumpah dan aku langsung memeluk indra dengan sangat erat.


Ya, aku tak ingin kehilangan dia, indra ku, bintangku, dia segalanya bagiku dan aku tak akan pernah melepaskannya apapun yang terjadi.


***


Pagi ini aku sudah berada disekolah, aku merasa sudah baik-baik saja sehingga memutuskan untuk pergi ke sekolah hari ini. Tadi pagi kak bara yang mengantarkan ku menuju sekolah, dia bilang sangat khawatir dengan kondisiku, apalagi jalanku yang masih belum sempurna, masih terseok karena rasa sakit pada bagian pahaku yang belum hilang.


Tapi mungkin aku datang terlalu pagi, karena saat aku masuk kedalam kelas, tidak ada murid yang lain. Aku hanya menghela nafas panjang, lalu berjalan pelan menuju mejaku dengan susah payah karena kakiku masih terasa sakit.


"Kenapa sekolah jika keadaanmu belum baik-baik saja."


Aku menoleh pada asal suara itu, menemukan sosok indra yang sangat tampan pagi ini dengan almamater sekolah yang ia pakai, dia tepat berdiri dibelakangku sambil membawa sebuah paper bag.


"Aku tidak bisa menahan untuk tidak bertemu dengan dirimu sehari saja." Kataku merayu.


Indra terkekeh mendengar apa yang ku katakan, tak merespon ataupun memberikan komentar, dirinya meletakan paper bag itu diatas meja, kemudian membantuku untuk mendatangi mejaku, membantuku untuk duduk dikursi ku.


Indra kembali berjalan untuk mengambil paper bag miliknya tadi, dan setelah selesai mengambil barang itu, indra ikut duduk disamping kursiku.


"Aku membawakan nasi goreng untukmu, mau memakannya?" Tawar indra sambil mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam paper bag yang ia bawa.


"Boleh, kebetulan aku lapar." Jawabku kegirangan, pasalnya ini pertama kalinya seorang indra membawakanku makanan.


"Kau belum sarapan?" Tanyanya.


"Ah-sudah hanya saja, belum memakan nasi." Jawabku sambil tertawa kecil.


Indra menggeleng pelan, kemudian membuka tutup kotak bekal itu. Menyodorokannya kehadapanku, bersama dengan sendok yang ia letakan diatas nasi goreng kecap yang lengkap dengan lauk pauknya itu. Aku sempat menatap nanar nasi goreng itu, mengharapkan sesuatu yang lain.


"Mau aku suapi?" Tanyanya.


Mataku berbinar, merasa sangat beruntung karena indra peka dengan kemauanku, buktinya dia tahu bahwa aku ingin makan sambil disuapi olehnya. Menganggukan kepalaku dengan sangat antusias menjadi jawaban yang kuberikan pada indra.


Dia mulai memgambil nasi goreng itu dengan sendok, menyuapkannya ke mulutku, terus menerus sampai beberapa sendok hingga mulutku penuh oleh nasi goreng.


"Mm, ini sangat enak, kau yang membuatnya?" Tanyaku setelah selesai mengunyah nasi goreng dalam mulutku.


"Bukan, mamaku yang membuatkannya." Jawab indra.

__ADS_1


"woah, serius? Aku jadi ingin bertemu dengan mamamu." Kataku.


"Ya, kapan-kapan aku akan mengajakmu berkunjung kerumah dan bertemu dengan mama." Jawabnya menyetujui permintaanku.


"Benarkah? Baiklah, aku akan menunggu kau untuk mewujudkannya." Ucapku senang.


Aku pikir sangat tidak mungkin untuk bertemu dengan keluarga indra, karena menurutku Kedua orang tua indra sangatlah misterius, chika dan yulan yang sedari awal bersekolah disini saja belum pernah bertemu dengan kedua orang tua indra, apalagi diriku?


Indra tersenyum simpul, kembali menyuapkan sesendok nasi goreng kedalam mulutku. "Kau sudah sarapan?" Tanyaku, karena sedari tadi indra terus menyuapi aku, bahkan dirinya sendiri belum memakan sesendokpun.


"Tidak, aku sudah sarapan saat dirumah, aku sengaja membawa ini untukmu." Jawabnya.


Aku tersipu malu, sangat senang dengan jawaban indra yang memuasakan, mengatakan bahwa dia mempersiapkan ini untukku sudah membuat pipiku terasa panas, juga debar jantungku yang berdegup tak karuan.


Ah dasar indra, lelaki dengan sejuta misteri juga memiliki banyak cinta, walau menyeramkan tapi nyatanya indra begitu menyenangkan, terutama dengan sikapnya yang selalu membuatku merasa di istimewakan.


Tapi kesenanganku musnah begitu saja, ketika pendengaranku merasakan suara langkah kaki, sepertinya akan ada siswa yang masuk kedalam kelas. Aku menatap indra tajam, menghela nafas panjang sebenarnya tak ingin momen ini berakhir seperti itu saja.


"Ndra, sepertinya akan ada siswa yang masuk kedalam kelas, ayo cepat bersihkan sebelum mereka melihat kita berdua." Kataku pada indra dengan nada serius.


Jawaban yang kudapatkan dari indra bukanlah kegelisahannya maupun ketakutannya akan semua orang tahu tentang hubungan aku dan dia, melainkan sebuah senyuman halus yang sangat tulus terpatri diwajah tampan seorang kaylindra.


Dia meletakan sendok, juga kotak bekal yang ia genggam diatas meja, menatapku lemat-lemat tak menghilangkan senyuman manis yang ia pancarkan, tanpa kusangka indra mendekatkan wajahnya padaku, mengikis jarak diantara kami berdua, hingga tersisa beberapa centi lagi.


"Aku tak takut jika mereka semua mengetahui hubungan kita, katakanlah aku egois, tapi kenyataannya aku terlalu begitu mencintaimu sampai tak rela jika salah satu dari lelaki itu menyukaimu, menyatakan cinta padamu, ataupun menyimpan perasaan padamu." Ucapnya dengan sangat pelan, seperti berbisik sangat dekat dengan wajahku, harum mint menyeruak ketika indra berucap, sementara tangannya kini mengusap sisi bibirku, mengusap sisa makanan yang berantakan disana.


"Harus kau tahu, aku akan posesif jika mengenai hal itu." Tambahnya lagi, membuatku sukses menjerit kegirangan dalam hati.


Tak biasanya indra mengatakan secara gamblang bahwa dia cemburu akan sesuatu hal, dan inilah pertama kalinya indra mengatakan bahwa dirinya benar-benar takut kehilangan diriku.


Bersamaan dengan itu, indra mulai menjauhkan wajahnya masih mempertahankan senyumannya yang kini semakin melebar ketika melihat aku ikut menaikkan sudut bibirku karena ucapannya, aku memang tidak suka lelaki posesif, tapi aku sangat menyukainya jika indra yang melakukan itu.


Setelah seluruh murid silih berganti datang memasuki kelas, aku dan indra tetap berada pada tempatku, duduk berdua dengan indra yang sibuk menyuapiku, terkadang kami berdua bercanda, tertawa hingga membuat beberapa siswa termasuk si biang gosip menatap kami dengan keheranan. Tentu saja, karena inilah pertama kalinya untuk seorang kaylindra zeiden pratama tersenyum dan tertawa dihadapan orang lain, dan aku bangga karena aku adalah alasan indra berbahagia.


***


Waktu pulang sekolah telah tiba, aku sedang membereskan barang-barang miliku dari atas meja, hari ini semua berjalan baik-baik saja, oca maupun yulan tidak ada yang menjauhiku, mungkin mereka paham dengan perasaan ku dan indra yang saling mencintai. Hanya saja, teman-teman sekelas ku merasa sangat aneh denganku, mereka semua terang-terangan mengatakan untuk aku menjauh dari indra, aku tak pernah menanggapi apa yang mereka katakan, karena menurutku itu hanya akan membuang-buang waktuku.


Termasuk devan juga audrey, mereka benar-benar gencar memintaku untuk menjauh dari indra, lagi dan lagi aku hanya bisa mengabaikan mereka, tak berniat untuk menjawab apapun.


"Ca, ayo." Ajak chika setelah barang-barangnya, selesai dirapihkan.


Aku, chika dan yulan berniat pergi bersama menuju tempat parkir, selama seharian ini mereka berdua selalu menjagaku, tak membiarkan aku untuk pergi sendirian seperti waktu itu, bahkan untuk pergi ke kamar mandi, mereka mengikuti aku.


Aku mengangguk, sambil menyampirkan tas ke punggungku. Berniat keluar kelas bersama dengan chika dan yulan, namun niatku urung begitu tanganku ditarik pelan membuatku menoleh untuk melihat siapa yang melakukannya.


"Ada apa?" Tanyaku, pada sosok yang selalu menjadi pemikiranku.


Aku melihat, chika dan yulan ikut berhenti untuk melihat kami berdua berbicara. "Mau pulang bersama?" Tanyanya.


Aku tersenyum lembut, kemudian mengangguk menyetujui keinginannya untuk mengantarkan ku pulang, lagipula kak bara tidak akan keberatan.


"Kalau begitu, aku dan yulan duluan yah, hati-hati." Ucap chika.


"Ya, sampai jumpa." Jawabku sambil melambaikan tangan pada dua orang temanku yang mulai menjauh dari dalam kelas.


"Mereka sangat baik padamu." Ucap indra yang membuatku sedikit tertawa.


"Ya mereka baik, walau terkadang menyebalkan." Jawabku.


Aku bersama indra berjalan beriringan meninggalkan kelas, melewati Lorong-lorong kelas yang mulai sepi karena seluruh siswa tengah berkerumun keluar melewati pintu gerbang.


"Hari ini aku tidak melihat cia dan gengnya, juga glen, kau tahu kemana mereka?" Tanyaku membuka pembicaraan.


"Tidak, untuk apa mencari mereka?"


"Hanya merasa penasaran dengan mereka, kenapa mereka bisa begitu membencimu." Jawabku, menatap lantai yang ku pijak sekarang.


Ada helaan nafas yang terdengar begitu aku menyelesaikan ucapanku. "Ada banyak sesuatu yang aku sembunyikan, dan pastinya itu sangat menyakitkan, kau hanya perlu menunggu, suatu saat nanti kau akan tahu, ketika dirimu tak lagi mencintaiku atau ketika waktuku semakin tak menentu, dan aku pastikan setelahnya aku akan pergi, bahkan tidak akan pernah kembali."


***


**Ahay ahay, masih santuy, pokoknya mau buat momen romantis dulu buat indra sama oca gak mau mereka pisah-pisah, aku sayang mereka berdua soalnya hikss ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ญ


Aigoo yang penasaran sama masalalu indra, pantengin aja terus siapa tahu chapter depan, aku bongkar, seperti apa yang dikatakan oleh indra disaat oca tak mencintainya lagi atau disaat waktunya telah habis, uwuwu yang mana yah alasan indra mengungkapan masalalunya pada oca. OPSS๐Ÿ˜๐Ÿ˜’๐ŸŒš malah spolier heheh.


Pokoknya pantengin aja terus, jangan lupa vote dan komen, big luv dari ratu araaโ™ก**

__ADS_1


__ADS_2