
**pertanyaan, tolong dijawab yah
menurut kalian oca sama indra tuh gimana sih?
kalian suka gak sama indra?
pilih indra atau glen?
coba dijawab yah, supaya kita lebih dekat wkwkwk
happy reading♡**
***
❝Hanya maaf yang dapat aku utarakan dari lubuk hatiku yang terdalam, maafkan aku karena gagal menepati janji ku kepada tuhan akan sebuah kebahagiaan, dan maafkan aku atas segala ke egoisan yang ku lakukan yang menjadikan dirimu sebagai sasaran.❞
Kaylindra zeiden pratama
***
"Ocaaaaaaa."
Aku hanya bisa tersenyum menatap chika yang sekarang tengah memelukku dengan sangat erat, terdengar isakan kecil dari chika yang sepertinya menangis.
"Kok nangis?" Tanyaku.
"Oca, maaf. Coba aja kalau aku nyari kamu pas gak balik ke kelas, pasti kejadiannya gak akan kaya gini." Terang chika menatapku sendu, terlihat jelas air mata yang tertahan dimatanya.
Aku terkekeh, selain riang chika juga cengeng, dia sangat mudah menangis untuk hal-hal kecil yang menurutku terkadang biasa saja.
"Bukan salah kamu kok, lagi pula aku baik-baik saja kan?" Ucapku memberikan semangat pada chika.
Malam ini, mereka berdua datang kerumah sakit untuk menjengukku, yulan bilang chika sangat khawatir dengan kondisiku, terutama saat melihat aku dibawa oleh indra dengan berdarah-darah, chika sampai sempat menangis dengan sangat kencang begitu melihat kondisiku.
"Untung aja kamu gak kehabisan darah ca." Timpal yulan yang tengah santai duduk disofa ruanganku.
Untuk yulan, dia sosok yang tidak akan terang-terangan menunjukan rasa sayangnya kepada seseorang, yulan biasanya akan melakukan sebuah tindakan untuk orang yang dia sayang.
"Gimana ceritanya coba kamu bisa jatuh dikamar mandi?" Tanya chika yang masih penasaran kenapa aku bisa terjatuh didalam kamar mandi.
"Ya, gitu chik, lantainya licin." Jawabku bohong.
"Lagian gak hati-hati, jadi gini kan." Omel chika masih dengan wajah masam.
"Iya maaf." Aku memilih mengalah, karena kuyakin chika akan terus bertanya mengenai kejadian kemarin.
"Udahlah chika, namanya juga gak sengaja. Udah biarin ocanya istirahat." Ucap yulan yang meminta chika untuk berhenti bertanya kepadaku.
Chika hanya bisa mendengus sebal, kemudian berlalu pergi dari ruang inap ku, sebelum pergi chika juga sempat menghentakan kakinya keatas lantai, pertanda kesal dengan apa yang dikatakan oleh yulan.
Yulan hanya bisa menggeleng melihat tingkah cikha yang seperti anak kecil, sedangkan aku hanya bisa tersenyum tipis, merasa sangat senang mempunyai sahabat seperti yulan dan chika yang selalu perhatian padaku.
Sekarang disini hanya ada aku dan yulan yang masih diam, aku sendiri masih ragu untuk memulai pembicaraan setelah perdebatan antara aku dan yulan sebelum kejadian sore tadi.
Aku memperhatikan gerakan yulan yang sekarang tengah mengambil piring, membuka parsel buah yang ia dan chika bawa, memasukan beberapa jenis buah itu kedalam piring. Lalu yulan mendatangi ku, memberikan piring itu sambil ikut duduk dikursi yang tersedia disamping bangkar.
"Makan ca." Perintahnya.
Aku hanya menurut, kemudian memakan anggur yang berada diatas piring itu. Memakannya satu persatu walau sadar tatapan yang diberikan yulan sangatlah menyeramkan.
"Aku tahu kamu berbohong tentang jatuh dikamar mandi itukan? Kamu bisa saja membohongi chika tapi tidak dengan ku oca." Ucap yulan ditengah keheningan yang menyelimuti antara aku dan dirinya.
Aku memilih diam, lebih tepatnya tengah berpikir akan apa yang harus aku jelaskan pada yulan, memang benar yulan sangat susah untuk ditipu, dirinya selalu peka dengan kondisi yang sedang terjadi.
"Ca, udah aku bilang, jauhin indra. Ini adalah peringatan pertama yang dikasih cia sama gengnya ke kamu, sebelum ini semakin parah ca." ucapnya lagi yang sekarang seperti memaksa.
Aku tahu yulan khawatir tapi apakah harus aku pergi meninggalkan indra hanya karena ancaman dari cia dan teman-temannya, aku ingin bertahan lebih lama lagi dengan indra, menemaninya dalam menghadapi segala masalah yang menimpanya kelak, aku ingin menjadi yang pertama datang, jika indra terluka.
Aku tak bisa menyerah secepat ini.
"Gak bisa yulan, kamu tahu aku sayang sama indra." Jawabku pada akhirnya.
__ADS_1
"Tapi gak dengan korbanin diri kamu sendiri juga ca, kalau semisal indra sayang sama kamu, dia pasti gak akan biarin kamu terluka kaya gini. Tapi nyatanya apa? Indra egois, dia ingin semua orang tahu kalau kamu itu milik dia, tanpa peduli dengan keselamatan kamu." Yulan menatap tajam padaku, dia emosi terlihat dari wajahnya yang merah padam menahan amarah.
"Kenapa kamu salahin indra? Aku yang salah disini yulan, indra udah memberi peringatan kepadaku, kalau bersama dengan dia aku akan bahaya. Seandainya kamu berada di posisi aku, pasti kamu akan ngerti." Jawabku tak ingin kalah dari yulan, disini aku paling tak suka jika indra selalu menjadi sasaran kesalahan yang padahal tak ia lakukan.
"Kalau kamu udah tahu, kamu bakal kena bahaya, kenapa kamu terus dekat sama indra?" Tanya yulan masih teguh pada pendiriannya untuk menyalahkan indra.
"Karena aku cinta sama dia yulan, aku cinta. Kamu harus paham posisi ku disini yang sangat mencintai indra." Aku lagi dan lagi berkilah, berusaha membela indra bagaimanapun caranya, aku tak ingin indra selalu menjadi sasaran kesalahan.
"Kalau kamu cinta sama indra, kamu gak akan ngelakuin ini oca."
"Terserah yulan, aku cape, kamu harus rasain posisi aku sekarang, rasa ingin melindungi seseorang yang disayang pasti akan membuatmu rela berkorban, bahkan mempertaruhkan nyawa, karena seperti itulah cinta."
Akhirnya aku berusaha menyudahi perdebatan ini, yulan dengan segala asumsinya dan aku dengan segala pembelaanku tidak akan pernah berujung. Aku yang teguh dengan pendirian ku dan yulan yang tak ingin aku terluka, menjadi perpaduan yang sangat bertolak belakang untuk menemukan ujung dari sebuah perdebatan.
Yulan mendengus, kemudian keluar dari ruangan rawat inapku dengan kepalan tangan yang berusaha dia sembunyikan, aku tahu yulan memiliki sesuatu yang ia sembunyikan, sepertinya yulan tahu banyak tentang indra, hingga cia juga glen.
Tapi, akan sangat susah untuk mengorek sebuah informasi dari yulan yang sangat keras kepala.
Apakah aku harus terus tersesat seperti ini, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, antara cia, glen dan juga indra. Apa yang harus aku lakukan, jika aku sama sekali tidak tahu akar dari permasalahan ini.
Tuhan, tolong berikan aku jalan, agar aku bisa tahu apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.
***
Aku mengerang pelan, masih merasakan nyeri yang teramat pada bagian kepalaku, kata kak bara, kepalaku terbentur dengan sangat keras, untung saja tengkorak ku tidak retak, hanya memar pada bagian dahi, bagian paha ku sobek dan harus dijahit.
Aku tak tahu akan berakibat sepatal itu, aku yakin luka pada pahaku adalah goresan dari dinding bilik yang tipis.
Aku perlahan membuka mata, saat merasakan silau pada indera pandanganku, tentu saja pagiku kali ini masih disambut dengan bau obat yang sangat pekat. Aku masih berada dirumah sakit, dokter bilang aku belum boleh pulang sampai kondisi ku benar-benar pulih.
"Dek udah bangun?"
Aku melirik orang bersuara halus dan lembut itu, aku sudah yakin pemilik suara itu adalah bundaku. "Udah bun."Jawabku yang berusaha membangunkan diri agar bisa bersandar.
"Sini bunda bantu." Bundaku membantu aku membangunkan tubuhku yang terasa lebih berat saat sakit seperti ini.
"Makasih bun." Jawabku setelah berhasil bersandar dengan bantal yang menyangga punggungku.
"Dek, sarapan dulu nih. Tadi pagi, indra bawa in bubur buat kamu."
Aku menatap bunda heran, maksdunya indra datang kemari? Tapi kapan?
"Kok, aku gak tahu bun."
"Indra datangnya pagi-pagi banget, udah rapih pake seragam, bunda suruh dia bangunin kamu tapi katanya dia gak mau, biarin kamu istirahat aja." Jawab bunda yang kini tengah sibuk membuka plastik yang katanya berisi bubur itu.
Aku hanya bisa ber-oh ria, kenapa aku bernegatif thinking pada indra, padahal lelaki itu sudah datang untuk menjengukku. "Indra juga bawa sebuket bunga Roosevelt sama kue, romantis banget anak itu." Tambah bunda sambil memuji indra.
Aku mengalihkan pandanganku, pada nakas yang berada disamping bangkarku, diatas nakas itu aku melihat sebuket bunga Roosevelt yang dibungkus dengan sangat cantik, juga sebuah kotak sedang berwarna pink yang sama dihiasi dengan pita pada bagian atasnya.
"Bunda tuh seneng banget pas tahu kamu pacaran sama indra, dia itu cowok yang baik banget, mana sopan lagi." Bunda lagi-lagi memuji sosok indra yang sangat baik dimatanya.
Bundaku memang sependapat denganku, siapapun yang merasakan sifat indra akan sangat senang bersama dengan dirinya. Indra yang baik dengan segala sikapnya yang ramah, juga hatinya yang lembut penuh dengan kasih sayang.
"Coba kalau indra gak nyari kamu, pasti kamu udah gak ada, karena kekurangan darah."
Aku hanya bisa membalas pujian bunda dengan sebuah senyuman hangat, aku paham bunda memang tahu mana yang terbaik untukku, dan bunda seratus persen memberikan lampu hijau untuk hubungan ku dan indra.
"Ayo makan dulu, mau bunda suapi?" Tawar bunda yang sekarang tengah membawa semangkuk bubur pemberian indra.
"Gak usah bun, oca bisa sendiri." Jawabku lalu mengambil mangkuk berisi bubur itu mulai memakannya.
"Kamu disekolah lagi gak ada masalah kan dek?" Tanya bunda lagi.
Aku berhenti mengunyah buburku, langsung menatap bingung pada bunda, apakah dia tahu bahwa aku terjatuh dari atas bilik kamar mandi, karena bully yang aku alami, sehingga dia bertanya seperti itu?
"Engga kok bun, aku baik-baik saja disekolah." Jawabku dengan senyuman tipis yang berusaha dipaksakan.
"Alhamdulillah, bunda gak mau kamu ada masalah lagi kaya dibandung. Udah cukup bunda khawatir sama kondisi kamu." Terang bunda.
Aku tak lagi menjawab ucapan bundaku, kembali fokus memakan bubur ayam yang entah kenapa rasanya menjadi sangat enak, apakah rasanya berubah jadi nikmat seperti ini karena indra yang membawa? Atau memang bubur ini sangat nikmat.
__ADS_1
"Bunda gak kerja?" Tanyaku yang sadar akan penampilan bunda, menggunakan baju terusan berwarna hijau muda dengan rambut panjangnya yang digulung.
"Enggalah, bunda mau jaga kamu disini." Jawabnya yang kini sibuk mengupas buah-buahan.
"Padahal aku bisa sendirian disini bun, kalau bunda sibuk kerja aja gak papa." Tambahku.
Sebenarnya aku tak ingin bunda repot hanya gara-gara aku, padahal aku berharap semua ini tidak akan terjadi, seandainya saja aku tetap diam menunggu dikamar mandi semuanya tidak akan seperti ini.
"Gak papa, sekalian besok bunda mau pulang ke Yogyakarta, nenek kamu makin parah sakitnya." Jawab bundaku.
Aku mengangguk-anggukan kepala paham.
"Dari semalem hp kamu bunyi mulu tuh, si eneng nelefon-nin." kata bunda yang masih fokus mengupas mangga.
"Terus bunda angkat gak?" Tanyaku.
"Bunda angkat, terus bilang sama eneng kalau kamu masuk rumah sakit, dia langsung panik sampai teriak-teriak gak jelas." Jelas bundaku yang malah membuat aku tertawa.
Sudah ku bayangkan jika seorang eneng panik, dia akan berteriak-teriak tidak jelas, bibir bergetar hebat dan bahkan akan sangat tergagap saat bicara. Padahal aku tak ingin eneng sampai tahu kondisi ku sekarang.
"Terus bunda kasih tahu gak kenapa aku masuk rumah sakit?" Tanyaku memastikan.
"Bunda cuma kasih tahu kalau kamu jatuh dikamar mandi sekolah." Jawab bundaku.
Bunda meletakan piring berisi buah yang sudah ia kupas diatas nakas, membersihkan sisa kulit buah yang berantakan, lalu memasukannya kedalam plastik.
"Bunda mau keluar dulu yah, kalau ada apa-apa kamu bisa telefon bunda, handphone mu udah dicas." Kata bundaku.
Aku hanya mengangguk meng-iyakan, tak ingin tahu juga kenapa bunda ingin keluar. "Bun, tolong ambilin bunga itu dulu dong, mau cium." Pintaku pada bunda.
Bunda tersenyum lembut, langsung mengambilkan sebuket bunga Roosevelt pemberian indra padaku. Sebelum pergi bunda juga sempat mengulas surai panjangku yang tergerai, setelahnya bunda benar-benar keluar dari dalam kamar ruang inapku.
Dirasa bunda sudah pergi, aku segera mencari sesuatu pada buket bunga itu, biasanya indra akan menuliskan sebuah surat dan menaruhnya disana. Dan benar saja, aku melihat sebuah amplop yang tersembunyi didalam bunga itu, dengan cepat aku membukanya, tentu saja untuk melihat surat yang ditulis oleh indra untukku.
***Apakah semalam tidurmu nyenyak? Jika iya aku akan sangat berterimakasih kepada tuhan karena telah mengabulkan doaku.
Maaf, karena semalam aku tak menjenguk mu, tentu saja kau pasti tahu, aku pengecut, penakut.
Aku tak berjanji apakah bisa menjenguk mu nanti siang, akan ku usahakan, jika kau merasa kesepian tulislah sesuatu untukku atau buatlah tulisan ungkapan perasaan mu padaku, aku akan sangat menghargainya jika kau benar-benar membuatnya.
Setidaknya itu sebuah kritikan untukku.
Hanya maaf yang dapat aku utarakan dari lubuk hatiku yang terdalam, maafkan aku karena gagal menepati janji ku kepada tuhan akan sebuah kebahagiaan, dan maafkan aku atas segala ke egoisan yang ku lakukan yang menjadikan dirimu sebagai sasaran.
Kau pasti tahu aku sangat menyayangimu.
Jangan lupa dimakan kuenya, kuharap kau segera sembuh! Aku akan merindukan mu disini.
—with luv, kaylindra zeiden pratama***
Aku tersentuh ketika membaca surat itu, jujur saja sedari tadi aku tengah menahan air mata pada pelupuk mataku, aku tak kuat jika harus membayangkan betapa terlukanya indra sekarang. Aku yakin indra tidak bodoh, dan dirinya tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, aku sangat berharap indra tak menyalahkan dirinya sendiri atas masalah ini.
Walau aku tahu, dalam surat itu indra menyelipkan beberapa kalimat kesedihan dan penyesalan, dia menganggap dirinya sudah gagal, ketika semua ini baru saja bermulai.
Aku mengerti, apa yang harus aku lakukan kini.
Mendukung indra sepenuhnya dengan apa yang ia lakukan, mempercayai indra apapun yang terjadi karena ku yakin indra akan selalu melakukan hal yang benar.
Setidaknya dengan adanya aku disisi indra, dapat sedikit mengurangi beban hidupnya, aku akan berusaha lebih giat lagi, agar membawa indra menjauh dari segala masalalunya juga masalahnya.
Ya, aku tak boleh menyerah, ketika semua ini baru saja dimulai, aku ingin sebuah kemenangan.
Aku akan terus bersama dengan indra, menemaninya mengahadapi semua masalah ini, berharap setelahnya ini semua dapat berakhir bahagia.
***
Niat buat tamatin di bab 30, tapi baru masuk ke konflik dibab kemarin:( kesampean gak yahh hmm, tapi masih pengen buat kisah yang banyak buat indra sama oca, sebelum ending nanti, hueee aku masih gak relaa kalau cerita ini mau tamat huhuhuhu.
Vomment yooo(╥﹏╥)
__ADS_1