
Deliza Queen Arabella atau yang biasa di panggil Lady Liza kini sedang berkutat depan laptopnya.
"huh... banyak sekali berkas yang harus di kerjakan, tapi semangat Liza lo pasti bisa" ucap Liza menyemangati diri sendiri dan kembali ke laptopnya
tokk... tok... tok...
"masuk" ucap Liza datar
"permisi Lady, klien yang anda tunggu sudah datang" ucap sekertaris kepercayaannya, Davin
"hmm... saya segera kesana" ucap Liza datar
"sialan dasar lo ****** setelah ini gue bakal rebut semua yang lo punya karna lo nggak tau kalo ini adalah meeting terakhir lo, hihihi" batin Davin
"ok mari kita ke ruang meeting" ucap Liza datar
"baik lady" ujar Davin berlalu pergi meninggalkan ruangan Liza
*****
"maaf membuat anda menunggu" ucap Liza datar
"oh tidak apa - apa lady" ujar klien tersebut atau biasa dipanggil Tuan Reno
"mari kita mulai meeting hari ini" ucap Liza datar
10 menit berlalu...
"baik sekarang anda tanda tangani berkas itu" ucap Liza datar
"oh lady jangan datar seperti itu atau bisa saya sebut LIZA" ucap Tuan Reno
"LANCANG... beraninya kamu menyebut namaku langsung" dingin Liza
"hey Liza jangan seperti itu, rendahkan suaramu" ucap Davin sambil menodongkan kedua pistolnya ke kepala Liza
"kau juga!?!?! Jadi benar apa yang saya dengar bahwa kamu bersekongkol dengan dia" ucap Liza dingin sambil menatap tajam Reno
__ADS_1
"kukira semua itu hanya omong kosong dan hah ternyata itu benar, mengapa kamu bergabung bersama dia untuk menjatuhkanku?" ucap Liza datar
"hah kau bertanya untuk apa lagi?!?! Sudah jelas untuk merebut semua yang kau miliki" ucap Davin menekankan semua kata - kata yang dia ucapkan
Tiba - tiba Liza batuk dan mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya.
"oh iya di kopimu itu sudah ada racun paling mematikan yang aku curi dari lab mu. Sepertinya ini adalah akhir bagimu dan selamat tinggal "ucap Davin menarik pelatuk dari kedua pistol itu
Liza perlahan - lahan mulai kehilangan kesadarannya. Dia masih bisa melihat dengan jelas kedua orang itu tengah tertawa melihat nasibnya. Saat - saat seperti itu dia sempatkan untuk mengambil pistol yang ada di belakang jasnya.
dorrrrrrr....
doorrrrr....
Liza menembak kedua orang itu dan dalam waktu 10 detik kedua orang itu mati dalam keadaan mata yang masih terbuka. Liza tersenyum devil melihat saat di ambang kematiannya dia masih bisa menembak kedua orang itu. Penglihatannya mulai kabur, perlahan - lahan tubuh Liza lemas dan jatuh.
"apakah ini akhir dari kejayaanku?" batin Liza
Semuanya gelap dan hampa....
Tiba - tiba terdengar suara misterius dan bersamaan dengan suara itu ada seberkas cahaya putih di depan Liza.
"siapa kau?" teriak Liza menggema
Tiba - tiba angin kencang datang. Tanpa Liza sadari perlahan - lahan angin itu mendorong Liza ke arah cahaya itu.
Semuanya silau, setelah Liza bisa menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya perlahan - lahan Liza membuka kedua matanya. Yang pertama kali dia lihat saat ini adalah seorang wanita dan gadis yang memakai pakaian kuno/hanfu sedang menangis di samping kiri kanannya.
"hiks... hiks... hiks... putriku kumohon bangunlah putriku, jangan tinggalkan bunda" ucap wanita paruh baya, terlihat sangat terpukul melihat keadaan putrinya
"hiks... hiks... nona hamba mohon bangunlah, maafkan hamba ini nona karna tidak bisa menjaga nona dengan baik" sahut seorang gadis remaja terisak - isak
"eghh.... dimana aku?" sahut Liza menyadarkan keduanya
"nona/putriku," sontak mereka terkejut melihat seseorang yang mereka nanti - nanti akhirnya terbangun
"syukurlah nona akhirnya anda sudah bangun, maafkan hamba nona" sahut gadis remaja tadi menyeka air mata yang hendak menetes di pelupuk matanya
__ADS_1
"putriku kau sudah sadar nak? cepat kau panggilkan tabib kemari" perintah wanita paruh baya tadi dengan tegas namun tersirat juga rasa khawatir kepada putrinya
"baik nyonya," gadis remaja itu lantas berlalu pergi melaksanakan perintah majikannya
"tunggu kalian siapa? dan aku dimana?" ujar Liza bingung
Seketika wanita paruh baya tersebut terkejut dan menatap Liza dengan sorot pandangan khawatir.
"cepat kau panggilkan tabib!!" perintah wanita tersebut
******
"permisi saya tabib yang akan memeriksa nona" sahut seorang tabib muda dengan perlengkapannya yang dibawakan gadis remaja tadi
"keadaan nona masih lemah setelah kejadian itu dan juga..." ucapan tabib muda itu terhenti, dia menghela napas pelan
"dan juga apa?" tanya wanita tadi dengan sorot mata khawatir
"dan juga nona mungkin telah kehilangan ingatannya" ujar tabib muda tersebut melanjutkan ucapannya dengan nada sendu
Seketika tubuh wanita itu lemas tatkala mendengar bahwa putrinya telah kehilangan ingatannya.
J
"tunggu jawab pertanyaanku dulu. Aku dimana dan kalian siapa?" sahut Liza masih merasa kebingungan sendiri dengan keadaan yang baru saja didapatkannya
"nona apa nona tidak mengingat kami?" sahut gadis remaja tadi menatap tak percaya ke arah Liza
"tidak," air muka Liza langsung datar
"jelas - jelas tadi aku sudah beberapa kali bertanya dan tabib itupun juga sudah menjelaskannya, apakah masih kurang jelas sampai dia bertanya lagi seperti itu?" batin Liza merasa sedikit kesal
"huft baiklah saya akan menjelaskannya. Nama nona adalah Yue Fei Li, anak kedua dari Tuan Yue Neryi dan Nyonya Liu Mei Lin. Nona sekarang berada di kediaman Jendral Yue Neryi yang berada di daerah Kekaisaran Xiao. Wanita yang di sebelah sana adalah ibunda nona, nyonya Liu Mei Lin dan saya adalah pelayan nona, Fi Suer" jelas Fi Suer
"wtf berarti roh gue pindah ke jaman kuno... astaga kenapa nggak mati aja sih, kok sekarang gue malah ber ber ber... apa sih yang jiwanya pindah ke jaman lampau itu loh, apa sih nama? TIME TRAVEL duh gitu doang bisa lupa. Tapi kenapa kok gue nggak mati mati aja gitukan, astaga" batin Liza
Ok sampek sini dulu ya, maaf kalo masih ada kesalahan kata dalam penulisannya🙏🙏
__ADS_1
Tolong...👇
{like + vote + komen}