
Di masalalu, Adele yang sepi sendiri di rumah itu terus menangis setelah kepergian Lusiana, lebih lagi, Adele mengetahui kalau Lusiana adalah korban pelecehan.
Adele membenci si gendut yang seolah menjadi penyelamatnya, padahal sangat bejat.
"Bagus kamu menghabisinya, tapi, kenapa kamu harus pergi Lusi," lirih Adele seraya menatap boneka Lusiana yang ia pegang dan boneka itu pun bergerak.
"Kenapa, apa Mamah akan ikut bersamaku?" tanya Lusiana seraya menatap Adele dan Adele segera melemparkan boneka itu.
Lusiana yang terlempar itu bangun, ia berjalan mendekat ke arah Adele yang tengah ketakutan. Lalu, Lusiana melihat ke arah lemari.
Lusiana yang membenci Adele itu mengambil sebuah selendang dan Lusiana mengejar Adele yang berlari keluar dari kamar.
Lusiana yang baru keluar dari kamar melihat Adele yang berhenti di tangga dan Lusiana yang ingin mengajak Adele pergi bersama itu mengejarnya.
Sesampainya di lantai bawah, Lusiana mengambil tongkat golf yang ada di dekat tangga, lalu melemparkannya ke arah Adele dan itu membuatnya jatuh.
Lusiana segera berlari dan menjerat leher Adele menggunakan selendang yang ia bawa.
Lusiana menariknya dan saat nyawa Adele di ujung tanduk, Lusiana melepaskannya, Lusiana yang menangis itu berlari keluar dari rumah dan Adele berteriak terus memanggil Lusiana.
Adele yang histeris, frustasi dan sedikit gila itu mengejar Lusiana keluar.
"Lusi! Lusi! Lusi! Maafkan, Mamah, Nak!" teriak Adele di jalanan dan karena itu Adele mendekam di rumah sakit jiwa saat tetangga mulai terganggu.
Sampai sekarang, Adele yang ada di rumah sakit jiwa itu terus memanggil nama anaknya dan yang membiayai pengobatannya adalah adik Adele.
"Lusi, kenapa kamu melepaskan Mamah, seharusnya kamu menghukum Mamah, Nak!" kata Adele yang sedang menatap boneka yang ada di depannya, tentu saja, boneka itu bukanlah boneka Lusiana, boneka tersebut adalah boneka pemberian adiknya supaya Adele tidak terus berteriak.
****
Alea mendapatkan surat undangan dari kantor polisi dan Alea memenuhinya.
Di sana, Alea memberikan jawaban yang sama dengan Ibunya.
Sayangnya, ternyata, detektif telah menemukan barang bukti lain yaitu sehelai rambut.
Alea sedikit gugup dan detektif pun melakukan tes DNA. Setelah menunggu beberapa saat, sekarang, tes DNA itu sudah keluar dan Alea dapat bernafas lega setelah hasilnya mengatakan itu tidak cocok dengan DNA Alea.
****
Di tempat lain, Karin yang sebagai mantan narapidana itu sulit mencari pekerjaan dan Karin yang melamar ke sana ke mari itu bertemu dengan Bram.
Sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan, memotong jalan Karin dan pintu mobil terbuka.
__ADS_1
Karin melihat kalau yang di dalam itu adalah Bram, Karin pun masuk, duduk di samping Bram.
Setelah itu, Bram menyuruh sopirnya untuk melanjutkan perjalanan.
Dan Karin bertanya tujuan Bram yang menemuinya.
"Nanti, ada sesuatu yang ingin ku katakan, tapi, tidak di sini," jawab Bram seraya menatap Karin.
"Baiklah," jawab Karin dan Karin teringat dengan Alexia, gadis berpenampilan tomboi itu mengucapkan belasungkawanya.
Bram tidak menjawab dan karena itu, Karin pun memilih untuk diam.
Sekarang, Bram membawa Karin ke rumah barunya.
"Duduklah," kata Bram dan Karin pun menurut. Karin duduk di kursi yang tersedia di ruang kerja Bram dan Bram tanpa basa-basi lagi segera mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Alexia, aku yakin dia bukan mengakhiri hidupnya," kata Bram yang juga duduk di kursi dengan menautkan jari-jemarinya.
"Lalu?"
"Kamu tau kemana arah pembicaraanku, Karin!"
"Ya, seperti Ibuku dan Andre, tetapi, tidak akan ada yang mempercayaiku," jawab Karin yang menatap Bram.
"Karin, aku dan Ibumu saling mencintai, kami bertemu setelah Ibumu menjadi janda, tidak seperti apa yang kamu tuduhkan," kata Bram, pria itu ingin meluruskan masalah yang sudah berlalu.
Karin semakin menyesal setelah mengetahui kebenarannya dan Karena menganggap Ibunya gila Karin menguncinya di kamar.
Dan apa yang Bram katakan membuat Karin merasa semakin buruk.
"Kita memiliki masalah yang sama, kamu tau, boneka itu masih mengejarku," kata Bram yang berhasil membuat langkah kaki Karin terhenti.
Karin sedikit mengerti maksud dari ucapan Bram. Karin pun berbalik badan dan bertanya, "Lalu, apakah anda ingin kita bekerjasama?"
"Ya, aku akan menjadi umpan dan kamu harus menangkapnya, kita harus memusnahkan boneka itu sebelum banyak lagi korban."
Karin merasa kalau itu sangat beresiko dan Karin mengatakan kalau dirinya akan mencari jalan lain.
"Apa itu, katakan!" perintah Bram dan Karin menjawab, "Masih ku pikirkan."
"Kita adalah tim, lebih baik tidak ada yang kamu sembunyikan," kata Bram seraya bangun dari duduk.
Pria berkumis tipis dan berbadan kurus itu memasukkan dua tangannya ke saku celana.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kita tim, lebih baik anda cukup membiayai hidup mantan narapidana ini dan urusan Lusiana, aku akan mencarinya, tetapi, aku akan sibuk jika harus bekerja," kata Karin, "Bagaimana?" tanyanya.
"Asalkan kamu bisa ku andalkan," kata Bram dan setelah itu, Bram mengeluarkan segepok uang dari laci mejanya untuk Karin.
Dengan senang hati, Karin menerima uang itu, setelahnya, Karin keluar dari rumah Bram dan Karin menolak untuk diantar.
"Lumayan, uang ini bisa untukku bertahan dan Lusiana, tunggu aku, aku tidak akan melepaskan kamu!" kata Karin dalam hati.
Karin yang sedang menunggu angkot di tepi jalan itu melihat sebuah mobil kijang yang berhenti di depannya.
Si pemilik mobil itu membuka kaca mobil dan Karin masih mengenali wajahnya.
ternyata, dia adalah detektif.
"Masuk!" perintahnya seraya membukakan pintu untuk Karin.
Karin pun masuk.
Setelah duduk, Karin bertanya, "Ada apa?"
"Tidak ada, saya hanya ingin mengajakmu untuk minum kopi."
"Tapi, aku tidak memiliki banyak waktu!" kata Karin yang kemudian kembali membuka pintu mobil.
"Ini soal boneka yang kamu katakan!" kata detektif dan Karin kembali duduk.
"Apa bapak mempercayaiku?" tanya Karin seraya menatap detektif yang ternyata cukup tampan.
"Sedikit," jawab detektif, sebelum melanjutkan perjalanan, detektif memperkenalkan dirinya. "Namaku Arion."
"Aku, Karin."
Dan saat mobil berhenti karena lampu merah, Karin melihat boneka yang ada di tangan seorang gadis, gadis itu tengah membonceng motor ojek online.
"Itu dia," kata Karin dan Karin yang baru saja akan turun itu kembali masuk ke mobil dan meminta pada Arion untuk mengejar motor tersebut.
Sayangnya, motor itu kemudian masuk ke gang sempit dan mobil Arion tidak dapat mengikutinya.
Karin meminta pada Arion untuk menunggu dan Arion yang tidak dapat menunggu itu mengikuti Karin yang berlari mengejar motor tersebut.
Apakah Karin dan Arion akan mendapatkan boneka itu?
Bersambung, like dan komen, ya, all.
__ADS_1
Jangan lupa untuk vote/giftnya juga, ya.
Mohon maaf untuk typonya. 🙏