Dear Love School

Dear Love School
wounded


__ADS_3

Saat jam istirahat datang aku dengan segera berlari mencari indra, dia sudah pergi sejak awal pelajaran dimulai, alasan yang ia berikan pada guru karena sedang tidak enak badan.


  Jujur aku khawatir, indra bersikap aneh pagi ini apa ada masalah yang tengah menimpa indra sehingga membuatnya seperti ini? Semoga saja tidak karena aku sangat ketakutan jika hal buruk menimpa indra.


  Aku berjalan pelan menuju rooftop tempat itu biasanya digunakan oleh indra untuk beristirahat atau sekedar menenangkan diri, aku juga sudah mengetahui kebiasaan yang dilakukan oleh indra.


  Namun saat langkahku hendak menuju tangga rooftop pandangan ku tertuju pada gudang sekolah yang berada disamping tangga menunu rooftop mataku menyipit menjelaskan pandanganku tentang apa yang kulihat sekarang.


Aku membelalakkan mata kaget, melihat Indra yang tengah berada dalam kungkungan seseorang lelaki yang aku ketahui adalah glen.


  Ini gila, aku berlari dengan sangat kencang tanpa basa basi aku menabrak tubuh glen hingga membuatnya terjatuh kesamping, cengkramannya pada leher indra terlepas.


  Aku menatap glen yang jatuh tersungkur dengan tatapan tajam, ingin sekali ku memukul wajah glen, berani-beraninya dia mencekik indra.


  Dengan cepat aku melihat keadaan indra yang sangat buruk, wajahnya dipenuhi dengan luka lebam hingga berdarah disudut bibirnya, nafasnya memburu seakan kekurangan oksigen untuk ia hirup.


  "Kau baik-baik saja?" Menggapai tubuh indra yang cukup berat, aku memperhatikan indra melihat adakah luka yang parah disekujur tubuhnya.


  "Akhh." Indra meringis saat aku menekan luka lebam dibagian tangannya, aku menggigit bibir bawahku ngilu pasti sangat sakit.


  "Kenapa kau menolongnya oca! Pergi!" Glen menarik pergelangan tanganku menjauhkan diriku dari indra.


  "Apa yang kau lakukan glen!? Kau hampir saja membunuh seseorang! Kau gila!?" bentak ku dengan nada sangat tinggi, tatapan ku sudah penuh dengan api kemarahan indra tak pantas diperlakukan seperti ini.


  "Dia pantas mendapatkannya, sekarang kau pergi oca atau sebelum aku yang menarik mu paksa." Ancam glen, namun ancaman glen tak berlaku padaku lelaki ini hanya pandai membual.


  "Bahkan kau lebih pantas mendapatkan hal yang lebih kejam dari ini glen." Aku mendecih mendorong dada glen agar segera pergi dari sini.


  "Oke, kau urus lelaki ini oca tapi kau harus ingat kau akan menyesal ketika mengetahui segalanya." Glen pergi meninggalkan aku dan indra tapi sebelum ia pergi dia menatap indra dengan tatapan yang sulit ku artikan, ada marah bercampur dengan benci dimata glen.


  Aku mencoba tak memperdulikan apapun yang memenuhi pikiranku tentang glen maupun indra, langsung ku tatap lelaki yang tengah meringis kesakitan dibawah lantai.


  "Ayo kita keruang uks... Luka mu sangat parah indra." Aku menarik tangan indra, merangkul bahunya agar bisa ku bopong.


  Indra tidak berat tubuhnya sangat kurus dibanding lelaki yang lain, tapi aku tak peduli masih dengan kekuatanku aku mencoba membawa tubuh indra dengan susah payah.


  "Jangan ke ruang uks... Jangan... " Lirihnya pelan, aku menatapnya bingung indra hanya menggeleng mengatakan bahwa aku tak perlu membawanya ke uks.


  "Ta—pi luk."

__ADS_1


   "Bawa aku ke rooftop." Pintanya aku hanya mencibir kesal kenapa lelaki ini selalu keras kepala.


Sudahlah dia memang susah untuk diatur, dengan tenaga ku aku membawa indra menaiki setiap anak tangga menuju rooftop sialnya aku tak cukup kuat untuk membawa indra yang masih dalam rangkulanku.


  Indra juga berusaha membantu dengan terus membawa tubuhnya sendiri, tapi karena dia sudah tak sanggup indra kadang terjatuh sehingga membuat tubuhku oleng.


Aku menghela nafas panjang, ketika sampai dipintu rooftop, kulihat indra hanya terdiam sambil menatap wajahku lekat-lekat aku hanya berusaha acuh dengan tatapan indra, Berpura-pyra tak tahu.


  Sesampainya di rooftop aku menurunkan tubuh indra disofa usang yang berada diatas rooftop ini.


  "Aku akan mengambil kotak p3k, kau tunggu disini aku akan segera kembali." Ucapku lalu berlari menuju ruang uks yang berada dilantai 2, cukup melelahkan memang berlari dari lantai 3 menuju lantai 2.


Dan itu sukses menjadikan diriku sebagai pusat perhatian banyak orang karena berlari-lari dikoridor sekolah.


   Diruang uks aku meminta izin pada bu sarah selaku dokter dan penjaga uks untuk meminjam kotak p3k, dia memberi kotak itu padaku tanpa banyak bertanya mungkin dia tahu aku terburu-buru dari langkahku yang sudah tidak tenang.


  Tapi saat aku keluar dari ruang uks aku bertabrakan dengan chika dan yulan, astaga ini akan sangat gawat mengingat mereka yang sangat cerewet dan banyak bertanya.


  "Oca? Kami mencari mu kemana-mana." Ucap yulan ketika mendapati oca baru saja keluar dari ruang uks.


  "Oh yulan, chika? Maafkan aku, aku terburu buru seseorang di lantai 3 terluka dan aku harus membawa ini kalian duluan saja kekantin setelah ini selesai aku akan menyusul." Ucapku sambil berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.


  Aku menghampiri indra yang tak menyadari kedatanganku, mendudukkan tubuhku disamping indra, masih terdengar tarikan nafasku yang begitu kelelahan.


  "Tidak usah berlari-lari, bagaimana jika kau terjatuh." Ucap indra padaku, aku hanya tersenyum tipis sambil mengangguk membuka kotak p3k itu dan mengambil botol alkohol yang tersedia.


  Meneteskannya pelan pada kapas setelah dirasa cukup aku mengusap kapas itu pada luka indra yang berdarah, aku meringis keadaan indra lebih parah dari luka yang kemarin bahkan ada luka cakaran kuku dikening indra.


  "Akhhh sakitt... Pelan pelan caa." Ringis indra aku mencoba untuk lebih pelan lagi, menenangkan rasa perih indra dengan sedikit meniup lukanya.


  Terus saja ku ulang dengan mengusapkan kapas yang sudah ku tuang alkohol pada luka indra mencucinya lagi agar tak terjadi infeksi.


  Setelah bersih aku mengambil betadine lalu meneteskan cairan betadine pada kapas baru, ku tempelkan diluka indra lalu di beri plaster.


Ku tiup lagi pelan luka indra sambil mengambil helai rambut depannya agar tak menghalangi jalanku untuk menempelkan plester didahi indra.


  "Selesai." Ucapku setelah menempelkan plester pada setiap luka indra.


  "Terimakasih." Katanya aku mengangguk kecil membereskan barang barang tadi dan memasukannya ke kotak p3k.

__ADS_1


  "Tak seharusnya kau menolongku, sudah kukatakan bukan jangan dekat dekat denganku kau tidak akan aman." Ucap indra aku hanya terkekeh mendengar penuturan indra.


  "Aku baik-baik saja... " Jawabku menampilkan sebuah senyum termanis kupada indra.


  "Aku bisa menjaga diri." Ucapku lagi.


"aku takut kau terluka oca, glen bukanlah lelaki sembarangan." Tambah indra lagi aku kembali tersenyum tak merasakan ketakutan sedikitpun pada glen.


  "Aku tidak takut pada glen, lelaki itu harus mendapatkan pelajaran." Jelasku membuat indra mengulum senyum, sudah ku katakan indra memiliki sifat yang mudah berubah-ubah.


  "Jika kau terluka dan aku adalah alasan dimana kau bisa terluka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri, oca jadi dengarkan apa kataku... Menjauhlah dariku." perintah indra aku hanya menatap indra dengan tatapan jengah, sudah berapa kali ia mengatakan bahwa aku harus menjauh darinya?


"Tidak akan pernah indra... Kau sahabatku aku tidak akan pernah menjauh darimu." Aku kembali tersenyum menampakan sebuah wajah ceria pada indra, menggenggam tangannya sangat erat.


   Kulihat indra hanya menghela nafas berat, dia tak lagi menimpali omonganku, kali ini dia hanya diam sambil menatap langit siang yang cukup panas.


  "Kenapa saat pelajaran pertama kau izin pergi ke uks indra? Kau benar benar sakit?" Tanyaku setelah hampir tiga menit kami saling terdiam.


  "Hanya sedikit pening." Jawabnya aku hanya ber oh-ria.


  "Lalu bagaimana glen bisa bersama mu?" Tanyaku lagi menatap indra dengan sangat penasaran.


  "Aku bertemu dengan dirinya saat hendak pergi kemari." Jawab indra dia tak menatapku sama sekali hanya terfokus pada langit yang berwarna biru.


  "Kenapa kau tidak pernah mau mengadukan masalah ini ke sekolah indra? Ini sudah termasuk tindakan asusila." Saranku suara ku terdengar lelah dengan hal buruk yang selalu menimpa indra, seharusnya lelaki dihadapanku ini bisa lebih berani.


  "Tidak... Jangan oca biarkan saja. Jawab indra santai, bahkan indra terdengar tak peduli dengan perlakuan jahat glen padanya selama ini.


   "Membiarkan mu selalu disiksa sama saja dengan membunuhmu secara pelan pelan indra, lagi pula apa sebenarnya apa masalah mu dengan glen sehingga membuatnya sering membully mu?" Tanya ku pertanyaan ini sungguh telah ku siapkan sedari dulu, hanya saja kadang aku tak berani untuk mengungkapkannya.


   Tak ada respon dari indra ekspresi wajahnya berubah menjadi sendu dan sedikit murung, matanya pun menunjukan sebuah kesediaan yang mendalam, tak bisa aku pahami artinya.


   "Jika kau belum mau menceritakannya tidak apa-apa aku akan selalu ada untukmu jika kau membutuhkanku." Janji pada indra, lelaki ini sangatlah baik hanya orang bodoh yang menjauhi indra hanya karena alasan tak jelas.


   "Aku hanya takut kehilanganmu saat kau mengetahui aku tak sebaik apa yang kau kira." Indra mengalihkan pandangannya padaku sambil menatap mataku sendu, raut wajahnya tenang membuatku merasa sangat nyaman.


***


Yuhuuu ara update gaes, entahlah kalau emang feelingnya kurang maklumi aja yahh heheh ara kan masih kecil masih gemes gimana gitu:v jadi jangan marahin ara yah kakak kakak ntar ara nangis jangan lupa vomment gak susah kan neken bintang doang?

__ADS_1


__ADS_2