Dear Love School

Dear Love School
happy


__ADS_3

 


❝Karena tidak ada yang bisa membeli kebahagiaan, kebahagiaan itu datang dari hati, dan aku senang karena hatimu menerima kebahagiaan yang aku berikan, walau hanya sederhana❞


Kaylindra zeiden pratama


***


"Ayo naik." Aku tersentak kaget, tak kala suara halus indra mengejutkanku, aku mendongak menatapnya dalam sebelum akhirnya tersenyum tipis, mendekatkan diriku pada dirinya.


  Aku menaiki sepeda ontel itu, sepedanya memiliki tempat bonceng di belakang, sehingga aku bisa menaikinya. Sama persis dengan sepeda milik indra.


  Indra menarik kedua tanganku agar bisa mengeratkan pegangan ku pada perutnya, aku sempat ragu walau hanya sesaat, setelahnya mencoba terbiasa. Indra mengayuh sepeda itu pelan, mengelilingi daerah kota tua dengan sepeda ontel memang sangat menyenangkan.


  Tentu saja yang menggunakan sepeda ini bukan hanya aku dan indra, tetapi ada orang lain juga sehingga kami tidak sendiri disini.


  Aku tidak mengeluarkan sepatah katapun terlalu asik memperhatikan pemandangan yang disuguhkan kota tua pada siang ini. Tempat bersejarah yang sangat indah, aku juga melihat beberapa pedangan pinggir jalan tengah menjajakan makanannya pada beberapa orang.


   "Kau ingin mencoba itu?" Aku memiringkan kepala ku saat terdengar suara indra.


  "Mencoba apa?" Tanyaku dengan suara yang sengaja di keraskan, agar indra bisa mendengarnya.


  "Kerak telor, kau belum pernah mencobanya bukan?" Tanya indra yang masih setia mengayuh sepedanya.


  Aku mengangguk samar, bahkan tak terlihat. Aku juga sedikit ragu, rasanya aku sudah terlalu banya merepotkan indra. Tapi, tak bersuaranya aku malah membuat indra memberhentikan sepedanya didepan sebuah pedagang kaki lima yang berjualan kerak telor.


  Aku yang melihat indra memberhentikan sepeda dengan segera turun, membenarkan baju ku juga rambut beserta topi pantai yang masih terpampang di kepalaku.


  "Pak, kerak telor 2." Ucap indra pada bapak-bapak penjual kerak telor.


Bapak itu mengangguk lalu mulai memasak kerak telor seperti apa yang dipesan oleh indra.


   "kemari." Indra menyuruhku duduk di pinggir trotoar, sedangkan dirinya sudah mengambil posisi yang nyaman disana.


  Aku mengikuti apa yang dikatakan oleh indra, seperti saat ini duduk disampingnya di atas trotoar bersama dengan bapak tadi.


  "Kenapa?" tanyaku pada indra yang tiba-tiba saja terdiam tanpa suara membuat suasana hening.


  "Apa kau senang berjalan-jalan bersamaku?" Tanya indra dengan nada pelan, aku terkekeh tidak menyangka indra akan bertanya hal seperti itu.


  "Tentu saja aku senang, selama beberapa bulan ini tinggal di jakarta aku tidak sempat untuk menjelajahi kota jakarta. Terlebih lagi kedua orang tuaku yang disibukan dengan urusan pekerjaannya, kak bara dengan kuliahnya dan aku dengan sekolahku." Jelasku sambil menghela nafas berat.


  "Baguslah." Jawab indra.


  "Si mas sama mbanya pacaran yah?" Tanya bapak penjual kerak telor itu, sambil memberikan 2 mangkuk kerak telor pada indra.


  Ku lihat indra hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis, tidak ada anggukan dia hanya menjawab dengan opsi aman.


"Pantas, mbanya cantik si mas nya ganteng, cocok banget." Ucap bapak itu membuat aku dan indra tertawa garing, sebenarnya kikuk dengan situasi ini.


  Ya, jika dilihat-lihat aku dan indra seperti orang yang tengah berpacaran, berduan dan bergandengan tangan. Apalagi indra yang memboncengku dengan sepedanya, terlihat romantis.


   Setelah bapak itu pergi, aku dan indra sama-sama terdiam menikmati kerak telor. Makanan khas kota Jakarta yang sudah lama ingin sekali aku cicipi, dan ternyata rasanya enak sekali, aku sampai ketagihan dengan rasanya.


  "Enak?"


  "Enak banget."Jawab ku sambil tersenyum senang bisa memakan kerak telor.


  Aku menatap indra sekilas, melihatnya yang tengah menatap mangkuk berisi kerak telor itu dalam diam, dia tidak melanjutkan memakan kerak telor itu. Aku bingung, kenapa indra berhenti memakan kerak telor? Apakah rasanya tidak enak? Tapi kerak telor ini enak sekali rasanya.


   "Kenapa tidak dimakan?" Tanyaku, menatap obsidian indra yang berwarna hitam legam.


  "Tidak, aku tengah menikmati rasanya." Jawab indra sedikit gelagapan, aku menyatukan kedua alisku bingung, kenapa tiba-tiba indra seperti terkejut, apakah dia melamun?


   Kembali hening, aku tidak banyak berbicara dan terus menikmati kerak telor yang sangat enak dengan serundeng membuat rasanya semakin lengkap.


  ***


    Setelah selesai makan kerak telor tadi, aku dan indra kembali bersepeda mengelilingi kota tua, seperti biasa tidak pembicaraan serius diantara kami berdua, aku dan indra memilih saling diam tak bersuara.


   Indra memang jarang mengeluarkan suaranya, dia terkesan diam dengan wajah dinginnya. Ya, sesuai dengan pribadinya yang jarang berbicara jika tidak ada yang memulainya.


   Tapi indra itu masuk dalam satu daftar lelaki idamanku, dia tidak suka memaksa, dia tidak terlalu mengekang, dia cool dan juga dia tampan. Oh, ayolah tampan adalah salah satu nilai tambah yang selalu di inginkan oleh semua wanita, aku tidak munafik aku menyukai lelaki tampan. Tapi, bukan berarti aku tidak setia, tampan hanya kategoriku di nomor terkahir.


  Tidak terlalu penting.


  Drrt drrtt

__ADS_1


  Aku meraba tas selempang yang aku gunakan, merasakan telefonku berdering disana dengan segera aku memerintahkan indra untuk memberhentikan sepedanya.


  "Indra, berhenti."


  Indra yang mendengar perintahku langsung menghentikan laju sepedanya, aku tidak turun, masih terus duduk di kursi boncengan di belakang. Aku mengambil handphoneku dari dalam tas untuk mengangkatnya.


  "Hallo" Ucapku pelan, aku melirik indra yang kini ternyata sedang memperhatikan diriku.


  "Hallo ca, dimana? Eneng udah ada didepan museum wayang nih."


  Aku membuang muka, mencoba melupakan bahwa aku sempat bertatap mata dengannya.


  "Oh, udah sampe yah? Ya sudah, nanti aku segera kesana. Bye neng." Ucapku lalu mematikan sambungan teleponku dengan eneng.


  "Kenapa ca?" Tanya indra, saat ini posisi kami berdua masih berada di atas sepeda, indra menahan sepeda dengan kedua kakinya, lalu tubuhnya ia balikkan menghadapku.


   "Temanku sudah datang, mereka bilang ada didepan museum wayang." Ucapku pada indra, dia mengangguk pelan lalu kembali mengubah posisinya membelakangi diriku.


  "Ayo pegangan." Ucapnya, aku sudah tak ragu untuk memeluknya karena indra juga tidak keberatan, dia juga bukan yang memerintahkan.


  Sepeda ontel ini kembali melaju di banyaknya kerumunan manusia, sedikit menyulitkan memang untuk mengendarai sepeda saat ramai seperti ini. Indra bahkan sempat memberhentikan kayuhan pada sepedanya.


  Dan saat sampai didepan museum wayang, aku melihat 2 orang perempuan yang tengah duduk di paving blok. Karena merasa tak asing, aku dengan segera menarik baju indra agar memberhentikan sepedanya.


  "Stop ndra." Ucapku, dengan cepat aku turun dari sepeda lalu berjalan mendekati dua orang gadis itu.


  Saat sampai didepan mereka berdua, aku menatap mereka sayu, kosong bahkan niat ku sebelumnya untuk memeluk mereka belum ku lakukan.


  Kedua gadis itu yang menyadari kedatanganku langsung berdiri, sama. Mereka berdua juga menatap ku tajam. Setelahnya aku membawa mereka berdua dalam pelukan ku.


   "Eneng, siti." Gumam ku masih memeluk mereka dengan sangat erat.


  Mereka berdua juga membalas pelukanku, terasa di hatiku rasa rindu mereka yang begitu besar padaku.


  "Ocaaa!!" Teriak mereka berdua, dalam pelukanku, aku mengusap-usap punggung mereka berdua pelan.


  Saat merasa sudah kehabisan nafas aku melepas pelukanku pada mereka, lalu menatap mereka secara bergantian.


  "miss you so bad, oca." Ucap siti, aku tersenyum haru tak tahan dengan rasa rindu yang menguap ke udara.


  "Me too." Jawabku, aku kembali memeluk mereka dengan segera ingin menyalurkan rasa rindu ku pada mereka berdua.


  "Hartunuhun eneng, eneng geh sami." Jawabku dengn logat sunda yang malah terkesan seperti logat jawa.


  "Eneng, siti gimana kabarnya sehat?" Tanyaku, aku mengambil salah satu tangan mereka untuk ku genggam dengan sangat erat.


  Genggaman ini, genggaman yang dulunya selalu memberi ku sebuah semangat dan motivasi. Genggaman ini yang selalu mengajak ku untuk bangkit dari keterpurukan dan genggaman ini lah yang selalu membuat ku bahagia saat bersama mereka.


  "Kita baik kok ca." Jawab siti dengan nada bergetar, aku memperhatikan wajahnya dan benar saja siti menangis.


  "Jangan menangis siti." Aku dan eneng reflek memeluk siti secara bersamaan, untuk menenangkan gadis dengan hijab itu.


Siti memang orang yang sangat mudah menangis, siti sensitif. Maka dari itu siti jarang sekali menghubungi ku, karena setelah siti menghubungi ku dia pasti akan menangis, seperti itulah yang dikatakan oleh eneng. Apalagi aku adalah orang yang sangat dekat dengan siti, aku juga berusaha memakluminya. Tapi aku tahu siti adalah orang yang sangat pengertian.


  "Ca... Siti kangen..." Lirihnya lagi dengan tangisan yang semakin pecah dalam pelukan aku dan eneng.


  "Oca juga kangen kok sama siti, tapi sekarang oca udah ada disini kan?" Ucapku berusaha menenangkan siti agar berhenti menangis.


  "Iya siti, kita jauh-jauh dari bandung kesini supaya bisa ketemu sama oca kan? Jadi jangan nangis." Ucap eneng lagi.


  Aku melepas pelukanku setelah merasa cukup untuk membuat siti tenang. "Sudah jangan menangis, oca ada disini sekarang" Aku menghapus jejak air mata di pipi siti, lalu memberinya sebuah senyuman manis.


  "Iya, maaf ca. Aku terlalu kangen sama kamu." jawabannya sambil ikut menghapus air matanya.


  "Udah dong sedih-sedih-annya sekarang kita kan mau main bareng lagi." Ucap eneng, aku dan siti mengangguk dengan semangat.


  "Ca, itu teh siapa?" Tanya eneng padaku, aku melirik arah pandang eneng dan menemukan indra yang berdiri di sampingku.


  Ah, aku sampai melupakan indra karena terlalu hanyut dalam pertemuan yang penuh haru ini.


  "Ah, ini temanku namanya indra." Aku mengenalkan indra pada mereka berdua.


"Indra ini kenalkan sahabatku, eneng, siti." Aku menunjuk mereka berdua yang dibalas sebuah anggukan.


  "Wah oca, baru pindah beberapa bulan yang lalu udah dapet gandengan aja." Eneng menyenggol tubuhku dengan sikunya, menggoda diriku.


  "Bukan neng, dia temanku." Jawabku dengan cepat, tak ingin ada kesalah pahaman antara aku dan indra.

__ADS_1


   "Meuni kasep pisan." Ucap eneng lagi dia menatap kagum pada indra.


  Sudah ku katakan indra tidaklah jelek, malah dia sangat tampan, buktinya eneng mengatakan bahwa indra tampan. Ya, semua itu tergantung pemikiran setiap orang, jika mereka selalu berpikir indra jelek apapun yang akan indra lakukan akan selalu jelek di mata mereka.


   "Hahah, ya." Jawabku sambil menggaruk-garuk tengkuk ku yang tak gatal, merasa canggung untuk menjawab ucapan eneng.


  Aku melirik indra, dan ternyata dia juga sedang menatapku, aku tersenyum kikuk pada indra yang dibalass sebuah anggukan oleh indra. Entah apa maksudnya, aku tak paham.


  "Oca, oca. Cowo-cowo yang pernah suka sama kamu juga ikut lho." Ucap eneng lagi sambil menatap ku dengan tatapan jahilnya.


  "Terus masalahnya apa eneng." Kataku lalu memutar bola mata malas, eneng memang terlalu berlebihan.


  "Tapi ca, mereka juga katanya pengen ketemu sama kamu." Kali ini siti yang menambahkan, kenapa mereka ini.


  "Maksudnya orang yang pernah suka sama oca kenapa?" Aku melirik indra lagi, kenapa indra bisa bertanya hal konyol seperti itu.


  "Ah, kamu belum tahu ya? Oca itu primadona disekolah kami dulu, lihatlah wajahnya sangat cantik, oca juga sangat pandai dia selalu di puji-puji oleh seluruh lelaki disekolah, setiap harinya akan selalu ada lelaki yang menyatakan perasaannya pada oca. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang di terima oleh oca, alasannya klise sekali, hanya takut menganggu pelajarannya." Jelas eneng pada indra.


  Aku membuang muka malu, dasar eneng. Jelek sudah citra ku didepan indra, aku hanya takut indra menyangka aku adalah gadis tidak baik.


  "Bahkan sampai sekarang, lelaki itu masih mengejar oca lho. Kamu beruntung banget bisa deket sama oca, pake cara apasih?" Tanya eneng lagi, sudah memberikan tatapan penarasan pada indra.


  "Ah, sudahlah lupakan, ayo kita jalan-jalan bersama." Aku berusaha mengalihkan pembicaraan ini, jikalau diteruskan bisa saja ini tidak akan berakhir dengan cepat.


  "Iya, ayo kita jalan-jalan bersama." Saran siti juga aku merasa terbantu sekali dengan ucapan siti.


  "Tapi kemana?" Tanya siti, akhirnya siti mengakhiri percakapan tentang aku di sekolah ku dulu.


  "Aku menyewa sepeda, mau bermain sepeda bersama?" Tanyaku, mereka berdua mengangguk antusias.


  "Indra, bisa antarkan kami menuju tempat menyewa sepeda?" Ucapku pada indra, indra mengangguk tipis padaku, tanda setuju dengan permintaan ku.


  "Ayo." Baru saja aku ingin menggandeng tangan eneng dan siti, indra sudah terlebih dahulu menggapai tanganku dan menggenggamnya dengan erat.


  Aku hendak menolak, tapi ragu karena genggaman indra kali ini sangat kuat bahkan melebihi genggamannya yang tadi padaku.


  Siti dan eneng yang menyadari hal itu, hanya terdiam mematung sambil menatapku lemat-lemat. Siti dan eneng berusaha mengerti dengan situasi yang kini aku hadapi dan mereka berdua hanya menangguk pasrah.


Sementara aku sudah dibawa oleh indra, dengan di ikuti oleh eneng dan siti dibelakang kami berdua.


  Indra melepaskan tautan tanganku setelah sampai depan sepeda kami yang sebelumnya. Indra mendorong sepeda itu tanpa mengucapkan apapun, aku hanya mengikuti indra bersama dengan kedua teman-teman ku untuk sekedar bercakap ria tentang apa yang terjadi beberapa bulan ini tanpa aku.


  Indra menghentikan langkahnya setelah sampai didepan tempat menyewa sepeda, aku melihat indra berbicara pada seorang lelaki, setelahnya indra memberikan beberapa lembar uang pada lelaki itu.


  "Ayo, kalian pilih ingin sepeda yang mana." Ucap indra, eneng dengan segera mengambil sebuah sepeda bernuansa pink yang sangat lucu.


  "Ini aja, ini aja." Ucapnya girang, aku terkekeh eneng memang tipe gadis bar-bar.


  "Ih, eneng malu-malu in." Protes siti saat melihat tingkah konyol eneng.


  "Ayo naik atuh siti." Ucapnya sambil menepuk boncengan yang ada di bagian belakang sepeda.


  Siti dengan antusias mengangguk, lalu menaiki sepeda bersama dengan eneng. "Yang bener bawanya, kalau sampe siti jatuh.  Awas aja." Ancam siti menunjukan wajah galaknya.


  "Ahsyiappp bosskuu." Teriak eneng dengan suara menggelegar, aku kembali terkekeh dengan tingkah mereka berdua, aku merindukan suasana ini.


  Eneng mengayuh sepedanya meninggalkan aku dan indra berdua disini. "Hah, mereka berdua lucu sekali." Aku tersenyum menatap punggung siti yang mulai menjauh dari tempat kami.


  "Uang yang tadi kau gunakan untuk menyewa sepeda, biar aku yang membayarnya yah." Ucapku tersadar akan uang yang indra gunakan untuk menyewa sepeda.


  "Tidak perlu, cukup melihat mu tertawa bahagia itu sudah bisa membayar uang yang aku gunakan. Karena tidak ada yang bisa membeli kebahagiaan, kebahagiaan itu datang dari hati, dan aku senang karena hatimu menerima kebahagiaan yang aku berikan, walau hanya sederhana."


  Jelas indra panjang lebar, membuat sebuah senyum kembali terpatri di wajahku, indra benar, kebahagian tidak akan pernah bisa di beli dengan uang. Berapapun jumlahnya.


***


**Nah ara balik lagi dengan suguhan cerita indra dan oca, ahay ahay de😂


Jadi gimana, review bab ini dong? Gimana menurut kalian? Bagus? Komen dan vote plisss biar makin tambah semangat.


Stay safe juga buat kalian, inget kalian harus social distancing jauhi keramaian jaga kesehatan dan juga mencuci tangan setiap hari.


See you next chapter guys**!


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2