Dear Love School

Dear Love School
angry


__ADS_3

   Aku mendorong pintu rumahku melihat keadaan rumah yang sepi membuat ku berpikir mungkin kak bara tidak ada di rumah.


   Padahal baru saja aku akan memarahinya karena tidak menjemput untuk kesekian kalinya, tapi pandangan tertuju pada seseorang lelaki yang tengah asik meminum kopi di halaman samping rumah.


  Setelah indra mengantarkan ku pulang ke rumah aku mengajaknya untuk berkunjung, tapi lagi-lagi lelaki berwajah manis itu menolaknya. Tapi ya sudahlah jika memang itu adalah keinginannya.


   Aku menggelengkan kepala merasa jengah dengan sikap kakak ku, aku mendatanginya untuk bertanya apakah alasannya kali ini tidak menjemputku.


  "Kak bara!" aku menepuk sebelah bahunya membuat sang empu menoleh padaku. "Eh oca kapan datang?" Basa-basinya aku langsung memutar bola mata jengah.


  "Dari tadi!" Aku menghentakkan kaki ku ikut duduk di kursi di samping kak bara.


  "Kak kenapa tidak menjemputku? Aku hampir saja tersesat jikalau indra tidak menemukan ku dan mengantarkan ku kerumah." Jelas ku pada kak bara.


  "Lah sekarangkan udah datang? Jadi buat apa kakak jemput kamu?" Ucap kak bara membuat diriku merasakan kesal yang teramat dalam padanya.


  "Tapikan kak, seharusnya kakak menjemput ku di sekolah. Kakak mau aku mengadukannya pada ayah dan bunda?" Ancam ku, kak bara yang mendengar ancaman itu langsung menatap ku dengan tatapan horor.


  "Dasar tukang ngadu." Kak bara menarik hidung ku dengan gemas.


  "Yahkan salah kakak tadi gak jemput aku." Aku mengpoutkan bibirku karena masih kesal dengan kak bara.


  "Iya maaf oca ku, tadi kakak sembelit lagi jadi tidak sempat jemput kamu. Kan ada indra bukan? Lagian kamu kan berangkat sama cowok tadi? Kenapa tidak pulang bersama lagi?" Tanya kak bara, aku langsung membuang muka kembali merasa marah ketika mengingat apa yang di lakukan oleh glen pada indra.


  "Kak, sudah jangan bahas hal itu" Lirihku masih saja terbayang jelas dalam otak ku bagaimana glen dengan brutalnya memukuli indra.


  "Dek." Panggil kak bara, aku menoleh sambil menatap kak bara.


"Maafin kakak yah, kakak salah sudah membiarkan kamu berangkat sama glen." Jelas kak bara membuat aku kebingungan, bagaimana kak bara tahu kalau lelaki yang berangkat sekolah bersama ku tadi adalah glen?


  "Tadi waktu kuliah kakak melihat lelaki yang mengantarkan kamu ke sekolah sedang bermain bersama kakak tingkat di tempat kuliah kakak. Setelah kakak tanya sama temen-temen kakak, ternyata lelaki itu adalah anak berandalan yang sangat suka balapan dan juga tawuran. Dia tidak melakukan apapun padamu bukan?" Jelas kak bara tidak lupa terus mengkhawatirkan keadaan ku.


  Aku menggeleng menandakan bahwa aku memang baik-baik saja. "Aku baik-baik saja kak." Ucapku, kak bara langsung membuang nafas panjang.


  "Maaf yah dek, maaf. Untung kamu tidak kenapa-kenapa." Kak bara menangkup kedua pipi ku, setelahnya mencium kening ku sekilas.


  Beginilah kak bara, niatku dari awal adalah memarahinya tapi kenapa sekarang aku malah hanyut dalam perhatian yang kak bara berikan.


***


  Yulan dan chika menatap nyalang pada indra yang sekarang tengah duduk di samping ku. Sebelumnya yulan sudah menarik tangan ku agar tidak berdekatan dengan indra, namun aku menolaknya dengan alasan bahwa semua ini demi nilai.


  Hari ini kami sekelas mendapatkan tugas dari bu arin untuk membuat kerajinan dari kulit jagung, dan bu arin meminta kami untuk membuat kelompok.


  Dan yah, di kelompok mana pun tidak ada yang mau menampung indra dalam kelompok mereka, sehingga bu arin meminta indra untuk masuk ke dalam kelompok ku.


  Aku yang memang mengharapkan hal itu langsung meng-iyakan tawaran bu arin, lagi pula kelompok ku kekurangan satu anggota.


  "Jadi, kerja kelompoknya di rumah siapa?" Tanya chika yang juga berada satu kelompok dengan ku.


  "Gue sih setujunya di rumah oca aja, kalau buat di rumah gue gak bisa kayaknya." Saran alyssa yang berada satu kelompok dengan ku, aku yang tidak mengerti sepenuhnya dengan apa yang alyssa katakan mencoba memahaminya.


  "Ssya, kasian oca tuh gak paham sama apa yang kamu omongin, ngomongnya pake bahasa indonesia formal aja." Pinta yulan pada alyssa, aku tersenyum yulan memang sangat baik.


  "Oh iya, maaf yah oca." Alyssa tersenyum kikuk padaku, aku hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kecil.


  "Iya sih lebih bagus kalau di rumah oca, aku juga belum pernah main ke rumah oca sekalian lihat." Tambah chika pada yang lainnya.


  "Ya sudah, aku juga setuju." Ucap yulan. Aku hanya menggaruk-garuk tengkuk ku yang tidak gatal.


   "Gimana oca? Kamu mau gak?" Tanya alyssa lagi, aku menatap mereka bertiga dengan tatapan bingung belum yakin dengan jawabanku.


  Aku melirik indra yang masih terdiam tidak memandang siapapun di antara kami berempat, kenapa lelaki ini tidak mau mengeluarkan pendapat maupun saran?


  "Indra? Apa kau memiliki saran lain?" Tanya ku sambil menyenggol perut indra dengan siku ku pelan. Yulan, chika maupun alyssa pasti tidak akan melihat apa yang ku lakukan tadi pada indra, karena meja menutupi sebagian tubuhku.


  "Aku mengikuti apa saya yang kalian inginkan." Jawab indra dengan ekspresi terkejut karena mendapatkan sedikit pukulan dari ku.


   "hm, ya sudah jika kalian menginginkan untuk kerja kelompok di rumah ku, hanya saja aku perlu meminta izin pada ayah dan bunda ku. Oke?" Jelas ku pada mereka ber empat, mereka hanya mengangguk setuju termasuk indra yang ikut menyetujui apa yang di ucapkan oleh ku.

__ADS_1


  "Ya udah oca, ayo pergi." Chika lagi-lagi menarik tanganku agar pergi dari kelas untuk meninggalkan indra, memang saat ini adalah jam istirahat. Tapi, aku dan kelompok ku memanfaatkan waktu ini untuk berdiskusi.


  Aku pasrah mengikuti kemauan chika, membawa ku pergi dari kelas dengan meninggalkan indra yang menunjukan sebuah senyum tipis padaku. Mencoba untuk mengatakan bahwa dia baik-baik saja walau di tinggal pergi oleh ku.


  "Kita mau kemana cha? Yulan?" Tanyaku pada akhirnya karena mereka berdua tidak menjelaskan kemana mereka akan membawa ku.


  Tiba-tiba saja yulan memberhentikan langkahnya, lalu menahan tubuh ku supaya ikut berhenti sama sepertinya.


   "Kamu jangan sampai dekat dengan indra oca, jangan sampai." Ucap yulan sambil menahan kedua bahuku, aku menenggak saliva ku kasar. Sudah kesekian kalinya yulan mengatakan hal ini, dan sebenranya apa alasannya aku harus meniauhi indra yang jelas-jelas sangat baik.


    "Yulan, pliss jangan bahas hal itu." Sanggah ku tidak mau lagi memperpanjang urusan dengan yulan.


  "Tapi oca, kamu harus tahu indra sedari tadi terus menatap kamu dengan intens." Jelas yulan, aku hanya tersenyum tipis pada yulan.


   "Terus masalahnya apa yulan? Itu hak indra." Jawabku menatap yulan dengan tatapan kesal, kenapa yulan selalu saja membenci segala hal yang berhubungan dengan indra.


  "Udah! Udah!" Chika menengahi ku dan yulan yang masih berdebat di lorong sekolah menuju kantin.


"Setidaknya jika indra memang mempunyai salah padamu, kamu seharusnya bisa memberikan dia kesempatan kedua, karena semua manusia berhak mendapatkan itu. Bukan dengan cara kamu membencinya, itu tidak akan membuahkan hal apapun." jelas ku sambil melepaskan cengkraman yulan pada bahuku, memilih meninggalkan mereka berdua.


Jika memang mereka menginginkan diriku untuk membenci indra mereka seharusnya mengatakan asalannya, bukan menyuruhku dengan cara seperti ini.


  Berjalan melewati lorong sekolah menuju perpustakaan sambil menundukkan kepala ku, aku mencoba menahan tangis dan isakan ku agar tidak di dengar oleh siapapun.


  Jujur aku tidak sanggup jika terus-menerus berada dalam keadaan seperti ini, di satu sisi aku ingin menjalin hubungan baik dengan indra sedangkan di satu sisi yang lain semua teman-teman ku menentangnya.


  Salah apa indra pada dunia hingga membuatnya seperti ini.


    Saat berjalan dengan posisi kepala menunduk, sialnya aku menabrak seseorang hingga membuat tubuhku sedikit terdorong ke belakang.


  Dan saat aku mendongak hal yang ku dapati adalah sebuah tatapan tajam dari seorang glen padaku, merasa kedua mataku masih berair dengan cepat aku mengusapnya mengalihkan pandanganku dari glen.


  "Hei? Oca kamu menangis?" Tanya glen berusaha untuk melihat wajahku yang sudah dengan sengaja ku tutup dengan rambut paniang ku yang di biarkan terurai.


  "Oca, oca." Akhirnya glen berhasil menangkup kedua pipi ku hingga membuat wajah ku dan glen saling bertemu.


   "Ca... Kamu kenapa?" Tanya glen setelah melihat wajah ku yang sembab karena menangis


  Aku menggeleng masih dengan wajah ku yang di tangkup oleh glen. "oca katakan? Katakan kamu kenapa?" Tanya glen lagi aku kembali menggeleng berusaha melepaskan kedua tangan glen dari pipi ku.


  "Lepas glen, lepas glen tolong." Lirih ku mencoba melepaskan tangan glen.


  "Tidak, katakan, katakan terlebih dahulu kamu kenapa?" Glen bersikeras untuk mengetahui hal apa yang membuat ku menangis.


  "Cukup! Lepaskan aku..." Aku kembali berusaha melepaskan diriku dari glen, kenapa aku begitu sial, padahal aku ingin sekali menenangkan diri.


  "Lepaskan dia!" Aku mendengar suara seseorang yang jelas dia adalah lelaki, aku berusaha mencari asal sumber suara itu yang ku dapati adalah sosok lelaki yang selama ini menjadi alasan kenapa semua ini terjadi. Ya, dia adalah indra.


  Dengan mata tajamnya dia menatap dingin pada glen, aku yang melihat hal itu sudah memiliki firasat ini tidak akan berakhir dengan baik.


  "Glen? Ada apa ini?" Aku mendengar suara berat menyerukan nama glen, menyadari glen sedang lemah aku segera menepis kedua tangan glen.


  "Bagus faren lu datang tepat waktu. Pegang gadis ini." Glen mencengkram kedua bahu ku mendorong tubuh ku pada seorang lelaki yang berbicara dengan glen.


  Aku memberontak karena lelaki suruhan glen itu terus menahan tubuh ku agar tidak mendekat pada indra. "Lepas!" Teriak ku sambil melepaskan kedua tangan teman glen dari tubuh ku.


  "Lo udah mulai berani yah sama gue?" Glen mendatangi indra yang masih setia dengan tatapan elangnya pada glen.


  "Glen! Lepas!" Teriak ku pada mereka berdua agar mereka tidak melakukan perkelahian, karena yang ku yakin indra pasti kalah.


  Tapi sialnya teman glen ini masih terus saja mencengkram erat tubuhku, mengunci segala pergerakan ku.


  "Cowok berengsek kaya lo pantes buat dapet ini." Glen tanpa aba-aba langsung memberikan sebuah pukulan pada wajah indra hingga membuat tubuh indra tersungkur di lantai.


  Aku yang merasa ini tidak akan baik untuk indra langsung memanfaatkan keadaan ini, ketika melihat teman glen tengah bersorak karena glen berhasil memukul indra.


  Aku langsung menginjak sepatu lelaki ini dengan keras, beruntungnya hari ini aku memakai sepatu pantofel berhak cukup tinggi sehingga injakan dari ku cukup membuat rasa sakit pada kaki lelaki itu.


   Setelahnya aku menepis kedua tangan lelaki itu dari tubuhku, berlari untuk menghalangi glen yang sudah mengambil ancang-ancang untuk menendang tubuh indra yang berada di lantai.

__ADS_1


  Dengan bermodal nekat aku langsung berdiri di hadapan glen, merentangkan kedua tangan ku. Karena terkejut dengan berdirinya diriku di hadapan glen secara tiba-tiba membuat tendangan glen mengenai kaki ku.


  Duakk


  Aku meringis pelan menahan rasa sakit pada kaki ku karena tendangan glen yang sangat kuat. Glen yang menyadari hal itu langsung membulatkan kedua matanya reflek ingin menyentuh kaki ku yang terkena tendangannya.


  Aku langsung menatap glen dengan tatapan benci menggeram kesal pada glen.


Plakk


Dengan cepat aku menampar wajah glen dengan tangan ku sendiri, harus kalian ketahui bahwa aku menggunkan tenaga ku yang sangat besar untuk menampar glen.


  "Itu karena kau menarik rahang ku."


  Plakk


"Itu karena kau memukul indra"


  Plakk


  "Dan ini untuk kaki ku." Dengan wajah datar aku menampar wajah glen sampai tiga kali, membuat glen terdiam sambil memegang wajahnya yang memerah karena tamparan dari ku.


    Teman glen yang melihat aku menampar indra langsung berlari ke arah ku bersiap memberikan pukulan balas dendam. Namun gerakannya tertahan saat glen memberi isyarat untuk berhenti.


  "Stop faren, jangan sampai lo buat oca terluka." Perintah glen membuat lelaki bernama faren itu tidak jadi untuk memukulku.


  Aku kembali menatap glen tajam. "Aku membenci mu, akan selalu seperti itu." Ucap ku dengan nada yang sangat dingin.


  Langsung berbalik arah untuk melihat keadaan indra yang tengah memegangi wajahnya. Aku menatap prihatin pada indra karena wajahnya belum sembuh sempurna dan sekarang sudah mendapatkan luka baru yang di perbuat oleh glen.


    "Kamu akan melihatnya oca, kamu akan menyesal karena membela lelaki seperti dia. Dan saat hal itu terjadi aku akan membuat mu menyesal." Ucap glen pada ku, aku hanya meliriknya dengan tatapan maut ku.


  Setelah saling bertatapan dengan glen, lelaki itu akhirnya memilih pergi bersama dengan faren, aku hanya mendengus mencoba melihat keadaan indra lagi.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya indra padaku, aku langsung tersenyum miris bagaimana lelaki ini bisa mengkhawatirkan keadaan ku sementara dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.


  "Aku baik, ayo aku antar kau ke uks." Aku menjulurkan tangan ku pada indra yang di sambut dengan baik olehnya.


  Sambil tersenyum aku berusaha membawa indra ke uks, walau memang keadaannya tidak terlalau parah tapi indra butuh pengobatan.


***


  "Sudah bersih, jangan biarkan luka mu terkena air nanti kembali basah." Saran ku sambil membereskan kotak p3k yang berada di uks.


  "Kau sangat telaten menangani soal luka, apakah kedua orang tua mu seorang dokter?" Tanya indra yang masih berada di ranjang pasien dengan posisi duduk ke samping.


   Aku otomatis langsung menggeleng tidak menyetujui apa yang di katakan oleh indra. "Bukan, kedua orang tua bukanlah seorang dokter. Hanya saja aku adalah mantan anak pmr saat di bandung." Jelasku masih tetap fokus untuk membereskan kotak p3k.


  Indra hanya menangguk tipis setelah mendapatkan penjelasan dari ku. "Tunggu oca, kaki ku terluka." Indra melirik pada tulang kering kaki kanan ku yang sedikit membengkak karena tendangan dari glen.


  "Oh, hanya lebam." Jawab ku dengan nada biasa saja melirik sekilas luka memar di kaku ku.


  "Hanya bagaimana? Sekarang luka mu harus ku perban." Indra yang sedari tadi duduk di atas ranjang langsung turun dari tempat tidur.


  Indra mendekat ke arahku menarik pergelangan tanganku, aku hanya terdiam mengikuti apa yang di inginkan oleh indra. Ternyata dia mendudukan tubuh ku di atas tempat tidur dengan posisi miring ke samping, juga kaki ku yang melayang bebas di udara.


  Indra dengan telaten mengusapkan salep pada kaki ku yang memar, aku hanya menatap wajah serius indra membuat sebuah senyum terbit di wajahku.


  Indra memang sangat tampan, apalagi rambut hitamnya yang sudah mulai sedikit panjang membuatnya terlihat seperti artis korea yang sering ku lihat di youtube.


  "Sudah ku katakan sebelumnya agar kita saling menjauh dan berusaha untuk tidak saling mengenali satu sama lain. Aku tidak mau sesuatu hal buruk terjadi padamu, kau adalah sinar mentari bagi ku dan saat kau tidak ada dunia ku akan terasa gelap."


  Aku tersenyum simpul mendengar apa yang di katakan oleh indra. Ya, kau juga adalah bulan bagiku, kau adalah sinar dan alasan kenapa aku selalu semangat menjalani kehidupan.


***


**Whatssup geng, yuhuuu ara backk. Gimana? Ara mau kasih tahu nih cerita bakal sad ending akhirnya, kalau emang kalian gak suka yang sedih-sedih gitu boleh kok berpindah kelain hati, tapi ara harap kalian tetap stay di novel ini.


Love you❤**

__ADS_1


__ADS_2