
Karin yang terengah itu berhenti, ia kehilangan jejak.
Lalu, Arion yang semula mengejar melalui gang lain itu berhenti saat melihat Karin yang sedang berjongkok di ujung gang sebelah.
"Boneka sekecil itu?" tanya Arion yang berjalan ke arah Karin.
Arion mengulurkan tangannya dan Karin menyambutnya.
Keduanya kembali ke depan gang di mana mobilnya terparkir dan ternyata di sana, banyak yang sedang mencari pemilik mobil karena menghalangi jalan.
Arion meminta maaf dan segera masuk ke mobil. Setelah itu, Arion mengantarkan Karin ke rumah Hendru.
Karin dengan rapat-rapat menyembunyikan uang yang ada di saku celananya.
Karin bersikap biasanya supaya Hendru tidak curiga dan Karin segera menyembunyikan uang yang untuk biaya hidupnya.
Karin khawatir Hendru akan menyalahgunakan uang itu.
****
Di rumah Alea, Alea merasa lega karena itu bukanlah rambutnya dan ternyata itu adalah rambut Nida yang beberapa hari lalu mencari barang bekas di area sekitar bersama Ibunya.
Dan sekarang, Nida sedang sedih karena bonekanya hilang entah kemana.
Sekarang, Alea sudah tidak takut sama sekali dengan boneka yang bergerak.
Justru, Alea memiliki pikiran lain untuk memanfaatkannya.
Alea meletakkan Lusiana di meja belajarnya dan Alea yang mengerjakan tugas itu bercerita kalau teman-teman sekolahnya selalu merundungnya.
Dan cerita dari Alea mengingatkan kenangan pedih Lusiana.
"Dasar anak pelacu*r, kalau ibunya saja tidak benar, pasti anaknya pun tidak benar!" ucap teman-teman Lusiana.
Lalu, Alea melihat Lusiana dan ternyata Lusiana sedang menangis.
"Kenapa kamu menangis, aku baik-baik saja walau selalu tertindas." Alea kembali ke bukunya dan Lusiana menjawab, "Aku bukan menangisimu."
Lalu, Lusiana pun menceritakan kesedihannya.
"Ternyata, kita sama-sama korban bully," kata Alea seraya menatap Lusiana yang mengangguk.
Dan Alea yang sedang mengerjakan tugas itu mengeluh saat merasa sedikit kesulitan, kebetulan, Lusiana yang memang pandai dalam pelajaran itu membantu Alea.
Alea mengucapkan terima kasih dan setelah mengerjakan tugas, Lusiana menawarkan diri untuk membalas anak-anak yang telah mengganggu Alea.
"Ya, kita harus memberi pelajaran," kata Alea.
Setelah itu, Alea keluar dari rumah dan karena merasa diawasi, Alea hanya pergi ke toko buku sekedar membeli pulpen.
__ADS_1
"Apa dia di sini?" tanya Lusiana yang ada di pelukan Alea.
"Tidak, aku hanya merasa ada yang mengawasi, sepertinya kita harus pulang," bisik Alea.
****
Malam ini, Karin sedang menggambar sketsa seorang gadis yang membawa Lusiana dan menyerahkan sketsa itu pada Arion.
Arion mengenalinya, rupanya, itu adalah Alea.
"Sekarang sudah malam, istirahatlah, besok kita ke sana," kata Arion melalui pesannya.
Karin tidak membalas pesan itu dan Arion tersenyum, baru kali ini ia diabaikan oleh seorang gadis.
****
Keesokan paginya, Arion sudah bertamu di rumah Hendru dan Hendru mengira kalau keduanya menjalin hubungan.
Hendru yang menyukai Arion itu hanya tersenyum saat Karin pamit padanya untuk keluar.
Di mobil, Karin melihat ada paper bag di bangku depan, Karin pun bertanya, "Apakah ini milikmu?"
"Di dalam mobilku, sudah pasti milikku!" jawab Arion tanpa melihat Karin, Arion mengambil paper bag itu yang berisi boneka. Lalu, setelah Karin duduk, Arion menunjukkan boneka itu padanya.
Karin berteriak karena melihat boneka yang persis dengan Lusiana.
"Kenapa, ini hanya boneka, bukankah sangat menggemaskan," kata Arion seraya mengembalikan boneka itu ke dalam paper bag.
"Semalam, setelah mengantarmu, aku membelinya untuk putriku," jawab Arion seraya mengambil kembali bonekanya.
"Aku yakin, dia hanya boneka biasa," kata Arion yang kemudian meletakkan boneka itu di bangku belakang.
Karin yang masih penasaran itu terus memperhatikan boneka.
"Saat ini, sangat beresiko bagimu untuk membelikan boneka," kata Karin.
"Benar dan sebenarnya, boneka itu aku beli dari beberapa waktu lalu," jawab Arion yang kemudian memarkirkan mobilnya.
Tidak lama kemudian, Arion dan Karin sudah sampai di rumah Alea. Di sana, Karin menanyakan boneka yang dicarinya dan Alea menjawab kalau dirinya tidak tau soal boneka.
Alea yang akan ke sekolah itu permisi, ia melewati Karin dan Arion. Tetapi, Alea yang merasa tidak salah lihat itu menarik tas Alea dari belakang.
Tentu saja, apa yang Karin lakukan itu membuat Alea tak menyukainya.
"Kamu, apa-apan, sih!" protes Alea seraya mengibaskan tangan Karin, melepaskannya dari tasnya.
"Buka tasmu!" perintah Karin dan Alea menertawakannya.
"Siapa kamu menyuruhku?" tanya Alea dengan begitu sinisnya.
__ADS_1
"Boneka itu bukan boneka biasa, kamu harus memberikannya padaku," kata Karin yang berusaha kembali menyentuh tasnya.
Tentu saja yang Karin lakukan itu tidaklah benar di mata Arion.
"Karin, hentikan. Bukan seperti ini caranya."
"Aku yakin, dia perempuan yang ku lihat kemarin," kata Karin.
Karin yang berdebat dengan Arion itu ditinggalkan oleh Alea.
Karin pun mengejar Alea dan kali ini memintanya untuk membuka tasnya, Karin harus mendapatkan boneka itu dan Alea yang sudah tidak ingin dikejar lagi pun menuruti.
Dan hanya ada buku pelajaran yang Karin dan Arion temui.
"Pasti ada di rumahmu, kan?" tanya Karin.
"Aku tidak memiliki boneka yang kamu cari, kalau tidak percaya, silahkan cari dan geledah rumahku!" kata Alea yang kemudian pergi.
"Bagaimana ini?" tanya Karin pada Arion.
"Mungkin gadis lain yang kemarin kamu lihat," jawab Arion yang kemudian berjalan ke arah mobilnya terparkir.
Lalu, Karin ingat dengan seorang bocah yang bernama Nida. "Apa mungkin masih ada di sana?"
Dan Arion yang mendapati Karin masih berdiam diri itu memanggilnya.
"Hey, mau sampai kapan kamu berdiri di sana?"
Setelah itu, Karin pun segera menyusul.
Tanpa Karin sadari, sebenarnya, boneka yang dicarinya ada di dekatnya. Ia bersembunyi di balik tong sampah yang ada di belakangnya.
Ya, Alea mengeluarkan Lusiana dari tasnya, supaya Karin melihat sendiri isi tas yang dicurigainya.
Setelah kepergian Karin dan Arion, Alea yang ternyata masih ada di sekitar itu kembali untuk menjemput Lusiana.
"Siapa dia, apa kamu mengenalnya?" tanya Alea.
Lusiana yang sedang dimasukkan ke dalam tas itu menjawab, "Iya, dia bernasib sama sepertiku, Ibunya menikah lagi, tapi, dia tidak dapat diajak bekerja sama, justru mengincarku."
****
Siang berlalu dan telah berganti malam, Karin yang sudah berbaring di ranjang itu membuka mata saat merasakan ada sesuatu di atas perutnya.
Karin menyipitkan matanya dan terlihat jelas kalau itu adalah Lusiana yang mengayunkan pisau ke arahnya.
Karin berteriak dan Hendru yang mendengar teriakan itu segera ke kamar Karin, menyalakan lampu dan membangunkan Karin yang sedang bermimpi buruk.
Karin yang terengah menatap Handru, lalu memeluknya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen, ya, all.
Vote/giftnya, juga, ya. Terima kasih. 💙