Death Goddess Reincarnation

Death Goddess Reincarnation
DGR 37


__ADS_3

Saat sampai di paviliunnya, Fei Li langsung bergegas mengganti hanfunya dibantu dengan Fi Suer. Dia memakai hanfu sederhana dan ringan namun tetap indah.



Selesai berganti hanfu, Fei Li pun dirias sedikit oleh Fi Suer kemudian memakai cadarnya kembali. Setelah memastikan semuanya siap, Fei Li pun pergi ke depan gerbang kediaman Yue. Tapi saat sampai disana, entah mengapa dia sedikit merasa kecewa karna melihat Putra Mahkota Qurey yang sepertinya sedang asik mengobrol dengan Yue Tiaqi. Bahkan sesekali Yue Tiaqi berusaha untuk memeluk lengan kekar Putra Mahkota Qurey walaupun Putra Mahkota Qurey sendiri nampak cuek dan tidak peduli dengan Yue Tiaqi.


Fei Li merasa bingung, padahal dia merasa belum ada rasa terhadap Putra Mahkota Qurey tapi saat melihatnya bersama dengan gadis lain, entah mengapa hati Fei Li terasa sedikit sakit. Cukup lama Fei Li memandangi keduanya hingga Putra Mahkota Qurey pun tersadar kalau sedari tadi Fei Li berada di ambang pintu utama dan melihat semua interaksinya dengan Yue Tiaqi. Karna tidak ingin Fei Li salah paham, dengan cepat Putra Mahkota Qurey langsung meninggalkan Yue Tiaqi sendirian dan menghampiri Fei Li dengan raut wajah takut.


"nona Fei Li ini tidak seperti yang anda pikirkan" ucap Putra Mahkota Qurey takut Fei Li salah paham


"ah itu... tidak apa² Yang Mulia. Memang sepertinya anda lebih cocok bersama adik saya" ucap Fei Li tersenyum tipis


"Yang Mulia kenapa anda meninggalkan saya sendirian disana?" sahut Yue Tiaqi dengan nada manja yang baru saja datang dan langsung memeluk lengan kekar Putra Mahkota Qurey


"lepaskan lenganku nona kedua Yue" ucap Putra Mahkota Qurey datar


"mengapa saya harus melepaskannya Yang Mulia? lagipula mengapa anda lebih memilih si sampah itu? saya lebih cantik, kultivasi saya juga cukup tinggi, dan saya memiliki spirit beast yang hebat. Tentu saya lebih baik dari si sampah yang tidak bisa berkultivasi dan buruk rupa itu" ejek Yue Tiaqi menatap sinis Fei Li


Sedangkan Fei Li hanya diam dan menikmati live drama yang berada di depannya serta melihat apakah Putra Mahkota Qurey itu memang serius dengannya atau hanya ingin mempermainkannya saja.


"tutup mulut kotormu itu nona! jika bukan karna kau adalah adik dari nona Fei Li, bisa kupastikan saat ini kau sudah ku bunuh ditempat!" sarkas Putra Mahkota Qurey menghempaskan Yue Tiaqi hingga terjatuh


"mari nona Fei Li kita pergi" ucap Putra Mahkota Qurey dengan nada lembut lalu menggandeng tangan Fei Li untuk memasuki kereta kuda yang sudah menanti daritadi


"sialan kau Fei Li! akan kurebut Putra Mahkota Qurey darimu! lihat saja nanti pembalasanku!!" batin Yue Tiaqi marah


~•••~


Di dalam kereta kuda Putra Mahkota Qurey tak henti - hentinya menatap Fei Li dengan tatapan memuja, sedangkan yang ditatap hanya melihat ke arah jendela kereta kuda untuk melihat pemandangan di luar. Putra Mahkota Qurey yang di diamkan Fei Li pun merasa canggung dan berpikir mungkin Fei Li merasa kesal serta marah pada dirinya karna sudah dekat dengan wanita lain.


"ekhem! nona Fei Li... apakah anda marah kepada saya?" cicit Putra Mahkota Qurey pelan namun masih bisa di dengar oleh Fei Li


"untuk apa saya marah Yang Mulia? mana berani saya marah kepada Yang Mulia Putra Mahkota Qurey" ucap Fei Li tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela kereta kuda


"panggil aku dengan namaku langsung nona. Jika kita sedang berdua, buang saja segala nama kehormatan itu" ucap Putra Mahkota Qurey tersenyum manis


"tidak bisa Yang Mulia. Mana berani saya memanggil anda dengan nama langsung anda, Yang Mulia" tolak Fei Li secara halus


"aku tidak peduli dan apa - apaan nada bicara formal itu? berhenti berbicara formal denganku saat kita sedang berdua, aku tidak terima penolakan dan ini adalah perintah mutlak dariku selaku Putra Mahkota Kekaisaran Qurey" tegas Putra Mahkota Qurey


"huftt baiklah akan saya coba" ucap Fei Li pasrah


Putra Mahkota Qurey mendengar hal itu menyungging sebuah senyum kemenangan. Keheningan kembali melanda mereka berdua hingga akhirnya sampai di ibukota Kekaisaran Xiao, Ibukota Xia. Putra Mahkota Qurey turun terlebih dahulu lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Fei Li turun dari kereta kuda.


Mereka pun mulai jalan². Terkadang juga berhenti sejenak untuk melihat - lihat barang dagangan yang di tata sedemikian rupa di pinggir jalan. Mata bulat Fei Li lalu terjatuh pada seorang nenek tua penjual aksesoris. Dengan segera Fei Li menghampiri nenek tua itu diikuti Putra Mahkota Qurey di belakangnya.


"selamat datang nona dan tuan, mari silahkan dilihat - lihat" ucap nenek tua ramah


"baiklah nek, tolong tunggu sebentar" ucap Fei Li


Fei Li mulai mengamati setiap aksesoris yang tertata di sebuah meja kayu kecil milik nenek tua itu. Pandangannya terjatuh pada sebuah tusuk rambut yang nampak indah.



Putra Mahkota Qurey yang melihat Fei Li menginginkan tusuk rambut itu hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"ini berapa harganya nek?" tanya Putra Mahkota Qurey menunjuk ke tusuk rambut yang diinginkan Fei Li


"harganya hanya 5 koin perak saja, tuan" jawab nenek tua


Fei Li melotot kaget mendengar jawaban nenek tua tentang harga tusuk rambut itu.


"bagaimana bisa tusuk rambut seindah itu hanya dihargai dengan 5 koin perak?!!" batin Fei Li heran


"baiklah nek saya akan membelinya dan ini koinnya" ucap Putra Mahkota Qurey mengambil tusuk rambut itu lalu memberikan nenek tua 2 koin emas


"maaf tuan tapi ini kelebihan" sahut nenek tua hendak mengembalikan koin emas yang diberikan Putra Mahkota Qurey


"tidak apa² itu untukmu saja" ucap Putra Mahkota Qurey menggenggam tangan Fei Li dan beranjak pergi dari tempat itu


"ternyata kalian sudah bersatu lagi di dunia ini, Kak Arabella dan Dewa Aland" batin nenek tua itu tersenyum tipis lalu tiba² saja hilang tanpa disadari orang² di sekitar yang tengah berlalu lalang


~•••~


Putra Mahkota Qurey mengajak Fei Li ke sebuah danau yang indah dan nampak beberapa pasangan sedang kencan disana. Putra Mahkota Qurey mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat yang pas untuknya dan Fei Li.


"ayo kesana" ajak Putra Mahkota Qurey mengajak Fei Li duduk di bawah pohon dekat sungai yang mengalir dengan jernihnya


Suasana canggung pun terjadi lagi. Fei Li masih mengamati lingkungan sekelilingnya yang nampak indah dan asri, sedangkan Putra Mahkota Qurey berpikir keras untuk menghilangkan suasan canggung ini.


"ekhem! jadi... apakah kamu suka dengan pemandangan disini?" tanya Putra Mahkota Qurey


"lumayan" jawab Fei Li singkat


"umm laluu bagaimana menurutmu tentang pernikahan kita yang akan berlangsung minggu depan?" tanya Putra Mahkota Qurey


"tanyakan saja, aku akan menjawabnya" jawab Putra Mahkota Qurey tersenyum manis


"hufttt... mengapa Yang Mulia memilih saya menjadi pasangan anda? padahal di luaran sana banyak sekali wanita yang lebih cantik, lebih berbakat, dan mungkin lebih menarik daripada saya. Mengapa saya yang akhirnya menjadi pilihan anda, Yang Mulia?" tanya Fei Li penasaran


"hahh... aku tidak memiliki alasan khusus kenapa aku memilihmu, tetapi aku merasa seperti orang paling beruntung di dunia ini karna bisa mendapatkanmu saat ini. Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tapi juga karena menjadi apa diriku saat bersamamu. Walaupun kita belum pernah bertemu hingga pertandingan pencarian Putri Kekaisaran Xiao kemarin, tapi hatiku sudah merasa sangat nyaman dan tentram saat melihatmu untuk pertama kalinya. Ahh, atau mungkin ini yang dimakan cinta pada pandangan pertama? Hahaha tapi aku tidak terlalu memikirkan itu karna untuk sekali dalam hidupku sekarang, aku tidak harus berusaha bahagia karna kebahagianku sendiri sudah ketemukan pada dirimu" jelas Putra Mahkota Qurey mengusap pipi kanan Fei Li penuh kasih sayang dan menatapnya dalam


Entah mengapa saat Fei Li yang mendengar jawaban dari Putra Mahkota Qurey, hatinya terasa berdegup lebih kencang dari biasanya dan sentuhan Putra Mahkota Qurey sangatlah terasa familiar baginya padahal mereka baru saja bertemu. Perlahan semburat kemerahan mulai menghiasi pipi seputih giok milik Fei Li.


"sebenarnya aku sudah mengetahui wajah asli di balik cadar ini tapi untuk menjaga privasimu, aku tidak akan memaksa kamu melepas cadar ini kecuali kamu sendiri yang sudah mantap untuk melepaskannya" ucap Putra Mahkota Qurey tersenyum lembut


"te-terima kasih Yang Mulia" ucap Fei Li sedikit gugup


Mereka pun menikmati pemandangan di danau itu hingga senja pun tiba.


"sepertinya sudah hendak malam, ayo kita pulang" ajak Putra Mahkota Qurey


"mari Yang Mulia" ucap Fei Li


Kedua insan itupun kembali ke kereta kuda mereka. Saat sudah menaiki kereta kuda, mereka pun menuju kediaman Jendral Besar Yue.


~•••~


Hari semakin gelap dan pasar di Ibukota Xia juga semakin ramai. Lentera² dinyalakan untuk penerangan. Kereta kuda Fei Li dan Putra Mahkota membelah ramainya kerumunan. Sunyi. Namun, tiba² kereta kuda berhenti mendadak hingga membuat Fei Li dan Putra Mahkota Qurey kebingungan.


"apa yang terjadi kusir?" tanya Fei Li

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari kusir dan suasana mendadak sedikit mencurigakan karna terlalu sepi.


"sepertinya terjadi sesuatu di luar, Yang Mulia" bisik Fei Li


"kamu benar, kamu tunggu disini biar aku lihat dulu" bisik Putra Mahkota Qurey mengelus pelan kepala Fei Li lalu perlahan keluar dari kereta kuda dengan sikap waspada


"kayaknya ada bandit deh, kalo ga ya ga mungkinlah tiba² suasana berubah kek gini. Terus Putra Mahkota Qurey... apakah dia akan baik² saja?" batin Fei Li sedikit cemas


Tiba² terdengar suara pedang beradu. Melihat dari suaranya, sepertinya bandit yang mencegat mereka lebih dari 10 orang. Perlahan, Fei Li sedikit menjulurkan kepalanya untuk melihat situasi dan nampaklah Putra Mahkota Qurey yang tengah melawan sekitar 30 bandit sendirian. Karna tadi sebelum berangkat Putra Mahkota Qurey tidak membawa penjaga karna ingin menghabiskan waktu berdua bersama Fei Li, namun karna itu sekarang dirinya malah melawan para bandit itu sendirian.


Fei Li melihat wajah tampan Putra Mahkota Qurey yang mulai kelelahan melawan para bandit itu seorang diri. Saat Putra Mahkota Qurey sedang sibuk melawan beberapa bandit di depannya, tanpa sadar salah seorang bandit hendak menyerang bagian belakang Putra Mahkota Qurey. Akan tetapi langsung di halangi oleh Kipas Rembulan milik Fei Li.



"apa yang sedang kamu lakukan disini nona?!! cepat masuk kembali kedalam kereta!!" pekik Putra Mahkota Qurey yang masih sibuk melawan beberapa bandit yang menyerangnya


"anda tidak perlu khawatir Yang Mulia. Saya bisa membereskan mereka tanpa bantuan dari anda" ucap Fei Li menyeringai


Putra Mahkota Qurey yang mendengar itu langsung melotot marah dan segera menggenggam erat tangan Fei Li menuju ke kereta sambil terus membasmi para bandit yang menyerang.


"lepaskan saya Yang Mulia! saya bisa melawan mereka!" sentak Fei Li berusaha melepas genggaman Putra Mahkota Qurey


"aku tidak akan membiarkanmu melawan mereka nona! mereka sangatlah berbahaya!" bentak Putra Mahkota Qurey


"tapi saya sanggup untuk melawan mereka semua Yang Mulia! apakah Yang Mulia begitu yakin bisa mengalahkan mereka semua?!! jangan terlalu keras kepala Yang-"


"awas!!" pekik Putra Mahkota Qurey langsung memeluk erat Fei Li


jlebb


Sebuah panah entah darimana asalnya tertancap di dada sebelah kanan Putra Mahkota Qurey.


"ughh sial... " ringis Putra Mahkota Qurey saat merasakan dadanya yang mulai mengeluarkan darah cukup banyak lalu mencabut panah itu dengan paksa dari dadanya


"YANG MULIA!!" pekik Fei Li kaget


"cepat lari dari sini nona! aku akan menghalangi mereka dan kamu segeralah minta... ughh bantuan" ucap Putra Mahkota Qurey tersenyum tipis menahan sakit


"sial! rasanya dada kananku sangatlah sakit! sepertinya panah itu sudah dibaluri dengan sebuah racun sehingga rasa sakitnya sangat berbeda dari tertusuk panah biasa" batin Putra Mahkota Qurey menahan rasa sakitnya agar Fei Li tidak khawatir


"mengapa anda sangat keras kepala Yang Mulia! lihatlah sekarang anda jadi terkena panah itu karna saya" ucap Fei Li sedikit bergetar menahan tangis lalu memeluk erat Putra Mahkota Qurey


"sudahlah nona, aku baik²... ughh saja..." ucap Putra Mahkota Qurey yang tiba² pingsan dalam dekapan Fei Li


"Yang Mulia?!! Yang Mulia sadarlah!! ughh dasar kalian para manusia sialannn!!!" pekik Fei Li sangat marah


Setelah teriakan marah dari Fei Li yang begitu terpukul melihat keadaan Putra Mahkota Qurey, tiba - tiba....


hayoo tiba - tiba kenapa hayo hehehe. Digantung dulu yaa sayy, nanti bakal dilanjutin di chapter selanjutnya. Terus buat beberapa readers yang mungkin bertanya - tanya tentang kapan balas dendamnya? terus siapa sebenernya Ahn Xiumin lalu apa masa lalu sebenarnya dari Fei Li. Itu nanti bakal author bikinin chapter sendiri buat penjelasan rincinya. Mohon bersabar untuk menunggu chapter itu.


Soalnya author juga belakangan hari ini lagi sibuk buat ujian sekolah sama ujian akhir semester dan ujian² lainnya, terus juga sibuk buat persiapan menuju SMA. Mohon maaf kalo semisal author bakal lama ga up kelanjutan novel ini. Meskipun nanti author bakal sibuk tapi author bakal menyempatkan waktu buat up kok, jadi tenang aja. Oke terima kasih atas perhatiannya dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.


Ok sampe sini dulu ya, maaf kalo masih ada kesalahan kata dalam penulisannya🙏🏻🙏🏻


Tolong...👇🏻

__ADS_1


{like + vote + komen}


__ADS_2