Death Goddess Reincarnation

Death Goddess Reincarnation
DGR 36


__ADS_3

tokk tok tokkk


"masuk" sahut seseorang dari dalam ruangan


Fei Li pun perlahan mulai memasuki ruang kerja ayahnya itu.


"salam kepada ayahanda, semoga selalu sehat dan panjang umur" salam Fei Li


"salam diterima, ada apa Fei Fei? apakah kamu ada sakit di bagian tertentu?" tanya Yue Neryi cemas


"tidak ayahanda, saya kemari untuk menanyakan sebuah kebenaran tentang sesuatu" jawab Fei Li


"kebenaran tentang sesuatu?" tanya Yue Neryi mengerutkan keningnya


"iya ayahanda, saya tidak sengaja mendengar kalau saya mendapat sebuah surat lamaran dari Putra Mahkota Kekaisaran Qurey saat saya sedang tak sadarkan diri kemarin, apakah itu benar?" tanya balik Fei Li


Yue Neryi menghela napas sejenak, "iya itu benar Fei Fei, bagaimana menurutmu? karna hal ini menyangkut kehidupan masa depanmu nantinya jadi ayahanda tidak bisa memutuskannya sendiri secara egois" jawab Yue Neryi


"bolehkah saya melihat surat lamarannya, ayahanda?" tanya Fei Li


"tentu saja Fei Fei" jawab Yue Neryi kemudian mengeluarkan sebuah surat berwarna silver yang nampak indah dan mewah


Fei Li mengambil surat itu dan membukanya perlahan. Satu demi satu kata dan kalimat yang tertera dalam surat itu dibaca dengan teliti oleh mata Fei Li.


"hufftt sepertinya Putra Mahkota Qurey ini benar² ingin melamarku" gumam Fei Li gusar


"bagaimana menurutmu Fei Fei? kalau kamu tidak menginginkannya, ayahanda akan berusaha untuk mencari cara agar bisa menolak surat lamaran itu" sahut Yue Neryi yang nampak sedikit khawatir saat melihat wajah bimbang putrinya


"tapi jika ini kutolak pasti nama baik keluarga Jendral Besar Yue Neryi akan buruk dimata masyarakat karna berani menolak lamaran dari seorang Putra Mahkota Kekaisaran lain" ucap Fei Li


"ayahanda akan mencari cara nantinya agar bisa menolak surat lamaran itu tapi nama keluarga kita tetap baik di mata masyarakat" ucap Yue Neryi


"hufftt... baiklah ayahanda aku akan memikirkan surat lamaran ini terlebih dahulu, nanti akan kuberitahu hasilnya" ucap Fei Li menghela napas panjang


"baiklah Fei Fei" ucap Yue Neryi


Fei Li pun kembali ke kediamannnya diikuti Fi Suer dibelakangnya. Tapi saat di tengah jalan, Fei Li bertemu dengan Ahn Xiumin.


"maaf mengganggu Tuan Ahn, tapi bisakah kita berbicara berdua?" tanya Fei Li


"tentu saja nona" jawab Ahn Xiumin


"mari kita berbicara di halaman belakang kediamanku" ucap Fei Li


"baik nona" ucap Ahn Xiumin


Fei Li pun mengajak Ahn Xiumin ke halaman belakang kediamannya.


"Fi Suer, tolong ambilkan cemilan dan teh untuk kami" ucap Fei Li


"baik nona" ucap Fi Suer berlalu pergi melakukan tugasnya


"jadi apa yang ingin anda bicarakan nona?" tanya Ahn Xiumin

__ADS_1


Sebelum Fei Li menjawab, Fi Suer datang sembari membawa nampan berisi teh dan cemilan untuk Fei Li dan Ahn Xiumin lalu berlalu pergi dari situ.


"ah itu, sepertinya aku tidak jadi ikut untuk pergi berkelana bersamamu ke Kekaisaran Qurey" jawab Fei Li


"kenapa nona? apakah keluarga anda tidak mengijinkan anda untuk berkelana bersama saya?" tanya Ahn Xiumin merasa tidak rela jika Fei Li tidak jadi ikut berkelana bersamanya


"umm tidak tapi ada suatu hal yang harus aku lakukan dan sesuatu itu sangatlah penting" jawab Fei Li merasa tidak enak


"apakah ini ada hubungannya dengan surat lamaran dari Putra Mahkota Kekaisaran Qurey?" tanya Ahn Xiumin datar


"iya kau benar, sepertinya aku memang harus menerima lamaran itu agar nama baik keluarga Jendral Besar Yue tetap terjaga" jawab Fei Li


"apakah nona mencintai Putra Mahkota Kekaisaran Qurey itu?" tanya Ahn Xiumin menatap intens ke arah Fei Li


"aku tidak yakin tapi yang pasti aku harus tetap menerima lamaran itu atau nama baik keluargaku akan menjadi buruk di mata masyarakat karna telah menolak lamaran dari seorang Putra Mahkota Kekaisaran lain" jawab Fei Li tertunduk


"sial! sepertinya sifat Dewa Aland menurun ke si Putra Mahkota Kekaisaran Qurey itu! mereka para keturunan Dewa Aland selalu saja ingin merebut Arbel dari sisiku! kali ini tidak akan kubiarkan hal itu terjadi lagi!" batin Ahn Xiumin kesal dan marah


"saya akan membantu nona untuk menolak lamaran itu jika nona memang benar tidak mencintai Putra Mahkota Kekaisaran Qurey itu" ucap Ahn Xiumin


"ah itu tidak perlu, aku akan tetap menjalani lamaran pernikahan itu walaupun aku tidak menginginkannya sebenarnya" ucap Fei Li


"meskipun saya akan tetap berusaha agar nona tidak bertunangan dengan pria itu, kalau begitu saya permisi" ucap Ahn Xiumin datar lalu pergi dari hadapan Fei Li


"aneh" gumam Fei Li mengerutkan keningnya


Setelah itu Fei Li pun menikmati teh dan cemilannya dengan tenang.


Keesokkan paginya, Fei Li berjalan menuju ruang kerja Yue Neryi untuk memberitahukan keputusannya. Saat sampai di depan pintu, Fei Li menghela napas panjang lalu mulai mengetuk pintu tersebut.


tokk tokk tokk


"masuk" sahut Yue Neryi dari dalam


Saat Fei Li masuk dia sangat terkejut karna disana sudah ada Putra Mahkota dari Kekaisaran Qurey sedang mengobrol dengan Yue Neryi.


"salam hamba kepada Yang Mulia Putra Mahkota Qurey, semoga selalu diberkati oleh Dewa dan Dewi, serta salam kepada ayahanda" salam Fei Li sedikit membungkuk hormat


"salam diterima, duduklah Fei Fei" ucap Yue Neryi


"baik ayahanda" ucap Fei Li berlalu duduk di dekat Yue Neryi


"jadi Yang Mulia... apakah anda benar² yakin akan melamar putri hamba, Yue Fei Li?" tanya Yue Neryi


"benar Tuan Yue, saya berniat melamar Yue Fei Li" jawab Putra Mahkota Qurey datar


"maaf jika hamba lancang, namun kalau boleh tahu mengapa Yang Mulia melamar hamba? padahal di luar sana masih banyak gadis cantik dan Yang Mulia tahu bukan jika hamba buruk rupa dan tidak bisa berkultivasi? apakah Yang Mulia nantinya tidak malu jika mempunyai istri buruk rupa seperti hamba?" tanya Fei Li


"tidak ada alasan khusus, aku hanya menyukaimu pada pandangan pertama lalu untuk masalah buruk rupa dan kamu yang tidak bisa berkultivasi menurutku itu tidak terlalu penting karna bagaimanapun sifat, rupa, dan tingkat kultivasi gadis² di luaran sana, tidak akan ada yang bisa menggoyahkan hatiku yang sudah mantap memilihmu, nona Fei Li" jawab Putra Mahkota Qurey tersenyum manis ke arah Fei Li


Fei Li yang mendengar itu entah mengapa hatinya berdegup lebih kencang dan tanpa sadar kedua pipinya yang tertutupi cadar mulai sedikit memerah.


"sebelum itu bolehkah hamba memberi 2 syarat kepada Yang Mulia?" sahut Yue Neryi

__ADS_1


"tentu saja boleh, Tuan Yue" jawab Putra Mahkota Qurey datar


"syarat pertama adalah jika Fei Fei tidak ingin melakukan sesuatu, tolong jangan paksa dia. Lalu untuk syarat yang kedua adalah tolong jaga Fei Fei hamba dengan sepenuh hati Yang Mulia, karna saat dia mengikuti Yang Mulia nanti hamba mungkin hanya bisa melindunginya dari jauh..." ucap Yue Neryi menatap sendu ke arah Fei Li, tak percaya jika putri kesayangannya akan pergi mengikuti suaminya kelak


Fei Li yang melihat itu langsung memeluk erat ayahandanya.


"hmmm... tentu saja Tuan Yue, saya akan menjaga nona Fei Li dengan sepenuh hati saya" ucap Putra Mahkota Qurey tersenyum manis menatap ayah dan putrinya yang sedang berpelukan di depannya


"ayahanda jangan khawatir, nantinya aku akan berusaha untuk sering mengunjungi Kediaman Yue dan aku tidak akan pernah melupakan ayahanda, ibunda, serta saudara²ku" ucap Fei Li


Yue Neryi tidak menjawab dan hanya memeluk erat putri kesayangannya itu. Tak lama kemudian kedua orang itu melepas pelukan mereka.


"jadii kapan uparaca pernikahan ini akan berlangsung Yang Mulia?" tanya Yue Neryi


"seminggu dari sekarang dan nantinya saya akan mengirim kereta kuda untuk menjemput nona Fei Li dua hari sebelum hari pernikahan, bagaimana menurut anda?" tanya balik Putra Mahkota Qurey


"saya setuju Yang Mulia" jawab Yue Neryi


"baiklah kalau begitu besok saya akan mengirimkan hadiah pernikahannya" ucap Putra Mahkota Qurey


"baiklah Yang Mulia" ucap Yue Neryi


"kalau begitu saya permisi dulu" ucap Putra Mhakota Qurey berlalu pergi dari ruangan Yue Neryi


"huftt aku juga ijin kembali ke paviliunku, ayahanda" ucap Fei Li memberi hormat kepada Yue Neryi lalu keluar dari ruangannya


Saat keluar dari ruangan, ternyata Putra Mahkota Qurey duduk di dekat luar ruangan Yue Neryi.


"salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota Qurey, semoga selalu diberkati Dewa dan Dewi" salam Fei Li sedikit membungkukkan hormat


"salam diterima kalau begitu ayo kita pergi" ajak Putra Mahkota Qurey


"pergi? pergi kemana Yang Mulia?" tanya Fei Li bingung


"aku akan mengajakmu ke suatu tempat tapi sebelum itu gantilah hanfumu itu dengan hanfu yang ringan dan sederhana, aku tunggu di gerbang Kediaman Yue nanti" jawab Putra Mahkota Qurey


"baiklah Yang Mulia" ucap Fei Li


"kalau begitu aku pergi dulu, jangan lama² yaa" ucap Putra Mahkota Qurey mengelus kepala Fei Li penuh kasih sayang lalu berlalu pergi


Fei Li yang mendapat perlakuan seperti itu dari Putra Mahkota Qurey membuat hatinya sedikit menghangat dan kedua pipinya sedikit memerah. Setelah itu Fei Li pun segera pergi ke paviliunnya untuk bersiap - siap. Tanpa mereka berdua sadari, ternyata Ahn Xiumin melihat itu semua dari kejauhan. Tangannya terkepal kesal dan raut wajahnya sangat marah.


"sial! aku tidak akan membiarkan mereka berdua bersatu lagi! kali ini adalah giliranku untuk hidup bahagia bersama Arbel, Aland!! lihat saja rencanaku nanti memisahkan kalian lagi seperti dulu" batin Ahn Xiumin tersenyum misterius lalu beranjak pergi dari tempat itu


nb: Dewa Aland adalah seorang Dewa Kehidupan. Dewa Aland mengatur kehidupan semua makhluk di dunia, kecuali kehidupan para Dewa dan Dewi.


ps: Ohh iya author baru aja bikin cerita baruu nihh hehehe. Judulnya "Ratu Tawuran itu Milikku", bagi yang minat bisa langsung cek di profil author yaa.


Ok sampe sini dulu ya, maaf kalo masih ada kesalahan kata dalam penulisannya🙏🏻🙏🏻


Tolong...👇🏻


{like + vote + komen}

__ADS_1


__ADS_2