
❝Bukan agama yang memisahkan kita, tetapi tuhan yang tidak pernah menginginkan kita untuk bersama.❞
Kaylindra zeiden pratama
***
Aku masih tersenyum tipis, mengingat ucapan indra tadi, sungguh hal itu membuat hatiku merasa tenang. Dan juga rasanya jantungku berdebar dengan sangat cepat.
Walau setelah indra mengatakan hal itu, atmosfer diantara kami berdua sangat hening, tidak ada pembicaraan maupun perdebatan seperti sebelumnya. Aku berterimakasih pada layang-layang, karena jika layang-layang milik kami berdua tidak jatuh, mungkin hal itu akan berlangsung lebih lama. Dan mungkin indra akan mengatakan hal yang lainnya, mungkin saja.
Saat ini, aku dan indra sedang menuju pulang ke rumahku. Aku memutuskan untuk kembali setelah waktu semakin larut.
"Terimakasih atas hari ini indra." Ucapku setelah indra memberhentikan motornya didepan rumahku, aku juga memberikan helm yang ku gunakan sebelumnya.
"Sama-sama, aku juga senang jika kau senang." jawabnya menerima helm yang ku berikan, indra menaruh helm itu di bagian depan motor matic nya.
"Oh iya, ini untukmu." Aku memberikan paper bag berisi hadiah pemberian eneng dan siti.
"Tidak perlu, untuk ayah dan bundamu saja." Tolaknya, dengan segera aku menggeleng.
"Nih, aku sudah punya satu. Ayo terima, ini sebagai ucapan terimakasih ku padamu, karena telah mentraktir ku hari ini." Aku memaksa indra agar menerima oleh-oleh yang di bawakan oleh siti dan eneng.
"Mm, oke baiklah. Terimakasih." Dengan sedikit ragu indra mengambil paper bag yang aku sodorkan padanya.
"Tidak mampir?" Tawarku lagi, ayah dan bunda pasti sangat senang bertemu dengan indra.
"Lain kali saja, aku harus segera pulang." Jawabnya, indra menyalakan mesin motornya.
"Oca"
"Ah iya kenapa?" Tanyaku bingung, indra tidak menjalankan motornya.
"Apapun yang terjadi, kau adalah alasan kenapa aku bisa bahagia." Ucapnya bersama dengan sebuah senyuman manis.
Lalu indra melajukan motornya meninggalkan diriku yang masih terkejut, lagi dan lagi indra membuat ritme jantungku berdetak tidak karuan.
Aku tertawa kecil, merasa ucapan indra seperti memiliki banyak arti dan makna. Apa mungkin indra menyukai ku? Atau hanya perasaan ku saja? Aku tidak mau berasumsi terlebih dahulu, tapi yang jelas aku merasa nyaman bersama dengan indra.
Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku, menghilangkan seluruh khayal yang tak mungkin terjadi. Aku membuka gerbang rumahku, memasuki rumah sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum." Seru dengan cukup keras, terdengar jawaban dari dalam rumah yang pasti itu adalah ayah dan bunda.
Dan benar saja, ketika aku memasuki ruang keluarga disana ku lihat ayah, bunda dan juga kak bara yang tengah berkumpul bersama.
"Gimana kencannya?" Tanya kak bara menggoda.
Aku melotot lalu dengan segera menghampiri kak bara kemudian menginjak kakinya dengan sengaja.
"aw!" Teriak kak bara kesakitan, aku menatap horor padanya mencoba tidak perduli dengan ikut duduk di samping bunda.
"Bun, nih oleh-oleh dari eneng sama siti." Aku meletakan paper bag itu di atas meja, bunda yang mendengar nama eneng dan siti langsung terkejut, dengan cepat bunda meraih paper bag itu dan membukanya.
"Eneng sama siti? Memang mereka ada di jakarta?" Tanya bunda penasaran.
"Iya, sekolah lagi ada acara study tour ke Jakarta, jadi sekalian ketemu."Jawabku, kak bara dan ayah ikut mengangguk paham.
"Wah, bolu lembang, susu lembang, colenak, yoghurt susu lembang." Pekik bunda girang, sambil mengeluarkan beberapa macam oleh-oleh dari dalam paper bag.
"Bunda kangen banget sama bolu lembang." Ujarnya, aku hanya menggeleng bingung, padahal bunda bisa membeli bolu lembang di jakarta.
Tapi bunda selalu bilang, bolu lembang yang enak itu hanya langsung dari lembang. Memang sih, rasanya berbeda.
"Tadi sama indra pergi kemana aja dek?" Tanya ayah, aku tampak berpikir sejenak.
"Tadi ke taman mini, ke kota tua sama ke monas yah." Jawabku.
Ayah melotot kaget dia bahkan menaruh koran yang sedari tadi sedang dia baca. "Wah, jauh juga dek, terus yang bayar indra semua?" Tanya ayah lagi, aku hanya menjawab dengan anggukan kecil. Meng-iyakan.
"Enak banget jadi oca, udah jalan-jalan di bayarin pula." Ucap kak bara, aku langsung menatapnya dengan tatapan horor, terkadang kak bara itu menyebalkan.
"Untungnya aku perempuan jadi wajar. Bagaimana dengan kakak yang selalu di bayarin sama perempuan? Tidak punya malu." Jawabku dengan nada ketus.
Ayah dan bunda tertawa cukup keras membuat isi ruang keluarga gaduh seketika. Ayah dan bunda juga tahu kak bara adalah lelaki yang banyak di incar oleh gadis-gadis remaja, sampai-sampai kak bara sering mendapatkan traktiran dari para gadis yang menyukainya.
"Ck Oca menyebalkan." Gerutu kak bara dengan wajah tak suka.
Aku hanya membalas kak bara dengan sebuah senyuman remeh.
"Merepotkan indra sekali, besok adik harus memberikan indra hadiah." Saran bunda. Aku menyetujui saran bunda, sejujurnya aku merasa malu dan merepotkan indra, karena terus terang sedari tadi aku tidak mengeluarkan sepeser pun uang.
Bukan aku tak mau, tapi indra menolaknya dengan segala cara.
"Tadi oca juga sudah memberikan oleh-oleh pemberian eneng dan siti pada indra." Jawabku.
"Baguslah, tapi esok bunda akan membuatkan makanan khusus untuk indra." Ucap bunda, aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kalau begitu aku mandi dulu, badan oca lengket."
Aku berpamitan pada seluruh keluarga ku yang berada di ruang keluarga, pergi menuju kamarku untuk membersihkan diri, seperti apa yang ku katakan tadi.
Hari ini, sudah cukup membuatku bahagia, banyak hal yang tak pernah ku alami sebelumnya. Semuanya terasa berbeda dan begitu istimewa saat bersama dengan indra.
***
Pagi dengan cuaca desember yang cukup dingin, aku mengeratkan cardigan rajut yang aku gunakan. Agar hawa di pagi ini tak terlalu menusuk, supaya tak bosan aku memainkan kaki di udara, menunggu memang bukanlah hal yang menyenangkan tetapi aku harus melakukannya mulai sekarang.
Ya, aku sekarang tengah berada di halte bus komplek rumahku. Mulai hari ini aku akan berangkat menuju sekolah menggunakan bus yang di sediakan oleh sekolah ku. Kemarin ayah memutuskan untuk menggunakan layanan bus sekolah agar bisa menjemput dan mengantarkan aku pulang, katanya kasian kak bara.
Aku hanya menurut saja, lagi pula aku juga tidak ingin terus-menerus bergantung pada kak bara, aku harus mandiri.
Tak lama suara decitan rem dan mesin mobil membuyarkan lamunanku, aku meliriknya dan ternyata benar itu adalah bus sekolahku. Dengan segera aku menaiki bus nya, didalam bus tersebut sudah ada banyak siswa yang juga menggunakan jasa ini.
__ADS_1
Termasuk seseorang yang beberapa hari ini mencuri pikiran ku dan hatiku. Indra. Aku melihat lelaki itu berada didalam bus, dengan kursi disampingnya yang kosong. Aku memutuskan untuk duduk disamping indra, walau pandangan matanya mengatakan tidak. Tapi, aku akan duduk dimana jika tidak duduk disamping indra, semua kursi bus telah penuh dan hanya kursi di samping indra yang kosong.
Oh ayolah, siapa yang ingin duduk dengan orang seperti indra, dia adalah pusat kebencian anak-anak di sekolah. Terkecuali diriku yang bahkan santai saja duduk disamping indra.
Bus sekolah melaju meninggalkan halte komplek rumahku, aku melirik indra berharap dia akan menyapa ku. Namun nyatanya indra bahkan sengaja mengalihkan pandangannya.
Sebenarnya apa yang indra inginkan? Kemarin dia berkata seperti itu dan sekarang? Dia bersikap seolah-olah aku dan dia tidak saling mengenal dan memiliki hubungan.
Mengigit bibir bawahku, aku berusaha untuk membuat suasana awkward antara aku dan indra terhenti, bukan kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan indra.
"Indra? Kau sudah sarapan?" Tanyaku padanya, indra melirikku dengan tatapan sendu lalu jawaban yang kudapatkan adalah sebuah gelengan, pertanda jika lelaki itu belum melakukan hal yang aku tanyakan.
"Bunda membuatkan sarapan ini untuk mu, mau coba?" Tawarku sambil mengeluarkan sebuah kota makan dari dalam paper bag bergambar kuda poni yang sedari tadi aku bawa.
"Tidak perlu." Tolaknya, tapi aku tetap bersikeras dengan cekatan aku membuka tutup kotak makan itu memperlihatkan isinya.
Sandwich ikan, ya bunda membuatkan nya untuk ku. Sebenarnya ini milikku bukan untuk indra, milik indra nanti saja ku berikan.
"Ayo coba." Tawarku lagi, menyodorkan kotak bekal itu pada indra.
Indra menatap beberapa potong sandwich itu, dia juga sempat menatapku. Aku memberikan anggukan sebagai tanda bahwa indra tak perlu ragu.
Indra mengambil sepotong sandwich dan memakannya, aku tersenyum tipis. Setidaknya lelaki ini telah makan walau hanya sedikit. Keadaan didalam bus juga cukup gaduh, banyak siswa yang mengobrol hingga tertawa dengan cukup kencang. Setidaknya percakapan antara aku indra akan semakin minim untuk mereka dengar.
"Tumben menggunakan bus, biasanya menaiki motor." Tanyaku, indra yang sedang mengunyah sandwich berhenti melakukan kegiatannya.
"Hanya ingin. Dan dewi fortuna sedang berpihak padaku." Jawabnya sambil melanjutkan kegiatan memakan sandwich.
Aku tersenyum, dewi fortuna sedang berpihak padanya? Apa maksudnya, lelaki ini sungguh aneh, tapi aku menyukainya.
"Kau sendiri kenapa menaiki bus, bukannya selalu di antarkan oleh kak bara?" Tanya Indra.
"Ayah ku memutuskan untuk membiarkan ku menaiki bus, dia bilang aku harus belajar mandiri, lagi pula aku tidak ingin merepotkan kak bara terus menerus." Jawabku.
"Baguslah kalau begitu." Ucapnya, aku hanya mengangguk samar kembali memperhatikan indra yang tengah melahap sandwich.
"Terimakasih sandwichnya."
"Ya, tentu saja." Jawabku, aku menutup kotak bekal ku setelah indra menghabiskan dua potong sandwich dan menyisakan dua potong lagi.
Aku memasukan sandwich itu kedalam paper bag yang ku bawa. "Aku selalu penasaran dengan lagu yang kau dengarkan." Ujarku begitu melihat indra tengah memasangkan airpod pada telinganya.
"Mau ikut mendengarkan?" Tawarnya sambil memberikan satu airpod miliknya padaku, aku menerimanya dan dengan cepat memasangkannya pada telingaku.
Alunan musik mulai terdengar, suara halus dan menenangkan mengisi indra pendengaran ku, setiap lirik yang terdengar seakan mewakili perasaan ku saat ini.
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Harus aku lantas pergi, meski cinta tak akan
Bisa pergi~
Ada sedikit rasa aneh dalam hatiku, mendengar setiap potongan lirik yang terdengar dalam telinga ku, aku tak tahu perasaan apa itu tapi yang jelas aku merasa sangat sedih.
"Bukan agama yang memisahkan kita, tetapi tuhan yang tidak pernah menginginkan kita untuk bersama."
***
Saat bel istirahat berbunyi, aku dengan segera mengambil paper bag yang sebelumnya ku taruh di atas meja, aku meninggalkan kelas mengabaikan panggilan yulan dan chika yang menereaki namaku.
Aku harus memberikan kue ini pada indra, tetapi lelaki itu kembali bersikap seakan aku dan dirinya tidak saling mengenal, tapi, ya sudahlah. Indra keluar terlebih dahulu dari kelas, yang jelas lelaki itu pasti pergi menuju rooftop, jelas hanya tempat itu yang bisa indra jadikan berteduh disaat sendirian.
Aku membawa kakiku menaiki setiap anak tangga usang yang terlihat berdebu, tempat menuju rooftop memang jarang di urus, mungkin karena tidak terlalu penting juga.
Saat sampai di anak tangga bagian akhir, aku mendorong pintu besi yang sama usangnya dengan tangga tadi, pintu bisa itu penyok, terlihat jelas pada bagian tengah pintu. Entah bagiamana pintu besi seperti itu bisa mengalami kerusakan, faktor waktu mungkin?
Dan saat sampai di rooftop, aku melihat indra yang tengah terduduk di sofa usang itu. Bedanya, sekarang ada sebuah tenda kecil yang menutupi bagian atas sofa, setidaknya karena tenda itu, sinar matahari bisa terhalangi.
Aku duduk di samping indra dengan santai, tanpa peduli apa yang akan dia katakan. Lagi pula aku sudah terbiasa datang kemari, mungkin indra juga sudah mengetahuinya.
"Kau senang sekali datang kemari." Ucapnya, masih dengan posisi duduk.
"Ah, ya tentu saja, disini menyenangkan." Jawabku jujur, lalu dengan segera aku membuka kan kotak bekal yang berisi bolu buatan bunda.
"Bunda membuatkannya untuk mu, katanya sebagai ucapan terimakasih." Aku memberikan kotak bekal itu pada indra, indra sempat menatapnya sebentar.
"Kenapa bunda harus repot-repot membuat bolu untuk ku?" Tanya indra.
"Karena kau baik." jawabku.
Indra terkekeh, langsung menerima kotak bekal itu dan mencicipi potongan bolu cokelat buatan bunda.
"Aku bukan orang baik, aku bisa melakukan kesalahan, termasuk berubah menjadi orang jahat." Ucapnya.
"Jikalau kau ingin, dan jika kau memang jahat. Kau pasti akan memanfaatkan kesempatan ini, tapi karena kau baik, bahkan kau tidak terpikir untuk melakukan itu."Jawabku, tentu saja.
Saat seperti ini adalah sebuah kesempatan untuk indra, jika indra jahat bisa saja indra melakukan hal buruk kepadaku.
"Kau benar, untuk sekarang aku adalah orang baik, mungkin nanti bukan." Jawbanya.
"Indra? Bolehkah aku bertanya?" Ujarku.
"Ya, selama aku masih bisa menjawab pertanyaan mu."
__ADS_1
"Kenapa? Jika di kelas kau seakan tidak mengenali ku? Bahkan terkesan tidak peduli denganku?" Tanyaku pada akhirnya.
Indra yang tengah memakan bolu, menatap ku dengan sebuah senyum manis. Lelaki itu meletakan kotak bekal berisi kue di atas sofa, indra berdiri dari duduknya. Lalu memposisikan dirinya di hadapanku, lututnya bertumpu pada lantai.
"kau tahu, betapa banyak orang yang membenci ku? Mereka semua akan melukaimu jika tahu kau dan aku berteman"
"Aku tahu, kau selalu menyembunyikan ini dariku, aku tahu kau pernah terluka karena menolongku. Dan tak seharusnya kau mendapatkan penyiksaan hanya karena aku." Jelasnya dengan wajah sendu, aku tak berani berkomentar, yang ku bisa hanya menatapnya dengan tatapan prihatin.
"Niat mu baik, ingin berteman denganku, tapi aku, aku bisa membahayakan dirimu. Jadi tolong kau mengerti, aku melakukan semua ini untuk dirimu."
"Dan jika kau terluka karena diriku, aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Lalu? Apa yang bisa ku lakukan tanpa sumber kebahagian ku?"
Aku tertegun, seberarti itu aku di hadapan indra? Seistimewa itu sehingga indra mati-matian berusaha melindungiku.
"Setidaknya kita bisa saling mengerti, aku melakukan semua ini demi keselamatan mu. Jadi menjauhlah, saat kita berada diepan banyak orang."
***
"Ca ayo ke kantin." Chika menarik paksa tangan ku agar mengkuti dirinya, padahal aku sedang malas-malasan.
"Malas ka, malas." Ucapku sambil menyembunyikan kepala diantara Sela-sela tangan ku yang terlipat.
"Ayolah. Yulan sudah menunggu kita disana." Pinta chika lagi, karena malas berdebat aku dengan lemas bangun dari duduk ku.
"Ya sudah ayo." Aku berjalan bersama chika menuju kantin.
Hari ini aku merasa sangat lemas, terutama saat mendengar lagu yang indra putar saat di bus, dan ucapannya. Dan juga apa yang ia katakan di rooftop semakin membuatku penasaran tentang apa yang terjadi antara indra dan glen juga kawan-kawannya.
Aku pun bingung, tapi yang aku lakukan hanya bisa bersabar, yang pastinya aku akan meminta penjelasan pada indra.
Sesampainya di kantin, aku melihat yulan tengah duduk sendirian disalah satu meja. Ah, aku merasa tidak enak dengan yulan karena telah membuatnya menunggu.
Aku dan chika menghampiri meja yulan lalu duduk disana. "Maaf yulan membuat mu menunggu, oca nih malas-malasan." rajuk chika pada yulan.
"Maaf yah, aku tiba-tiba merasa malas." Ucapku dengan jujur pada yulan.
"ya sudah tidak apa-apa, sekarang kita makan, aku sudah memesankan makanan untuk kalian berdua" jawab yulan, aku mengambil salah satu kursi kosong yang tersedia.
"Oh iya oca, tadi aku melihat paper bag di atas meja mu. Isinya apa? Sungguh aku penasaran." Tanya chika, aku yang tengah memakan ketoprak langsung menatap chika bingung.
"Isinya kue, bunda menyuruhku memberikannya untuk indra." Jawabku.
"Bunda mu? Bagaimana bisa?" Tanya yulan penasaraan.
"Indra yang kalian jauhi di sekolah tidak seburuk indra yang selalu ku temui di luar sekolah, dia buruk karena ucapan orang lain, tetapi dia baik karena aku mengenalnya." jawabku mencoba tak peduli dengan tatapan chika dan yulan, aku berusaha terlihat biasa saja dengan memakan ketoprak milik ku.
Tak ada jawaban dari mereka berdua, chika maupun yulan memilih diam dan tak menganggapi ucapan ku, tentu saja. Ucapan ku tadi benar adanya, mereka semua hanya percaya pada omongan orang lain tanpa tahu kenyataannya seperti apa.
"DENGARKAN, SEMUANYA DENGARKAN!" aku menoleh begitu mendengar teriakan yang cukup keras di kantin, aku melihatnya entah siapa wajahnya begitu asing, tapi dari tampangnya aku yakin dia bukan murid baik-baik.
"SEMUANYA PERHATIKAN, GLEN AKAN BERBICARA."
Aku menatap yulan dan chika dengan rasa bingung, mereka juga saling bertatap tak mengerti. Seluruh perhatian di kantin terfokus pada lelaki itu, termasuk aku, chika dan yulan yang ikut memperhatikan.
Dari arah luar kantin, terlihat glen datang bersama dengan rekannya, ah lelaki itu, lelaki yang menahan tubuhku, siapa namanya. Oh iya namanya faren.
Glen berdiri di tengah-tengah kantin tepat berada di samping meja makan yang ku tempati. Kami semuanya mentapanya dengan penuh tanya, apakah glen akan mengatakan sesuatu mengenai indra? Atau mungkin hal lain?
"Jadi gini, gue mau ngomong sesuatu sama kalian." jelas glen dengan suara yang cukup keras.
"Kita pake bahasa formal, oke?"
"Aku ingin menyatakan perasaan ku pada seseorang." ucapnya lagi, membuat seisi kantin riuh dengan berbagai macam sorak-sorai siswa.
Aku yang mendengarnya hanya mendengus, kasian gadis yang di sukai oleh glen. Gadis itu pasti akan sangat tersiksa jika mempunyai kekasih seperti glen.
"Dan orang itu adalah, Roosevelt anindia adriana." Ucapnya.
Aku terkejut, mataku melotot tak menyangka, maksudnya glen menyukai ku? Bagaimana bisa?
Ku lihat glen melangkah menuju mejaku, lalu tubuhnya bertumpu pada lantai, kemudian glen menyerahkan sebuket bunga yang dia sembunyikan di balik tubuhnya.
"Oca, maukah kamu menjadi pacarku?" Tanyanya.
Aku mendecih, sial. Ternyata gadis itu adalah aku. Teriakan para siswa semakin riuh, mereka meneriaki aku untuk menerima glen, tapi tentu saja aku tidak mau, oh ayolah, siapa yang ingin memiliki kekasih seperti glen? Kasar dan juga tidak terurus.
"Sorry, but aku tidak bisa. Aku sudah memiliki kekasih." Bohongku, glen terkejut dengan penuturan ku hingga dirinya bangun dari posisinya.
"Mana mungkin!? Jangan berbohong oca." Ucapnya dengan nada tinggi.
"Jikalau aku berbohong pun, aku tidak akan menerima mu, jujur saja aku tidak suka orang seperti mu. Semua orang punya tipe masing-masing bukan?" Jawabku, suasana kantin tiba-tiba hening, seisi kantin terdiam ketika mendengar jawaban ku.
"Jadi aku mohon, kubur dalam-dalam perasaan mu." Tambahku lalu berjalan pergi meninggalkan glen dan teman-teman ku yang lain.
Bukan bermaksud sombong atau apa, tapi aku memang tidak menyukai glen, tidak mungkin aku harus menerimanya karena rasa kasihan?
Aku pergi menuju kelas ku, semoga saja glen tidak dendam karena perasaanya telah di tolak olehku, cukup kamal yang membuatku takut menjalin hubungan. Setidaknya aku sudah memulai hidup baru di sini.
Saat sampai di kelas, aku melihat indra tengah berdiri di depan meja guru, suasana kelas sepi, lebih tepatnya hanya ada indra disana. Aku mendatanginya, karena yang ku lihat wajahnya sangat serius, seperti ada yang ingin dia tanyakan.
"Jangan membohongi perasaan mu." Ucapnya.
Aku memiringkan kepala berusaha mencerna kalimat yang dikatakan oleh indra, sampai beberapa menit aku sadar maksud ucapan indra.
"Jika aku membohongi perasaan ku sendiri, mungkin aku akan merasa sakit, tapi, sekarang aku tidak merasakan apa-apa." Jawabku, aku melipat kedua tangan ku dan menaruhnya di dadaku.
"Lagi pula, aku sudah menyukai seseorang." Tambahku lagi.
Indra tersenyum tipis mendengar jawaban ku, kemudian lelaki dengan rambut rapih itu mendekat ke arahku. Dia sempat menatap manik mataku dengan sangat lekat, setelahnya indra melewati tubuhku.
"Tunggu aku... " Ucapnya setengah berbisik di telingaku, aku tersenyum simpul, sampai kapanpun aku akan menunggu mu, indra.
***
**lagunya marchel peri cintaku, Download aja kalau penasaran lagunya enak banget, sama lagu yang ada di chapter 1 itu lagu alm chrisye sabda alam kalau gak salah, kalau kepo cari youtube dengerin dan dijamin suka:)
—with luv ara**
__ADS_1