
❝takdir memang seperti itu, mempertemukan lalu memisahkan, membahagiakan lalu menyakitkan, tapi aku tidak akan membiarkan takdir memisahkan diriku dan dirimu, kecuali tentang kematian aku akan berusaha merelakan, karena ku yakin kita akan bersama di keabadian❞
Kaylindra zeiden pratama
***
"Aku tidak akan pergi darimu, karena janjiku adalah selalu percaya padamu, jadi jangan takut yah untuk menceritakan masalahmu." Ujar ku sambil menggait kedua tangan indra, ku tatap kedua matanya yang indah, ah mata itu aku sangat menyukainya.
***
Aku berjalan menuruni tangga dari rooftop indra menyuruhku untuk pergi duluan karena dia tidak mau semua orang mengetahui kedekatan ku dengan indra.
Sebenarnya indra juga belum menceritakan apa-apa tentang kehidupannya, dia hanya diam setelah aku mengatakan itu, percakapan diantara kami pun kembali seperti sebelumnya, hening.
Tapi setelah beberapa lama terdiam indra menyuruhku untuk kembali menuju kelas, sudah ku tolak aku ingin pulang bersama indra.
Namun indra beralasan seperti itu, bahwa dia tidak mau semua orang tahu jika aku dekat dengan indra, entah apa alasannya, tapi yang jelas dia mengatakan bahwa tidak ingin diriku terluka.
Sudahlah aku tidak terlalu peduli dengan ucapan aneh lelaki itu.
Baru beberapa anak tangga ku lewati, dibagian bawah ku lihat tiga orang wanita berseragam sama denganku, tengah menatapku tajam.
Aku berusaha tidak peduli dan memilih untuk kembali berjalan, walau masih dengan tatapan tajam dari mereka bertiga. Saat aku melewati mereka, tiba-tiba salah satu dari mereka mejegal tangan kananku, memaksa diriku agar menghentikan langkah kaki ku.
Karena malas membuat masalah aku berhenti memalingkan wajahku untuk menatap mereka bertiga, dengan tatapan santai tanpa ekspresi aku tidak takut dengan wajah mereka yang terlihat sangar.
"Lo Roosevelt anindia adriana bukan?" Tanya seorang cewe yang cukup cantik, wajahnya terlihat sedikit bule, kulitnya putih dan rambutnya berwarna cokelat, sepertinya itu asli.
"Mm, saya tidak mengerti bahasa gaul, bisa pakai bahasa indonesia yang baik dan benar?" Ucap ku sambil menatap mereka bertiga, ku lihat salah satu dari mereka mendecih bukan perempuan yang cantik tadi tetapi disamping gadis itu.
Wajahnya terlihat biasa saja, menurutku tidak cantik dan tidak jelek.
"Oke aku paham, kamu pindahan kan? Kenalin nama aku felicia kim, kamu bisa panggil aku cia." Gadis dengan wajah bule itu memberikan tangannya padaku, aku menyambutnya lalu bersalam dengan gadis dengan nama felicia ini.
"Roosevelt anandia adriana, oca." Balasku tak lupa dengan sebuah senyum, mungkin mereka bukan orang jahat.
"Kenalin ini jessica, dan ini cilarissa" Tunjuk cia pada dua orang yang berada disampingnya.
Aku tersenyum sambil menyebutkan nama panggilan ku pada mereka berdua, tapi yang kulihat Jessica maupun cilarissa tidak ada yang menunjukan raut ramah padaku, berbeda dengan cia.
"Oh yah? Kamu habis ngapain dari rooftop? Pake bawa kotak p3k segala?" Tanya cia otomatis aku langsung menatap kotak p3k yang ada didalam pelukanku, tidak mungkin bukan aku jujur baru saja mengobati indra? No no, itu jelas bukan jalan yang bagus oca.
"Mm, itu tadi ada cowo yang luka terus aku bantu, tapi udah dibawa kok sama rafi sama anak pmr yang lainnya." Bohongku pada mereka bertiga, cia lalu menangguk berbeda dengan kedua temannya yang masih saja terdiam.
"Oh gitu? Cuma mau kasih tahu, jangan pernah kamu dekat-dekat dengan yang namanya kaylindra, kamu akan tahu konsekuensinya kalau sampai kamu deket sama dia" Bisik cia, aku menatap cia bingung, oh astaga aku ingat gadis ini adalah orang yang menyiram indra dengan es dikantin.
Gila!
"Oh cuma itu? kupikir kenapa." Aku terkekeh sambil menunjukan deretan gigiku, membuat tiga orang yang berada dihadapan ku ini bingung.
"Sorry, bukannya lancang kalian tidak punya hak buat larang aku dekat dengan siapapun." Ujarku dengan nada yang cukup tegas, ku pikir aku takut dengan mereka? Tentu saja tidak, mereka bukan tuhan mereka hanya manusia biasa yang tidak bisa mengendalikan ego mereka sendiri.
"Cih! Udah cia lo langsung aja buat dia habis, gila mulutnya gak tahu sopan santun banget!" Marah cilarissa yang menatap ku dengan sinis.
"Tenang cila, aku tidak ingin membuat masalah termasuk dengan gadis baru ini, dia tidak tahu apa-apa." Tahan cia membuatku menatapnya remeh, ku pikir aku takut? Tidak sama sekali.
"Dengar oca, aku mengetahui kamu berbohong, jangan buat aku melakukan hal yang membuat mu menyesal." Ancam cia aku tertawa pelan dengan kedua sudut mataku menatap cia dingin.
"Lalu? Aku harus menurut dengan ucapanmu? Maaf kau bukan ibu dan ayahku, bukan juga kakak ku, bukan saudaraku bukan juga guruku, apalagi temanku? Kau hanya wanita yang suka mengancam, tidak ada hak mu menyuruh dan memerintahku." Jawabku dengan berani, oh ayolah aku pernah berlajar karate selama dibandung, sabuk ku sudah hitam tidak akan sulit bagiku untuk menghalau mereka.
"Lo!!" Jessica sudah menangkat tangannya untuk memukulku, tapi cia tahan dia masih menatap ku dengan tatapan yang tidak bisa jelas ku artikan.
__ADS_1
"Kamu akan tahu balasannya oca, apa yang kau perbuat hari ini akan kamu rasakan dikemudian hari." Ceramah cia malah membuatku tertawa tak terhentikan, bahkan perutku terasa sangat sakit.
"Oh ayolah cia, apa yang kau bicarakan tidak sesuai dengan kelakuan mu, kau tahu bukan apa yang kau lakukan hari ini akan kau rasakan balasannya dikemudian hari?" Aku memutar balikkan fakta tentang apa yang dibicarakan oleh cia, dia pikir dirinya tidak akan mendapatkan balasan dari tuhan? Tentu saja dia akan mendapatkannya bahkan lebih kejam.
"Ternyata dirimu memang manusia tidak tahu diri!" Cia terlihat mulai geram bahkan dia hendak memukulku, sudah kusiapkan cara agar bisa menangkisnya namun urung kulakukan ketika melihat chika dan yulan yang berlari menuju arahku.
"Ocaaa!!!" Teriak chika yang berlari dengan sangat cepat, saat itu juga niatan cia untuk memukulku terhenti.
Dia malah menatapku dengan tatapan sengit." kamu selamat hari ini oca." Bisik cia ditelingaku sebelum dirinya memilih pergi bersama dengan geng nya.
Aku hanya mengangkat bahu ku acuh tidak peduli dengan ucapan mereka, lagipula siapa mereka perlu ku takuti? Mereka bukan siapa-siapa.
"Oca!! Kamu baik kan? Kamu gak diapa-apain kan sama mereka?" Tanya chika khawatir banget.
"Aku tidak kenapa-kenapa, aku baik." Jawabku sambil tersenyum.
"Beneran ca? Aku lihat lho tadi kamu hampir dipukul sama cia, iya kan?" Tanya chika masih dengan raut wajah khawatir, ku lihat muka chika sedikit pucat, entah karena apa.
"Ca, kamu harusnya denger kata aku, aku bilang jangan pernah dekat-dekat sama indra kan gini jadinya!" Bentak yulan wajahnya terlihat sangat marah dia menatap ku dengan tatapan yang menakutkan.
"Yulan... Aku tidak dekat-dekat dengan indra." Lirihku, bukannya aku tidak mau jujur tapi aku hanya berusaha agar bisa tetap mempertahankan hubunganku dengan indra.
"Aku tahu oca kamu bohong kan? Lihat kotak p3k itu? Kamu habis ngobatin indra kan?" Kecam yulan dengan nada yang mengintimidasi, jujur aku ketakutan, aku takut yulan dan chika mengetahui hubunganku dengan indra.
"Iya, aku memang menolong indra, lalu kenapa? Apa kalian tega melihat seseorang yang hampir mati tergeletak disana dengan luka lebam dimana-mana? Kalian tega melihat seseorang disana dicekik dengan kencangnya hingga hampir membuat orang itu mati? Aku masih punya rasa kemanusiaan an, yulan, chika, walau memang aku tidak tahu alasan kalian melarang ku dekat dengan indra, setidaknya aku bisa menyelamatkan nyawanya. Jika kalian berada diposisi ku pasti kalian akan mengerti." Akhirnya aku mengeluarkan seluruh rasa sedih dan unek-unek ku selama ini.
Menjaga indra secara sembunyi-sembunyi, memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi dan empati kepada seseorang bukan sesuatu yang salah.
"Iya, aku tahu oca tapi ini ceritanya beda..." Kini chika yang bersuara, walau nadanya lembut, tapi jujur walau bagaimana pun membantu sesama manusia itu sudah menjadi hakekat manusia.
"Terserah aku tidak peduli, kalian tidak akan pernah paham rasanya menjadi indra." Aku mengakhiri pembicaraan ini, lalu memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua.
Aku sudah kehabisan kesabaran, bagaimana mereka bisa mengatakan hal seperti itu? Dimana otak mereka?
***
Aku menggeram kesal, kak bara pikir aku akan terus-terus senang menunggu disini? Karena sudah terlanjur kesal aku menaiki bus yang berhenti didepan halte sekolah ku, apapun yang terjad aku tidak peduli.
Saat didalam bus aku melihat siswa lain yang berpakaian sama seperti ku, mungkin setidaknya aku aman karena bisa menanyakan arah jalan pulangku.
Yang ku tahu aku tinggal daerah xxx komplek xxx, sepertinya aku bisa menanyakan alamat itu pada orang satu sekolah ku.
"Mm, boleh bertanya tidak?" Tanyaku pada seorang gadis yang berpakaian seragam seperti ku. "Iya, kenapa?" Jawabnya.
"Ingin bertanya tentang alamat ini, kau tahu? Apakah aku menaiki jalur bus yang sesuai?" Tanyaku sambil memberikan selembar kertas berisikan alamat rumahku yang sudah ku tulis.
Gadis itu mengambil kertas yang aku sodorkan, membacanya tapi setelahnya dia menatap aneh ke arahku.
"Iya, aku tahu alamat ini tapi kau salah menaiki bus." Jawabnya sambil kembali memberikan selembaran kertas itu padaku.
"Ah? Lalu aku harus menaiki bus apa?" Tanyaku padanya lagi, tapi dia bergidik tidak tahu.
"Aku tahu tempat ini, tapi sebelumnya aku tidak pernah ke tempat ini dan bus ini tidak akan melewati jalur rumah mu itu." Jawab gadis yang duduk bersebelahan denganku, aku mengangguk paham, menghela nafas panjang lalu bagaimana aku pulang?
Aku akan menelefon kak bara semoga saja dia mengangkatnya, tapi sedari tadi telefonku tidak diangkat.
Tidak mungkin aku menelfon ayah dan bunda.
Aku bingung, apakah yang harus aku lakukan, ini bodoh seharusnya aku tidak menaiki bus ini tadi.
Tak lama bus berhenti disebuah halte, karena halte ini adalah halte yang pertama aku memutuskan untuk turun disini, tempat ini tidak terlalu jauh dari sekolah.
Aku duduk dihalte sendirian sambil terus berusaha menelefon kak bara, jujur aku tidak tahu dimana diriku sekarang.
__ADS_1
Bukannya aku bodoh dengan tidak menggunakan ojek online atau apapun tapi kak bara tidak memeberikan ku izin untuk memakai aplikasi itu, dan juga kak bara bilang akan selalu menjemputku dan mengantarkanku.
Ah iya, aku harus menggunakan taksi fiuhh karena terlalu panik aku sampai lupa kalau diriku masih bisa menggunakan taksi.
Ya aku akan menunggu taksi lewat.
"Kau bodoh!" Tiba-tiba seseorang menepuk dahiku, hingga membuatku hampir saja terjatuh kebelakang.
Dan saat ku lihat siapa orang yang berani melakukan hal itu padaku, aku terkejut karena yang ada dihadapanku sekarang adalah indra, bagaimana bisa?
"Indra?" Kataku dengan suara bingung, aku heran dengan diriku dan indra, kami selalu seperti dipertemukan dimana pun kami berada.
Dan selalu bertemu saat saling membutuhkan, saat indra susah aku selalu dapat mengetahuinya dan saat susah dia pun datang padaku.
Aku yakin, takdirlah yang selalu mempertemukan ku dengan indra, namun aku tahu suatu saat takdir yang juga akan memisahkan aku dan indra, entah karena kematian ataupun masalah kehidupan.
"Sudah ku katakan jika kau kesulitan kau bisa menghubungi ku, bagaimana jika kau tersesat? Kau benar-benar bodoh." Indra memarahi ku dengan gaya khasnya, wajahnya terlihat serius tapi bagiku itu sangat lucu, sehingga membuatku tidak bisa berhenti tertawa.
"Ah iya maaf indra, aku hanya tidak ingin merepotkanmu." Jawab ku tak lupa dengan sebuah senyuman ku yang kutunjukan karena gemas nya diriku pada indra.
"Lain kali jangan berpikir kau akan merepotkan ku, kau mengerti?" Tanya nya masih dengan ekspresi yang sangat sangar.
"Hahaha iya indra, iya." Jawabku, inilah yang membuatku suka pada indra dia tidak seburuk apa yang orang katakan, dia bahkan sangat baik, sangat malah.
"Ya sudah ayo." Ujar indra sambil memberikan tangannya padaku, aku menggapai tangan indra mengikuti indra membawaku pada tempat yang ia tuju.
Takut? Tentu saja tidak aku yakin lelaki ini akan selalu menjagaku.
Benar saja tidak lama setelah aku berjalan, aku melihat motor indra sudah terpakir dipinggir jalan, tentunya ini area bebas parkir.
Tiba-tiba aku tersenyum kecil, aku merasa ini benar-benar membuatku merasa, ah rasanya sulit ku ungkapakan.
"Ini, kau bisa memakainya sendiri bukan?" Indra memberikan jaket yang berada didalam tasnya.
Tapi saat ku lihat jaket ini adalah jaket wanita, warnanya saja pink dibagian tudungnya juga ada tambahan telinga beruang, yang membuatku terheran-heran dapat dari mana indra jaket seperti ini?
"Itu milik ibuku." Jawabnya seperti menjawab pemikiranku, yang mengira bahwa jaket ini adalah miliknya.
Aku mengangguk paham, sambil menalikan jaket itu pada pinggulku, seperti yang indra katakan waktu itu, dia tidak mau menjadi pusat perhatian gara-gara membawa seorang gadis dengan paha yang terekspos.
Lucu memang, tapi ya sudah lah itu hak indra.
Aku menaiki motor indra, lalu indra mengendarai motornya melaju dijalanan kota Jakarta.
Beberapa menit diatas motornya aku terdiam, kita tidak saling bicara, tapi ada satu pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan pada indra.
"Indra? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku berada dihalte bus itu?" Tanyaku pada akhirnya, sebenarnya pertanyaan ini hendak ku tanyakan sedari tadi, namun aku takut indra merasa aneh ataupun tersinggung dengan ucapanku.
"Oh, tadi saat pulang entah kenapa aku memilih untuk memotong jalur, dari kejauhan ku lihat dihalte dirimu ya sudah aku memutuskan untuk mendatangimu." Jelasnya, aku mengangguk paham.
"Aneh indra, aku merasa seperti takdir sedang mempermainkan kita berdua." Ucapku menatap indra dari pantulan kaca spion motornya.
"Iya, takdir memang seperti itu, mempertemukan lalu memisahkan, membahagiakan lalu menyakitkan, tapi aku tidak akan membiarkan takdir memisahkan diriku dan dirimu, kecuali tentang kematian aku akan berusaha merelakan, karena ku yakin kita akan bersama di keabadian"
Dag dig dug, aku merasa jantungku hampir copot dari tempatnya, bagaimana bisa indra mengatakan hal itu, akhh ternyata selain manis indra juga pandai menggoda.
Aku tersenyum tipis, mengulurkan kedua tanganku untuk memeluknya dari belakang, menyandarkan kepala ku dipunggung lebarnya.
Aku menyukainya.
***
Udpate yah gaes, mweheheh sorry telat, oh iya ini udah lebih dari 2000 kata lho:v hehe, cuma mau kasih tahu sekolahnya oca itu sekolah internasional jadi banyak murid-murid dari luar negeri juga, kaya felicia sama yulan, jadi jangan kalian pikir ini lagi di korea yah, latar ceritanya ini di jakarta kok:) see you di next bab
__ADS_1