Death Goddess Reincarnation

Death Goddess Reincarnation
DGR 38


__ADS_3

Tiba - tiba angin berhembus dengan kencang. Petir saling bersautan tak mau kalah dan burung² pun mulai menjauh dari sekitar situ. Fei Li dengan perlahan mendudukkan dan menyandarkan tubuh Putra Mahkota Qurey ke pohon tua di dekatnya.


Warna mata Fei Li berubah dan aura membunuhnya juga sangat mendominasi membuat para bandit itu bergidik ketakutan.



"KALIAN PARA MANUSIA MEMANG SELALU SAJA BERBUAT KEJAHATAN KEPADA SESAMA KALIAN!! TIDAK PERNAH PUAS DENGAN APA YANG SUDAH DIMILIKI SEHINGGA SELALU SAJA IRI DAN BERUSAHA MEREBUT MILIK ORANG LAIN BAHKAN JALUR MEMBUNUH SEPERTI INI JUGA KALIAN LAKUKAN!! DASAR MANUSIA SIALAN DAN TIDAK BERGUNA!!" teriak Fei Li penuh amarah sambil menunjuk ke arah para bandit


"TERLAHIR DARI BARA API AGUNG YANG TAK PERNAH PADAM DAN KESETIAAN YANG SELALU TERPATRI DALAM DIRI. DENGAN INI AKU MEMANGGILMU, DIABLO!!!" ucap Fei Li dengan lantang dan penuh amarah di setiap kalimat yang dia lontarkan


Para bandit semakin bergidik ngeri lalu perlahan - lahan mundur ke belakang untuk melakukan jurus langkah seribu alias kabur. Namun dengan cepat Fei Li menciptakan sebuah kurungan yang langsung memerangkap semua bandit itu.


Langit malam yang tadinya cerah kini menjadi sangatlah gelap bahkan sang rembulan dan para bintang pun langsung berlari ke rumah mereka untuk menyelamatkan diri. Tak lama kemudian sebuah gumpalan bara api yang cukup besar turun dari atas langit dengan kecepatan di luar nalar dan langsung jatuh tepat di hadapan Fei Li yang tengah menatap tajam para bandit yang berada di kurungan Penjara Kegelapan miliknya. Perlahan gumpalan bara api itu meledak dan nampaklah seorang iblis yang membawa sebuah sabit Api Keabadian di tangannya.



"hamba sudah tiba Yang Mulia. Salam hormat kepada Yang Mulia Dewi Arabella, sang Dewi Kematian yang Agung dan Terhormat. Semoga anda selalu dilimpahkan karunia-Nya sang Penguasa Agung" salam Diablo membungkuk hormat


"salam-mu kuterima dan sekarang bawa mereka semua ke dasar paling dalam penjara bawah tanah milik Mammon, jangan sampai ada yang melukai mereka sekecil apapun karna aku sendiri yang akan menghukum mereka dengan kedua tanganku sendiri nanti" perintah Fei Li menyeringai


"baik Yang Mulia" ucap Diablo patuh


"oh iya setelah kamu selesai dengan mereka, segera panggil seluruh raja iblis dan buat sebuah jamuan istimewa berisikan makanan kesukaan mereka serta kesukaanmu juga" ucap Fei Li


Diablo yang mendengar itu membulatkan matanya kaget.


"benarkah boleh dengan makanan kesukaan saya juga, Yang Mulia?!" tanya Diablo antusias


"tentu, kenapa tidak?" ucap Fei Li santai


"terima kasih Yang Mulia!!" ucap Diablo segera melaksanakan perintah Fei Li


Setelah Diablo dan para bandit pergi, Fei Li segera mendekati Putra Mahkota Qurey yang mulai sekarat karna kehabisan darah. Wajahnya nampak pucat pasi dan tubuhnya terkulai lemas. Fei Li merasa hatinya sangat sakit saat melihat keadaan calon suaminya itu. Dengan segera Fei Li mengeluarkan sebuah botol kecil berisikan mana suci Teratai Kehidupan.



"Yang Mulia..." panggil Fei Li mencoba menyadarkan Putra Mahkota Qurey


Kedua mata Putra Mahkota Qurey berkedip pelan hingga perlahan - lahan kedua mata itu mulai terbuka.


"nona Fei Li? ka-kau baik² saja? syukurlah" lirih Putra Mahkota Qurey tersenyum tipis


"hiks... kumohon bertahanlah Yang Mulia" ucap Fei Li mulai menangis


"ssstt jangan menangis, hatiku sakit saat melihatmu seperti ini" ucap Putra Mahkota Qurey mengusap air mata Fei Li


"kumohon bertahanlah sebentar, jika sakit berteriaklah tak apa dan jangan kau pendam" ucap Fei Li mencoba berhenti menangis lalu mulai mencampurkan elemen cahaya miliknya dengan sedikit mana suci Teratai Kehidupan


Sebuah bola seukuran bola basket berisi campuran antara elemen cahaya dan mana suci Teratai Kehidupan muncul di tangan Fei Li. Perlahan, Fei Li menyalurkan bola penuh mana itu ke Putra Mahkota Qurey.


Putra Mahkota Qurey merasakan panas dan dingin secara bersamaan. Dirinya sedikit meringis kesakitan karna bola penuh mana tadi mulai perlahan - lahan menetralisir racun yang ada di tubuhnya. Beberapa menit kemudian rona wajah Putra Mahkota Qurey mulai kembali dan luka pendarahan juga sudah tertutup. Perlahan, Fei Li membantu Putra Mahkota Qurey agar bisa duduk.


"bagaimana Yang Mulia? apakah masih ada yang sakit?" tanya Fei Li khawatir

__ADS_1


"tidak ada nona, terima kasih sudah menyelamatkanku" jawab Putra Mahkota Qurey tersenyum lembut


"kalau begitu mari kita kembali agar Yang Mulia segera mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tabib" ucap Fei Li mulai merapal sihir transportasi


Tak lama kemudian mereka berdua sampai di depan pintu gerbang kediaman Jendral Besar Yue Neryi. Para penjaga yang melihat nona mereka dan Putra Mahkota Qurey nampak berantakan segera membantu.


"bawa Yang Mulia ke dalam dan panggilkan Tabib Chen sege-" ucapan Fei Li terputus saat tiba² dirinya jatuh pingsan


"nona!!" pekik penjaga kaget


Beberapa penjaga segera menghampiri pintu gerbang dan membawa Fei Li serta Putra Mahkota Qurey untuk masuk ke dalam. Seluruh anggota keluarga Yue segera menghampiri ruang kesehatan dimana Putra Mahkota Qurey dan Fei Li tengah dirawat.


"putriku..." lirih ibunda Mei Lin menatap sendu ke arah Fei Li yang berbaring tak sadarkan diri


"apa yang terjadi? mengapa Yang Mulia dan Fei Fei bisa seperti ini??" tanya Yue Neryi pada kedua penjaga yang berjaga di pintu gerbang


"saya tidak tau Tuan, hanya saja tiba² nona pertama dan Yang Mulia Putra Mahkota Qurey muncul di depan kami dalam keadaan berantakan dan penuh luka" jawab salah satu penjaga


"huftt baiklah kalian boleh pergi dan berjaga lagi" ucap Yue Neryi menghela napas panjang


"baik Tuan" ucap kedua penjaga yang segera berlalu pergi melaksanakan tugasnya


"bagimana keadaan Putra Mahkota Qurey dan Fei'er, Tabib Chen?" tanya Yue Jisang khawatir


"untuk Putra Mahkota Qurey lukanya sudah saya obati dan mungkin sebentar lagi akan sadar, sedangkan nona... sepertinya tadi nona memakai terlalu banyak mana sehingga mungkin nona tidak akan sadar dalam waktu dekat ini" jelas Tabib Chen


"astaga Fei Fei..." lirih ibunda Mei Lin mulai menangis meratapi keadaan putrinya


"bersabarlah jiejie, meimei tau Fei Fei adalah gadis yang kuat jadi dia pasti akan segera sembuh" ucap ibunda Hua memeluk ibunda Mei Lin dan mengusap pelan punggungnya untuk menenangkannya


"akhirnya rencanaku kali ini berhasil dan tenang saja, masih banyak lagi rencana² cerdas milikku yang akan memisahkan kalian berdua nantinya" batin Ahn Xiumin


"hahaha dasar ******! semoga kau tidak bangun selamanya agar aku bisa bersama dengan Putra Mahkota Qurey dan akan kupastikan posisi Putri Mahkota serta Permaisuri masa depan Kekaisaran Qurey menjadi milikku" batin Yue Tiaqi


"baiklah ayo kita pergi, biarkan mereka berdua beristirahat" ucap Yue Neryi


Mereka semua pun keluar dari ruang kesehatan dan kembali ke kediaman masing². Tabib Chen juga berlalu pergi untuk meracik ramuan untuk diminum Putra Mahkota Qurey jika sudah sadar nanti. Beberapa jam setelah Tabib Chen pergi, Putra Mahkota Qurey terbangun.


"ughhh kepalaku sakit sekali..." lirih Putra Mahkota Qurey memegang kepalanya yang sedikit berdenyut


"ini dimana? bukankah aku dan nona Fei Li tadi sedang berada di pinggiran hutan lalu tiba² kami di handang para bandit dan terluka? mengapa sekarang aku berada disini?" batin Putra Mahkota Qurey kebingungan


Tak lama kemudian Tabib Chen datang sembari membawa sebuah mangkuk berisikan ramuan untuk memulihkan tenaga.


"anda sudah sadar Yang Mulia? kalau begitu anda minum ini terlebih dahulu untuk memulihkan tenaga anda" sahut Tabib Chen


"baiklah" ucap Putra Mahkota Qurey mulai meminum obat


"dimana ini dan dimana nona Fei Li?" tanya Putra Mahkota Qurey


"anda berada di ruang kesehatan kediaman Jendral Besar Yue dan nona ada di kamar sebelah, Yang Mulia" jawab Tabib Chen sopan


"benarkah? baiklah kalau begitu aku akan menjenguknya" ucap Putra Mahkota Qurey beranjak bangkit dari tempat tidurnya

__ADS_1


"hamba sarankan nanti saja Yang Mulia, keadaan anda sendiri masih belum pulih dan lebih baik anda beristirahat dulu sekarang lalu nanti anda bisa menjenguk nona" saran Tabib Chen


"huftt... baiklah kalau begitu" ucap Putra Mahkota Qurey mulai memejamkan matanya yang mulai terasa berat


~•••~


"dimana ini? kenapa semuanya serba putih? terus itu napa banyak pintu warna merah? gue ga mati lagi kan untuk yg kedua kalinya? ini bukan surga kan?" batin Fei Li bertanya - tanya melihat sekelilingnya yang di dominasi warna putih dan terdapat beberapa pintu berwarna merah darah


Tiba² salah satu pintu terbuka dan terlihatlah seorang wanita cantik dan seorang pria yang nampak sedang beradu argumen dengan sengit. Karna penasaran, Fei Li pun berjalan perlahan ke arah pintu.


"sudah kukatakan aku tidak mencintaimu Geordo!! kenapa kau terus saja memaksaku?! aku hanya mencintai Aland!!" teriak seorang wanita cantik berambut putih seputih salju


"tapi kenapa?!! masih lebih baik diriku daripada si dewa kehidupan itu, Arbel!! aku sudah mencintaimu dari kita masih kecil... kenapa kau begitu tega menolakku?!!" tanya seorang pria berwajah sangar dengan raut wajah marah


"itu karna aku hanya menganggapmu sebagai sahabat baikku saja, Geordo. Maaf tapi aku tidak memiliki perasaan khusus seperti perasaanmu padaku" jawab wanita cantik itu


"hah! terserah kau saja! tapi akan kupastikan nanti kau akan menyesal telah menolakku, Arbel! lihat saja nanti!!" ucap pria itu penuh amarah dan dendam lalu pergi dari hadapan wanita cantik tadi


"kenapa kau berubah seperti ini, Geordo? kemana Geordo sahabat baikku yang pengertian dan penuh kasih itu pergi?..." gumam wanita cantik itu menatap sendu punggung si pria yang mulai menghilang dari pandangannya


Setelah itu pintu tersebut tertutup dan tiba² kepala Fei Li mendadak sangat sakit.


"sial kenapa kepala gue sakit banget gini?? tadi kayaknya kagak deh, terus kenapa... gue ngerasa familiar banget sama kejadian tadi? apakah itu... ingatan gue??" batin Fei Li sambil sesekali meringis kesakitan


Pintu merah di belakang Fei Li tiba² terbuka sendiri dan nampaklah seorang wanita cantik tadi bersama dengan seorang pria tampan berambut putih kebiruan sedang menikmati indahnya sinar rembulan di sebuah bukit. Perlahan, Fei Li mendekati pintu itu untuk melihat apa yang akan terjadi disana.


"Al... sepertinya setelah ini kau jangan menemuiku terlebih dahulu" ucap wanita cantik itu


"hmm? memangnya kenapa? apa ada masalah di Alam Kematian Abadi?" tanya seorang pria tampan di sebelahnya


"tidak... hanya saja aku harus melakukan ritualku seperti biasanya, kau paham maksudku bukan?" tanya balik wanita cantik itu


"ohh begitu, kukira terjadi sesuatu padamu atau ada masalah di Alam Kematian Abadi" ucap pria tampan itu mengusap kepala wanita cantik di sebelahnya dengan penuh kasih sayang


"tentu saja tidak ada, kau tenang saja dan maaf karna mungkin tidak bisa bertemu denganmu lagi beberapa tahun nanti" ucap wanita cantik itu berhambur memeluk pria tampan di depannya


"tidak apa² Bella karna bagiku yang terpenting adalah keberlangsungan hidupmu agar terus berlanjut hingga sang Penguasa Agung sendiri yang memutuskan tali kehidupanmu" ucap pria tampan tadi memeluk balik wanita cantik yang kini berada di dekapannya


Pintu tersebut pun perlahan menghilang dan menyisakan sesekeliling Fei Li yang kembali di dominasi oleh warna putih.


"sebenarnya apa semua ini? dan kenapa setiap melihat kejadian² itu kepala gue sakit banget?" batin Fei Li meringis kesakitan hingga perlahan matanya tertutup


...✨HOLAA READERS SEKALIANN✨...


...AUTHOR DISINI CUMA MAU BILANG...


...SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1443 H...


...🙏🏻MOHON MAAF LAHIR & BATIN🙏🏻...


Ok sampe sini dulu ya, maaf kalo masih ada kesalahan kata dalam penulisannya🙏🏻🙏🏻


Tolong...👇🏻

__ADS_1


{like + vote + komen}


__ADS_2